253
Jogjawarta Februari 13th, 2008Dua ratus lima puluh tiga tahun lalu, tepatnya 13 Februari 1755 terjadilah Perjanjian Giyanti atau Perjanjian Palihan Negara yang memecah Mataram Islam menjadi Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayojakarta Hadiningrat.
Kasunanan Surakarta Hadiningrat diperintah oleh Sri Susuhunan Paku Buwono III, sedangkan Kasultanan Ngayojakarta Hadiningrat diperintah oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I.









Februari 13th, 2008 at 2:14 pm
… dan sampai hari ini, ada saja sebagian orang yogya dan sala yang saling meledek…
Februari 13th, 2008 at 6:45 pm
Wah…. sip deh sejarah…. itu dalam dokumen tersebut ditulis dalam aksara jawa apa sudah pakai aksara latin?? Btw, salam kenal ya!
Februari 14th, 2008 at 2:53 am
dan sekarang inih, solo malah punya dua raja..
**loh??!!**
Februari 14th, 2008 at 7:55 am
#paman Tyo:
ah itu kan sekedar guyonan ala mataraman saja to…
meledek untuk saling mengakrabkan diri
#Yari NK:
nuhun teh eta sudi mampir….
kalo tak salah tulisannya dalam huruf jawa
#tikabanget:
kalo solo sekarang mah punya tiga raja mbak!
Februari 18th, 2008 at 4:00 pm
Solo dan Jogja itu akur kok, sama2 menjaga dan menghormati.
Solo maupun Jogja, juga sama2 nJawani. Bedanya, Solo bukan daerah istimewa, itu saja
Februari 19th, 2008 at 7:32 am
#Dony:
Sebenarnya di awal kemerdekaan, Solo juga merupakan Daerah Istimewa sebagaimana halnya Jogja. Namun karena di masa revolusi tahun 1946 terjadi kekisruhan masal yang tidak dapat teratasi oleh pemerintahan swapraja yang ada sehingga mandat daerah istimewanya dicabut oleh Presiden Sukarno. Kekisruhan yang terjadi sebenarnya didalangi oleh para oknum PKI dengan gerakan anti feodalisme kraton dengan upaya untuk merebut tanah-tanah kraton guna dibagi-bagikan kepada sebuah buruh dan rakyat prorevolusi mereka.
Februari 22nd, 2008 at 1:14 pm
tambahan: Kasunanan sebetulnya adalah kerajaan pertama yang memberikan wilayahnya kepada NKRI. Yogya dan Solo juga tidak pecah betulan. Yogya simbol pemerintahan (Sultan), sedangkan Solo simbol kewalian (Sunan). Kedua dinasti beda peran. Terbukti ketika Diponegoro kerjasama dengan PB VI dalam mengusir Belanda, tapi dua tokoh kemudian sama-sama “dibuang”.
Februari 22nd, 2008 at 3:14 pm
#Siti Jenang:
memang awalnya pemecahan itu merupakan taktik devide et imperanya Kompeni, namun sebenarnya dari sisi para pinisepuh memang strategi untuk berbagi peran dengan keahlian masing-masing….
matur nuwun atas pelengkapane kang!