“MONUMEN KEBANGKITAN PETANI INDONESIA”

Joglo

 

 

“Negeri ini dengan bangga secara turun temurun telah menyandang negeri agraris. Pertanian dianggap sebagai urat nadi, tulang punggung, dan soko guru untuk mewujudkan kecukupan dan kelayakan pangan bagi lebih dari dua ratus juta penduduknya. Sebuah prestasi pernah kita raih bersama sebagai negeri yang mampu mencukupi kebutuhan pangan warganya secara mandiri dan penuh kebanggaan. Negeri yang telah berswasembada beras dan dikagumi oleh negri dari segala penjuru bumi, bahkan tak segan FAO menganugrahkan penghargaannya.”

 

“Namun apa yang terjadi kemudian? Negri nan subur apanjang punjung wukir gemah ripah loh jinawi tersebut kemudian tenggelam ditelan krisis. Dan di saat yang sama para petani, tulang punggung pangan negara tersebut, secara pasti dan menyedihkan juga semankin terpinggirkan dan dianggap remeh peranannya. Petani kembali manjadi obyek pembangunan, menjadi tumbal bagi tetap tegaknya negara yang tiada pernah memihak mereka.”

 

 

 

“Akankah hal sedemikian terus berlangsung secara berlarut-larut? Tiadakah hati nurani dan rasa kemanusiaan para penguasa mampu merasakan derita petani di pelosok desa terpencil di tepi gunung nan sunyi? Jika penguasa tak mampu memberikan simpati dan uluran tangannya bagi petani yang lemah dan makin terlemahkan, adakah doa dan upaya lain masih bisa dilakukan?….. Kemerdekaan dan kemandirian petani! Itulah jawaban tegas yang kemudian dimunculkan dari kalangan petani sendiri. Sebuah tekad, sebuah cita-cita, sebuah janji setia, sebuah semangat, sebuah suara kesunyian dari kedalaman nurani anak bangsa. Sebuah kebangkitan petani yang digagas dari rumah kandungan bumi pertiwi, Joglo Tani!”
Ibnu SubiyantoItulah sedikit narasi dan prolog yang disampaikan oleh Pak Ibnu Subiyanto, sang Bupati Sleman, dalam sebuah liputan TVRI Jogja mengenai Joglo Tani. Adalah Bapak TO Suprapto, seorang pelopor pertanian, mempunyai gagasan dan ide cemerlang untuk menyatukan petani dari beberapa kelompok tani di wilayah Kabupaten Sleman untuk bangkit secara mandiri menyongsong tantangan jaman globalisasi. Dan sebagai prasasti kebangkitan petani tersebut diresmikanlah Joglo Tani, sebuah bangunan khas Jawa yang diharapkan dapat menjadi naungan sekaligus sarana, dan pusat pembelajaran serta sambung rasa atau sarasehan diantara komunitas petani dan setiap pemangku kepentingan dunia pertanian yang terkait.

Joglo Tani dibangun secara swadaya oleh para petani dengan menempati lahan seluas ± 8.000 m2, dilengkapi dengan beberapa fasilitas untuk pelatihan pertanian yang mencakup sektor pertanian dan perkebunan, perikanan, dan peternakan. Bangunan tersebut secara anggun berdiri di Dusun Mandungan, Desa Margoluwih, Kecamatan Sayegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan telah diresmikan penggunaannya oleh Gubernur DIY Hamengkubuwono X pada tanggal 19 Januari 2008 yang lalu. Pada kesempatan tersebut sekaligus digulirkan bantuan stimulan senilai Rp. 4,199 M yang berasal dari APBD DIY untuk 125 kelompok tani dan usaha se-Sleman.

Secara konseptual yang dicita-citakan oleh sang penggagas Jolgo Tani, TO Suprapto, adalah dimilikinya suatu pusat pelatihan untuk mendidik dan membina secara mandiri, terstruktur, dan berkelanjutan yang berasal dari, dikelola, dan untuk kepentingan petani. Menghadapi tantangan jaman yang semakin berat ke depan, diharapkan petani memiliki kemampuan, pengetahuan, dan yang paling penting kemandirian. Petani harus kembali ke alam, dalam pengertian harus mampu menguasai ilmu-ilmu pertanian dan menyatu sejiwa dengan bumi. Berbagai hal mengenai nilai-nilai luhur kearifan lokal yang telah diwariskan oleh nenek moyang harus diuri-uri, dibangkitkan dan dikembangkan lagi karena hanya dengan nilai-nilai tersebut petani dapat bangkit secara mandiri.

Nilai kearifan lokal sebagaimana dimaksud meliputi ilmu perbibitan sampai dengan ilmu petani mengenai titen mongso. Sedari dahulu petani kita telah memformulasikan perhitungan-perhitungan dengan cara penyilangan varietas unggul lokal untuk menghasilkan benih dan bibit unggul yang paling sesuai dan cocok untuk dikembangkan di daerahnya masing-masing. Adanya campur tangan pemerintah dalam rekayasa genetik yang terlalu jauh, menimbulkan hilangnya kemandirian petani untuk menentukan jenis dan varietas tanamannya sendiri. Dewi Sri sudah tidak ada lagi tergusur oleh peradaban yang direkayasa penguasa, dan yang ada hanyalah Sang Hyang Seri. Dan pada saat krismon menimpa perusahaan monopoli dalam perbibitan padi tersebut, seakan ketersedian dan kelayakan penyediaan benih padipun menjadi ikut kolaps. Dan pada saat yang sama kemana lagi petani harus bergantung? Padahal jauh di masa lalu, nenek moyang mereka telah mampu melakukan penyilangan hingga melahirkan varietas unggul yang dinamakan padi lokal. Dalam deretan ini ada jenis ketan, rojolele, delanggu, menthekwangi dan sebagainya, yang terbukti tetep unggul dan menguasai pasaran. Inilah satu alasan perlunya kebangkitan dan pemberdayaan petani.

Ngluku

 

 

Ketahanan pangan nasional sebagaimana dicanangkan oleh Presiden Susi beberapa waktu lalu, bagi komunitas Joglo Tani adalah sebuah mimpi yang tergantung tinggi di awan, sebuah mimpi yang tetap akan menghuni jagad awang uwung, sekedar menjadi konsep tanpa penerapan riil di lapangan. Bagi mereka yang harus dilakukan ke depan adalah mewujudkan ketahanan pangan lokal! Tidak ada lagi penyeragaman pangan yang dipaksakan secara terstruktur dan sistematis dengan menuruti para penguasa ekonomi dan melemahkan petani, demikianlah harapan dan tekad mereka. Dengan masing-masing wilayah berdasarkan kondisi alamnya, mencukupi kebutuhan pangan lokal secara mandiri, maka ketahanan pangan nasional dengan sendirinya dapat terwujud. Konsep ini lebih membumi dan nyata dipahami petani daripada sekedar jargon dan mimpi seorang presiden. Dan tak tanggung-tanggung beberapa profesor pakar pertanian dari beberapa institusi pendidikan di Jogja, termasuk UGM mendukung seratus persen konsep ini.

Setiap daerah memiliki karakteristik topografi dan kondisi alamnya masing-masing. Petani di daerah yang bersangkutanlah yang paling mengerti dan paham untuk menentukan jenis dan varietas tanaman yang paling sesuai untuk dibudidayakannya, berdasarkan pengalaman dan ilmu titen mereka mengenai alam. Nilai kearifan lokal yang telah diwariskan oleh para leluhur dan nenek moyang di masa silam harus digali kembali untuk membangkitan semangat kemandirian petani.

Joglo Tani menjadi wadah bagi setiap pemangku kepentingan dunia pertanian untuk berdiskusi, belajar bersama, berlatih bersama mengenai pertanian dan segala hal yang terkait dengannya. Tidak saja dari kalangan petani yang terlibat dalam kegiatan Joglo Tani dalam kesehariannya, melainkan mahasiswa, dosen, pelajar, para peneliti, para pelaku ekonomi terkait juga berperan aktif. Dan tidak saja sebagai sarana pembelajaran, Joglo Tani sebagaimana bangunan megah berbentuk joglo tak berskat dan berdinding, melambangkan keterbukaan bagi siapa saja untuk ikut memberikan sumbangsihnya bagi pengangkatan derajat hidup dan martabat petani menyambut masa depan yang lebih gemilang.

informasi lanjut…