TIKUS-TIKUS DI KEDOYA
Kenduri Cinta Februari 21st, 2008
Adalah Mas Edi, pria berpenampilan kalem dan berambut gondrong dengan kaca minus yang malam itu turut nguda roso. Dia adalah seorang wartawan mantan redaktur bertema budaya di sebuah koran besar bergelar Media Indonesia. Dia secara terbuka dan lugas menyampaikan pemaparan mengenai intrik-intrik yang terjadi di dalam rumah tangga koran besar tersebut yang diistilahkannya sebagai pelembagaan agama dalam institusi media massa. Hal tersebut perlu disampaikannya sebagai suatu pembelajaran publik tanpa mau mendeskriditkan kelompok atau agama tertentu.
Media massa semestinya menyampaikan informasi kepada publik secara transparan, obyektif dan netral. Apabila disimak banyak koran besar yang telah mengambil posisi menuju kondisi ideal tersebut. Ambillah contoh, Kompas. Koran ini di sisi manajemen dan pemegang saham didominasi oleh kalangan Katolik. Namun dalam hal pemberitaan suatu berita tidak pernah mensortir pemberitaan menyangkut kejadian atau dakwah agama tertentu. Demikan halnya dengan Republika yang berangkat dari ICMI dan dimotori oleh para kuli tinta muslim.
Di Media Indonesia, dari jajaran petinggi mulai dari direktur dan wakil direktur, para redaktur didominasi oleh kalangan agama tertentu. Dan nampaknya hal itu berlangsung tidak secara alamiah, namun dengan suatu rekayasa terstruktur. Dalam suatu perekrutan pegawai baru, dari dua belas yang diterima, sepuluh diantaranya pasti berasal dari agama tertentu. Pernah ada suatu kasus penerimaan seorang jurnalis wanita muda kemudian dianulir karena yang bersangkutan diketahui mengenakan jilbab. Secara struktur dan kebijakan sangat terasa diskriminasi terhadap karyawan muslim di sana.
Dalam soal pemberiataan di bulan haji ini, menurut survey dan rating pemasang iklan tertinggi adalah liputan mengenai ibadah haji dan kegiatan umat Islam menyambut Idul Adha, dan berita tersebut sangat layak dimuat bahkan menjadi headline dan ditempatkan di halaman utama. Namun kebijakan dari para ndoro petinggi menitahkan bahkan berita tersebut jangan dimuat. Demikian halnya ketika terjadi domontrasi besar-besaran oleh PKS di berbagai kesempatan juga laporan beritanya selalu dianulir oleh para petinggi.
Dalam pergaulan keseharian, pada saat rekan-rekan muslim melaksanakan sholat jum’at, karyawan dan jajaran direksi yang beragama lain kemudian secara sporadis selalu melaksanakan misa dengan alunan nyanyian gerejawinya seakan tak mau kalah dengan para muslim yang tengah khusuk beribadah. Hal ini mendorong Mas Edi menyusun buku berjudul â€Senandung Gereja di Kedoya†yang akan membeberkan kebusukan yang terjadi di media raksasa tersebut.
Hal tersebut oleh Mas Edi disampaikan kepada Menteri Agama Muhammas Maftuh Basyuni, Dirjen Bimas Islam Prof Nazarrudin Umar, dan Direktur Pasca Sarjana UIN Prof Azuramardi Azra, dan pesan moral dari mereka adalah agar Mas Edi dan rekan-rekan yang masih bertahan di dalam sistem terus berusaha memperjuangkan aspirasi warga muslim.
Beberapa redaktur penting dan lebih senior dari Mas Edi kemudian mengundurkan diri setelah menempuh berbagai cara untuk memperjuangkan idealisme kode etik jurnalistik. Pihak manajemen kemudian merekrut para wartawan â€muslim abangan†yang bisa mereka â€tawar†dan dapat bekerja sama sekaligus untuk melegitimasi bahwa mereka tidak membawa misi pelembagaan agama. Seorang rekan dari anggota Jaringan Islam Liberal bahkan dengan suka rela membatalkan puasa Ramadhan ketika diajak makan siang oleh para bos. Dan hal tersebut dijadikan senjata oleh para ndoro bahwa ternyata si A dapat bertoleransi tinggi terhadap agama lain, dan yang lainnya semetinya juga bisa melakukan hal yang sama.
Berbagai cara telah ditempuh oleh Mas Edi dan rekan-rekan yang bertahan, mulai dari cara halus dan sopan sampai cara kasar tanpa sopan-santun lagi. Di tempat-tempat tertentu pada dinding tembok, semisal di toilet banyak karyawan yang mencoretkan umpatan dan keluhan…..si A redaktur brengsek, bajingan, dll. Bahkan pernah mereka melancarkan aksi membuat spanduk besar disertai karangan bunga raksasa yang memberikan selamat kepada seorang pejabat yang mengundurkan diri, padahal kenyataannya pejabat tersebut tidak mundur.
Akhirnya Mas Edi memilih jalan pengunduran diri dan mencoba memperjuangkan idealisme di luar kandang Kedoya. Proses hukum sedang berjalan dan atas bantuan serta mediasi Menteri Agama kasus-kasus tak wajar tersebut akan diangkat ke meja hijau di 2008. seorang teman sejawat Mas Edi juga tengah menuliskan kesaksiannya dalam buku yang kelak diberinya judul Tikus Tikus di Kedoya.








Februari 21st, 2008 at 12:02 pm
Februari 21st, 2008 at 3:01 pm
#kwganteng:
???
Februari 21st, 2008 at 3:35 pm
lho masak sih? bukannya big boss yang brewok itu muslim? maksud saya meskipun dia “sekuler”, mestinya juga ngerem agamisasi atas nama bendera apapun di grupnya kan?
Februari 21st, 2008 at 3:48 pm
seandainya benar, bukankah itu malah bikin rugi perusahaan? konsumennya kan mayoritas muslim? btw, tes penerimaan karyawan media indonesia dulu diadakan di cinere, tapi saya urung datang
Februari 21st, 2008 at 5:32 pm
Semoga perjuangan Mas Edi berhasil demi masa depan pers kita
Februari 22nd, 2008 at 7:34 am
saya tunggu bukunya…
btw, nice post nih..
salam knal…
Februari 22nd, 2008 at 7:43 am
#mungkin:
mungkin si big bos belum ngerti soal itu, dan biasanya di manajemen tingkat atas kan yang berlaku sistem abs…
#mpokb:
kok gak jadi ndaftar mpok?aye naon?
btw, informasi itu falit, disampaikan pada saat acara Kenduri Cinta Desember di TIM
#goenrock:
yo sama-sama kita doakan saja…
#wennyaulia:
yoi, kita tunggu bareng-bareng bukune…
makasih sudah mampir
Februari 22nd, 2008 at 9:00 am
Bos-nya aja yang bego.
Semoga Mas Edi dapat berkah dan berhasil memperjuangkan
Februari 22nd, 2008 at 12:39 pm
selamad berjoeang boeng edi!
dun gip pap.. hehjeheh
Februari 22nd, 2008 at 3:45 pm
#penjahat(4-3)D:
mungkin bener kandhamu, bose bego…
ning bego kok iso jadi bos yo?
mbingungke cen…
#omith:
yoi…dukung boeng edi!
hidup!
Februari 22nd, 2008 at 4:19 pm
mudah2an kasusnya bisa diselesaikan dengan tuntas.. ga seperti kebanyakan kasus lain di negeri ini.
salut buat boeng edi
Februari 22nd, 2008 at 4:42 pm
E…alah…hari gini masih jadi sektarian. Kok bisa-bisanya, di media lagi. Lha gimana media bisa menjadi alat kontrol sosial, kalau di tubuhnya asosial.
Februari 22nd, 2008 at 5:20 pm
memang sampai kapanpun juga, mereka (nasrani, red), tidak akan pernah suka pada kita (muslim, red).
“muslim abangan”, itulah para musuh dalam selimut buat kita (muslim putih??, atow ijo.. halah pokoke yg bukan abangan lah..), dan yg bikin nama jelek bagi moslem..
pantang menyerah mas edi…
Februari 25th, 2008 at 12:57 am
ah, tak pikir si brewok pun sudah tahu, tapi dia memilih jalan aman tentunya, kapitalis !!
Februari 25th, 2008 at 11:21 am
#kelandara:
betul, moga bisa tuntas..tas..tas!
#rasanya:
itulah terkadang idealisme dan cita-cita tidak terbalut dengan tindakan yang bersih.
#baguzs:
setuju soal musuh dalam selimut…
waspadalah…waspadalah!!!
#sayur asem:
kita demo si brewok po?