psikopat1.jpgSetiap orang berhak dan boleh menggantungkan cita-citanya setinggi bintang di langit, dan berambisi besar tentang masa depan. Hal demikian sangat wajar dan manusiawi, oleh karena itu tidak ada pihak lain yang berhak melarang karena sudah menyangkut hak asasi yang konon dijunjung tinggi dalam setiap peradaban manusia di penjuru dunia.

Namun demikian, cita-cita dan ambisi besar seyogyanya harus senantiasa berpijak pada realitas hidup, bertumpu pada kemampuan serta potensi diri yang dimiliki masing-masing pribadi, senantiasa dilakukan dengan upaya ikhtiar yang sungguh-sungguh, serta dilengkapi doa dan kepasrahan kepada Tuhan sehingga cita-cita tersebut akan lebih membumi dan lebih mungkin untuk direalisasikan.Seseorang yang mempunyai kesadaran penuh akan realitas hidupnya dikatakan sebagai orang yang tahu diri, ngilo githoknya sendiri. Berbeda dengan orang yang terlampau melambungkan cita-cita sehingga tanpa sadar kakinya tiada lagi menginjak pada permukaan bumi dikatakan sebagai berpanjang angan atau khulun amalun, atau sekedar ngoyo woro, bermulut besar atau dalam bahasa Jawanya no action talking only alias nato. Bagaikan cecak nguntal empyak, bak pungguk merindukan bulan alias tidak realistis.

Adalah seorang teman bernama Daniela sepupu Kassandra yang malam itu menjadi topik hangat sebuah “workshop” kecil-kecilan yang tanpa sengaja bergulir di tengah malam selepas rintik gerimis membahasahi ibukota. Dia sebenarnya masih termasuk sedulur sakperguron dengan kami, saya dan B4’s(Bawor, Bangsari, and Bahtiar Brothers). Alkisah sobat kami tersebut termasuk seorang siswa yang berbakat dan sangat disayang oleh para resi guru kami, sehingga menjadi murid kinasih yang enggan dilepas kelulusannya oleh dewan guru, berbeda dengan kami yang lolos dari perguruan dengan kemampuan seadanya.

Dikarenakan kelebihan yang dimiliki tersebut, menjadikan sobat kami mempunyai kepercayaan diri yang luar biasa dan ambisi besar untuk menjadi orang sukses dan kaya raya. Berpijak dari hal itu, sobat kami menjadi sangat jumawa, sombong, serta headbig(besar kepala daripada tiang), dan seringkali meremehkan pekerjaan dan prestasi yang diraih teman yang lain. Baginya pekerjaan dengan gaji di bawah lima juta tidak ada artinya, dia berpendapat dapat berpendapatan besar dan tak mau tunduk dengan perintah siapapun, artinya dia bisa bekerja dengan semau wudelnya sendiri dan digaji mahal. Meskipun sobat kami tersebut dalam realitas kesehariannya hanyalahs seorang tunakarya.

Lebih dari lima tahun setelah winisuda sebagai cantrik di padhepokan, sobat kami menunggu kesempatan kerja besar dengan gaji setinggi langit datang menghampirinya. Namun apa lacur, nasib baik itupun sepertinya belum juga menyapanya jua. Karena perasaan malu atau merasa ditinggalkan oleh teman seperguruan, meski hanya dengan kerja seadanya asal halal, sobat kami tersebut kemudian atas jasa baik seorang teman berhasil meraih kerja sebagai seorang resi pengasuh fisika plus metafisika pada sebuah perguruan elit di ibukota. Tentu saja dengan potensi dan kepercayaan diri sobat kami tersebut menyebabkannya pihak manajemen mau dan mampu membayarnya dengan harga gaji yang lumayan besar, paling tidak menurut ukuran kami para buruh serabutan ini. Hal tersebut memang sudah menjadi tuntutan dari sobat kami sebagai kempensasi kemampuannya yang luar biasa.

Namun apa yang terjadi, baru memulai karir selama satu bulan, sobat kami menyatakan diri mundur dari gelanggang perang, tinggal glanggang colong playu, dengan alasan para siswa didiknya bodoh-bodoh, malas belajar dan tidak disiplin. Dia melarikan diri tanpa menghiruakan jasa baik teman yang telah menjadi perantaranya mendapatkan kerja. Dan yang lebih lucu lagi, selama sebulan menjalani profesi perdananya tersebut, sobat kamipun masih merepotkan sang perantara dengan menumpang tinggal di kosnya yang serba terbatas. Dan kini setelah kembali ke barisan tunakarya, sobat kami tetap tinggal di sana dengan sesekali berkelana dan berpindah teman mencari tempat pelarian yang aman.

Adalah si Bawor, pakliknya Radya yang seringkali mendapatkan sampur, giliran disinggahi sang sobat. Bagi Bawor kedatangan sang sobat pada awalnya tidak menjadikan ganjalan pemikiran. Namun seiring waktu berjalan, sobat kami mulai melakukan aksi terornya sehingga Bawor merasa kurang dihargai privasinya dan merasa terusik kenyamanannya karena beberapa hal. Hal pertama adalah Bawor merasa selalu diintimidasi pada setiap aktivitas dan kegiatannya oleh telpon maupun sms sang sobat yang menanyakan dimana keberadaannya, kapan pulang ke wisma kos, bisa main ke sana tidak dan lain sebagainya. Hal kedua, Bawor merasa pemikiran dan ucapan sang sobat seringkali meremehkan bahkan mencapai tingkat melecehkan jika sudah berdiskusi mengenai posisi Bawor di pabriknya yang menjadi sekedar buruh suruhan dengan gaji pas-pasan. Bukannya bersimpati akan nasib sang teman, sobat kami malah seringkali menghina dan menyatakan bahwa jika dirinya menjadi Bawor, dia tentu sudah lama keluar kerja. Perasaan senada juga seringkali dilontarkan oleh para sahabat Bawor yang kebetulan main dan sempat diskusi mengenai pekerjaan dengan sobat kami.

Beberapa teman yang pernah menyimak sifat dan sikap sobat kami tersebut memberikan analisa yang menyimpulkan bahwa sobat kami tersebut menderita kelainan psikologis yang akut, dimana selalu merasa diri paling hebat tanpa mau menghargai prestasi dan nasib hidup yang dijalani orang lain. Hal tersebut terlihat dari setiap penghinaan dan peremehan kemampuan orang lain. Penyakit sueper pekok banget yang sangat akut, simpul Bangsari. Dia selalu merasa bahwa dunia saat ini masih sama dan senantiasa statis sebagaimana pada waktu kami masih sama-sama menuntut ilmu di padhepokan.

Nah jika sampeyan mempunyai sobat sebagaimana sobat kami tersebut, tindakan apakah yang layak dan terhormat untuk menyadarkannya? Dari perbincangan di workshop mini tersebut ada suatu benang putih yang berhasil kami rumuskan bersama bahwa kami sepakat bagaimanapun keanehan sobat kami tersebut, kami harus senantiasa mencari upaya untuk ngemong dan menyadarkannya. Menghadapi sobat demikian kami tidak boleh terseret arus kepada paradigma berpikirnya, dan apabila sobat kami melemparkan nyanyian pelecehan dan perendahan terhadap orang lain, kami sepakat untuk dengan secepat mungkin mengkounter dengan pukulan jep dan uppercut kemudian memasang cermin lebar di depan batang hidung sobat kami. Dengan demikian setiap penghinaan harus senantiasa dikembalikan kepada sang sobat dengan sebuah pertanyaan retoris “lha anda bisa apa?anda itu siapa?” dll.

Ngemong dan ngayomi seorang sobat ternyata memang tak semudah meraih sebuah khayalan indah di kesunyian malam sehabis rintik hujan di ibukota. Nyebar godhong koro, sabar sak wetoro!!!