JEJAK PORTUGIS
Jagad Pustaka Maret 6th, 2008BUNGA ANGIN JEJAK PORTUGIS DI NUSANTARA
Judul di atas merupakan sebuah buku yang mengupas mengenai kesejarahan bangsa Portugis yang pernah sempat ikut memperebutkan bumi rempah di belahan bumi timur di abad XVI. Adalah Ibu Paramitha Rahaju Abdurahman putri tokoh pejuang Ahmad Subardjo yang di tengah kolega, kerabat maupun teman sejawatnya dipanggil sebagai Ibu Yo, Ses Yo, atau Tante Yo, seorang peneliti LIPI yang telah meninggal dua puluh tahun silam, mengumpulkan berbagai sumber literatur hasil penelitiannya selama berkarir di LIPI maupun di masa revolusi penumpasan RMS pada saat aktif sebagai Sekjen PMI.
Kumpulan tulisan hasil kajian Ibu Yo itulah yang kemudian disusun menjadi sebuah buku untuk diluncurkan pada hari ulang tahun Ibu Yo 29 Februari 2008. Namun karena satu dan lain hal acara baru terselenggara Rabu, 5 Maret 2008 kemarin. Acara yang berlangsung di Gedung Widya Graha LIPI tersebut banyak dihadiri para veteran serta kolega penulis, dan nampak pula beberapa tokoh senior seperti Rosihan Anwar, Ali Alatas dan plitisi AM Fatwa. Bertindak sebagai pembicara yang membedah buku tersebut adalah Prof Dr Toety Heraty, seorang filosof UI dan CPF Luhulima, tokoh masyarakat Maluku, sedangkan bertindak sebagai moderator Dana Iswara, presenter tv.
Mengenai isi bukunya sendiri banyak mengisahkan perjalanan bangsa Portugis mulai kedatangannya di Malaka pada 1511, kemudian mencapai Kepulauan Maluku pada 1512 dan berhasil menancapkan kekuasaan politiknya beberapa tahun di sana. Dua kerajaan paling berpengaruh di masa itu adalah Ternate dan Tidore. Dikisahkan meski asal-usul trah kedua dinasti kerajaan tersebut masih sepersaudaraan, namun dalam perkembangannya terjadi rivalitas yang sangat tajam diantara keduanya.Kedatangan bangsa Portugis yang memberikan dukungan kepada Ternate dan bangsa Spanyol yang mendukung Tidore semakin memperkeruh keadaan.
Adalah seorang putri kerajaan Tidore yang berusia 15 tahun tidak ingin melihat konflik berlanjut dan mengorbankan nyawa rakyat kecil melayang sia-sia. Dengan pendekatan yang teramat rumit dan ribet kemudian diaturlah perjodohan antara Sultan Ternate yang berusia 50 tahun dengan sang Putri. Dari pernikahan tersebut terlahirlah tiga orang pangeran yang mempunyai hak yang sama atas tahta kerajaan kelak setelah sang sultan wafat.
Kedamaian yang sempat tercipta terkoyak oleh taktik adu domba Portugis dengan membujuk para selir dan pangeran tiri untuk membunuh sang sultan. Sang sultan kemudian terbunuh dengan cara diracun, namun sebelum meninggal beliau berwasiat agar permaisuri ditunjuk untuk meneruskan tahta dan membangun benteng pertahanan guna melawan Portugis. Sang permaisuri naik tahta dengan sebutan ratuboki atau bokiratu.
Seorang wanita, tigapuluhan tahun lagi, menjadi pimpinan negara adalah sangat tabu dan dianggap melanggar adat kerajaan, sehingga sang permaisuri meski sesaat berhasil memerintah namun kemudian karena intrik dan skandal yang dilancarkan para selir dan putra tiri dengan dukungan Portugis, terusir dan kembali ke Tidore. Sedangkan sang pangeran bertiga ditawan dalam benteng Portugis yang dibangun ibundanya sendiri. Tahta kemudian dipegang oleh sang adik tiri sultan.
Sekembali di Tidore sang Ratuboki kemudian mengobarkan semangat perlawanan terhadap bangsa asing Portugis dan Spanyol yang telah mengadudomba mereka. Beberapa tahun kemudian dengan dukungan penuh dari rakyat, diserangnyalah benteng Portugis di Ternate untuk membebaskan ketiga putranya. Benteng berhasil dikuasai, namun sungguh sayang sang pangeran sulung tidak berhasil dibebaskan karena sebelumnya telah meninggal akibat diracun.
Langkah diplomasi kembali ditempuh untuk berdamai dengan kubu para selir. Bahkan demi perdamaian dilamarlah sang sultan tiri untuk menjadi suami Ratuboki. Namun tawaran kompromi tersebut ditolak oleh sultan karena dianggapnya Ratuboki telah berselingkuh dengan saudaranya(maksudnya sultan sebelumnya). Betapa sebuah pengorbanan seorang putri yang berakhir dengan sangat tragis.
Bangsa Portugis dan Spanyol sendiri kemudian dipaksa angkat kaki dari bumi Maluku setelah ketetapan Vatikan yang membagi-bagi daerah jajahan bagi bangsa eropa melalaui perjanjian Tordesilas. Portugis menyingkir ke selatan katulistiwa di Timor, sedangkan Spanyol bergeser di utara katulistiwa ke Philipina.
Di sesi diskusi beberapa hadirin menanyakan mengenai kebenaran hubungan asmara antara Ibu Yo dengan Tan Malaka, namun nampaknya misteri tersebut tetap tidak tuntas terungkap dan menjadi tanda tanya besar di benak masing-masing hadirin[]








Maret 6th, 2008 at 10:09 am
….
langsung posting ..
Maret 6th, 2008 at 1:21 pm
Ibu Yo ini yang mengumpulkan literatur, lantas apa hubunganya ya sama Tan Malaka?
Maret 6th, 2008 at 3:10 pm
#kang bah:
lha iyo lah…mumpung isih anget, ndak selak kecut!
#isnuansa:
ibu yo itu dulu pernah diisukan punya hubungan khusus, bahkan pernah sampai tunangan dengan tan malaka…nggak tahu sih kebenarannya.
Maret 6th, 2008 at 4:07 pm
dadi kelingan pulau Madeira
Mas, blogmu tak link ya !
Maret 6th, 2008 at 5:05 pm
sejarah semakin hilang bahkan ada sebagian yg dihilangkan.
ternyata intrik dan politik udah mulai sejak jaman dulu ya.
Maret 6th, 2008 at 11:19 pm
mlebu daftar dituku
Maret 8th, 2008 at 3:37 am
saya baru aja dari ternate lho…
Maret 10th, 2008 at 8:06 am
#mbak Elys:
pulau Madeira, dimanakah gerangan?
sumonggo menawi kerso ngelink blog kawula, matur nuwun.
#mbah Sangkil:
sejarah yang hilang “the missing history”,
barangkali manusia memang masih harus belajar mengambil hikmah dari pelajaran sejarah di masa lampau…
#mas Hedi:
iyo mas wajib dikoleksi tuh…
hargane di toko dengar-dengar 80rb, moga dapat diskonan..
#kang slamet:
welha yang barusan plesir, bagi cerita dong!