DILEMA SANG RAJA
Kiai mBeling Maret 13th, 2008DILEMA SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO X
DAN GERBANG PERADABAN BARU BANGSA INDONESIA
Ditulis Oleh Muhammad Ainun Nadjib
Tuesday, 11 March 2008
1. Terkait perbincangan mengenai sikap dan posisi Sri Sultan HB X, itu adalah dilema Sri Sultan HB X. Di satu pihak, dia adalah rajanya orang Jogja, di lain pihak dia adalah manusia modern yang menyangga dua hal,
(1). Keharusan menerjemahkan prinsip kepemimpinan dalam perspektif yang lebih modern, luas, dan komprehensif.
(2). Dia sebagai bangsa modern dan manusia biasa memiliki hak karir, apalagi sejumlah kelompok di Jakarta sangat concern pada ide pencalonan dirinya sebagai RI 1 pada tahun 2009.
2. Ada baiknya, Sri Sultan HB X, pers, dan kalangan-kalangan masyarakat memperluas dan mengangkat tema itu menjadi lebih berperspektif kebangsaan. Misalnya, melihat dan kemungkinan membenahi kembali dasar-dasar berfikir kenegaraan dan konstitusi: apakah pilihan bentuk republik serta formula aplikasi demokrasi yang selama ini kita pilih dan kita jalankan sudah tepat betul, ataukah memerlukan perenungan-perenungan ulang. Termasuk tidak menutup diri dari kemungkinan memindahkan ibukota politik NKRI ke Yogyakarta. Bangsa Indonesia jangan hanya berorientasi pada fenomena demokratisasi model Amerika Serikat, tetapi menengok juga formula-formula kenegaraan yang dipakai bangsa-bangsa Eropa(Inggris, Denmark, Belanda, dlsb.), juga negara-negara Asia(seperti Jepang, Thailand, dan Kamboja), yang secara transformatif tetap menempatkan kerajaan di dalam prinsip dan struktur kenegaraan mereka.
3. Kepemimpinan Sri Sultan HB X sebaiknya tidak membatasi diri pada konteks kawulo-gusti Keraton Jogja, tapi berkembang dan naik ke tingkat wacana-wacana kenegaraan dan kenegarawanan yang lebih uptodate dan futurologis, karena bangsa Indonesia sedang berada di pintu gerbang lahirnya peradaban baru lebih dari sekedar perubahan politik atau kebudayaan.








Maret 13th, 2008 at 1:54 pm
pejah gesang kulo ndherek panjenengan ndoro…
Maret 13th, 2008 at 3:14 pm
Ucapan Sultan terakhir terkait lontarannya yang dulu, membuat banyak pihak bingung. Di satu sisi rakyat Jogja senang saja karena harapan akan tetap dipimpin sultan jadinya terwujud. Tetapi di sisi lain, ada ironi mengingat “sabda pandhita ratu”.
Saya sendiri melihat –dengan perspektif penuh ke-soktahu-an– ada kemungkinan rakyat jogja dipimpin oleh orang kraton yang nggak bener (oh ya, sebelum jogja dipimpin oleh sultan –lagi, keadaan pemerintahan jadi morat-marit karena pemimpin yang madon dan sejenisnya). Ini sinis dan tanpa bukti, tapi tetap saja “bisa jadi”
salam denmas!
Maret 13th, 2008 at 3:22 pm
Sebagai bukan orang Jogja, saya lebih seneng Sultan jadi Raja saja, ga usah masuk pemerintah. Tapi ketika pemerintahan (Jogja) dan service untuk rakyat ga beres, tentu Sultan juga tertantang dan terpanggil.
Maret 13th, 2008 at 3:39 pm
waaah…….gak ikutan aaaah…..yg saya mau cuma org yg bener aja mimpin negara ini.
Maret 13th, 2008 at 6:57 pm
mungkin Sri Sultan udah gak bisa ngempet liat pemimpin2 yang sekarang kali ya…
Maret 13th, 2008 at 10:16 pm
mungkinkah beliau akan menjadi pimpinan kit ?
Maret 14th, 2008 at 7:29 am
#bangsari:
welha, lak pak gesang taksih teng Solo niku ndoro!
#kang lantip:
yo ikhlaskan saja sepanjang sang raja memperluas aktualisasi diri dan kemanfaatannya untuk scop yang lebih luas sebagai perwujudan sesanti ‘hamemayu hayuning bawana dan memasuh mingising budi’…
#mas Hedi:
atau barangkali kita semua diam-diam merindukan sosok kerajaan Indonesia yo mas?
#endang:
sebenarnya gak terlalu masalah mengenai figur siapa yang menjadi pimpinan nasional kita…asal yang terpenting setiap hak rakyat dan segenap tumpah darah negeri ini terjamin dan terpenuhi secara layak
#anton ashardi:
sebenarnya memang demikian, namun lebih dari itu komitmen amanat sang ramanda agar sepenuhnya “TAHTA UNTUK RAKYAT”
#mbak Elys:
yo paling nggak sebagai suatu wacana alternatif harus di
gulirkan untuk proses pendewasaan politik bangsa…
Maret 14th, 2008 at 8:05 am
setuju. dukung sultan jadi presiden. tapi jangan jadi kerajaan indonesia. eh gak apa apa ding kerajaan diktator yang demokratis.
Maret 14th, 2008 at 9:57 am
saya jadi rakyat saja..
Maret 14th, 2008 at 10:27 am
waaaa…ikoot mendukung “ngarso dalem” jadi pemimpin Negara NKRI
Maret 14th, 2008 at 4:18 pm
#kw:
iyo…mau bentuk negara republik, kerajaan, atau pedukuhan yang penting rakyat mendapatkan hak secara layak
gitu to?
#ghatel:
kalo anda sudah lulus jadi rakyat,
anda layak memimpin rakyat kang!
#wieda:
siiiip….saya dukung sampeyan wis.
Maret 14th, 2008 at 4:54 pm
modern sih ok… tapi asal jangan lupa darimana kita, apa kita yang begitu banyak kebudayaan, dan dllnya.
contohnya ini blogging dengan sentuhan kedaerahan. oya salam kenal untuk sangnanag dan ndoroseten. ato sebenarnya satu orang ya..? saya kok jadi bingung liat linknya.
Maret 14th, 2008 at 4:54 pm
modern sih ok… tapi asal jangan lupa darimana kita, apa kita yang begitu banyak kebudayaan, dan dllnya.
contohnya ini blogging dengan sentuhan kedaerahan. oya salam kenal untuk sangnanang dan ndoroseten. ato sebenarnya satu orang ya..? saya kok jadi bingung liat linknya.
Maret 14th, 2008 at 10:12 pm
sip, dukung pencalonan sultan untuk presiden ri…
Maret 15th, 2008 at 4:03 am
kalau saya pribadi, mending sri sultan tetap jadi raja dijogja saja…apa karena ga bakalan ada hamengku buwono XI dia mau jadi presiden?? ahh ga taulah saya, klo mmg terpilih mudah2an dia bisa menjalankan tugasnya dengan baik sebagai pemimpin negara ini..amiin
Maret 15th, 2008 at 9:07 am
wahh rame .. salam kenal mas
Maret 16th, 2008 at 6:44 am
lha saya malah ngimpi ndoro jadi patihnya njeng Sultan, piye jal..
Maret 16th, 2008 at 3:18 pm
jangan2 yang dilema justru bukan Sri Sultan, tapi malah orang2 yang rajin komentar ya kang???
Maret 16th, 2008 at 7:51 pm
ga koment dulu…
thank ya udah mampir ke Baliage.
salam kenal dari Bali
Maret 17th, 2008 at 7:20 am
#paramarta:
setuju mas…modern dalam arti kemodernan yang sejati.
sebenarnya kalau bingung tinggal ndodok tok to?
ndoro seten itu merupakan kekancingan dari sedulur bangsari, terinspirasi dari novel umar kayam para priyayi gitu…
blogging dengan sentuhan daerah?…siapa takut?
#gempur:
sabar dab…ojo grusa-grusu lan kesusu, mengko tundane kleru!
#Febra:
kembalikan saja semuanya kepada Sang Akarya Jagad!
#pandigila:
salam kenal juga mas…moga berkenan untuk sering berkunjung.
#sayur asem:
patih njeng Sultan?…wuaduh!
bukankah semenjak suwargi Ngerso Dalem IX jabatan itu sudah dihapuskan?
#cewektulen:
bisa jadi itu mbak!…nuwun telah mampir
#ady gondronk:
salam kenal juga bli!
moga berjumpa kembali di lain postingan…
Maret 17th, 2008 at 1:22 pm
Modern tidak berarti harus republik. Akan tetapi, kembali ke bentuk kerajaan sudah sangat terlambat. Yang paling mungkin sistem negara kesatuan diganti dengan federal. Jadi, Jogja bisa tetap eksis sebagai kerajaan walaupun bergabung dalam Federasi Republik Indonesia.
Saya kecewa dengan pemerintah pusat yang merusak tatanan Jogja dengan menyamaratakan kedudukannya dengan provinsi lain. Padahal sangat jelas bahwa tanpa keberpihakan HBIX, nggak akan ada yang namanya RI.
Maret 17th, 2008 at 2:02 pm
kedaerahan adalah salah satu kunci yang memisahkan indonesia ,bila kita menonjolkan sifat kedaerahan saja, fanatisme buta bisa terjadi,mari melalui blog kita persatukan indonesia..
salm kenal ndoro
ng’gih….
Maret 17th, 2008 at 2:28 pm
#arif:
adanya banyak pihak yang dikecewakan itulah sebenarnya duri dalam daging sebuah negara yang hanya memikirkan kepentingan para elitnya…
#ick:
kedaerahan adalah suatu keniscayaan…
yang terpenting adalah pengupayaan pemerataan sebaik mungkin sehingga tidak terlalu lebar jurang kesenjangan yang terjadi di masing-masing daerah,
kurang lebih begitu barangkali…
Maret 17th, 2008 at 5:33 pm
Hak warga negara untuk mencalonkan dan dicalonkan jadi kandidat presiden. Ketika Sri Sultan HB X juga mencalonkan syah adanya. Yang penting memakai paradigma Indonesia. Misalnya nyalon sebagai Herdjuno Darpito, bukan sebagai Sri Sultan, Raja Jogja.
Maret 18th, 2008 at 7:22 am
#rasanya:
barangkali memang demikian dab!
Maret 18th, 2008 at 11:38 am
Wah.. apik kuwi. Kula nggih setuju mawon menawi Sultan nyalon dados Presiden. Sing adil nggihhh…
Maret 18th, 2008 at 2:30 pm
#intan:
lho…lho…
lha kok semua menyimpulkan ke pencalonan presiden to
koyone para blogger gak bisa lepas dari kepentingan 2009
Maret 19th, 2008 at 3:51 pm
jadi ingat waktu bertemu ama Cak nun di Hotung Scholl Hk tahun lalu nih. Kenduri cinta…ya…temanya kenduri cinta. Siiip…
Maret 19th, 2008 at 3:59 pm
#GADIS RANTAU:
Oooo…rupane sampeyan termasuk jamaah maiyyah cabang Hongkong yang berlangsung tentatif itu yo mbakyu?
salam kenal lan moga tambah guyub rukun semuanya
ndereke donga wae, moga sampeyan semua di rantau selalu ginanjar slamet wilujen….