DILEMA SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO X

DAN GERBANG PERADABAN BARU BANGSA INDONESIA

hbx.jpg

Ditulis Oleh Muhammad Ainun Nadjib

Tuesday, 11 March 2008

1. Terkait perbincangan mengenai sikap dan posisi Sri Sultan HB X, itu adalah dilema Sri Sultan HB X. Di satu pihak, dia adalah rajanya orang Jogja, di lain pihak dia adalah manusia modern yang menyangga dua hal,

(1). Keharusan menerjemahkan prinsip kepemimpinan dalam perspektif yang lebih modern, luas, dan komprehensif.

(2). Dia sebagai bangsa modern dan manusia biasa memiliki hak karir, apalagi sejumlah kelompok di Jakarta sangat concern pada ide pencalonan dirinya sebagai RI 1 pada tahun 2009.

2. Ada baiknya, Sri Sultan HB X, pers, dan kalangan-kalangan masyarakat memperluas dan mengangkat tema itu menjadi lebih berperspektif kebangsaan. Misalnya, melihat dan kemungkinan membenahi kembali dasar-dasar berfikir kenegaraan dan konstitusi: apakah pilihan bentuk republik serta formula aplikasi demokrasi yang selama ini kita pilih dan kita jalankan sudah tepat betul, ataukah memerlukan perenungan-perenungan ulang. Termasuk tidak menutup diri dari kemungkinan memindahkan ibukota politik NKRI ke Yogyakarta. Bangsa Indonesia jangan hanya berorientasi pada fenomena demokratisasi model Amerika Serikat, tetapi menengok juga formula-formula kenegaraan yang dipakai bangsa-bangsa Eropa(Inggris, Denmark, Belanda, dlsb.), juga negara-negara Asia(seperti Jepang, Thailand, dan Kamboja), yang secara transformatif tetap menempatkan kerajaan di dalam prinsip dan struktur kenegaraan mereka.

3. Kepemimpinan Sri Sultan HB X sebaiknya tidak membatasi diri pada konteks kawulo-gusti Keraton Jogja, tapi berkembang dan naik ke tingkat wacana-wacana kenegaraan dan kenegarawanan yang lebih uptodate dan futurologis, karena bangsa Indonesia sedang berada di pintu gerbang lahirnya peradaban baru lebih dari sekedar perubahan politik atau kebudayaan.

Muhammad Ainun Nadjib
Progress Kadipiro, 11 Maret 2008