SARI ILMU KENDURI CINTA MARET 2008(1)

AACBlora

INDUSTRIALISASI CINTA

Malam Sabtu tersebut hujan gerimis hingga deras mengguyur ibu kota sejak selepas maghrib. Namun dinginnya cuaca tak menyurutkan minat ratusan jamaah Kenduri Cinta yang tetap berantusias untuk mendengarkan titah dalem Kiai mBeling. Saya sendiri setelah didera rasa aras-arasen yang luar biasa baru berhasil menginjakkan kaki di padhepokan Ismail Marzuki jam 11.00, di tengah acara. Dan memang seperti dugaan kami, genangan air yang sempat membasahi alas deklit yang dihamparkan, membuat jamaah ndodok atau topo kungkum di atasnya. Hanya “orang gila” memang yang mau melakukannya. Dan saya termasuk di dalam barisan “orang gila” tersebut.

Tema yang diangkat untuk diskusi malam itu adalah “Industrialisasi Cinta”. Hal tersebut sengaja diangkat di tengah semaraknya kisah cinta populis yang diangkat ke dalam novel picisan, bahkan tak kurang sebuah film berlatar belakang novel cinta juga telah diangkat ke layar lebar dan meraup rupiah yang menakjubkan. Namun demikian adalah beberapa kalangan juga sangat mengkritisi fenomena tersebut. Ada apakah sebenaranya dengan masyarakat kita? Apakah yang sebenarnya telah terjadi?

Sebagai contoh booming film berjudul Ayat-ayat Cinta yang diangkat dari novel yang sama karya Habiburrahman El-Shirazy. Pemutaran film tersebut semenjak dari launching pertama sudah mendapatkan antusiasme dari masyarakata yang luar biasa. Tak kurang dari para ABG, bahkan ibu-ibu, nenek-nenek, para eksekutif muda, juga tak kurang para tokoh masyarakat dan agama, termasuk juga Habibie begitu semangat mengantri hanya untuk mendapatkan tiket pertunjukan dan memberikan komentar yang ’luar biasa’ di akhir cerita.

Terlepas dari itu semua, dikatakan oleh Hanung Bramantyo sang sutradara bahwa film ini sengaja dibuat untuk memenuhi tantangan sang ibunda yang ingin melihat, suatu saat, anaknya dapat membuat film yang bertemakan mengenai agamanya. Bahkan untuk mendapatkan ’legitimasi’ sebagai film bertemakan agama Islam, semenjak awal telah dilibatkan tokoh Islam seperti Prof Dien Syamsudien. Apakah benar fokus film ini ditekankan kepada tema Islam? Seberapa besar perbandingan dengan tema percintaan romantismenya?

Sedikit pandangan dari beberapa pihak yang menyayangkan ketika film tersebut berlatar belakang dunia perkuliahan di sebuah universitas Islam terkemuka dan tertua, namun betapa minim diungkap mengenai Al Azar sendiri sebagai pusat kelahiran peradaban Islam baru. Alangkah lebih indah jika alur film memberikan gambaran secara lebih fokus mengenai Al Azar, sehingga dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas dan komprehensif bagi para penonton mengenai dunia padhepokan pewaris peradaban Islam terbesar yang telah melahirkan banyak tokoh muslim kaliber dunia. Sayang memang yang lebih menonjol dimensi percintaan sang tokoh utama dengan segala dilematikanya. Sedikit orang yang tidak bilang bahwa film tersebut dikategorikan film Islam dikarenakan adanya kisah poligami yang dialami sang tokoh.

Apakah tidak bisa dikatakan bahwa dalam konteks ini, Islam menjadi dipersempit mengenai poligami saja? Padahal semestinya masih banyak sisi keislaman lain yang bisa digali dan diangkat dari menara peradaban Al Azar. Barangkali memang itu sangat tergantung niat dari sutradara dan sejauh mana dia mampu mengembangkan kisah di dalam novelnya yang asli. Namun beberapa kalangan tidak dapat menghilangkan kesan picisan dari film tersebut. Dan ndilalahnya masyarakat kita sangat gemar dan menyukai sesuatu yang dikupas secara ringan dan dangkal bahkan bersifat instan. Masyarakat kita masih sulit untuk diajak kritis terhadap keadaan. Maka jangan heran jika di berbagai majlis pengajian ibu-ibu telah diagendakan untuk berbondong-bondong menonton bareng di bioskop. Fenomena apakah ini?

Kita barangkali dapat sedikit menengok kisah film percintaan yang mengangkat dikotomi perbenturan peradaban yang dikemas secara cerdas dengan mengungkap sisi humanisme. Film tersebut memang mulai diputar hampir bersamaan waktunya dengan film Ayat-ayat Cinta. Mengambil tema kisah pergolakan adat dengan paradigma modern yang menimpa kelompok masyarakat Samin di sudut timur laut Jawa Tengah, tentunya juga dibumbui dengan kisah percintaan ’terlarangnya’.

Film ini menghadirkan nama-nama besar seperti WS Rendra, Soultan Saladien, dan Ardina Rasti, sengaja dibuat untuk mengangkat dan memperkenalkan anak bangsa bernama kelompok Samin yang telah lahir di era kolonialisme Belanda. Kelompok Samin, atau mereka lebih senang disebut sebagai Sedulur Sikep, merupakan kelompok pemberontak kepada penjajah Belanda dengan mengambil corak gerakan ratu adil. Dipelopori oleh seorang pelarian pangeran dari Madiun bernama Ki Samin Surosentiko mereka hidup mengasingkan diri di tengah hutan dan menolak pajak, perintah tanam paksa yang diberlakukan penjajah.

Selepas kemerdekaan, kelompok tersebut tetap memegang prinsip yang terdengar ”aneh” untuk ukurang orang modern saat ini. Mereka tidak mau mempergunakan alat-alat modern, tidak memakai listrik, mereka percaya bahwa hidup harusnya mengambil sesuatu untuk kepeluan dengan secukupnya saja, tanpa berlebih apalagi sampai merusak alam. Paham mereka tidak boleh merusak hutan, tidak mau memakai pupuk kimia untuk pertaniannya. Mereka hidup dengan dibangun di atas filosofi adat yang dipegang erat, meski tanpa formalisme sebuah aturan. Sehingga dapat dikatakan mereka hidup harmoni tanpa peraturan, karena mereka adalah manusia dengan kelas yang bisa tertib tanpa harus diatur.

Kenapa masyarakat kita kurang begitu suka dengan nilai kearifan lokal yang tebukti mampu bertahan dan menata hidup secara mandiri dan harmonis? Kenapa masyarakat selalu mengagung-agungkan setiap nafas dan warna ”modern” hanya jika berasal dari luar negeri dan berbau populis, instan dengan gaya tren sesaat saja? Mari kembali kita tanya pada rumput yang bergoyang![]