SARI ILMU(1)
Kenduri Cinta Maret 17th, 2008SARI ILMU KENDURI CINTA MARET 2008(1)
INDUSTRIALISASI CINTA
Malam Sabtu tersebut hujan gerimis hingga deras mengguyur ibu kota sejak selepas maghrib. Namun dinginnya cuaca tak menyurutkan minat ratusan jamaah Kenduri Cinta yang tetap berantusias untuk mendengarkan titah dalem Kiai mBeling. Saya sendiri setelah didera rasa aras-arasen yang luar biasa baru berhasil menginjakkan kaki di padhepokan Ismail Marzuki jam 11.00, di tengah acara. Dan memang seperti dugaan kami, genangan air yang sempat membasahi alas deklit yang dihamparkan, membuat jamaah ndodok atau topo kungkum di atasnya. Hanya “orang gila” memang yang mau melakukannya. Dan saya termasuk di dalam barisan “orang gila” tersebut.
Tema yang diangkat untuk diskusi malam itu adalah “Industrialisasi Cintaâ€. Hal tersebut sengaja diangkat di tengah semaraknya kisah cinta populis yang diangkat ke dalam novel picisan, bahkan tak kurang sebuah film berlatar belakang novel cinta juga telah diangkat ke layar lebar dan meraup rupiah yang menakjubkan. Namun demikian adalah beberapa kalangan juga sangat mengkritisi fenomena tersebut. Ada apakah sebenaranya dengan masyarakat kita? Apakah yang sebenarnya telah terjadi?
Sebagai contoh booming film berjudul Ayat-ayat Cinta yang diangkat dari novel yang sama karya Habiburrahman El-Shirazy. Pemutaran film tersebut semenjak dari launching pertama sudah mendapatkan antusiasme dari masyarakata yang luar biasa. Tak kurang dari para ABG, bahkan ibu-ibu, nenek-nenek, para eksekutif muda, juga tak kurang para tokoh masyarakat dan agama, termasuk juga Habibie begitu semangat mengantri hanya untuk mendapatkan tiket pertunjukan dan memberikan komentar yang ’luar biasa’ di akhir cerita.
Terlepas dari itu semua, dikatakan oleh Hanung Bramantyo sang sutradara bahwa film ini sengaja dibuat untuk memenuhi tantangan sang ibunda yang ingin melihat, suatu saat, anaknya dapat membuat film yang bertemakan mengenai agamanya. Bahkan untuk mendapatkan ’legitimasi’ sebagai film bertemakan agama Islam, semenjak awal telah dilibatkan tokoh Islam seperti Prof Dien Syamsudien. Apakah benar fokus film ini ditekankan kepada tema Islam? Seberapa besar perbandingan dengan tema percintaan romantismenya?
Sedikit pandangan dari beberapa pihak yang menyayangkan ketika film tersebut berlatar belakang dunia perkuliahan di sebuah universitas Islam terkemuka dan tertua, namun betapa minim diungkap mengenai Al Azar sendiri sebagai pusat kelahiran peradaban Islam baru. Alangkah lebih indah jika alur film memberikan gambaran secara lebih fokus mengenai Al Azar, sehingga dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas dan komprehensif bagi para penonton mengenai dunia padhepokan pewaris peradaban Islam terbesar yang telah melahirkan banyak tokoh muslim kaliber dunia. Sayang memang yang lebih menonjol dimensi percintaan sang tokoh utama dengan segala dilematikanya. Sedikit orang yang tidak bilang bahwa film tersebut dikategorikan film Islam dikarenakan adanya kisah poligami yang dialami sang tokoh.
Apakah tidak bisa dikatakan bahwa dalam konteks ini, Islam menjadi dipersempit mengenai poligami saja? Padahal semestinya masih banyak sisi keislaman lain yang bisa digali dan diangkat dari menara peradaban Al Azar. Barangkali memang itu sangat tergantung niat dari sutradara dan sejauh mana dia mampu mengembangkan kisah di dalam novelnya yang asli. Namun beberapa kalangan tidak dapat menghilangkan kesan picisan dari film tersebut. Dan ndilalahnya masyarakat kita sangat gemar dan menyukai sesuatu yang dikupas secara ringan dan dangkal bahkan bersifat instan. Masyarakat kita masih sulit untuk diajak kritis terhadap keadaan. Maka jangan heran jika di berbagai majlis pengajian ibu-ibu telah diagendakan untuk berbondong-bondong menonton bareng di bioskop. Fenomena apakah ini?
Kita barangkali dapat sedikit menengok kisah film percintaan yang mengangkat dikotomi perbenturan peradaban yang dikemas secara cerdas dengan mengungkap sisi humanisme. Film tersebut memang mulai diputar hampir bersamaan waktunya dengan film Ayat-ayat Cinta. Mengambil tema kisah pergolakan adat dengan paradigma modern yang menimpa kelompok masyarakat Samin di sudut timur laut Jawa Tengah, tentunya juga dibumbui dengan kisah percintaan ’terlarangnya’.
Film ini menghadirkan nama-nama besar seperti WS Rendra, Soultan Saladien, dan Ardina Rasti, sengaja dibuat untuk mengangkat dan memperkenalkan anak bangsa bernama kelompok Samin yang telah lahir di era kolonialisme Belanda. Kelompok Samin, atau mereka lebih senang disebut sebagai Sedulur Sikep, merupakan kelompok pemberontak kepada penjajah Belanda dengan mengambil corak gerakan ratu adil. Dipelopori oleh seorang pelarian pangeran dari Madiun bernama Ki Samin Surosentiko mereka hidup mengasingkan diri di tengah hutan dan menolak pajak, perintah tanam paksa yang diberlakukan penjajah.
Selepas kemerdekaan, kelompok tersebut tetap memegang prinsip yang terdengar â€aneh†untuk ukurang orang modern saat ini. Mereka tidak mau mempergunakan alat-alat modern, tidak memakai listrik, mereka percaya bahwa hidup harusnya mengambil sesuatu untuk kepeluan dengan secukupnya saja, tanpa berlebih apalagi sampai merusak alam. Paham mereka tidak boleh merusak hutan, tidak mau memakai pupuk kimia untuk pertaniannya. Mereka hidup dengan dibangun di atas filosofi adat yang dipegang erat, meski tanpa formalisme sebuah aturan. Sehingga dapat dikatakan mereka hidup harmoni tanpa peraturan, karena mereka adalah manusia dengan kelas yang bisa tertib tanpa harus diatur.
Kenapa masyarakat kita kurang begitu suka dengan nilai kearifan lokal yang tebukti mampu bertahan dan menata hidup secara mandiri dan harmonis? Kenapa masyarakat selalu mengagung-agungkan setiap nafas dan warna â€modern†hanya jika berasal dari luar negeri dan berbau populis, instan dengan gaya tren sesaat saja? Mari kembali kita tanya pada rumput yang bergoyang![]








Maret 17th, 2008 at 9:40 am
Konon, manusia adalah mahluk yang tak pernah puas. selalu ingin lebih, lebih dan lebih baik. ndilalahnya, penentu makna “lebih baik” sebagian besar ditentukan oleh para pemilik modal. begitulah ndoro. suka tidak suka, kapitalisme lah yang menggerakkan dunia saat ini.
Maret 17th, 2008 at 12:01 pm
sama komenku sama bangsari
Maret 17th, 2008 at 1:57 pm
manusia adalah makhluk yang terbatas,tetapi manusia dapat memperluas batas-batas dari batasan tersebut.
salam kenal ndoro
Maret 17th, 2008 at 3:32 pm
malu, kuno, itu cuma sebagian perasaan dari kita kenapa kearifan lokal mulai terkikis.
saya tidak munafik, saya sendiri sebagai generasi mudapun sering mempunyai perasaan akan malu tersebut. titik tolak saya, sedikit pencerahan yang saya dapatkan justru dari blogging dimana ini notabene hal modern ternyata bisa digunakan untuk mengembangkan kearifan lokal.
dan tulisan ini dari sebagian berbicara tentang islam, tapi saya selaku hindu melihat tulisan ini sebagai pesan nasional yang layak untuk disebarkan. indonesia mempunyai begitu banyak keindahan. mereka diluar sana yang membawa pesan, trend modern masuk ke indonesia, toh juga pulang kenegaranya dengan banyak belajar ttg keindahan indonesia sendiri.
bukan berarti saya benci modern, hanya dalam pikiran saya tidak sampai kebablasan
salut untuk ndroro seten, salut untuk blog ini, semuanya.
salam,
paramarta
Maret 17th, 2008 at 3:48 pm
bila ada komen saya yg menyinggung, mohon dimaafkan…..
Maret 17th, 2008 at 4:53 pm
Kalau tanya sama rumput yang bergoyang, jawabannya paling-paling : rumput tetangga selalu lebih hijau
Maret 17th, 2008 at 5:02 pm
Waduh, Film itu kayaknya emang Ngambil pesan Poligami, tapi masalah terjadi karena FILM itu berdurasi, tidak sama dengan sinetron, nanti kalo di sinetronkan dan di jelaskan mengenai latar belakang pemainnya latar belakang al azhar dan lain lain kita yang malah ngantuk, terus bilang ini FILM, Sinetron, apa Dokumenter, hahaha repot ya?
Maret 17th, 2008 at 5:41 pm
kekekeke..the other story about ayat-ayat cinta
aku akui cerita film ini bagus, walo jalan ceritanya ga sebagus novelnya. (pendapat saya pribadi lo, hehehe)
Maret 17th, 2008 at 8:53 pm
cinta lagi
cinta lagi
industri cinta tak pernah surut
salam kenal
Maret 17th, 2008 at 8:58 pm
hehehehe….film kedua tentang masyarakat samin sangat menarik, nanti klo saya ke Indonesia pasti saya cari paling ngga DVD nya (ada yg blu ray ndak yah???)
tentang film ayat2 cinta : blom nonton…..tapiiii klo penonton disuguhi sejarah ttg Al azar, emang berapa banyak yg perduli sejarah? enakan bercintah kan ndoro?
Maret 17th, 2008 at 9:40 pm
saya belum pernah baca dan nonton AAC, tapi saya setuju dunia ini butuh cinta yang universal
Maret 18th, 2008 at 10:52 am
#bangsari&gathel:
sedih memang ndoro jika semua hal menjadi dangkal dan hanya sebatas nilai uang…
uang menjadi raja, bahkan uang adalah tuhan…
#ick:
batasan yang diperluas memang lebih realistis, namun yang terpenting tidak menimbulkan disharmoni hidup…
#paramarta:
makasih Bli atas kunjungan dan komentarnya…
moga media ini bisa menjadi jembatan antar budaya sekaligus lintas agama sehingga kita bisa hidup berdampingan sebagai sesama manusia tanpa dirisaukan dengan latar belakang yang berbeda….
#mr.bambang:
kalo rumput tetangga lebih hijau, bolehkah kita menumpang angon?
#loper:
emang gitu kali yo dab!
#Febra:
ooo…rupane sampeyan berangkat dari membaca novelnya to?
#antown:
sejak dulu begitulah cinta…
deritanya tiada berakhir…
#wieda:
kelompok samin memang suatu komunitas unik, dan kita bisa banyak belajar sebagai manusia kepada mereka…
#Hedi:
bener mas…cinta yang universal
cinta yang nothing to loose, tanpa diembel-embeli pamrih dan keinginan untuk meraup keuntungan sesaat.
Maret 18th, 2008 at 11:43 am
Industri cinta ya mas? seperti nya dunia skrg ini memang dikuasai bisnisman, tak hanya cinta yg dijual, segalanya asal laku.
saya paling gak suka nonton film yg diangkat dr novel di Indo. hasilnya selalu mengecewakan, pdhl menurut saya novel aslinya bagus, byk ajaran Islam di dalamnya yg dikemas dg ‘asyik’ tanpa sok menggurui.
Maret 18th, 2008 at 5:21 pm
baca paragraf pertamanya, saya langsung berhenti. lha… saya dibilang gila sih. hehehe…..
Maret 19th, 2008 at 1:09 am
mungkin itu salah satu wujud ekspresi “kekalahan”, merasa kalo punya sendiri selalu kalah dengan produk impor ?
Maret 19th, 2008 at 7:36 am
#meiy:
apakah memang bener yo bahwa dunia sekarang ini hanya soal jual beli semata?
novel memang paling mengasyikkan kalau dibaca…ya to?
#artja:
kita orang memang askhabul majnun…
#sayur asem:
ndak negrti lah!
opo ekspresi “kekalahan” opo keprihatinan…
Maret 19th, 2008 at 9:05 am
denger2 ayat2 cinta mau dibikin extendednya ya??
Maret 19th, 2008 at 4:01 pm
#Eka:
oooya?….
wah smoga saja tambah seru dan bermakna pesan-pesan moralnya…
kita tunggu saja bersama