SARI ILMU

KENDURI CINTA MARET 2008(2)

“KRISIS CITA-CITA”

KC1

Di awal sesi diskusi Cak Nun melemparkan pertanyaan. Seekor burung yang sekian lama dikurung dalam sangkar, apakah hal selalu diimpikannya atau dicita-citakannya? Jawaban mayoritas jamaah, tentu si burung ingin terbang bebas lepas.

Nah analogi dengan si burung tadi, sebenarnya apa sih yang dicita-citakan kita selaku rakyat Indonesia? Jawaban jamaah mulai bervariasi, ada yang ingin merdeka, merdeka dari apa? Merdeka dari siapa? Ada yang menjawab ingin menjadi manusia. Manusia model apa? Manusia menurut definisi budaya, ekonomi, politik, sosiologi, filasafat atau yang mana? Kembali abstrak memang. Dan jawaban-jawaban yang bergulir aut manuk tersebut semakin menunjukkan bahwa kita kurang paham dengan cita-cita kita sendiri, dan inilah awal mula adanya krisis cita-cita.

Manusia, ditinjau dari kemampuan dan pengetahuaan yang dimilikinya digolongkan menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah manusia yang tahu sedikit mengenai sesuatu yang sedikit. Contohnya, seseorang yang memiliki kemampuan membuat bubur yang dari tahun ke tahun keahliannya tidak pernah berkembang. Orang semacam ini seumur hidup hanya akan diisi dengan satu-satunya keahlian tersebut.

Kelompok kedua adalah orang yang tahu banyak mengenai sesuatu yang sedikit. Orang semacam ini disebut memiliki spesialisasi keahlian dan menguasai bidangnya secara mendalam. Kelemahan orang ini adalah dia tidak mengetahui meski sedikit mengenai hal yang di luar bidang yang digelutinya. Manusia barat(Eropa, Amerika) memiliki tipologi manusia kedua ini. Mereka lebih menitikberatkan pada pengembangan kecerdasan otak atau intelektualitas.

Sedangkan kelompok manusia ketiga adalah manusia yang tahu banyak mengenai banyak hal. Manusia semacam ini mempunyai keahlian untuk belajar mengenai banyak hal dan dapat menguasainya dengan mendalam dan memiliki kestabilan kebatinan secara mantap. Mereka memiliki keunggulan di bidang kenekatan radikalisme, mentalitas spiritualitas, sikap sabar dan narimo yang sangat luar biasa, tahan banting, serta tahan menderita. Perubahan kondisi hidup yang berat diresponnya dengan keterkejutan sesaat untuk kemudian disikapinya dengan biasa karena keterbiasaan. Dan nampaknya manusia timur(Jawa) sangat menguasai mentalitas tersebut.

Coba anda lihat kenekatan dan keberanian luar biasa yang menjadi ciri bangsa kita. Mana ada bangsa di dunia yang berani, hanya dengan beralas sandal jepit tanpa helm astronot dan baju pengaman naik di atas menara kabel sutet seraya bersenda gurau diantara rekannya sambil bertanya “nomere metu piro kang?” Mana ada orang takut naik kereta listrik di atas gerbong terbuka di negri ini? Mau disemprot cat? Ndak takut mereka! Orang-orang pinggiran di pinggiran sungai yang tiap saat terlanda banjir, apakah takut banjir dan kemudian berbondong-bondong untuk pindah? Egp…emang gue pikirin! Dan lihat wajah mereka tetap ceria dan ketawa-tiwi meski rumah mereka terendam sedengkul tiap hari. Mereka telah terbiasa dengan penderitaan. Gusti Allah mboten sare, becik ketitik ala ketara…sabar narimo ing pandum… Barangkali demikianlah slogan mereka.

Tahan banting, tabah, tidak takut menderita, barangkali memang kekuatan dari bangsa kita semenjak belum menghirup udara kemerdekaan. Namun jika ditelaah secara lebih seksama lagi, hal tersebut ternyata juga merupakan sisi kelemahan bangsa kita jika tidak diterapkan secara bijaksana. Dengan sikap nrimo dan pasrah, serta sikap adaptasi terhadap kesulitan hidup bisa jadi mematikan sikap brontak untuk maju bertempur melawan kezaliman, ketidakadilan jaman guna memperbaiki hidup.

Kebodohan dan kemiskinan yang seharusnya diperanginya ramai-ramai, malahan disandingi dan diakrabinya dengan mesra. Hidup seakan harus senantiasa dilandasi sikap pasrah tanpa melakukan perbaikan. Apakah keinginan para leluhur yang mewariskan kearifan tersebut memang menginginkan hal yang demikian? Nampaknya perlu ada perbaikan pemahaman atau lebih radikal lagi, perlu redefinisi tata nilai. Sikap dan moralitas hidup yang telah diwariskan nenek moyang harus dilandasi sikap cerdas dan kritis dengan penjiwaan yang empan papan atau proporsional disesuaikan dengan dinamika jaman untuk meraih hidup yang lebih baik.

Bangsa dan masyarakat yang maju adalah masyarakat yang mengenali diri sendiri secara baik, mampu mengukur kekuatan sekaligus kelemahannya untuk kemudian merumuskan cita-cita sebagai tujuan hidup. Dengan pengetahuan mengenai diri sendiri yang memadai, segala potensi dan kekuatan yang dimiliki akan dapat lebih dioptimalkan untuk menggapai cita-cita setinggi apapun. Dan nampaknya bangsa ini harus segera menyadari hal ini dan keluar secepatnya dari krisis cita-cita.[]