RASULAN
Tak Berkategori Maret 26th, 2008TRADISI TIADA HENTI
Apa yang terlintas di benak anda pada saat mendengar kata rasulan sebagaimana judul di atas? Barangkali kebanyaka orang langsung akan berpikir mengenai suatu kegiatan yang ada hubungannya dengan peringatan terhadap suatu momen hidup Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Misalkan saja dihubungkan dengan hari kelahiran nabi, sebagaimana peringatan mauludan. Saat diturunkannya wahyu Qur’an pertama kali sekaligus pengangkatan Muhammad sebagai nabi dan rasul yang diperingati sebagai Nuzulul Qur’an. Atau waktu dimana Kanjeng Nabi berhijrah ke Madinah Al Munawaroh yang dikenal sebagai tahun baru hijriyah. Ternyata tidak selamanya kata rasulan dihubungkan dengan momen-momen tersebut.
Untuk sebagian masyarakat Jawa, terutama penduduk di Gunung Kidul yang terbentang mulai dari Panggang di sebelah barat hingga Girisubo di ujung timur, ternyata kata rasulan mempunyai makna tersendiri dan tidak ada sama sekali hubungannya dengan Kanjeng Nabi. Lalu bagaimanakah kelompok masyarakat tersebut memaknai kata rasulan tersebut? Rasulan, atau merti deso atau bersih dusun merupakan suatu kegiatan dalam rangka peringatan berdirinya sebuah dusun, desa, atau kampung. Inti dari kegiatan tersebut merupakan pemanjatan rasa puji dan syukur atas segala nikmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada semua warga dusun.
Ladang dan persawahan yang membentang, hewan ternak peliharaan yang sehat dan gemuk-gemuk, anak istri dan segenap anggota keluarga yang diberi kesehatan dan kecukupan sandang pangan serta papan, semua kenikmatan itu mereka sadari sepenuhnya merupakan pemberian Kang Akarya Jagad. Meskipun jika kita bicara jujur mengenai kehidupan mereka yang menurut teori ekonomi modern, dikatakan di bawah garis kemiskinan, namun etos semangat yang tertanam dalam di lubuk sanubarinya adalah sikap untuk selalu narimo ing pandum terhadap semua pemberian Gusti Alloh.
Kehidupan mereka memang serba marjinal. Bagaimana kita bisa membayangkan kehidupan di tengah area perbukitan kapur tandus dengan cadangan air yang sangat minim. Hewan ternak yang terpaksa memakan hewan ternak yang lain karena keterpaksaan â€kanibalisme†untuk membeli pakan dan air minum. Tanah garapan yang hanya bisa ditanami singkong, jagung dan gude, dan jika sedikit beruntung bisa menanam padi gogo di musim hujan. Sebarapakah hasil panenan mereka? Seberapa mahal harga satu kuintal gaplek? Kita tentu miris membayangkannya. Namun demikian mereka tetap memanjatkan puji syukur kepada Tuhan.
Dari sisi sejarah, dikabarkan bahwa para pelarian kerajaan Majapahit di saat senjakalaning negari banyak yang lari menyepi di daerah pinggiran nan terpencil karena keterpaksaan politik, ideologi dan tentunya budaya. Daerah yang menjadi kantong penampung pelarian tersebut diantaranya Pulau Bali, kawasan Tengger, dan seputar Pegunungan Seribu(Gunung Kidul). Bahkan konon abdi kinasih Brawijaya V, yaitu Sabdopalon dan Noyogenggong, serta beberapa putri kedhaton mengungsi ke Pegunungan Seribu tersebut. Oleh karena itu sentuhan budaya dan tradisi hinduisme di kalangan masyarakat Gunung Kidul, bahkan sampai saat ini masih kental terasa. Dan memang beberapa warga diantaranya memang memeluk Hindu sebagai agamanya. Di samping itu jangan heran dengan rumor bahwa meskipun terkenal tandus dan kurang air, namun perempuan Gunung Kidul terkenal memiliki kulit tubuh yang lembut kuning langsat.
Kembali kepada tradisi rasulan, banyak kegiatan yang dilakukan oleh warga dusun dalam rangka kegiatan rasulan. Acara biasanya berlangsung beberapa hari dengan diawali kegiatan bersih-bersih fisik dusun, mulai dandan dalan, pembuatan pagar pekarangan, pengecatan pagar dan gedhek, termasuk besrik makam dan reresik tempat danyang dusun. Perlu diketahui bahwa yang dimaksud danyang adalah penguasa atau yang mbahurekso kawasan dusun secara mistik spiritualis. Dan memang dalam filosofi masyarakat setempat aroma dinamisme dan animisme masih sangat kental terasa.
Danyang bisa berasal dari makhluk halus penunggu dusun maupun roh para nenek moyang. Setiap dusun biasanya mempunyai suatu tempat khusus yang dikhususkan untuk tempat persemayaman roh sang danyang. Biasanya tempat tersebut berupa pohon resan atau watu dukun. Pohon resan bisa jadi merupakan pohon ringin kurung, ipik, randu alas dan lain sebagainya. Sedangkan watu dukun merupakan batu besar selayaknya jaman megalitikum yang diselimuti dengan kain sarung poleng, atau motif papan catur seperti di Bali. Nah di tempat danyang dusun inilah biasanya ditempatkan berbagai sesajen untuk memohon keslametan, dan dalam alam adat merekapun jika ada warga yang sakit seringkali dimintakan obat kesembuhan kepada danyang dusun melalui perantara pak kaum.
Prosesi ritual rasulan diawali gendurenan komplit, sego gurih, sayur ingkung dan uba rampe lainnya. Dalam proses pemanjatan doa, pak kaum mengikrarkan segala rasa syukur warga atas segala kemurahan limpahan nikmat. Biasa juga disampaikan bahwa pak kaum sudah sowan kepada danyang dusun untuk memohon perlindungan dalam kegiatan bercocok tanam, bermasyarakat dan mencari nafkah hidup. Tak lupa disampaikan pula bahwa doa untuk kemenangan tim sepak bola atau bola volley dusun yang di keesokan harinya akan bertanding melawan musuh yang dibon(didatangkan) dari daerah lain dapat menang dalam bertanding.
Kegiatan di siang hari diisi dengan kegiatan lomba olah raga, barangkali ini terjadi setelah era modern saja. Sedangkan malam hari diisi dengan acara seni atau budaya. Untuk seni budaya ini tergantung dari masing-masing keinginan atau adat suatu dusun. Ada yang nanggap kethoprak, wayang kulit, campur sari, bahkan tayuban. Berapa hari dan berapa jenis kegiatan atau pertunjukan budaya yang dilakukan sangat tergantung dengan kepercayaan adat dan tentunya dana yang dimiliki. Ada yang diselenggarakn tiga hari, empat hari bahkan lima hari. Ada yang cukup nanggap wayang kulit tok, ada yang ditambah kethoprak, sekaligus campur sari dan tayuban. Namun intinya bahwa kegiatan rasulan harus dilaksanakan setiap tahun, jika tidak masyarakat percaya bahwa dusun mereka akan dilanda bendhu atau adzab dari Sing Gawe Urip.
Bisa kita bayangkan barangkali, seberapa biaya perlu dianggarkan untuk sebuah even rasulan. Dan barangkali sesuai dengan definisi bersih dusun, maka bersih juga semua dana kas yang dimiliki oleh masyarakat. Ada tarik ulur kepentingan antara adat budaya dan realitas hidup yang semakin sulit. Dalam keseharian, dengan kondisi alam yang minus, masyarakat senantiasa hidup secara marjinal bahkan serba kekurangan, sedangkan tuntutan adat budaya mereka memaksa untuk mengalokasikan dana yang dikumpulkan secara sangat tidak mudah untuk kegiatan rasulan. Dilematis memang! Dan nampaknya hanya waktu yang kelak dapat menjawab relevansi perlunya rasulan dengan realitas kebutuhan hidup masyarakatnya.
Dedicated for warga Giri Panggung, Tepus, Gunung Kidul








Maret 26th, 2008 at 5:41 pm
mantap tulisannya, mas
pengetahuan saya jadi bertambah
Maret 26th, 2008 at 6:51 pm
wah… orang yang sangat kejawen sepertinya.
jawanya mana?
Maret 26th, 2008 at 9:15 pm
“keharusan” itu yang harus diluruskan..
Maret 26th, 2008 at 9:48 pm
wah jadi tau sejarahnya neh saya
Maret 26th, 2008 at 11:37 pm
“keharusan” disini menurut saya bukan keharusan untuk berakrab dengan hal2 yang mnurut sebagian orang sebagai ‘musrik’ tapi dilihat sisi positifnya, tntang keharusan brsyukur, menghargai alam, silaturahmi dll yang sebenarnya ada dalam filosofi masing2 ritual maupun ‘uborampe’yang di sajikan.. tapi, ya itu tadi, sebagian orang langsung memvonis pada batu dan pohonnya tanpa mau sedikit membagi tafsirannya pada filosofi2 dan latar belakangnya..
*sori ndoro, nunut ngudoroso..* suwun..
Maret 27th, 2008 at 12:11 pm
eh, sayah ituh baru denger loh istilah rasulan..
*ndeso tenan kowe tik..*
Maret 27th, 2008 at 3:30 pm
hmmm… gitu yah…baru tahu…. maklum saya orang jawa masa kecilnya dihabiskan di luar jawa.
Maret 27th, 2008 at 3:59 pm
#edy:
nuwun mas…
monggo untuk nambah wawasan
#tachu:
orang kejawen?
saya hanya orang jawa bukan kejawen….:)
asline Gunung Merapi kulo!
#Santi:
setuju banget mbak…
jaman sekarang memang seringkali hukum terbalik-balik
#Ghatel:
jas merah kang…
jangan melupakan sejarah!
#kang sayur asem:
leres sanget ngendika sampeyan kang!
#tikabanget:
yo ndeso kuto ora bedo mbak!
#ivanorma:
ya dimanapun tempat kita disitulah bumi Gusti…
dimana bumi dipijak,
disitulah langit harus kita junjung.
ya to?
Maret 27th, 2008 at 5:01 pm
dulu alm. ibuku suka bikin lontong sama lauk pauknya terus di kirim ke mesjid, tetangga2 juga, terus itu makanan di bagi2 kan, pulang ke rumah juga bawa makanan2 itu, aku yg masih kecil saat itu seneng sekali kalau diminta membawa hantaran ke mesjid, rame tenan
Maret 27th, 2008 at 5:28 pm
ohhh begicu…
jujur, itu istilah baru? rasulan?
maklum bukan wong jawa…tapi jadi ngerti sekarang…
Maret 27th, 2008 at 8:56 pm
di tempat saya sekarang, maulud nabi dirayakan dengan beberapa cara: mengayun bayi, pengajian, dan yang paling asik, makan-makan. diundang ke sana-kesini, masuk rumah, makan, pulang. sehari bisa dua kali, pagi dan siang. besok makan lagi, di kampung yang lain, besoknya, di kampung dan rumah yang beda lagi. ini selama sebulan. mangkanya, aku tambah lemu saiki.
Maret 28th, 2008 at 9:26 am
kalo di sini namanya Mullutdan, bukan rasulan…
Maret 28th, 2008 at 12:57 pm
#mbak Elys:
wah mirip mbak…
ning tempatku kumpule di rumah pak bayan:)
#verlita:
yo sekedar sedikit bagi cerita lah…;)
#sahrudin:
ra seneng piye kang…
bola-bali mangan je-;)
#Qie:
ini sebenarnya tidak ada hubungan dengan muludan jane…
makna rasulan jauh panggang daripada api;(
Maret 28th, 2008 at 1:56 pm
bagaimana kalau tradisi2 tersebut bertentangan dengan syariat agama…? apa perlu di pertahankan sedangkan tradisi kita kebanyakan berasal dr percampuran agama sebelum islam masuk ke Indonesia.
Maret 28th, 2008 at 2:03 pm
malah baru denger istilah ini nih…
Maret 28th, 2008 at 3:22 pm
Ada yang tahu gak ya kapan tanggal lahirnya Anang?
Maret 28th, 2008 at 9:30 pm
istilah darimana ya rasulan itu. di tempat saya namanya ya mulud-an. biasa aja
Maret 29th, 2008 at 5:27 pm
Tradisi harus di lestarikan dan tetap di jaga
Maret 30th, 2008 at 2:07 pm
baru denger..yang saya tau dhuhuran, magriban…
Maret 31st, 2008 at 7:30 am
#suryadi:
itulah…
makane mereka-mereka butuh seorang pioner yang mempunyai kesadaran seperti sampeyan untuk mendampingi langkah mereka dan memberikan pencerahan spiritual…
selagi mereka masih membuka diri untuk berproses menuju yang haq, why not? kenapa kita venderung mengutuk mereka, bukannya merangkul, melakukan pendekatan dari hati-hati untuk bersama-sama menuju petunjuk Tuhan? apakah mereka tidak berhak mengikuti kebenaran itu?
maka, cintailah mereka…
#nino:
it’s ok dab!
#antown:
yo namanya deso mowo coro negoro mowo toto mas!
lain ladang lain belalang,
lain lubuk lain ikannya…
bukankah begitu?
#ario dipoyono:
cocok mas…
tapi tentunya tradisi yang positif dan selaras dengan fitrah manusia lho yo!
#cewektulen:
biasa mawon lah mbakayune…
Maret 31st, 2008 at 10:07 am
aku tahu rasulan. di desa suami malah pake acara nanggap wayang barang…