SEBUAH FENOMENA!!!

Radya1

Ingatkah sampeyan dengan serial anak ajaib yang dibintangi Joshua kecil, Sion Gideon lengkap dengan Pak Blangkone? Sedikit mirip dengan si ponang jabang bayi saya yang telah terlahir premature beberapa waktu yang lalu. Barangkali memang tidak layak disebut sebagai bayi dengan cerita berbagai cerita keajaiban yang menyertainya, namun sebagai suatu tamsil atau perumpamaan bolehlah disebut ajaib atau lebih tepat aneh bin ajaib. Hal tersebut berdasarkan beberapa fenomena yang sedikit nyleneh dan nggege mongso untuk kebanyakan bayi seusianya.

Si ponang yang terlahir premature dengan bobot badan 2,3 kg hanya membutuhkan waktu satu bulan untuk mencapai bobot 4 kg. Hal demikian menurut catatan medis pada saat setiap pelaksanaan check up rutin. Dengan demikian tentu dapat dibayangkan betapa montoknya pipi si ponang meskipun tidak pernah diberikan susu profikit sebagaimana diiklankan di masa orde baru silam. Hal tersebut jelas membuat hidung si ponang semakin tenggelam dan tak akan pernah bisa tumbuh mancung. Kalaulah sang dokter memberikan petunjuk agar si ponang diberikan asi setiap dua jam sekali, ternyata bagi si ponang satu jam sekali bahkan setengah jam saja masih kurang, dan tentu saja hal itu sedikit merepotkan bahkan membuat kewalahan sang biyung untuk meladeninya. Fakta inilah yang membuat si ponang selain diberikan asi secara normal, juga sudah mulai ditambah dengan susu formula, bahkan saat ini ditambah juga dengan bubur beras merah.

Di kala kelahirannya, hingga saat ini, si ponang tergolong bayi yang sangat jarang menangis dan rewel. Sesekali memang sedikit merengek, pada saat minta susu atau pada saat pipis, namun itupun hanya sebatas cengeran singkat seakan memberi tanda kepada orang dewasa di sekitarnya untuk memberikan perhatian kepadanya. Pun bahkan pada saat bobot tubuh si ponang mencapai 3 kg dan harus menjalani imunisasi pertamanya dengan pemberian tetes mulut, tidak juga membuatnya menangis.

Saat imunisasi selanjutnya yang diberikan melalui suntikan di bokongnya, paling hanya sedikit cenger saat jarum menusuk kulit lembutnya. Pada saat demikian sang dokter memberikan wejangan agar si ponang tidak boleh nangis sambil mengusap lembut kedua sisi pipinya dan sesaat kemudianpun si ponang terdiam tenang seakan tidak baru saja tertusuk jarum suntik, sehingga ketika keluar dari ruang dokter sang biyung melenggang dengan si ponang yang tetap plola-plolo di dekapannya. Tentu saja hal tersebut membuat iri para ibu dari bayi yang lain, yang masih menunggu cemas untuk menunggu giliran putra-putrinya disuntik. Yang kebanyakan terjadi adalah sang bayi akan menangis sejadi-jadinya pada saat pantatnya yang mungil tertembus jarum suntuk, dan untuk menghentikan tangisannya dibutuhkan trik dan tips serta jerih payah yang maksimal dari sang ibu.

Bayi selapan dino atau dalam hitungan tiga puluh lima hari sudah mulai aktif ngoceh, itulah si ponang. Pada saat biyunge memberikan kabar tersebut kepada saya, sayapun setengah tidak percaya. Namun pada saat saya sempat mengengoknya ternyata dia paling seneng ngoceh di hadapan saya dibandingkan di hadapan biyung atau utinya. Di depan sang bopo seakan dia kontes ingin menunjukkan kemampuan barunya, dengan lantang dan penuh kepercayaan diri yang luar biasa.

mBahSurip3Ketika selesai menghabiskan jatah susu atau selesai mandi usap dan saatnya menjelang si ponang tidur, atau terkadang di saat pagi hari setelah kebangunannya dari lelapan dekapan mimpi, dia selalu ngadi-adi meminta sang bopo untuk ngudang dengan beberapa lagu kegemarannya. Dan tak salah lagi, sebagaimana si Jasmine anak dari mBak Bertha mantan pengasuh AFI, lagu favorit si ponang adalah bangun tidurnya mBah Surip.

Bangun tidur, tidur lagi….

Lagi tidur, bangun lagi…

Banguuuun…..tidur lagi

Habis bangun terus mandi,

Jangan lupa senam pagi,

Kalo lupaaaa……..

Tidur lagi!

Luar biasa memang mBah Surip, meski usia sudah setengah tuwo namun pembawaannya memang mencerminkan kegembiraan anak balita yang masih lugu, suci, dan tiada dosa.

Di samping sifat nggege mongso(atau mendahului perkiraan) sebagaimana tersebut di atas, si ponang, bayi satu lapan itu juga sudah mulai krugat-kruget memiringkan tubuh ke sisi kanan atau kiri, seakan sudah mau mbalik untuk segera telungkupan dan kemudian belajar mbrangkang. Kata si biyunge, si ponang senang krugat-kruget dan memuntir-muntirkan tubuhnya dikarenakan kegemaran sang bopo yang suka makan untir-untir. Apakah memang demikian?

Radya2Sedikit rasa khawatir yang menyelimuti kami sebagai orang tua si ponang adalah sedikit rentannya tubuh si ponang terhadap suhu udara yang dingin menggigit. Bila sudah terkena udara dingin si ponang biasanya menderita buntet hidung, hal ini mungkin memang bawaan seorang bayi prematur, sebagaimana keterangan yang diberikan sang dokter. Jika hal demikian terjadi, yang biasa kami lakukan adalah mengolesi pucuk hidung si ponang yang sedikit tidak mancung dengan minyak telon cap tiga anak yang legendaris itu. Tubuh sang ponang kemudian kami bopong dengan sedikit memiringkan bagian kepala atau terkadang menggendongnya sedemikian sehingga tubuhnya berdiri menempel di tubuh orang tuanya, cara ini lumayan ampuh untuk mempercepat terjadi plong pada kedua lubang hidung si ponang.

Si ponang seringkali berbisik dengan bahasanya menceritakan agenda bahwa di bulan depan dia sudah harus bisa tengkurap untuk kemudian mulai belajar merangkak perlahan.

Akankah takdir mengabulkan cita-cita si ponang di bulan depan? Semua kembali kepada Sang Murbeng Dumadi. Kita lihat saja bersama-sama perkembangan selanjutnya…..[]