ANAK POLAH BOPO KEPRADAH

dimasdiajeng

Cinta memang buta. Dan setiap insan yang sedang dimabuk asmara seringkali menjadi lupa daratan dan kehilangan pertimbangan akal sehat serta kejernihan logika berpikir ketika mengambil suatu keputusan, terlebih untuk melakukan suatu tindakan. Kesusu dan grusa-grusu, itulah yang seringkali terjadi sehingga tak jarang terjadi keputusan yang diambil menjadi keliru.

Adalah Sunaryo dan Sundari, dua sejoli yang bertetangga dusun terjangkit virus-virus cinta sebagaimana legenda Surti dan Tejo yang tersohor itu. Dua-duanya memang semenjak sekolah di tsanawiyah telah akrab. Dan setelah tumbuh menjadi perjaka dan perawan dewasa, keduanya menyatakan tekad dan cita-cita untuk menempuh suka duka dunia secara bersama.

Adalah kenyataan hidup yang memaksa keduanya tidak bisa menggapai cita-cita mereka lebih cepat. Selepas sekolah STM Sunaryo harus merantau untuk ngluru pangupo jiwo ke ujung timur pulau Jawa, menjadi buruh sebuah pebrik di Pasuruhan. Sedangkan Sundari begitu lulus sebuah SMEA swasta, kemudian nekad merantau mencari peruntungan dengan menjadi rewang biyung emban di negara tetangga, Malaysia. Jadilah keduanya menjalani tali percintaan secara jarak jauh, telelove begitulah istilah kerennya.

Terkisahlah kemudian, setelah menjalani kontrak ngemban selama empat tahun, Sundari kembali ke dusun dengan sedikit tabungan sebagai bekal untuk berumah tangga kelak. Dan untuk menguatkan komitmen dan cita-cita dua sejoli melangkah ke mahligai pernikahan, pihak keluargo Sunaryo secara resmi mengajukan lamaran. Dan atas pertimbangan para sesepuh dan pinisepuh kedua belah pihak, pelaksanaan peresmian hubungan dalam suatu pernikahan belum bisa dilangsungkan dalam waktu dan tempo dekat. Hal tersebut tentunya dimaksudkan untuk mencari hari dan waktu yang paling pas, disamping sambil keklumpuk ubo rampene gawe.

Tanpa dinyana, secara mendadak dan tiba-tiba, Sunaryo terkena sakit sehingga harus dirumat secara intensif di sebuah rumah sakit. Akhirnya demi anak bungsu tercintanya, sang bopo berangkat ke Pasuruhan untuk ngarohke keadaan anaknya yang sakit. Dengan sedikit merajuk, Sundari tentu saja ingin ikut serta untuk menghibur bagi kesembuhan sang tunangan agar segera sembuh dari sakitnya. Akhirnya berangkatlah sang bopo dengan calon menantunya menuju bumi timur tanah jawadwipa.

Singkat cerita akhirnya sang bopo menunggui Sunaryo selama beberapa hari di rumah sakit. Setelah dirasa rasa sakit yang menimpa anaknya telah mendekati titik kesembuhan, dan juga pertimbangan mbok wedhok dan segala tanggungan hewan ternak dan ladang yang kapiran selama ditinggal beberapa hari untuk membesuk anaknya, sang bopopun berniat untuk segera kembali ke kampung halaman. Di pihak lain, Sundari dengan dilandasi rasa sayang dan cintanya kepada sang janoko, masih belum tega untuk meninggalkan kekasihnya. Dan kemudian atas izin sang calon mertua, dirinya diperkenankan untuk tinggal lebih lama menemani Sunaryo di rumah sakit sampai waktu kepulangan.

Kepulangan sang bopo ke kampung halaman tidaklah membawa buah tangan yang nganeh-anehi, hanya sebuah tas berisi beberapa lembar gombal pakaian kotor yang selama beberapa hari di rumah sakit tidak sempat dicuci. Sesampainya di rumah, bungkusan gombal tersebut diserahkannyalah kepada sang istri agar dapat mencucikannya. Dan saat sang istri membuka dan akan merendam lembar pakaian kotor tersebut, mendadak……treng tre teng!!!!

Betapa terkejutnya sang simbok ketika menangi bahwasanya di dalam untelan gombal pakaian kotor tersebut terdapat beberapa lembar jerohan pakaian wanita. Jabang bayi….sang simbok sontak emosi, marah dan tentu saja jengkel bukan main mendapatkan oleh-oleh aneh tersebut.

Dengan setengah berteriak dipanggilnyalah sang suami yang tengah nglinting udud di teras depan rumah mereka. Sambil terus mencak-mencak nan menggerutu sang simbok melampiaskan kemarahannya kepada sang bopo yang belum ngeh dengan permasalahan yang terjadi. Sang simbok teramat murka dan menilai perbuatan sang calon menantu sangat tidak sopan, belum benar-benar jadi menantu kok sudah berani berulah. Sang bopo sedikit menenangkan, barangkali itu hanya suatu hal ketidaksengajaan belaka, yo mohon dimaklumi saja dan nanti ditanyakan kepada kedua anaknya apa maksud dari ini semua. Tapi sang simbok terlanjur muntab kemarahannya untuk kemudian ngambek tidak mau mencucikan baju oleh-oleh tersebut. Sang bopo hanya menarik nafas panjang, dan terpaksa memang sang bopolah yang kemudian terpaksa mencuci sendiri baju kotornya plus oleh-oleh aneh kain jerohan. Anak polah bopo kepradah, anak yang berulah, orang tualah yang menanggunggkan akibatnya.

Sebagaimana keumuman orang dusun, sang simbok tidak kuat ngampet rahasia kisah aneh tersebut. Entah untuk sekedar mencurahkan isi hati, diceritakanlah pengalaman pahitnya kepada beberapa tetangga. Dan hasilnya, berita nan gosip meriah segera menyelimuti kepala orang-orang dusun. Singkatnya semua orang menjadi tahu kisah aneh tadi, termasuk saya yang mendapat cerita dari biyung saya.

Pada saat Sunaryo pulang kampung setelah kesembuhannya dari sakit, sang simbok langsung melabraknya, menyudutkannya tanpa pembelaan, untuk kemudian menvonis anaknya sebagai anak tidak tahu aturan, nggak sopan dan duroko terhadap ibunya. Sang anak merasa sebagai anak muda yang masih berapi-api emosinya tak kuat mengendalikan kejengkelannya dan akhirnya memilih pergi untuk tinggal di rumah tunangannya selama beberapa hari. Mungkin untuk sekedar meredakan keadaan, lebih baik menyingkir sementara waktu.

Hal demikian bagi warga dusun menjadi bahan omongan dan gosipan baru. Ing atase belum resmi sebagai suami istri kok sudah berani mondok di rumah calon mertua. Akhirnya daripada masalah berkepanjangan dan semakin tak terkendali, kedua belah pihak keluarga berembug untuk kemudian menikahkan Sunaryo dan Sundari dalam tempo secepatnya. Dan wal hasil, berlangsunglah sebuah pernikahan sederhana tepat di hari Sabtu Kliwon, tanggal 23 Maret 2008 lalu.

Satu hal terpenting barangkali bisa dipetik dari kisah klasik masa kini di atas, bahwasanya antara orang tua dan anak harus ada komunikasi yang baik dengan dilandasi sikap tepo sliro, dan sebagai kuncinya juga perlu suatu pengendalian emosi sesaat yang terkadang membuat suatu masalah menjadi memburuk. Adalah kewajiban seorang anak untuk senantiasa menghormati kedua orang tuanya, namun demikian, juga adalah kewajiban orang tua untuk mengasihi, menyanyangi dan memberikan bimbingan kepada anaknya.

Terlepas dari semua latar belakang kisah suka duka dan cobaan yang menyertai, tak lupa secara khusus saya ucapkan selamat kepada mempelai berdua. Moga tetap rukun, atut runtut rerentengan tumekaning kaken-kaken lan ninen-ninen. Biso nduwe putro keturunan kang sholeh lan sholihah dan senantiasa berada di bawah lindungan Kang Hakaryo Jagad.[]