NARYO NDARI
Ndalem Kronggahan April 3rd, 2008ANAK POLAH BOPO KEPRADAH
Cinta memang buta. Dan setiap insan yang sedang dimabuk asmara seringkali menjadi lupa daratan dan kehilangan pertimbangan akal sehat serta kejernihan logika berpikir ketika mengambil suatu keputusan, terlebih untuk melakukan suatu tindakan. Kesusu dan grusa-grusu, itulah yang seringkali terjadi sehingga tak jarang terjadi keputusan yang diambil menjadi keliru.
Adalah Sunaryo dan Sundari, dua sejoli yang bertetangga dusun terjangkit virus-virus cinta sebagaimana legenda Surti dan Tejo yang tersohor itu. Dua-duanya memang semenjak sekolah di tsanawiyah telah akrab. Dan setelah tumbuh menjadi perjaka dan perawan dewasa, keduanya menyatakan tekad dan cita-cita untuk menempuh suka duka dunia secara bersama.
Adalah kenyataan hidup yang memaksa keduanya tidak bisa menggapai cita-cita mereka lebih cepat. Selepas sekolah STM Sunaryo harus merantau untuk ngluru pangupo jiwo ke ujung timur pulau Jawa, menjadi buruh sebuah pebrik di Pasuruhan. Sedangkan Sundari begitu lulus sebuah SMEA swasta, kemudian nekad merantau mencari peruntungan dengan menjadi rewang biyung emban di negara tetangga, Malaysia. Jadilah keduanya menjalani tali percintaan secara jarak jauh, telelove begitulah istilah kerennya.
Terkisahlah kemudian, setelah menjalani kontrak ngemban selama empat tahun, Sundari kembali ke dusun dengan sedikit tabungan sebagai bekal untuk berumah tangga kelak. Dan untuk menguatkan komitmen dan cita-cita dua sejoli melangkah ke mahligai pernikahan, pihak keluargo Sunaryo secara resmi mengajukan lamaran. Dan atas pertimbangan para sesepuh dan pinisepuh kedua belah pihak, pelaksanaan peresmian hubungan dalam suatu pernikahan belum bisa dilangsungkan dalam waktu dan tempo dekat. Hal tersebut tentunya dimaksudkan untuk mencari hari dan waktu yang paling pas, disamping sambil keklumpuk ubo rampene gawe.
Tanpa dinyana, secara mendadak dan tiba-tiba, Sunaryo terkena sakit sehingga harus dirumat secara intensif di sebuah rumah sakit. Akhirnya demi anak bungsu tercintanya, sang bopo berangkat ke Pasuruhan untuk ngarohke keadaan anaknya yang sakit. Dengan sedikit merajuk, Sundari tentu saja ingin ikut serta untuk menghibur bagi kesembuhan sang tunangan agar segera sembuh dari sakitnya. Akhirnya berangkatlah sang bopo dengan calon menantunya menuju bumi timur tanah jawadwipa.
Singkat cerita akhirnya sang bopo menunggui Sunaryo selama beberapa hari di rumah sakit. Setelah dirasa rasa sakit yang menimpa anaknya telah mendekati titik kesembuhan, dan juga pertimbangan mbok wedhok dan segala tanggungan hewan ternak dan ladang yang kapiran selama ditinggal beberapa hari untuk membesuk anaknya, sang bopopun berniat untuk segera kembali ke kampung halaman. Di pihak lain, Sundari dengan dilandasi rasa sayang dan cintanya kepada sang janoko, masih belum tega untuk meninggalkan kekasihnya. Dan kemudian atas izin sang calon mertua, dirinya diperkenankan untuk tinggal lebih lama menemani Sunaryo di rumah sakit sampai waktu kepulangan.
Kepulangan sang bopo ke kampung halaman tidaklah membawa buah tangan yang nganeh-anehi, hanya sebuah tas berisi beberapa lembar gombal pakaian kotor yang selama beberapa hari di rumah sakit tidak sempat dicuci. Sesampainya di rumah, bungkusan gombal tersebut diserahkannyalah kepada sang istri agar dapat mencucikannya. Dan saat sang istri membuka dan akan merendam lembar pakaian kotor tersebut, mendadak……treng tre teng!!!!
Betapa terkejutnya sang simbok ketika menangi bahwasanya di dalam untelan gombal pakaian kotor tersebut terdapat beberapa lembar jerohan pakaian wanita. Jabang bayi….sang simbok sontak emosi, marah dan tentu saja jengkel bukan main mendapatkan oleh-oleh aneh tersebut.
Dengan setengah berteriak dipanggilnyalah sang suami yang tengah nglinting udud di teras depan rumah mereka. Sambil terus mencak-mencak nan menggerutu sang simbok melampiaskan kemarahannya kepada sang bopo yang belum ngeh dengan permasalahan yang terjadi. Sang simbok teramat murka dan menilai perbuatan sang calon menantu sangat tidak sopan, belum benar-benar jadi menantu kok sudah berani berulah. Sang bopo sedikit menenangkan, barangkali itu hanya suatu hal ketidaksengajaan belaka, yo mohon dimaklumi saja dan nanti ditanyakan kepada kedua anaknya apa maksud dari ini semua. Tapi sang simbok terlanjur muntab kemarahannya untuk kemudian ngambek tidak mau mencucikan baju oleh-oleh tersebut. Sang bopo hanya menarik nafas panjang, dan terpaksa memang sang bopolah yang kemudian terpaksa mencuci sendiri baju kotornya plus oleh-oleh aneh kain jerohan. Anak polah bopo kepradah, anak yang berulah, orang tualah yang menanggunggkan akibatnya.
Sebagaimana keumuman orang dusun, sang simbok tidak kuat ngampet rahasia kisah aneh tersebut. Entah untuk sekedar mencurahkan isi hati, diceritakanlah pengalaman pahitnya kepada beberapa tetangga. Dan hasilnya, berita nan gosip meriah segera menyelimuti kepala orang-orang dusun. Singkatnya semua orang menjadi tahu kisah aneh tadi, termasuk saya yang mendapat cerita dari biyung saya.
Pada saat Sunaryo pulang kampung setelah kesembuhannya dari sakit, sang simbok langsung melabraknya, menyudutkannya tanpa pembelaan, untuk kemudian menvonis anaknya sebagai anak tidak tahu aturan, nggak sopan dan duroko terhadap ibunya. Sang anak merasa sebagai anak muda yang masih berapi-api emosinya tak kuat mengendalikan kejengkelannya dan akhirnya memilih pergi untuk tinggal di rumah tunangannya selama beberapa hari. Mungkin untuk sekedar meredakan keadaan, lebih baik menyingkir sementara waktu.
Hal demikian bagi warga dusun menjadi bahan omongan dan gosipan baru. Ing atase belum resmi sebagai suami istri kok sudah berani mondok di rumah calon mertua. Akhirnya daripada masalah berkepanjangan dan semakin tak terkendali, kedua belah pihak keluarga berembug untuk kemudian menikahkan Sunaryo dan Sundari dalam tempo secepatnya. Dan wal hasil, berlangsunglah sebuah pernikahan sederhana tepat di hari Sabtu Kliwon, tanggal 23 Maret 2008 lalu.
Satu hal terpenting barangkali bisa dipetik dari kisah klasik masa kini di atas, bahwasanya antara orang tua dan anak harus ada komunikasi yang baik dengan dilandasi sikap tepo sliro, dan sebagai kuncinya juga perlu suatu pengendalian emosi sesaat yang terkadang membuat suatu masalah menjadi memburuk. Adalah kewajiban seorang anak untuk senantiasa menghormati kedua orang tuanya, namun demikian, juga adalah kewajiban orang tua untuk mengasihi, menyanyangi dan memberikan bimbingan kepada anaknya.
Terlepas dari semua latar belakang kisah suka duka dan cobaan yang menyertai, tak lupa secara khusus saya ucapkan selamat kepada mempelai berdua. Moga tetap rukun, atut runtut rerentengan tumekaning kaken-kaken lan ninen-ninen. Biso nduwe putro keturunan kang sholeh lan sholihah dan senantiasa berada di bawah lindungan Kang Hakaryo Jagad.[]







April 3rd, 2008 at 8:47 am
ada-ada aja ceritanya
jabelom jelas apa alasannya, mas?
April 3rd, 2008 at 9:59 am
Serasa ada di infotainment versi bahasa jawa, tapi ngomong2 sundari ga ngepas dulu apa? barangkali jerohan itu miliknya dulu yang di ambil sebagai kenang2-an. He..
April 3rd, 2008 at 12:13 pm
saya ikut mendoakan kedua mempelainya mas, supaya langgeng
April 3rd, 2008 at 12:20 pm
kadose leres Dhoro! “anak polah bopo kepradah”, ono maneh “kebo nusu gudel” pancen wus dadi wolak-walike jaman.
April 3rd, 2008 at 2:38 pm
anka polah bopo kepradah, tadinya salah terus mengartikannya pak…:), makasih sudah mampir
April 3rd, 2008 at 3:12 pm
kapan cerpen versi cetaknya keluar mas?
April 3rd, 2008 at 3:35 pm
seru nih. enak diikuti
April 3rd, 2008 at 8:31 pm
hmmm
April 3rd, 2008 at 11:05 pm
saya kira terjadi apair antara bapak dan calon menantu, ternyata…………….
April 3rd, 2008 at 11:27 pm
waduh kurang ajar juga sundari, mudah2an itu hanya kekilafan semata… semoga pernikahannya menyenangkan semuanya….
April 4th, 2008 at 12:13 am
oh sundari, oh sunaryo, semoga sakinah
April 4th, 2008 at 7:09 am
@edy:
yo begitulah masalah yang sebenarnya malah menjadi kabur dan absurb karena budaya kita untuk mengklarifikasi ataupun mengidentifikasi suatu masalah belum memasyarakat…
namun nampaknya sebab suatu masalah tidaklah juga terlalu penting jika dibandingkan dengan solusi terbaiknya…
@poo:
ha embuh kalau soal itu…
namun janganlah berpraduka sejauh itulah kang!
@ghatel:
setuju mas…
@semut ireng:
kebo nusu gudel, wah ide cerita yang bagus tuh…
tunggu ae postingane!
@unai:
emang sebelumnya sampeyan mengartikan opo mbak?
@mikow:
tunggu ae titi wancine dab!
@artja:
nuwun dab!
@gwganteng:
hmmmm…meriang cak!
@kang slamet:
kalo terjadi apa(ir) bisa juga meningkat menjadi apa(slamet)….he,he,he
kebetulan tetangga saya si ir kakange bernama slamet je kang!
@kw:
nampaknya memang hanya soal kekhilafan semata kok…
ngendi ono anak wani marang uwong tuwo,
yen nganti ono, sewu siji cacahe….
(malah lagune kang didi)
@mas hedi:
nderek ndongake bareng-bareng mawon mas!
April 4th, 2008 at 8:39 am
emang begitulah yg namanya cinta. kadang bisa mematikan logika. tapi aku gak gitu kok,he..he…*melakukan pembelaan*
April 4th, 2008 at 1:49 pm
Mas maap bahasanya banyak yg Rooming buat saya…jadi agak2 gak ngerti nih ceritanya….
April 5th, 2008 at 9:12 am
wahh, onok2 ae’ Kang Ndoro iki….?
tak enteni cerito lanjutan e’
April 6th, 2008 at 3:12 am
hehehe..apik mas
dadi..sing keno sial kui bapak e tapi anak e dapat berkah, iso rabi cepet, kekekeke
April 7th, 2008 at 8:15 am
@Gadis Rantau:
yo sing penting sak madya to mbakayu?
cintailah sesuatu sesuai kadar keperluannya saja, jangan berlebihan dalam sesuatu…
@daniel:
wuaduh hari gini isih ono sing keno roaming to?
barangkali ada relawan yang bersedia menjadi translator buat temen kita ini?
mohon maaf ini terkait stylenya seorang ndoro je…
@Qie:
ok…tunggu mawon tanggal postinge!
@Febra:
begitulah urusan cinta, terkadang tak mengenal logika dan terbalik-balik antara untung dan rugi, antara moral dan amoral, antara baik dan buruk dlsb.
April 8th, 2008 at 1:17 pm
mbokne wis kentekan bahan gosip yake nDoro..
April 9th, 2008 at 7:20 am
@sayur asem:
yake wae do kesihir sinetron, dadi hoby nggosip wae…
April 10th, 2008 at 8:49 pm
ealah….hehehehe…..koq tekan2 ne nggosipno jerohan???
wah arek wedok siji kui kebablasen…mosok jerohan kon ngumbahno wong liyo? ga ilok
hihihi
April 11th, 2008 at 7:43 am
@wieda:
yen pancen disengojo cen ra ilok wal ra nggenah….
tapi yen mung khilaf? yo embuhlah…