GOSIP NDESO
Ndalem Kronggahan April 7th, 2008BOPO POLAH ANAK KEPRADAH
![]()
Tidak hanya produk elektronik dan gaya hidup modern yang membanjiri desa dari kota, budaya nggosippun telah lama mengakar di masyarakat padusunan sejak jaman bahula. Apalagi setelah di masa lalu pernah dicanangkan modernisasi deso yang tersohor itu. Hanya saja kemasan dan bentuk komunikasi pergosipan di dusun relatif masih seputar kreasi abang-abang lambe dengan cara gethok tular atau dari mulut ke mulut. Namun demikian dalam hal efek atau akibat dari suatu gosip terhadap tematis pembicaraan warga sama luar biasanya, sehingga terkadang sampai sulit membedakan mana yang masih wilayah gosip dan mana yang sudah menjurus kepada suatu penfitnahan atau black campaigne.
Tidak kalah serunya di kampung halaman tercinta, sebuah dusun kecil dan terpencil di lereng Gunung Merapi sisi barat. Beberapa waktu lalu sempat tersiar kabar burung yang menghebohkan warga. Seorang pemuka masyarakat yang telah menduda selama kurang lebih satu setengah tahun setelah ditinggal sang istri yang kalah berperang melawan penyakit tetanus, mendadak diisukan akan menikah lagi dengan seorang janda yang masih tinggal satu kampung. Yang menambah kehebohan sebagaimana gosip yang lain tentunya gosokan dari para penggosip yang mengoles cerita menjadi makin siip to yo. Lain dengan pembagian dana bantuan, subsidi, askeskin ataupun raskin di dusun kami yang semakin turun ke wong cilik semakin disunat karena penerapan prinsip talang teles alias sunatan massal oleh para pejabat birokrat, gosip semakin menyebar malahan semakin berkembang biak bagaikan suatu reaksi berantai yang semakin tiada terkendali.
Sang duda sebenarnya telah menduduki posisi pemuka masyarakat sebagai Ketua LKMD selama kurun waktu lebih dari 20 tahun. Pengalaman dan kepiawaiannya dalam berdiplomasi ala dusun telah menjadikannya seorang yang menjadi panutan. Terlebih di masa lalu Sang duda adalah pejabat mandor hutan di lereng Merapi, hingga banyak tetangga dan wong cilik yang ikut ngenger menggantungkan hidup dengan menjadi pekerjanya. Hal demikian menjadikan setiap ide dan gagasannya mengenai pembangunan kampung, mesti terkadang tidak selalu bijak, senantiasa dianut banyak orang. Hanya saja setelah Sang duda tiada lagi menjabat sebagai mandor hutan karena memasuki usia pensiun, pengaruh itupun secara berangsur mulai memudar. Ibarat gula yang tak lagi manis kemudian ditinggalkan oleh semut-semut kecil yang semula mencari penghidupan daripadanya. Habis manis sepah dibuang. Bumi memang senantiasa berputar, kadang di bawah kadang di atas, sebuah perumpamaan cakra manggilingan.
Sebenarnya mungguhing agama, apa yang dilakukan oleh Sang duda tidaklah menyalahi aturan. Namun barangkali adat dan psikologi masyarakat dusun kami yang belum legowo untuk menerima pemikiran yang dianggap terlalu maju tersebut. Di masa lalu Sang duda terkenal sangat diskriminatif terhadap almarhum suami Si janda yang telah meninggal sekitar dua tahun silam akibat derita sakit kuning dan tiada sempat mendapatkan pengobatan layak. Hal demikian membuat semua warga tahu mengenai perseteruan abadi tersebut.
Setelah kedua lelaki perempuan tersebut berstatus sebagai duda dan janda beberapa lama tersiarlah sebuah kisah perpacokan(percomblangan). Sebagai gambaran bahwa usia Sang duda telah melampaui enam puluh tahun dengan dua putra-putri dan empat cucu, sedangkan Si janda lima puluh tahun lebih dengan satu anak berusia dua puluhan tahun. Bisa jadi barangkali niatan Sang duda menikahi Si janda sebagai suatu penebus dosa atas rasa bersalahnya terhadap mantan seterunya di masa lalu. Ataukah dia berkeinginan untuk mengayomi kehidupan Si janda, sebagaimana dicontohkan Kanjeng Nabi. Memang sih dari sisi perawakan, Si janda (mohon maaf) tidak bisa dibilang cantik apalagi seksi. Lain memang dengan janda yang dinikahi Aa’ Gym beberapa waktu silam. Hanya yang bersangkutanlah yang mengerti persis niat hatinya.
Alkisah kebetulan sawah dua sejoli tersebut di alas bendho, sebuah kawasan persawahan di mburi deso bersebelahan. Nah menurut cerita yang beredar dari shohibul hikayat, mereka bila kebetulan ke sawah berbarengan sering terlibat canda dan tawa ala guyon maton. Berawal dari guyon, para tetangga yang lain kemudian mengkompori dan macoke(menjodohkan;memakcomblangi) mereka berdua. Dan nampaknya yang dipacoknepun nampak gembira dan tidak ada rasa keberatan. Dari sekedar guyonan akhirnya jadi sesuatu yang maton atau serius.
Akhirnya daripada kabar berita semakin mengombro-ombro, Sang dudapun beritikad untuk nembung Si janda. Tanpa tarik ulur yang berkepanjangan akhirnya berlangsunglah sebuah rembug tuwo yang berlanjut dengan suatu pinangan resmi, dan akhirnya di awal bulan kemarin berlangsunglah sebuah pernikahan sederhana tanpa suatu pahargyan mengingat usia keduanya yang sudah ”uzur”. Hal itupun nampaknya memang disengaja untuk menghindari kehebohan masyarakat dusun yang nampaknya masih berat menerima kenyataan langka demikian terjadi di tengah warganya.
Beberapa hal yang menjadi ”keberatan”, para warga dusun kebanyakan masih berpandangan bahwa seseorang yang telah ditinggal mati oleh pasangan hidupnya, dianggap tidak setia jika kemudian menikah lagi. Apalagi apabila anak-anak hasil pernikahan sebelumnya sudah besar-besar, bahkan telah melahirkan cucu dan cicit. Dan nampaknya, pihak anak-anak dari Sang duda belum bisa menerima sepenuh hati keputusan sang bapak untuk menikah lagi, dan mereka cenderung cuek serta tak mahu tahu urusan bapaknya.
Belakangan terdengar sedikit keributan yang terjadi diantara kedua anak Sang duda. Diceritakan Sang duda mempunyai tanggungan harus ngaritke seekor sapi, demikian pula dengan Si janda. Nah suatu ketika sang bapak menyuruh si anak lelaki bungsunya untuk ngarit dobel dan mengantarkan rumput ke tempat ibu barunya. Sang anak tentu saja manyun diperintah demikian, ia berpikir ngarit untuk satu sapi saja sudah repot, belum dua sapi. Itupun harus mengantarkannya ke tempat ibu baru yang kebetulan masih berpisah tempat tinggalnya. Akhirnya terjadilah iren-kemiren antara Si bungsu dengan kakaknya yang perempuan. Dan kedua-duanya tidak ada yang mau mengantarkan rumput tersebut.
Seorang tetangga yang kebetulan lewat di dekat sawah TKP tersebut kemudian melerai agar kedua kakak beradik tersebut jangan berantem sendiri, malulah dilihat dan didengar para tetangga. Lebih baik yo bilang saja langsung ke bapake agar dialah sendiri yang ngarit. Atau kalaupun anak-anaknya mau ngarit dobel, bawalah rumput ke kandang sendiri dan nanti biarlah bapake yang mengantarkan ke rumah ibu baru.
Walhasil, bagi kedua anak Sang duda, bukannya hikmah pernikahan yang didapatkan dari pernikahan bapake, namun malahan tambahan beban pekerjaan. Kali ini mereka berpikir bahwa bopo polah anak kepradah, orang tua yang berbuat namun anak-anaknyalah yang menerima getah akibatnya. Belum lagi gosipan warga dusun yang tiada sedap untuk dinikmati. Warga selalu memberikan ulasannya bahwasanya Sang duda diibaratkan wong legan golek momongan(orang santai cari kerjaan/keributan) bahkan slogan terbaru wong legan golek omongan(orang damai cari masalah). Lepas dari anggapan orang luar, semestinya hal tersebut tidaklah perlu terjadi asalkan terjalin komunikasi yang baik dilandasi rasa tepo sliro yang tinggi diantara semua komponen keluarga baru tersebut, Sang duda dengan anak-anaknya, juga dengan istri baru dan kerluarganya. Kesalahpahaman dan rasa curiga akan dapat diminalisir, dan apalah artinya gosipan dan omongan orang luar?
Jagad dewo batoro, dalam setiap sisi kehidupan manusia senantiasa didera oleh berbagai masalah. Dan yang pasti tiada orang yang hidup steril dari suatu masalah. Masalah senantiasa menjadi warna dan mozaik kehidupan. Masalah senantiasa hadir abadi menjadi penghias kehidupan duniawi. Maka senantiasa belajarlah dari berbagai masalah untuk menemukan suatu kebijaksanaan dan kedewasaan dalam menjalani hidup. Masalah merupakan guru sejati dari setiap manusia.[]







April 7th, 2008 at 12:00 pm
yap, masalah memang guru, baik masalah sendiri atau orang lain..
April 7th, 2008 at 1:55 pm
tak gampang menjadikan suatu masalah itu guru, dibutuhkan kesabaran, kedewasaan, keberanian, dan juga waktu saya rasa.

huhuhuhu
mudah2an gak oot.
April 8th, 2008 at 3:40 am
fiuhh..panjang juga bro tulisanmu..bisa jadi novelis nih
April 8th, 2008 at 9:13 am
wah yen ngene iki jenenge metu soko “pakem”
gak popo yen dalange “kenthus”
April 8th, 2008 at 11:23 am
Betul tuh semut ireng, harusnya ada lanjutan cerita yang melibatkan “anak kepradah”nya. TApi ndoro..ceritanya oke sanget.
April 8th, 2008 at 2:35 pm
Postingan’ne kedawan…dadi bingung arep komen opo…hehehe
April 8th, 2008 at 7:28 pm
kuwi lagi perkoro suket, belum yang lain2nya, pakne ki yo jiannn..
April 9th, 2008 at 7:15 am
@cewektulen:
begitulah, kalau kita senantiasa berpikir positif terhadap setiap sesuatu yang kita terima…
@bedh:
bener banget dab!
butuh banyak hal untuk bisa melakukan suatu proses pembelajaran.
@Febra:
ha..jadi novelis?
belum kebayang sih, tapi apa coretan saya layak dibaca to?
saya kembalikan saja kepada sampeyan semua…
@semut iereng:
lha wong saya jelas sudah lulus dari “pakem” je pakdhe…
tahu to lagune genk kobra?
@poo:
yo anak keprdahe sebenarnya banyak sih…
satu contoh yang saya cuplik yo masalah ngarit suket itu…he…he!
@yoyo kesambet:
yo nggak usah bingung to dab!
wong kasih komen yo monggo, mboten yo monggo….kabeh digawe sekeco mawon!
@sayur asem:
itulah pradahe anak kang!
April 9th, 2008 at 9:11 am
ojo sampek si anak iku malah ngarit ibukke sing anyar… amit-amit…
April 9th, 2008 at 12:47 pm
Amit-amit kang Ndoro….. janagan sampai saia kayak gitu ya…..
April 9th, 2008 at 2:18 pm
yooo pancen ngono
April 9th, 2008 at 8:50 pm
weh…..dawa tenan postingane
April 9th, 2008 at 9:59 pm
saking kesepiannya si duda ya ndroro? yang bawa perasaan, hati dan cinta itu khan sang duda. ditempat saya, rakyatnya juga seperti itu… masih kental desanya tapi tinggal di kota.
yah.. terkadang desa (dan segala kedesaannya)diperlukan juga untuk mempertahankan asli sebenarnya kita. uuih.. saya kok susah ya ngungkapin suara lewat tulisan?
April 10th, 2008 at 8:20 am
@durungadus:
huuus….mosok ibuke diarit, bosomu ki lho kang…
hiiii, nggegirisi juan!
@Qie:
kayak gitu yang kepriben?
@semut ireng:
cen ngono?…sesama lulusan pakem to?
sampeyan angkatane sopo kang?
@gambarpacul:
yo mbok* ono sing gelem moco…
@paramarta:
desa dan segala kedesaannya….luar biasa bli!
barangkali memang hanya nilai identitas dan keaslian hidup itulah yang membuat manusia masih bertahan untuk hidup…
April 10th, 2008 at 10:53 am
siang… salam kenal… terima kasih sudah mampir ke tempat saya… mau tukeran link gak? trims.
April 10th, 2008 at 8:53 pm
waaa……kan harusnya anak2 nya tuh mensyukuri, bapaknya ada yg nemani glenak glenik dirumah pas ngopi pagi2 ato sore2…
“wong lanang kan ga betah kesepian” ben wis uzur ning butuh wong liyo sing iso diajak glenak glenik?
jaman dulu terjadi juga di diri pakdhe ku (saiki wis alm)
April 11th, 2008 at 7:34 am
@ghozan:
tukeran link?…monggo kerso, dengan senang hati tentunya.
@wieda:
untuk berpikir hening nan bijak dalam menyikapi suatu masalah, nampaknya masih butuh proses yang panjang bagi sebagian warga dusun dengan segala keterbatasannya…
tapi, bener juga pendapat sampeyan mbake!
April 14th, 2008 at 3:30 am
kedawan tulisane nganti kang pacul mumet macane
nggih nopo nggih kang pacul?