INSPEKSI LELEMBUT
Satra Nuklir April 21st, 2008JELAJAH TANAH BANTEN GIRANG
Banten adalah wilayah di ujung barat pulau Jawa. Secara historis daerah ini semula bernama Tatar Sunda dan merupakan sebuah kadipaten di bawah pemerintahan Kerajaan Pakuan Pajajaran yang berpusat di Bogor. Pada saat Demak melakukan ekspansi ke wilayah barat, diutuslah Syarif Hidayatullah untuk menyebarkan Islam di wilayah Banten hingga secara politik kemudian Banten menjadi bagian dari Demak dengan pucuk pimpinan dipercayakan kepada Sultan Maulana Hasanuddin, putra Syarif Hidayatullah sebagai sultan pertama. Secara persis berdirinya Kasultanan Banten pada tahun 1552 Masehi.
Pusat kerajaan semula berada di Banten Lama yang saat ini bernama Serang. Setelah beberapa lama, ibukota dipindahkan mendekati garis pantai di daerah Surosowan, dan konon berbagai situs peninggalan berupa bekas benteng dan pemandian umum masih bisa dilihat saat ini. Maksud pemindahan ibukota kasultanan mendekati garis pantai adalah dalam rangka membuka diri terhadap jalur perdagangan internasional yang melewati Selat Sunda yang diharapkan dapat meingkatkan kesejahteraan rakyat melalui sektor perdagangan dan jasa kesyahbandaran.
![]()
Dari sisi sosiologis kemasyarakatan, wilayah Banten tepatnya di Kabupaten Lebak terdapat suatu komunitas suku asli yang masih kukuh mempertahankan prinsip hidup dan nilai-nilai kearifan lokal. Mereka tiada pernah mau menggunakan peralatan modern yang dipandangnya mengganggu keharmonisan alam. Mereka senantiasa berusaha hidup apa adanya dan bersahabat dengan alam. Karena dalam alam kepercayaan mereka, alam adalah ibu kehidupan yang harus selalu mereka lindungi demi keberlangsungan roda kehidupan itu sendiri. Komunitas masyarakat tersebut banyak dikenal orang sebagai Suku Badui.
Orang Badui berpendapat bahwa merekalah manusia pertama yang diciptkan oleh Tuhan untuk memakmurkan bumi. Kepercayaan mereka terkenal dengan sebutan Sunda Wiwitan. Wiwit berarti awal atau yang pertama kali. Oleh sebab itu komunitas masyarakat tersebut menganggap bahwa semua agama maupun kepercayaan yang menyebar ke segala penjuru bumi saat ini berakar dari kepercayaan Sunda Wiwitan tersebut.
Tidak lengkap ketika berbicara mengenai Banten tanpa menyinggung seni debus. Seni kanuragan yang lebih berpangkal pada kesaktian raga seseorang yang kebal terhadap segala jenis senjata tajam dan api ini seringkali dipertunjukkan pada acara hajatan maupun pertunjukan keliling oleh sekelompok grup debus. Aroma magis dan hawa lelembut senantiasa memberikan nuansa pada setiap pertunjukan debus. Banten dengan dunia mitologinya masih terasa kental hingga di era modern saat ini.
Adalah kami, sebuah tim ekspedisi yang minggu kemarin mendapatkan kesempatan untuk sedikit beranjang sana, jlajah deso milangkori untuk menengok keberadaan suatu lelembut yang telah dipergunakan untuk suatu ”hajat keperluan tertentu” di beberapa wilayah Banten. Lelembut, sebagaimana dipercaya oleh orang Banten(perlu dicatat bahwa budaya Banten sangat kaya dengan corak Cirebonan dan Jawa), merupakan suatu wujud tan kasat mata, tidak dapat dilihat namun dapat dirasa kehadiran dan segala akibat keberadaannya.
Khusus mengenai lelembut yang kami kunjungi tersebut bukanlah dalam wujud wewe gombel, pocung, kuntilanak, jerangkong, bobongkong, sundel bolong atau kawan-kawannya. Lelembut yang saya maksudkan memang jelas tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Keberadaan lelembut yang satu ini dapat mengakibatkan suatu proses ionisasi terhadap setiap benda di dekatnya, karena memiliki frekuensi di atas gelombang tampak . Meski tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, namun lelembut ini dapat dideteksi keberadaan dengan suatu peralatan detektor. Jangan heran dan jangan nggumun, lelembut tersebut jelas nyata keberadaannya.
Secara ilmiah lelembut yang saya maksudkan di atas dikenal sebagai sinar radiasi. Radiasi merupakan suatu proses perpindahan energi tanpa melalui media perantara. Contoh sederhana adalah sinar matahari yang dipancarkan ke segala penjuru alam semesta, gelombang radio maupun radar, dan lain sebagainya. Adapun lelembut radiasi dewasa ini banyak dipergunakan dalam berbagai bidang aplikasi, mulai dari litbang, industri, kesehatan, maupun pertanian.
Khusus untuk wilayah Banten yang sempat kami kunjugi kemarin terkait pemanfaatan radiasi untuk kegiatan industri dan kesehatan. Untuk kegiatan industri, radiasi kebanyakan dipergunakan untuk kegiatan gauging maupun radiografi. Gauging merupakan pengukuran suatu parameter proses, misalkan pengukuran ketinggian/level suatu fluida dalam sebuah tanki atau tabung, mengukur ketebalan suatu materi, atau pengukuran kecepatan aliran proses. Peralatan jenis ini banyak dipergunakan oleh pabrik kimia, plastik, kertas, baja, hingga pipa. Beberapa radionuklida sumber radiasi yang banyak digunakan diantaranya Co-60, Cs-137, Pm-147.
Sedangkan radiografi merupakan suatu proses pengambilan foto dalam ketelitian yang sangat tinggi. Mirip dengan foto rontgen di rumah sakit, hanya saja yang menjadi obyek pemotretan biasanya berupa plat besi, pipa atau las-lasan. Teknik ini termasuk kegiatan uji tak merusak atau non destractive test(NDT) yang dapat dipergunakan untuk menguji kualitas suatu bahan, las-lasan maupun uji kebocoran pipa bertekanan tinggi. Radionuklida yang sering dipergunakan Co-60 dan Ir-192. Beberapa pabrik yang sempat kami tengok diantaranya PT MC Industries, PT MC PET, PT Polyprima, PT Polypet, PT Tripolyta, PT KHI Pipe Indonesia, PT Surveyor Indonesia, PT Multifab Indonesia. PT Daekyung Indonesia, PT Latinusa dan PT Amocco.
Untuk kegiatan pemanfaatan radiasi di rumah sakit, kebanyakan dipergunakan dalam wujud sinar-X atau rontgen untuk diagnostik. Keberadaan sinar-X harus dipastikan besaran dosis radiasi yang dipancarkan. Dengan demikian dosis yang diberikan harus tepat dan mengenai sasaran. Mengingat obyek yang dikenai sinar-X adalah manusia maka setiap pesawat sinar-X harus memenuhi standar tertentu secara internasional dan mengikuti tingkat panduan pengoperasian. Beberapa rumah sakit atau klinik yang sempat kami kunjungi di wilayah Banten adalah RS Misi Krakatau, RSUD Lebak, Klinik Ananda, dan Klinik Himmah Husada.
Demikian sedikit kisah mengenai lelembut radiasi yang menghudi jagad industri di beberapa kawasan Cilegon, Serang, dan Lebak. Ada yang ingin kenalan?







April 21st, 2008 at 6:53 pm
walah….tak kira mau crita hantu yang cantik2 itu!
April 21st, 2008 at 8:11 pm
jadi lebih tau ttg banten…
April 22nd, 2008 at 7:55 am
kirain bikin postingan ttg lelembut ..
April 22nd, 2008 at 11:28 am
jadi blog klenik?
April 22nd, 2008 at 5:14 pm
hehe……salah tebakanku. tak kiro bangsaku yang mo dicritain tibak e…..
salam kenal pak, makasih dah mampir
April 22nd, 2008 at 5:16 pm
ketepu saya…
numpang iklan nih pak, buat yang nyari souvenir, terima kasih.
April 23rd, 2008 at 7:40 am
@gambarpacul:
jebule hantu cantik to?
@ghatel:
yoi…sedikit dongeng mas!
@hanggadamai:
ini juga versi lelembut yang lain to?
@mikow:
klenik, glenak-glenik nan unik?
@kaudanaku:
eman sampeyan termasuk lelembut juga to?
@nonofilo’s souvenir:
monggo mas…sugeng rawuh mawon!
April 23rd, 2008 at 8:34 am
Aslkm.
wah..nambah info neh mas……….
#btw:makna cinta memang universal,tp diposting sy itu lebih khusus adalah cinta antara laki-laki dan wanita.
salam kenal kawan, sy link ya
April 23rd, 2008 at 10:47 am
Ndoro bisa lihat lelembut ya??? wahh hebat ya, kalo ada hantu tjantiq kirim disini dunk Kang Ndoro… aQ mau kok walaupun lelembut
April 23rd, 2008 at 12:04 pm
weh, jyan… benar benar penggede praja ini negri. moga tambah top ndoro…