TRAGEDI CHERNOBYL
Satra Nuklir April 25th, 2008MENGENANG 22 TAHUN TRAGEDI CHERNOBYL
Tanggal 26 April 1986, 22 tahun lalu, pukul 01.23 terjadi ledakan pada Unit 4 PLTN Chernobyl. Peristiwa ini menggemparkan dunia karena mengingatkan kembali pada ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, saat berkecamuk Perang Dunia II yang menewaskan sekitar 220.000 orang.Trauma Hiroshima dan Nagasaki belum hilang dari ingatan orang, muncul kembali peristiwa Chernobyl yang termasuk kecelakaan terbesar pada PLTN selama kurang lebih 60 tahun. Berbagai media cetak dan elektronik sejagat memberitakan tragedi itu secara beragam baik yang bersifat normatif, emosional, ataupun bombastis.
Trauma yang melanda masyarakat di lokasi kejadian dan sekitarnya akibat peristiwa Chernobyl menjadikan setiap tanggal 26 April pukul 01.23 lonceng berdentang-dentang di Ukraina. Walaupun malam telah larut dan udara dingin, namun warga tetap terjaga. Mereka meletakkan bunga dan lilin di monumen korban bencana Chernobyl.
Upacara yang sama digelar di Slavutych, Rusia, kota yang didirikan untuk menampung para pekerja Reaktor Chernobyl. Upacara juga diperingati di negara tetangga Ukraina, yaitu Belarus, yang ikut menderita akibat bencana Chernobyl.
Penyebab Kecelakaan
Reaktor Chernobyl jenis RBMK didirikan di atas tanah rawa di sebelah utara Ukraina, sekitar 80 mil sebelah utara Kiev. Reaktor unit 1 mulai beroperasi pada 1977, unit 2 pada 1978, unit 3 pada 1981, dan unit 4 pada 1983. Sebuah kota kecil, Pripyat, dibangun dekat PLTN Chernobyl untuk tempat tinggal pekerja pembangkit itu dan keluarganya.
Tipe PLTN Chernobyl dirancang untuk menghasilkan “plutonium” guna pembuatan senjata nuklir serta listrik. Tipe PLTN berfungsi ganda seperti ini tidak ada di negara-negara Barat, seperti, AS dan Prancis, yang merupakan negara pioner PLTN di samping Uni Soviet (pada waktu itu) sebagai pioner pertama.
Secara garis besar, bencana Chernobyl dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada 25 April 1986 reaktor unit 4 direncanakan dipadamkan untuk perawatan rutin. Selama pemadaman berlangsung, teknisi akan melakukan tes untuk menentukan apakah pada kasus reaktor kehilangan daya turbin dapat menghasilkan energi yang cukup untuk membuat sistem pendingin tetap bekerja sampai generator kembali beroperasi.
Proses pemadaman dan tes dimulai pukul 01.00 pada 25 April. Untuk mendapatkan hasil akurat, operator memilih mematikan beberapa sistem keselamatan, yang kemudian pilihan ini yang membawa malapetaka. Pada pertengahan tes, pemadaman harus ditunda selama sembilan jam akibat peningkatan permintaan daya di Kiev. Proses pemadaman dan tes dilanjutkan kembali pada pukul 23.10 25 April. Pada pukul 01.00, 26 April, daya reaktor menurun tajam, menyebabkan reaktor berada pada situasi yang membahayakan. Operator
berusaha mengompensasi rendahnya daya, tetapi reaktor menjadi tak terkendali. Jika sistem keselamatan tetap aktif, operator dapat menangani masalah, namun mereka tidak dapat melakukannya dan akhirnya reaktor meledak pada pukul 01.30.
Kecelakaan PLTN Chernobyl masuk level ke-7 (level paling atas) yang disebut major accident, sesuai dengan kriteria yang ditentukan INES (The International Nuclear Event Scale). Di samping kesalahan operator yang mengoperasikannya di luar SOP (standard operation procedure), PLTN Chernobyl juga tidak memenuhi standar desain sebagaimana yang ditentukan oleh IAEA (International Atomic Energy Agency). PLTN Chernobyl tidak mempunyai kungkungan reaktor sebagai salah satu persyaratan untuk menjamin keselamatan jika terjadi kebocoran radiasi dari reaktor. Apabila PLTN Chernobyl memiliki kungkungan maka walaupun terjadi ledakan kemungkinan radiasi tidak akan keluar ke mana-mana, tetapi terlindung oleh kungkungan. Atau bila terjadi kebocoran tidak separah dibandingkan dengan tidak memiliki kungkungan.
Secara perinci, kecelakaan itu disebabkan, pertama, desain reaktor, yakni tidak stabil pada daya rendah - daya reaktor bisa naik cepat tanpa dapat dikendalikan. Tidak mempunyai kungkungan reaktor (containment). Akibatnya, setiap kebocoran radiasi dari reaktor langsung ke udara. Kedua, pelanggaran prosedur. Ketika pekerjaan tes dilakukan hanya delapan batang kendali reaktor yang dipakai, yang semestinya minimal 30, agar reaktor tetap terkontrol. Sistem pendingin darurat reaktor dimatikan. Tes dilakukan tanpa memberitahukan kepada petugas yang bertanggung jawab terhadap operasi reaktor.
![]()
Ketiga, budaya keselamatan. Pengusaha instalasi tidak memiliki budaya keselamatan, tidak mampu memperbaiki kelemahan desain yang sudah diketahui sebelum kecelakaan terjadi.
Penilaian atas berbagai kelemahan PLTN Chernobyl menghasilkan evaluasi internasional bahwa jenis kecelakaan seperti ini tidak akan mungkin terjadi pada jenis reaktor komersial lainnya. Evaluasi ini ditetapkan demikian karena mungkin berdasarkan analisis jenis reaktor lain yang memenuhi persyaratan keselamatan yang tinggi, termasuk budaya keselamatan yang dimiliki para operator sangat tinggi.
Dampak Kecelakaan
Pada 2003, IAEA membentuk “Forum Chernobyl” bekerja sama dengan organisasi PBB lainnya, seperti WHO, UNDP, ENEP, UN-OCHA, UN-SCEAR, Bank Dunia dan ketiga pemerintahan Belarusia, Ukraina, dan Rusia. Forum ini bekerja untuk menjawab pertanyaan, “sejauh mana dampak kecelakaan ini terhadap kesehatan, lingkungan hidup dan sosial ekonomi kawasan beserta penduduknya.” Laporan ini diberi nama “Cherno- byl Legacy”.
Diperkirakan semula dampak fisik akan begitu dahsyat. Artinya, akan menimbulkan korban jiwa yang luar biasa banyaknya. Namun, ternyata data sampai dengan 2006, jumlah korban yang meninggal 56 orang, di mana 28 orang (para likuidator terdiri dari staf PLTN, tenaga konstruksi, dan pemadam kebakaran) meninggal pada 3 bulan pertama setelah kecelakaan, 19 orang meninggal 8 tahun kemudian, dan 9 anak lainnya meninggal karena kanker kelenjar gondok.
Sebanyak 350.000 likuidator yang terlibat dalam proses pembersihan daerah PLTN yang kena bencana, serta 5 juta orang yang saat itu tinggal di Belarusia, Ukraina, dan Rusia, yang terkena kontaminasi zat radioaktif dan 100.000 di antaranya tinggal di daerah yang dikategorikan sebagai daerah strict control, ternyata mendapat radiasi seluruh badan sebanding dengan tingkat radiasi alam, serta tidak ditemukan dampak terhadap kesuburan atau bentuk-bentuk anomali.
Di sisi lain, hasil studi dan penelitian terhadap likuidator menunjukkan bahwa “tidak ada korelasi langsung antara kenaikan jumlah penderita kanker dan jumlah kematian per satuan waktu dengan paparan radiasi Chernobyl.
Kemudian pada 1992-2002 tercatat 4.000 kasus kanker kelenjar gondok yang terobservasi di Belarusia, Ukraina, dan Rusia pada anak-anak dan remaja 0-18 tahun ketika terjadi kecelakaan, termasuk 3.000 orang yang berusia 0-14 tahun. Selama perawatan mereka yang kena kanker, di Belarusia meninggal delapan anak dan di Rusia seorang anak. Yang lainnya selamat.
Berdasarkan laporan “Chernobyl Lecacy”, sebagian besar daerah pemukiman yang semula mendapat kontaminasi zat radioaktif karena kecelakaan PLTN Chernobyl telah kembali ke tingkat radiasi latar, seperti sebelum terjadi kecelakaan. Dampak psikologis adalah yang paling dahsyat, terutama trauma bagi mereka yang mengalaminya seperti stres, depresi, dan gejala lainnya yang secara medis sulit dijelaskan.
Akibat kecelakaan itu, IAEA dan semua negara yang memiliki PLTN membangun konsensus internasional untuk selalu menggalang dan memutakhirkan standar keselamatan. Di sisi lain, pihak yang anti-PLTN telah menggunakan isu kecelakaan di Chernobyl sebagai bahan kampanye untuk menolak kehadiran PLTN, termasuk di Indonesia, dengan berbagai informasi yang keliru karena ketidaktahuan akan kebenaran informasi sebab terjadinya kecelakaan Chernobyl.
Belajar dari kecelakaan Chernobyl, IAEA telah menetapkan standar tambahan untuk memperkuat syarat keselamatan yang tinggi bagi pembangunan dan pengoperasian PLTN, antara lain, perbaikan desain sampai pada generasi ke-4, aturan main dalam bentuk basic safety, dan berbagai konvensi keselamatan.
Oleh: Markus Wauran, anggota Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia(HIMNI)








April 25th, 2008 at 11:26 am
bagus infonya, semoga tidak terulang kembali
April 25th, 2008 at 1:54 pm
indonesia jadi bikin pltn ga ya?
April 25th, 2008 at 1:58 pm
kalo Indonesia udah punya PLTN seperti itu saya sih setuju aja, selama standarnya baik dng tingkat mematuhi prosedur yg tinggi. eh di sini dah ada blom sih?
April 25th, 2008 at 2:15 pm
makasih infonya pak
April 25th, 2008 at 4:51 pm
hororrrrr,,haduh semoga seperti itu tidak terjadi di indonesia
April 25th, 2008 at 7:43 pm
Asem, mrinding aku bacanya..
moga dindo gk trjadi y, d dunia jga..
April 26th, 2008 at 10:37 am
mudah2an di Indonesia ndak akan dibangun PLTN seperti itu…
April 28th, 2008 at 8:14 am
wah diriku juga baru tau
diriku jadi takut ,,
April 28th, 2008 at 2:06 pm
@semut ireng:
iyo kang…smoga cukup sekali ae.
@mikow:
indonesia bikin pltn?
durung jelas kepastiane, SBY masih maju mundur
@edy:
indonesia belum punya PLTN, tapi sudah punya reaktor riset di Serpong, Bandung dan Yogya…
@linda:
sami-sami mpok linda…
@ika:
tipe reaktor sejenis sudah dilarang kok…
dan sekarang tuntutan desain keselamatan makin ketat dan canggih…
@diorockout:
kite lum punya PLTN kok…
@ghatel:
PLTN jenis RBMK sejenis sudah tidak dibangun lagi kok…
@hanggadamai:
yo ndak perlu ditakuti wong di bumi asia tenggara saja belum ada PLTN,hanya ntar Vietnam dan Malaysia 2020 sudah punya…
April 28th, 2008 at 7:59 pm
PLTN ngga dibangun kita sekarang krisis energi, kalo dibangun orang pada takut.
padahal segala sesuatu toh tetep ada manfaat & resikonya, kalo manfaatnya lebih besar ya kenapa engga, toh mestinya bisa belajar dari kasus chernobyl biar aman, yo to kang?
April 29th, 2008 at 7:26 am
@hari:
bener banget sampeyan kang!
segala sesuatu harus disikapi secara bijak dengan kepala dingin, logika dan rasionalitas…
andai banyak orang seperti sampeyan tentu negri ini akan lebih optimistik dalam menyambut tantangan masa depannya…
April 30th, 2008 at 10:47 am
lho, nggak bisa komen..
April 30th, 2008 at 10:51 am
lho, bisa ding..

terlepas dari masalah teknis, ada penelitian yg menyebutkan bahwa ledakan chernobyl terjadi mungkin karena petugas yg kurang tidur. saya tahu dari “60 minutes” : http://www.cbsnews.com/stories/2008/03/14/60minutes/main3939721.shtml
kalo boleh milih, di indonesia lebih baik pake panas bumi saja. nggak ada polusi dan nggak tergantung cuaca, panas ada terus. soal konversi, ahlinya pasti ada. tinggal tunggu komando dari si pembuat kebijakan. kepada siapakah gerangan dia berpihak?
Mei 1st, 2008 at 9:05 pm
di milis saya ada kabar, pendiri grinpis sekarang setuju dengan nulir.
Mei 5th, 2008 at 6:53 am
@mpokb:
yo pertimbangane banyak lah mpok!
@kang slamet:
memang betul kang!
konon nuklir dikatakan sebagai energi hijau dan ramah lingkungan karena tidak menghasilkan gas rumah kaca seprti PLTU….
Mei 6th, 2008 at 4:10 pm
bagusnya yang di Indonesia bagusnya dibangun apa dibatalkan ya?
Mei 12th, 2008 at 10:13 am
@jakober:
yo itu sih terserah pemrentah ae to kang!
nek awani yo monggo!
Mei 30th, 2008 at 11:03 am
smga sukses y….
informasi ny sangat membantu….
thanks….