Adalah Ita Jelita Pratita Wiradesa, Jeki Marjeki Honda Susuki, mBak Nok anggota Trio Gaul yang menjadi lakon dari cerita singkat ini. Karena namanya saja Trio Gaul maka sudah tentu dalam keseharian ketiga  personil tersebut senantiasa berkeinginan untuk senantiasa mengikuti tren dan gaya masa kini, termasuk dalam hal wisata kuliner ala Pakdhe Bondan Nusantara yang mak nyuuuus itu…..

Suatu hari karena merasa belum pernah menikmati santapan penggeng eyem, eh maksudnya fred ciken alias iwak pitik yang digoreng dengan diglepungi tepung itu, ketiganya nekad berpetualang ke kedai Kentuku Fred Ciken. Dengan semangat empat lima bak pantang menyerah dengan diantarkan si abang sopir angkot sampailah mereka di kedai KFC yang dimaksud.

Di kala memasuki kedai terlihatlah rombongan anak Tari Kita yang nampaknya sedang kembul bujono ramai-ramai. Tanpa basa-basi dan dengan rasa percaya diri yang tinggi Ita Jelita Pratita Wiradesa, karena telah terbiasa dengan wasiat sang eyang untuk selalu cuci tangan sebelum makan, maka melajulah ia ke pojokan ruangan tempat beberapa kran tersedia.

Dengan sekuat tenaga ditekanlah tombol kran dengan satu tangan yang lain nyadhong di bawah mulut kran. Lalu apa yang terjadi kisanak? Mak croooot….welhadalah ternyata bukannya air yang keluar dari mulut kran melainkan saos lombok abang. Wuuaduh!!!! Menyadari akan kekhilafannya kemudian si gendhuk cempluk ini segera menyembunyikan tangan dengan sakunthuk saos lobok abang tersebut di balik punggungnya. Dan dengan muka merah padam karena malu bergeserlah ia mencari tempat cucian yang sebenarnya.

Tak putus dirundung malang. Nampaknya petualangan ketiga Trio Gaul kita ini memang belum selesai sampai masalah saos lombok abang thok. Ketika ketiganya sudah duduk manis di meja saji, nampak seorang tukang kedai menghampiri mereka dan menyodorkan sebuah menu sajian komplit plit wis. ”Mau pesen opo mbak?”, tanyanya ramah.

Merasa hanya mengantongi uang sejumlah Rp.7.500,-, Ita Jelita Pratita Wiradesa kemudian memesan sajian menu dengan bandrol harga Rp.7000,- berisi sayap goreng andai bisa terbang, sakunthuk nasi putih dan sebotol teh kita selera semua suka. Lumayan masih sisa Rp.500,- perak dipikirnya.

Lain halnya dengan Jeki Marjeki Honda Susuki, dia mengamati daftar menu sekilas untuk kemudian dengan kebulatan tekad memilih sebuah menu dengan harga Rp.9.7899,-. Tunggu punya tunggu ternyata sajian yang  paling awal datang adalah pesanan Ita Jelita. Dilihat sebentar….cocok gandhos tidak berbeda dengan yang dipesan.

Menunggu beberapa jurus kemudian, datanglah pelayan kedai dengan membawa seember pesanan dan setampah iwak lawuh….wuaduh apa yang terjadi kisanak? Si pelayan kedai segera menghidangkan seperangkat menu, tak tanggung-tanggung  berisi iwak pitik dhadha menthok sembilan potong, enam unthuk nasi putih, minuman ringan enam botol.

Si Jeki Marjeki dengan kagetnya bertanya, ”Nggak salah nih Mas pesenannya?” kemudian si pelayan kedai menjelaskan bahwa yang dihidangkan memang sudah sesuai pesanan. Jeki Marjeki kemudian berpikir, wealah rupanya dia salah melirik harga, dikiranya menu seharga Rp.9.789,- rupane harga sebenarnya Rp. 97.899,- sebuah paket jumbo rame-rame.

Truuus piye? Ya sudah, namane sudah terlanjur basah yo disantap wae sekuatnya. Lha trus yang mbayari sopo? Akhirnya mBak Noklah sebagai sesepuh Trio Gaul yang nomboki, tentunya dengan perasaan nggonduk dan anyel yang luar biasa. Bayangkan wae, total jendral jajan mereka habis Rp.147.000,-. Untunge di kantongnya terselip duit Rp.200.000,-, nek ora trus gimana coba. Mungkin mereka harus disandra sebagai buruh asah-asah selama seminggu yo?

Dan karena porsi yang super ekstra, merekapun menyerah untuk menyantapnya ludes. Kemudian mereka bawalah sebagian makanan yang tak tersentuh untuk dibungkus pulang. Di dalam angkot Jeki Marjeki masih membujuk mBak Nok, ”Mbak ntar di terminal tak jajake es buah wis”. Si mBak Noke njawab dengan ketus, ”ah nggak perlu duitku isih akeh kok”. Ealah Gusti maunya pada gaul malah salah kedaden.[]