INDONESIA BANGKIT…???

Wahidin

Indonesia bangkit? Bangkit apanya? Bangkit Sanjaya po? Kemana arek rocker era 80-an itu yo? Yang jelas nampak di depan mata kita ya tentu saja bangkitnya kemiskinan, bangkitnya kebodohan dan keterbelakangan, bangkitnya korupsi, dan tentu saja yang akhir-akhir ini banyak dirasakan oleh wong cilik adalah bangkitnya harga kebutuhan sehari-hari akibat rencana kenaikan harga BBM. Jadilah benar BBM berarti benar benar mahal.

Pemerintah berdalih bahwa rencana kenaikan BBM sudah diantisipasi dengan Program BLT untuk rakyat miskin, sehingga dampak kenaikan BBM dapat dikonpensasi. Ah….tak kira itu hanya khayalan indah seorang penggedhe negeri tok! Lha seberapa efektif sih program yang dulu pernah dijalankan itu?

Pengalaman di kampung halaman saya, betapa uang BLT mikin panas suasana pedukuhan. Banyak dana yang salah sasaran hingga menimbulkan rasa cemburu dan saling curiga diantara sesama warga. Jumlah tidak uangnya tidak seberapa, namun eksesnya malah membikin perpecahan. Terdengarnya kan jadi aneh.

Adalah Patoni dan Maryono, dua orang petani kecil di lereng Gunung Andong yang bertutur bahwa biar dikasih BLT wong cilik yo tetep saja tekor, ora cucuk, tidak berimbang antara pendapatan dan penghasilan. Mereka mencontohkan bahwa untuk menyekolahkan anaknya yang kini duduk di bangku STM, yang harus dilaju dari dusunnya sekitar 20 km, mereka paling kurang harus memberi sangu kepada anaknya Rp 10.000,-. Hitung saja sebulan, ngumpul berapa? Belum uang sekolah yang katanya sudah ada program BOS, yo ternyata bosok ae. Kiraain sekolah gratis, tahunya yang hanya digantikan istilah uang SPP atau BP3 dengan sumbangan-sumbangan thethek bengek yang seabrek. Itu baru satu anak, terus anak-anak mereka yang lain piye?

Ataukah nantinya para anak bangsa penerus perjuangan negara itu harus rela jalan kaki atau ngonthel lagi? Bener barangkali kata Mas Kelik, SBY-MJK itu artinya Susah Bensin Ya Mungkin Jalan Kaki…….

Satu abad kebangkitan nasional pemerintah mengusung tema Indonesia Bisa! Bisa apa mangsudnya? Menilik pemikiran para perintis negeri ini seabad yang lalu yang mencetuskan ide dan cita-cita besar tentang sebuah negara idaman, kita pasti yakin bahwa bangsa ini ditakdirkan menjadi sebuah bangsa besar. Bagaikan seekor elang perkasa, sang garuda yang ditakdirkan untuk terbang luas mengembara untuk menakhlukkan setiap penjuru dunia. Kita dewasa ini harus sadar bahwa bangsa kita adalah garuda perkasa yang sedang diempritkan.

Nampaknya sangat baik jika seabad kebangkitan nasional ini, kita maknai untuk bangkit dari rasa kekerdilan. Menemukan jati diri yang hilang, itulah tugas berat yang harus segera ditunaikan. Semangat gotong royong, kebersamaan, solidaritas antar sesama, itulah nilai-nilai luhur yang harus digali dan diamalkan kembali.[]