JAGAD PARA SOBIMAN
Dalang adalah orang yang ngudhal piwulang, orang yang memberikan pelajaran, ilmu atau pengetahuan. Sebenarnya pelajaran, ilmu atau pengetahuan apakah yang diajarkan dalang? Dalam konteks dunia pakeliran atau jagad pewayangan, dalang memberikan pelajaran, ilmu dan pengetahuan mengenai hidup. Dalang bagaikan Kang Hakaryo Jagad yang sedang memainkan dialektika kehidupan.
Adalah sebuah buku berjudul Dalang Edan yang ditulis oleh seniman sekaligus seorang dalang jebolan dari Departemen Matematika dan Teknik Sipil ITB. Barangkali anda mengenal sosok yang saya maksudkan? Ya, beliau adalah arek berdarah Madura yang terlahir di Jember. Sang dalang itu bernama Ki Sujiwo Tejo.
Melihat sekilas judul Dalang Edan, yang terlintas di benak saya adalah bahwa buku tersebut akan berkisah mengenai suatu episode dongeng pewayangan versi carangan atau kreasi baru Ki Dalang, dan memang sinopsis buku di bagian sampul belakang menggiring pikiran pembaca ke arah sana.
Dalam sinopsis sedikit dikisahkan mengenai dialog Dewi Sinta dengan Prabu Rahwana di taman sari praja Ngalengko Dirojo. Dan sebagaimana sering muncul dalam berbagai dialog dengan Mas Tejo, sering terungkap ide dan pandangan dia bahwa dalam kisah Ramayana tidaklah selalu benar versi bahwa Rama adalah pihak kebenaran, dan Rahwana simbol kebatilan. Kebenaran dan kebatilan tidak bisa dipisah secara mudah menjadi bagian hitam dan putih ansich, karena terkadang ada suatu kondisi atau suasana situasional yang menyebabkan suatu peristiwa atau keputusan terjadi.
Hal yang terasa mengejutkan adalah bahwa barangkali buku Dalang Edan tersebut samasekali lepas dari sebuah alur kisah pewayangan pakem yang pernah ada dan dipentaskan dalang dimanapun. Kebanyakan hal yang ditulis adalah sedikit mengawali suatu bagian dengan dialog pewayangan sebagai intro, untuk kemudian secara bebas mengembangkan wacana dikaitkan dengan situasi dan kondisional yang mempunyai relevansi dengan kejadian hangat di negeri ini.
Ki Dalang malah secara terang, lewat kengeyelan sifat Bagong, mempertanyakan kembali apakah kita sekarang ini sudah manusia, ataukah kera setengah manusia yang diistilahkannya sebagai sobiman. Menurut Bagong, Anoman putra Anjani itu meskipun berwujud kera namun hakikatnya manusia sejati. Sedangkan para koruptor dan maling di jagad modern ini, meski berpakaian necis dengan jas dan dasi mewahnya, belum tentu benar-benar manusia. Lalu hakikat manusia yang sejati itu yang bagaimana?
Kemudian secara tegas disitirlah teori Charles Darwin mengenai asal-usul manusia menurut teori evolusinya. Tidak hanya berhenti di situ, kita juga diajak mengembara mendalami pemikiran para filosof Yunani dan Romawi kuno mengenai hakikat manusia. Sungguh luar biasa memang pengetahuan Ki Dalang karena ulasannya yang sangat keomperhensif dan menyeluruh, dan itu menunjukkan betapa luas pengetahuan dan banyak referensi serta literatur yang dipahaminya.
Dikisahkan pula Kang Gareng yang memiliki daya nalar dan pemikiran yang super kritis mempertanyakan kembali bagaimana mungkin seorang terdakwa kasus pembalakan hutan, yang terang-terang bersalah menurut kaidah hukum bisa lolos dengan lenggang kangkung dari hukuman pidana maupun perdata. Ketika Gareng menyampaikan protes di hadapan majlis hakim, malah mendapatkan jawaban yang super mengejutkan. Pak hakim berkata, â€subyek maupun obyek yang terkena hukum adalah manusia, sedangkan para pembalak itu, mereka hanya sobiman, kera setengah manusia. Jadi bagaimana mungkin para sobiman bisa dijerat dengan pasal hukum?†kang Gareng hanya bengong dan tidak bisa lagi beradu argumentasi.
Ki Dalang juga mengisahkan bagaimana pada saat Rahwana menculik Sinta, sebenarnya itu adalah kesalahan Rama sendiri. Bagaimana seorang Rama, seorang suami yang terlalu mencintai istrinya sehingga semua keinginan sang istri akan dikabulkannya, entah bagaimanapun caranya tidak lagi peduli halal dan haram. Dan kijang kencana jelmaan yang diutus oleh Rahwana itu, hanyalah simbol nafsu Rama sendiri. Bayangkan jika di dunia modern ini, dengan alasan cinta, seorang suami akan menuruti semua keinginan sang istri. Dan atas nama cinta pula, bagaimanapun caranya, apakah korupsi, mencuri, main sikut kanan kiri, injak bawah dan menjilat ke atas akan dilakukannya. Kita semua tentu bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan dunia. Harta negara dikorup para pejabatnya, supremasi hukum hanya senilai beberapa rupiah, dan tentu saja si miskin akan semakin terpojok di lembah ketidakberdayaannya.
Ki Dalang kemudian menyitir sebuah hadist nabi bahwasanya manusia yang beruntung adalah yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin, dan hari esok jauh lebih baik dari hari ini. Tentu saja â€lebih baik†tersebut dalam konteks yang lebih luas dan bersifat universal, tanpa terbatas dimensi ruang dan waktu. Barangkali inilah salah satu pendekatan yang bisa menjadi pegangan bagi para sobiman untuk menggapai hakikat manusia sejati. Suatu pendekatan untuk senantiasa berproses menjadi lebih baik.
Â
Apakah seorang tukang becak yang telah setia menjalani profesinya selama dua puluh lima tahun, keadaannya dari hari ke hari menjadi lebih baik? Apa sih ukuran â€menjadi lebih baik†itu? Jika ukurannya adalah nilai ekonomi atau harta benda, sudah pasti si tukang becak senantiasa hidup pas-pasan dan selalu di bawah bayang garis kemiskinan. Tapi apakah dia berevolusi dari sobiman menjadi manusia sejati? Lalu ukurannya apa? Absurb memang!
Barangkali suatu pendekatan lain harus dilakukan. Paling tidak katakanlah dengan sudut pandang nilai moralitas keseharian. Apakah si tukang becak makin hari makin mencintai keluarganya? Apakah dari hari ke hari pergaulan dengan orang lain semakin baik atau jelek? Kesetiaan memegang kejujurannya bagaimana? Rasa tanggung jawab untuk berjuang menghidupi anak istrinya dengan cara yang halal bagaimana? Jika jawaban dari sekelumit pertanyaan di atas ternyata si tukang becak dari hari ke hari semakin lebih baik, maka dialah salah satu orang yang berhasil berevolusi dari sobiman menjadi manusia.
Itulah barangkali keunggulan seorang dalang ketika medhar sabdo, menguraikan ilmu hakikat hidup. Seorang dalang tidak hanya dituntut untuk menguasai tata basa dan sastra yang memadai, namun lebih jauh juga harus mengetahui seluk beluk kehidupan dan mampu menuntun manusia lain untuk menggapai kesejatian hidup. Hanya dengan meraih kesejatian hiduplah sesungguhnya manusia akan merasa nyaman, bahagia dan menjalani hidupnya dengan adem ayem tata titi tentrem kerto raharjo. Amiiien.[]
Semua itu tergantung dari orangnya ndoro… tapi menurut saya, kebanyakan seniman itu Edan…. contohnya saya ini!!!
wah tepak ki, aku seneng karo sujiwo tejo, tak tuku ah…suwun infone, mas. Eh sujiwo duwe blog lho, coba golek nang google
jan, dalang edan tenan! ning nganti seprene durung nate ngerti je! mengko cubo tak goleki
hmmm agak ga memperhatikan bahwa banyak yang bisa diambil dari sebuah pewayangan dari sudut seorang “dalang” ya…
abis dari judulnya aja udah rada males nilik heuheuheuhe
ternyata inilah gunanya review! buat bikin orang penasaran!
jaman dulu kan orang ndak kritis, mangkanya jadi pakem. soalnya dipentaskan terus menerus tanpa diubah. ndak diubah karena dianggap sudah bagus dan ndak ada yang protes. lagi pula membikin pakem baru kan tak mudah.
intine, aku pahame mung limbuk cangik. :d
Ass.
kalo dalang kerusuhan…..gimana tu ndoro ?
cerita2 nya banyak yang melegenda ya ndoro? mantab. hidup kebudayaan tradisional kita.
oiya ndoro saya link ya
Dalang berperanan untuk memasukkan unsur moral, etika, dan mengajarkan kebaikan. Para dalang inilah dulu yang dipercaya menyebarkan pengetahuan.
Dalang edan….cocoknya wayangnya slengekan ya (seperti wayang nya pak Sawali).
tapi yang jelas seniman itu cerdas.. seperti saya… hehehe…
ya memang salah satu syarat menjadi dalang adalah “Gendheng” kata Wawan Susetya dalam “dalang, wayang dan gamelan”
lha nDoro sudah punya syarat yang itu belum
*ndak mudheng masalah wayang*
tapi bapakku mesti suka masalah wayang
wah berarti jadi dalang itu gak boleh sembarangan y ndoro..
@qie:
lho sampeyan itu seniman to?
apa karena kemana-mana bawa air seni terus ngakune seniman?
@hedi:
sebenarnya buku tsb dicetak pertama tahun 2003…
sayapun sempat surprise je!
@gempur:
dalang yang ini memang penuh kejutan kang…
@natazya:
makane jangan pernah tertipu dengan sampul luar to!
@aris heru utomo:
barngkali agak jarang lho, saya kebetulan dapatnya di serang je mas…
@bangsari:
kalau dinamakan pakem yang emang sudah baku ndoro, untuk yang ada perubahan atau kreasi dalang itu disebut sebagai carangan, dan versi carangan juga senantiasa dinamis berkembang sesuai dinamika jaman…
@alex:
dalang kerusuhan?
lha kalau itu mah kagak usah belajar semua orang kayaknya berbakat to?
@endratna:
wayange pak sawali?
wah kayak opo yo? dongeng tentang opo yo?
@ndop:
ini juga bawa air seni kemana-mana to?
@sayur asem:
saya gendheng?
lha wong lulusan kramat dan pakem je!
sekarang mondok di grogol malahan…he..he!
@menik:
wah sayang dong!
@hanggadamai:
yo jelas lah!
profesi kramat itu, harus banyak topo broto dan tentu saja sajen!!!
ndoro…
onten bukune mboten
kulo smapun madosi teng toko, kok mboten nemu nggih
penasaran niki dalem kepingin moco bukunipun sekalian nyaosi comment mangkih teng mriki.
regine pinten nggih buku nipon, judule nipun “Dalang Edan” injih, mangkeh dalem padosi maleh
@annida:
bukune kadose pancen langka mbake,
kulo angsal buku niku njih mboten sengojo teng Serang Banten malah, reginipun Rp 25.000,-(600 halaman) cetakan 2003, judulipun leres DALANG EDAN
Sugeng pados-pados mbake!
lela lela ledhunk dodoli dodoli bret..
*kiyai edan & dalang waras*
he..he..he….
dalang edan tenan om tejo iki