KANG BAWOR MAIYAHAN

MantelKuning

Alkisah, tersebutlah seorang teman seperguruan yang memiliki sikap nyleneh bin aneh serta ndridhis ala si Bawor alias Bagong anak sang kiai Semar di pedukuhan Klampis Ireng. Demikianlah para bedhes di lereng Gunung Ungaran akhirnya memberikan julukan.

Suatu malam di sepertiga malam akhir bulan Ramadhan 1426 H, si Bawor saya ajak untuk sedikit ngangsu kawruh ke Masjid Cut Meutia yang kebetulan juga menghadirkan Cak Nun plus wadyabala Kiai Kanjengnya. Layaknya mau pergi main sepakbola sebagaimana dilakukakannya hampir tiap minggu pagi di lapangan Polri Blok M atau di Senayan, si Bawor mengenakan celana kolor kuning idolanya.

Saya dan Bagor kemudian mengingatkan si Bawor untuk lebih baik mengenakan celana panjang atau sekalian sarungan, mengingat acara yang akan kami kunjungi bersifat pengajian umum. Namun dasar si Bawor, ia tetap bersikeras bahwa acaranya nanti diselenggarakan di pelataran mesjid jadi tidak usah terlampau formal.

Akhirnya kami bertiga berangkat dengan mengendarai si Bajaj yang mengantarkan kami ke Gondangdia. Seturunnya dari bajaj, kami segera melongok tempat penyelenggaraan acara yang memang berada di pelataran mesjid. Namun demikian tempat tersebut telah ditata dengan deklit dan segala uba rampenya, juga digelar karpet bersih sehingga nampak anggun. Si Bawor jadi sedikit keder dengan celana kolor kuningnya, melihat para tamu yang datang semua berpakaian rapi ala akan sembahyangan.

KatokKuningNamun bukanlah si Bawor kalo tak punya akal panjang. Ternyata tanpa sepengetahuan kami, dia sudah mengantisipasi segala kemungkinan sehingga di dalam tas kumelnya telah tersedia sebuah celana panjang nan hitam legam. Namun kemudian yang menjadikan sedikit kebingungan kami, dimana ia akan berganti celana? Mengingat kami berada tepat di depan pintu gerbang mesjid dan kami belum tahu posisi kamar kecil sekedar untuk berganti celana, ditambah lagi suasana yang sudah sedemikian ramainya.

Dasar si Bawor……tengok kanan kiri mencari posisi aman. Akhirnya dilihatnya sebuah gerumbulan wit awar-awar di pinggir jalan. Bawor langsung ndodhok ngumpet di grumbulan itu untuk bersalin celana. Dan tret…..tetet sejurus kemudian keluarlah si Bawor dalam keadaan sudah bercelana panjang. Dasar cah ndeso………..bagaimana jadinya kalo ada uler atau ulo yang menggerayanginya coba, dan opo ragatelen nganune yo?