NGANGSU KAWRUH
Satra Nuklir Juni 30th, 2008PEMANTAUAN LELEMBUT
Apa kabar kisanak semua? Tentunya sampeyan semua dalam kondisi sehat wal afiat to? Nuwun sewu dikarenakan beberapa hari tiada sempat terbang di jagad perblogeran. Dan ini bukan sama sekali terkait kejadian kerusuhan demonstrasi di Senayan yang berakhir dengan kerusuhan, karena memang jelas bukan saya yang dituduh sebagai dalang di balik peristiwa itu. Bukan berarti pula bahwa saya sedang sowan Kanjeng Mohammad El Baraday di Vienna, sambil sekalian menonton turnamen Euro2008 yang tengah digelar oleh Swiss dan Austria. Lha terus beberapa hari menghilang kemana gerangan Ndoro?
Begini kisahnya kisanak. Berhubung saya ini masih tergolong manusia dengan keterbatasan pengetahuan dan kawruh terhadap berbagai banyak hal maka tidaklah berlebihan jika kemudian mengibarkan tekad untuk senantiasa ngangsu kawruh, atau istilah ndesonya learning forever. Dan kebetulan tiada terkira datang tawaran untuk ikut kungkum topo broto di sekitar Pasar Jum’at Kliwon selama dua minggu. Yo jadilah saya bersama beberapa rekan dan kenalan baru mengikuti suatu prosesi ngangsu kawruh dalam kemasan suatu diklat, pendidikan kilat.
Lha terus yang dipelajari tentang opo Ndoro? Yo tentu saja terkait dengan hobi dan kelangenan saya untuk senantiasa bergaul dan bergumul dengan lelembut, maka sudah dapat dipastikan diklatnya juga seputar dunia lelembut. Untuk kali ini kawruh baru tersebut berjudul Radilogical Risk Assessment. Kawruh ini merupakan ilmu baru untuk mendeteksi keberadaan sang lelembut setelah terlepas dan mengembara dalam media ligkungan bebas.
Sampeyan tentunya mafhum to bahwa lelembut yang saya maksudnya disini bernama radionuklida atau radioisotop dengan sifat radiasi yang tiada pernah bisa diraba, dirasa, disentuh juga dilihat. Disinilah urgensi mempelajari ilmu pendeteksian lelembut yang satu ini.
Lelembut nggilani ini bila terlepas bebas ke lingkungan akan terbawa angin dan bisa jadi kemudian terhirup oleh manusia yang berada dalam wilayah awan lelembut tersebut, mekanisme ini disebut sebagai mekanisme inhalasion yaitu masuknya sang lelembut ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan.
Sang lelembut yang tertiup angin kemungkinan juga bisa jatuh atau terdeposisi di dedauan atau tanaman yang mungkin dimakan manusia. Bisa juga sang lelembut terjatuh di permukaan tanah untuk kemudian terserap oleh akar tanaman yang berujung di bagian tanaman atau tumbuhan yang dimakan manusia. Bisa jadi pula sang lelembut di permukaan tanah kemudian tergerus aliran air untuk kemudian bersama air terminum manusia. Atau bisa saja sang lelembut jatuh di badan air, termakan atau terhirup binatang air seperti ikan, dan lagi-lagi ujungnya dikonsumsi oleh manusia. Mekanisme inilah yang disebut sebagai jalur ingestion atau pencernaan sebagai jalur yang ditempuh sang lelembut untuk sampai ke tubuh manusia.
Terus kepriye mempelajari kawruh ghaib tersebut? Perilaku sang lelembut kita deteksi dengan mempelajari sifat kimia fisiknya. Kemudian kita manfaatkan pemodelan dengan program komputer yang sedemikian berkembang kecanggihannya. Program yang sempat dibabarkan kepada kami diantaranya bernama ORIGEN2, PC Cosymma, Radcon, dan PC Cream.
Namanya juga pemodelan program, tentunya dibuat dengan berbagai pendekatan dan asumsi untuk menyederhanakan perhitungan, sehingga sangat jelas banyak terdapat penyimpangan ataupun kesalahan dari keadaan sesungguhnya ketika sang lelembut berkelana. Oleh karena itu disamping perkiraan keberadaan sang lelembut dengan pemodelan, dalam kondisi nyata di lapangan harus tetap diukur dengan alat pemantau sang lelembut yang disebut sebagai detektor.
Banyak hal memang yang mesti dipelajari, namun karena keterbatasan waktu yo apa boleh buat pedhepokan segera ditutup dalam jangka waktu hanya dua pekan gladhen. Beberapa para resi yang memandu kami sembilan belas saudara sepadhepokan diantaranya Ki Pudjiyanto, Kanjeng Ibu Rini Heroe’s, Ibu Made ”Pedande”, Ibu ”Ratu” Elizabeth, Kang Yarri ”Gagarin”, Kang Yubi ”Wahyu”, Sri Kuncoro ”Kencono” dan beberapa abdi dalem yang lain.
Sedangkan yang tercatat sebagai para cantrik adalah Pak Hartanta(PRR Serpong), Wahyudi dan Tur Rahardjo(PTKMR), Ki Slamet(PRSG), Agus Salim(PTBIN), Maula, Avi, Marlina dan Seno(PTNBR), Indragini(Hamengku Dalem), Triana(BPS), Taqien, Pudji, Ipul Andang, Mas Roro, Bambs, Arifien, EdhyKunto(BPTN). Moga semua para cantrik kelak juga bisa medhar sabdo untuk menyebar luaskan keilmuan mengenai jagad lelembut yang unik ini.[]












Juni 30th, 2008 at 9:45 am
Wah, ulun mboten mudheng yen wis ngomongke soal nuklir-nukliran. eh nuwun sewu, nopo sampeyan nate dados cantrik wonten ing padepokan lor griyo sakit denmas sarjito?
Juni 30th, 2008 at 6:12 pm
waduh..aku kok tambah ngelu? Ora mudheng pol-polan
Juni 30th, 2008 at 6:34 pm
ndoro, njenengan sing pundhi?
Juli 1st, 2008 at 7:01 am
@nayantaka:
jagad dewa batara, lantip temen pamawas kita,
ulun durung crita nanging kita wis priksa!
@ragil:
mulakno ojo nganggo mikir le moco,
serahkan sepenuhnya dalam perasaan di sanubari hati terdalam!
@kang slamet:
kiro-kiro sing ndi kang?
lerese baris belakang ketiga dari kanan!
Juli 1st, 2008 at 8:27 am
lelembut ?????
Juli 1st, 2008 at 11:18 am
wah biasane melok litbang ki arep munggah jabatan, berarti onok mangan2 dong
Juli 1st, 2008 at 3:22 pm
waduh dhoro iki panjen priyayi kang pinunjul ing karti. yo pantes yen kudu ngurusi bangsane plutonium.
aku biyen ki wedi, bajur tak tekuni ora gawe nuklir koyo njenengan, wis gawe sarjana wae……
Juli 1st, 2008 at 8:35 pm
ih sereumm, maenannya ama lelembut
Juli 2nd, 2008 at 12:47 pm
BATAN Ps Jumat?
itu kan deket bgt sama ladang saya, mas
tau gitu kan bisa ktemuan
Juli 2nd, 2008 at 1:10 pm
@dahlia:
lha iya lelembut to mbake…
nggak bisa dilihat, dirasa, diraba, dan dicium
@hedi:
munggah ngendi kang?
iki malah arep dicantrike rodo suwe je…
@kang semut:
wow…berarti awake dewe sedulur tunggal perguron po?
lha sampeyan gawe sarjana nopo to?
@hanggadamai:
pingin ikutan? melok wae yuk!
@edy:
oalah….
lha ladange sampeyan mbek ndi to kang?
ntar kalo nyantrik disana maning tak mampir wis.
Juli 2nd, 2008 at 2:23 pm
duuhhh .. ora ngerti ki.. saya ga ngerti basa jawa.. hehehe..
Juli 2nd, 2008 at 4:13 pm
bab pangudining ngelmu pancen wis dadi laku jantraning urip, ndoro seten, hehehe
mugi tansah pinaringan rahayu, nir hing sambikala.
Juli 2nd, 2008 at 7:02 pm
Judulnya harus cari di kamus apaan nih, dimasukin translster ga mau.
Juli 2nd, 2008 at 7:23 pm
Pripun nDORo lelembute medenie sanget ikuw…. WOnten tolak balake mboten?
numpange tenar kemawon…!
Juli 3rd, 2008 at 7:17 am
@yu2n:
wah kalau soal nggak ngerti itu mah biasa di negeri ini mbake…
saya juga nggak ngerti tentang berbagai hal kok,
jika saya ngerti bahkan semakin menjadi tidak ngerti yang semakin menjadi…
@pak sawali:
pancen leres sanget pangandikan njenengan pak!
matur nuwun saking pamujinipun, mugi panjenengan ugi tansah kalis ing rubeda.
@ubadbmarko:
tenang saja mas…
sekarang sudah ada kok kamus lengkap bahasa jawa
@banyu.segoro:
tolak balak?jelas wonten kang…
tolak balanipun naminipun “pejabat”
gunakan ‘perisai’,perbesar ‘jarak’, dan ‘batasi’ waktu…
remen sampeyan sampun kerso pinarak,,,
Juli 3rd, 2008 at 9:32 am
@ ndoro seten a.k.a. sang nanang
Lha yo lantip to kisanak, nunggal guru ora keno podho ngganggu
Juli 4th, 2008 at 4:19 am
mantap……..
*mumet mode on*
Juli 7th, 2008 at 6:57 am
@nayantaka:
welha jebul tunggal padhepokan lagi kenalan saiki…
@communicator:
selamet dech kalo mumet!
Juli 8th, 2008 at 8:24 am
ndorooo…….tak takon yooo
jarene kancaku (ga iso dipertanggungjawabkan kij)…
wortel ki nyerap polusi tanah dan lelembut2 sing mbok critakno kui….(padahal aku kij seneng buanget mbrakoti wortel)…..he he he…..tulung penjelasane yo ndoro (hih ndoro “tak utus” saiki)
nak rak koe ndoro
Juli 8th, 2008 at 1:34 pm
wortel nyerep polutan?
tidak begitu tahu mengenai struktur biologis tanaman wortel,
namun secara prinsip begini:
setiap tanaman memerlukan kandungan hara tertentu dan berbeda-beda untuk tiap tanaman, apabila suatu tanaman tertentu menyerap polutan, maka hanya prosentase tertentu saja zat polutan yang sampai pada organ tanaman yang akan dimakan manusia(buah, daun, umbi dll), faktor ini disebut sebagai faktor transfer tanaman.
sebelum polutan sampai ke manusia, ada beberapa faktor reduksi lagi spt cara pemasakan, cara saji dll.
Terus bila polutan sampai masuk tubuh manusia, ia akan cenderung menuju ke organ tertentu saja(misal I-131 menuju gondok, Sr-90 menuju tulang dll).
Khusus untuk polutan berupa radionuklida, lamanya zat di dalam tubuh tergantung waktu paro fisik(umur radionuklida) dan waktu paro fisik(mengendap dlm tubuh sebelum dibuang scr ekskresi melalui keringat, urin dan feses)
begitu kira2….
Juli 8th, 2008 at 5:50 pm
wuihhh konco pelatihan neng BATAN..
jan baru kali ini ketemu makhluk halus yg JAWAISME bgt..
tak akoni SALUTTTTTT…kerenn…memajukan budaya JAWA…
siiipppp….siiiip….
Juli 9th, 2008 at 7:33 am
@triana:
nggih sakcekapipun pingin ndherek nguri-uri budoyo warisan para wasis je mbake….
mulat sarira hangrasa wani, hamemayu hayuning bawono!
Mei 19th, 2009 at 3:26 pm
Judul bolg iki mbingungke aku..
sang nananging jagad ki maksude we apa?
apap maksude sing gawe jengenge nanang???
Apa maksude arep nulis jejulukane Arjuna ‘ “lelananging jagad” ning kleru???
Mei 20th, 2009 at 9:04 am
gak ono maksude opo-opo kok mbake…..
gak usah dipikir jeru!
matur nuwun sudah mampir