PEMANTAUAN LELEMBUT

ParaCantrik

Apa kabar kisanak semua? Tentunya sampeyan semua dalam kondisi sehat wal afiat to? Nuwun sewu dikarenakan beberapa hari tiada sempat terbang di jagad perblogeran. Dan ini bukan sama sekali terkait kejadian kerusuhan demonstrasi di Senayan yang berakhir dengan kerusuhan, karena memang jelas bukan saya yang dituduh sebagai dalang di balik peristiwa itu. Bukan berarti pula bahwa saya sedang sowan Kanjeng Mohammad El Baraday di Vienna, sambil sekalian menonton turnamen Euro2008 yang tengah digelar oleh Swiss dan Austria. Lha terus beberapa hari menghilang kemana gerangan Ndoro?

Begini kisahnya kisanak. Berhubung saya ini masih tergolong manusia dengan keterbatasan pengetahuan dan kawruh terhadap berbagai banyak hal maka tidaklah berlebihan jika kemudian mengibarkan tekad untuk senantiasa ngangsu kawruh, atau istilah ndesonya learning forever. Dan kebetulan tiada terkira datang tawaran untuk ikut kungkum topo broto di sekitar Pasar Jum’at Kliwon selama dua minggu. Yo jadilah saya bersama beberapa rekan dan kenalan baru mengikuti suatu prosesi ngangsu kawruh dalam kemasan suatu diklat, pendidikan kilat.

Lha terus yang dipelajari tentang opo Ndoro? Yo tentu saja terkait dengan hobi dan kelangenan saya untuk senantiasa bergaul dan bergumul dengan lelembut, maka sudah dapat dipastikan diklatnya juga seputar dunia lelembut. Untuk kali ini kawruh baru tersebut berjudul Radilogical Risk Assessment. Kawruh ini merupakan ilmu baru untuk mendeteksi keberadaan sang lelembut setelah terlepas dan mengembara dalam media ligkungan bebas.

Sampeyan tentunya mafhum to bahwa lelembut yang saya maksudnya disini bernama radionuklida atau radioisotop dengan sifat radiasi yang tiada pernah bisa diraba, dirasa, disentuh juga dilihat. Disinilah urgensi mempelajari ilmu pendeteksian lelembut yang satu ini.

Lelembut nggilani ini bila terlepas bebas ke lingkungan akan terbawa angin dan bisa jadi kemudian terhirup oleh manusia yang berada dalam wilayah awan lelembut tersebut, mekanisme ini disebut sebagai mekanisme inhalasion yaitu masuknya sang lelembut ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan.

Sang lelembut yang tertiup angin kemungkinan juga bisa jatuh atau terdeposisi di dedauan atau tanaman yang mungkin dimakan manusia. Bisa juga sang lelembut terjatuh di permukaan tanah untuk kemudian terserap oleh akar tanaman yang berujung di bagian tanaman atau tumbuhan yang dimakan manusia. Bisa jadi pula sang lelembut di permukaan tanah kemudian tergerus aliran air untuk kemudian bersama air terminum manusia. Atau bisa saja sang lelembut jatuh di badan air, termakan atau terhirup binatang air seperti ikan, dan lagi-lagi ujungnya dikonsumsi oleh manusia. Mekanisme inilah yang disebut sebagai jalur ingestion atau pencernaan sebagai jalur yang ditempuh sang lelembut untuk sampai ke tubuh manusia.

Terus kepriye mempelajari kawruh ghaib tersebut? Perilaku sang lelembut kita deteksi dengan mempelajari sifat kimia fisiknya. Kemudian kita manfaatkan pemodelan dengan program komputer yang sedemikian berkembang kecanggihannya. Program yang sempat dibabarkan kepada kami diantaranya bernama ORIGEN2, PC Cosymma, Radcon, dan PC Cream.

Namanya juga pemodelan program, tentunya dibuat dengan berbagai pendekatan dan asumsi untuk menyederhanakan perhitungan, sehingga sangat jelas banyak terdapat penyimpangan ataupun kesalahan dari keadaan sesungguhnya ketika sang lelembut berkelana. Oleh karena itu disamping perkiraan keberadaan sang lelembut dengan pemodelan, dalam kondisi nyata di lapangan harus tetap diukur dengan alat pemantau sang lelembut yang disebut sebagai detektor.

Banyak hal memang yang mesti dipelajari, namun karena keterbatasan waktu yo apa boleh buat pedhepokan segera ditutup dalam jangka waktu hanya dua pekan gladhen. Beberapa para resi yang memandu kami sembilan belas saudara sepadhepokan diantaranya Ki Pudjiyanto, Kanjeng Ibu Rini Heroe’s, Ibu Made ”Pedande”, Ibu ”Ratu” Elizabeth, Kang Yarri ”Gagarin”, Kang Yubi ”Wahyu”, Sri Kuncoro ”Kencono” dan beberapa abdi dalem yang lain.

Sedangkan yang tercatat sebagai para cantrik adalah Pak Hartanta(PRR Serpong), Wahyudi dan Tur Rahardjo(PTKMR), Ki Slamet(PRSG), Agus Salim(PTBIN), Maula, Avi, Marlina dan Seno(PTNBR), Indragini(Hamengku Dalem), Triana(BPS), Taqien, Pudji, Ipul Andang, Mas Roro, Bambs, Arifien, EdhyKunto(BPTN). Moga semua para cantrik kelak juga bisa medhar sabdo untuk menyebar luaskan keilmuan mengenai jagad lelembut yang unik ini.[]