TAMBAH MAK NYuuuuuut puol!!!!

itblogo

Sore hari Kamis Kliwon 26 Juni 2008 ba’da ashar, di saat khusuk menjalani topo kungkum di padhepokan Pasar Jum’at Kliwon, tiba-tiba mendengar kabar bahwasanya kami berdelapan dari bertigabelas audisor mBandung dinyatakan lolos penyisihan dan segera memasuki babak finalisasi. Kaget dan bingung tentunya, ing atase saya kok bisa katut lolos. Yo opo tumon?

Finalisasi direncanakan melalui serangkaian kegiatan Audisi mBandung II 4-5 Juli 2008 ini. Atas inisiatif pihak padhepokan, juga seperti audisi pertama, kamipun dijemput pada hari Kamis Pahingnya. Dengan dokar besi kami lintasi tol Cipularang. Sedikit terjadi kendala tatkala sang kuda merasa kehausan di tengah perjalanan. Berhenti sejenak untuk memberi minum, kemudian perjalanan dilanjutkan kembali. Namun karena derajat kehausan sang kuda sudah kritis, bahkan sampai tandon waduknya yang bernama radiator kering kerontang, sehingga lajunya menjadi tersendat-sendat, saking kepanasannya. Alhasil, perjalanan tol harus beberapa kali diselingi acara rehat, ngedhem mesin.

Dengan segala rasa kepanasan di perjalanan, akhirnya menjelang waktu ashar tibalah kami sak konco di padhepokan yang kami tuju. Sedikit ritual sambutan disampaikan oleh beberapa resi pengajar. Dan…..ini yang membuat mak nyuuuut maning! Sang ajar menyampaikan bahwasanya dunia percantrikan harus segera kami mulai di minggu depannya. Wuaduh..???

Akhirnya terjadilah tarik ulur kepentingan yang sangat seru disertai nyang-nyangan yang panjang, sehingga berhasil dibuat suatu kesepakatan bahwa pertapaan kami akan diawali per 14 Juli 2008, sesuai dengan peringatan hari kemerdekaan Ngamerika Serikat(apa saya ndak salah?).

Jagad dewo batoro! Lha terus tes audisi yang direncakan dua hari berturut-turut untuk apa? Menurut keterangan para resi pengajar, itu hanyalah formalitas administrasi saja. Dan apabila belum lulus, yo akan diusahakan sampai lulus, meski dengan tes dan biaya masing-masing tentunya. Hal ini disebabkan karena para audisor sudah ‘diplonco’ pada saat audisi pertama dengan standar perploncoan yang sangat kejam dan mendalam. Oalah!

Nyut kenyut nyut……Begitu yang segera terlintas di kepala kami masing-masing. Bagaimana tidak? Banyak hal harus kami pesiapkan. Mulai dari urusan memberesi tugas kami di pabrik untuk dipindah tangankan kepada buruh yang lain, mencari tempat berteduh sekedar untuk nginep tidur, mempersiapkan semua uba rampe bekal yang diperlukan, hingga perpisahan dengan anak bojo untuk waktu sekian lama.

Bukan saja mental, jiwa dan psikologis kami yang tertekan, namun yang paling nyata dana celengan di kantong kami jelas amblas. Bagaimana tidak, lha wong pabrik tempat kami bernaung juga belum memberikan sinyal mengenai penyediaan perbekalan, amunisi serta logistik yang kami perlukan, yang semestinya sudah harus sumadyo sebelum kami dikirim ke padhepokan. Yo terpaksa dengan ala kadarnya harus nalangi secara pribadi. Dan ini jelas masalah berat sekaligus paling sensitif.

Masalah memang senantiasa ada dan akan sangat panjang untuk dibeberkan satu per satu, karena memang masalah tidak dapat diciptakan dan masalah juga tidak dapat dimusnahkan. Masalah senantiasa datang tiba-tiba tanpa diundang dan minta permisi. Namun satu masalah akan segera mencair dan seolah musnah ditelan masalah baru yang datang menyusul untuk menyita perhatian dan tenaga kita.

Satu hal yang paling pasti harus kita petik bahwasanya suatu episode hidup senantiasa berjalan dengan tanpa diduga dan bisa jadi berlangsung secara tiba-tiba. Ojo kagetan lan ojo gumunan, barangkali tepat nasehat para sesepuh. Setiap saat mental kita harus senantiasa terjaga dan siaga untuk menghadapi segala kemungkinan. Susah dan senang tidak saja hanya untuk sekedar dirasa, namun yang paling pasti adalah untuk dijalani. Hidup adalah perbuatan kata-kata![]