DUNIA PADHEPOKAN
Sabda Utama Juli 17th, 2008UNIVERSITAS JAGAD RAYA
Di dalam jagad pewayangan dikenal istilah padhepokan sebagai tempat penggemblengan bagi para calon ksatria agar kelak dapat megabdikan diri bagi kepentingan darma kemanusiaan. Para calon ksatria tersebut biasanya diajar oleh seorang ajar atau guru. Untuk mendapatkan kesempurnaan ilmu, para cantrik(calon ksatria yang berguru), diajarkan ilmu kanuragan, tata negara dan tentunya ilmu agama.
Dalam sejarah praja Majapahit, barangkali tercatat dalam sejarah adanya sebuah institusi untuk mencetak calon pejabat negara atau tanda, istilahnya PPTCT(Pusat Pendidikan Calon Tanda). Lembaga ini mendidik calon pejabat mulai tingkat wedana, perwira prajurit hingga pangeran adipati anom. Para siswa tanda biasanya berasal dari para putra pejabat(kasta ksatria), namun demikian ada juga kalangan Sudra maupun Waisya yang dapat mengikuti pendidikan dikarenakan dharma bakti luar biasa yang diberikan kepada negara. Kuti dan Semi adalah contoh perwakilan rakyat awam yang menjadi siswa tanda.
Dalam dunia modern sistem pendidikan kemudian berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang menjadi obyek pembelajaran. Sebagaimana diketahui pada saat awal peradaban manusia hanya dikenal ilmu secara umum, atau general science. Seiring berkembangnya perdaban manusia, permasalahan yang dihadapi manusia juga bertambah kompleks. Hal tersebut mendorong munculnya cabang-cabang ilmu yang lebih spesifik.
Kelembagaan institusi pendidikan kemudian juga berkembang mengikuti dinamika permasalahan kehidupan. Berawal dari lembaga yang bercorak tradisional, kemudian berkembang menjadi lembaga yang lebih terstruktur, sistematis, dan modern. Mulai dari padhepokan, pesantren, taman bermain, sekolah, hingga suatu institut atau universitas. Lembaga pendidikan itupun kemudian dibuat secara berjenjang dan bertingkat sesuai dengan kapasitas siswa yang mengikuti pendidikan.
Pada jenjang pendidikan tinggi dikenal beberapa lembaga mulai dari akademi, sekolah tinggi, hingga institut atau universitas. Kelembagaan yang mencakup bidang keilmuan yang paling luas adalah sebuah universitas. Pada universitas memiliki banyak fakultas yang jika terhimpun akanmenjadi satu kesatuan keilmuan yang bersifat universal. Dengan demikian seorang sarjana lulusan sebuah universitas harusnya menguasai ilmu dan keahlian yang bersifat universal.
Namun pada kenyataannya, seorang sarjana sebenarnya hanya menguasai satu bidang keilmuan sehingga senyatanya bahwa kemampuan dan keilmuannya lebih bersifat fakultatif. Dengan demikian sebuah universitas adalah kumpulan fakultas yang mengajarkan ilmu secara fakultatif atau parsial saja atau dengan istilah lain juz”iyyah. Dengan demikian istilah perkuliahan sebenarnya juga merupakan pengertian yang sedikit rancu.
Istilah yang tepat ketika seseorang melakukan pembelajaran sebuah cabang ilmu yang bersifat fakultatif adalah mengikuti kegiatan juziyyah, bukan kuliah. Kalau kuliah semestinya harus mempelajari bidang ilmu secara keseluruhan atau kauliyyah, sehingga penguasaan keilmuannya universal dan komprehensif mulai dari filsafat, ekonomi, hukum, psikologi, teknik, biologi, farmasi,dll.
Bagaimana pendapat sampeyan?









Juli 17th, 2008 at 10:00 am
pada tataran teori memang fakuktas dan jurusan di pt lebih menggambarkan disiplin keilmuan secara spesial dan parsial. tapi pada tataran praktik dan out-come-nya banyak lulusan sarjana yang mendadak jadi generalis. tak sedikit sarjana ekonomi, sarjana komputer, atau sarjana kesehatan masyarakat, yang tiba2 jadi guru. piya toh ndoro iki?
Juli 17th, 2008 at 10:31 am
PPTCT(Pusat Pendidikan Calon Tanda) T yang di tengah apa om??
Juli 17th, 2008 at 10:38 am
wah mas dari kemarin kok banyak posting tentang perwayangan….niat jadi dalang ya
Juli 17th, 2008 at 11:10 am
memang selayaknya, selain pendidikan formal di lingkungan fakultas atau jurusan masing-masing, sang mahasiswa juga harus berinisiatif untuk memperkaya diri. seorang mahasiswa teknik, haruslah belajar juga tentang ekonomi, komunikasi, bahkan seni budaya. masalahnya, apakah kultur universitas bersangkutan memang memberikan ruang dan kesempatan bagi para mahasiswanya untuk pengayaan tersebut? terlebih sekarang, para mahasiswa dituntut untuk cepat-cepat lulus dari kampusnya. mungkin kalau jaman saya dulu, 8 - 9 tahun adalah masa yang wajar untuk menyelesaikan juzziyah sekaligus kuliah. Ngomong-ngomong, sampeyan juga produk agak lawas ya ndoro, buktinya wong nuklir iso ngomong sejarah, wayang lan sakpanunggalane. Jadi inget teman sepadepokan sekarang, alumni nuklir tapi jagi main saron dan peking
Juli 17th, 2008 at 2:14 pm
lha jaman saiki wong kuliah supaya gampang golek kerjo, bukan aktualisasi diri dengan ilmu
Juli 17th, 2008 at 3:08 pm
@pak sawali:
welha jadi guru itu jebulnya sebuah generalisai keterpaksaan to?
terus kalau begitu asbabul nudzulnya, bagaimana dengan nasib kualitas pendidikan bangsa ini ke depan yo?
@ulan:
woo…itu kelupaan je,
aslinya PPTC, Pusat Pendidikan Tinggi Calon Tanda, gitu dech
@dhany:
dalang kerusuhan po?
@kang nayantaka & mas hedi:
itulah kang, duren-duren roti-roti, mbiyen-mbiyen saiki-saiki….
saya terkadang ngelus dada dan prihatin melihat dunia pendidikan dewasa ini, soal ilmu pengetahuan itu hanya soal bagaimana menghasilkan banyak uang…
insitusi pendidikan berpikir bagaimana memupuk laba, si pendidik asal gugur kewajiban, sang siswa hanya sekedar cari nilai untuk kelak dapat pekerjaan yang menghasilkan banyak uang,
ah…dunia memang terus berubah!
Juli 17th, 2008 at 4:53 pm
opo meneh wong nuklir. setelah kuliah yang masuknya saja sudah sudah, ternyata lulusnya juga susah. setelah itu, lha kok isih diharuskan golek kerjo sing lewih angel.
ndilalahe kersane ngalah, kok ya bisa…
Juli 18th, 2008 at 8:55 pm
he he he…ga nyandak aku kang…wong pemikiranku sederhana, ndak kuat pemikiranku untuk kuliah yg hebat2….jadi mikirnya juga ga neko2..
buatku asal kita bisa menghargai lingkungan sekitar, mencintai dan melestarikan..itu ilmu tertinggi buatku
bakti bagi alam semesta….dan Allah
nyambung rak yo????
Juli 18th, 2008 at 8:55 pm
he he he…ga nyandak aku ndoro…wong pemikiranku sederhana, ndak kuat pemikiranku untuk kuliah yg hebat2….jadi mikirnya juga ga neko2..
buatku asal kita bisa menghargai lingkungan sekitar, mencintai dan melestarikan..itu ilmu tertinggi buatku
bakti bagi alam semesta….dan Allah
nyambung rak yo????
Juli 20th, 2008 at 7:19 pm
waduhhh…. kuliah yg hanya tek.pangan aja aku udah pusing, apalagi kalau harus mempelajari semua secara universal.
tapi kalau kita ga spesifik gituh, jadinya malah setengah2…sayang juga kuliahnya. atau butuh waktu yg amat sangat lama supaya masing2 mahasiswa bener2 bisa menguasai semua ilmu… du…du…du… mumet aku pak
Juli 23rd, 2008 at 5:25 pm
arep nyalon rektor itebe yo mas …
Juli 23rd, 2008 at 10:10 pm
Ada lagi cakruk, gardu, pos kamling atau gardu ronda itu sebagai padheprokan orang2 yang pada ronda. Semua yang di sana pada nDeprok duduknya he… he…
Juli 24th, 2008 at 7:27 am
Inti pesan sebenarnya adalah bahwa kuliah atau proses pembelajaran itu tidak hanya sebatas di dunia formal, sehingga proses “kuliah” yang sebenarnya adalah dalam menjalani hidup, maka disebutlah “universitas jagad raya”.
Betul kata Kang Mufti, cakrukpun hakekatnya adalah sebuah padeprokan.
Soal spesialisasi keilmuan sebenarnya hanyalah sekedar pembagian tugas dari pemecahan permasalahan hidup sebagaimana amanat Tuhan kepada manusia untuk memakmurkan bumi. Jadi buat Ndoro Bangsari, hidup sudah susah, maka jangan lagi dibuat susah.
Dan bukankah Tuhan telah menitahkan “tholabul’ilmi ilal lahdi minal mahdi”, menuntut ilmu itu mulai dari lahir hingga mati!
Maka jangan terjebak dengan formalitas pendidikan….
Juli 28th, 2008 at 10:48 am
setuju sama pemikiran Mas Ndoro

waktu bukan sekedar uang, lebih dari itu waktu adalah ilmu
tinggal kita peka tidak akan sapaan hidup dalam setiap waktu
ayo sinau