TANJUNG ADIKARTA
Jogjawarta Juli 24th, 2008AMBISI SANG BUPATI
Pernahkan sampeyan mendengar daerah Kadipaten Adikarta? Bagi yang kebetulan belum, berikut sedikit kisah sejarahnya. Pasca perjanjian Giyanti atau Palihan negari, kerajaan Mataram dibagi dua menjadi Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayojakarta Hadiningrat. Perpecahan ini sesungguhnya merupakan politik Belanda untuk memecah belah persatuan bangsa kita yang dikenal sebagai devide et impera.
Belum puas dengan pemecahan tersebut, di masa Sultan HB II di Yogyakarta, Gubernur Jenderal Raffles membujuk Pangeran Notokusomo untuk meminta daerah perdikan tersendiri untuk dijadikan daerah vasal atau kadipaten. Akhirnya terpecahlah Kasultanan Yogyakarta dengan berdirinya Kadipaten Adikarta dengan adipati Pangeran Notokusumo dengan jejuluk KGPAA Paku Alam I.
Konon sebelum menjadi Adikarta wilayah tersebut bernama Kadipaten Kemuning dengan ibukotanya di Brosot. Wilayah Adikarta meliputi wilayah sepanjang pantai selatan, mulai sungai Bogowonto di ujung barat hingga sungai Progo di ujung timur. Wilayah Kabupaten Kulon Progo bagian utara meliputi sepanjang perbukitan Menoreh, semula tetap merupakan wilayah Kasultanan yang dibagi menjadi empat daerah vasal yaitu Kalibawang, Nanggulan, Pengasih dan Sentolo, serta termasuk wilayah Negorogung. Semenjak kemerdekaan RI, dengan dimaklumatkannya Kasultanan dan Pakualaman sebagai bagian integral RI, kemudian digabunglah daerah utara dan selatan tersebut menjadi Kabupaten Kulon Progo hingga saat ini.
Bupati Kulon Progo saat ini dijabat oleh Bapak Toyo Santoso Dipo. Kabupaten ini menumpukan kehidupan perekonomiannya pada sektor pertanian dan perkebunan, sehingga dengan demikian sebagai pewaris Mataram masih mengorientasikan kehidupannya di sektor darat atau agraris.
Keberadaan otonomi daerah yang membuka peluang kepada daerah untuk membuat konsep pembangunan dengan berorientasi sumber daya lokal nampaknya dicoba dimanfaatkan secara optimal oleh kabupaten Kulon Progo untuk membuat kebijakan pembangunan yang tidak hanya semata berorientasi darat namun juga berorientasi kemaritiman. Hal ini mengingat kabupaten ini mempunyai garis pantai sepanjang kurang lebih 25 km di tepian Samudra Hindia, mulai daerah Congot hingga Trisik.
Adalah tidak main-main ambisi sang bupati, terbukti pada saat ini tengah berlangsung pembangunan proyek Pelabuhan Perikanan Samudra di sekitar Karangwuni yang kelak akan diberi nama Tanjung Adikarta. Proyek ini diharapkan akan selesai dan dapat segera dioperasionalkan di tahun 2009. Pelabuhan ini kelak akan mampu disandari kapal besar dengan bobot mati hingga 150 gross ton, sehingga akan menjadi pelabuhan perikanan terbesar di sepanjang pantai selatan Jawa.
Selain infrastruktur pelabuhan, tengah dibangun juga infrastruktur penunjang kegiatan seperti tempat pelelangan ikan, serta pabrik pengolahan hasil tangkapan. Dengan demikian diharapkan proses pra penangkapan hingga pasca dan pengolahannya dapat berlangsung secara simultan dan efisien untuk meningkatkan nilai tambah produk kelautan.
Tidak hanya berhenti sampai disini. Kabupaten inipun mulai merintis pembinaan sumber daya manusia kelautannya dengan mendirikan berbagai sekolah kejuruan di bidang kelautan. Bahkan kondisi sosiologi masyarakat juga diarahkan untuk memiliki kebanggaan sebagai pelaut ulung, hal ini dilakukan dengan instruksi menyanyikan lagu wajib Nenek Moyangku Orang Pelaut, sebuah lagu ciptaan Ibu Sud pada tahun 1940. Hal ini dilakukan baik saat upacara bendera di sekolah-sekolah maupun kantor instansi pemerintah dan swasta, maupun dalam kegiatan pertemuan warga masyarakat seperti arisan, dan rembug deso.
nenek moyangku orang pelaut
gemar mangarung luas samudra
menerjang ombak tiada takut
menempuh badai sudah biasa
angin bertiup layar terkembang
ombak berdebur di tepi pantai
pemuda b’rani bangkit sekarang
ke laut kita beramai-ramai
Lagu yang menggambarkan keberanian dan keuletan nenek moyang kita dalam menjelajah samudra dapat menginspirasi segenap warga Kabupaten Kulon Progo untuk mendukung ambisi sang bupati, sehingga cita-cita Kulon Progo Binangun bukan lagi sekedar retorika namun benar-benar bisa membumi untuk mengangkat harkat dan martabat rakyat.
Bravo Kulon Progo!
Sebagai warga tetangga kadipaten……..









Juli 24th, 2008 at 9:26 am
lha jebule ambisi sang bupati sae ngaten kok ndoro…
Juli 24th, 2008 at 9:27 am
Nenek Moyangku bukan pelaut, tapi petani
njur piye ki?
Juli 26th, 2008 at 2:28 pm
Sayang kalau negeri kita yang sebagian besar berupa laut ini potensi lautnya tidak dimaksimalkan.
Juli 27th, 2008 at 6:51 pm
oh, aku baru tahu kalau kekuasaan Pakualam itu justru di daerah barat selatan… lha kupikir dekat-dekat kratonnya. yang utara pasar itu je… *bengong*
Juli 28th, 2008 at 10:50 am
wah dapat pengetahuan anyar kiyi
matur nuwun Ndoro, tak kerepi dolan mrene
Juli 28th, 2008 at 10:27 pm
wah … nembe mangertos babagan meniko ndoro … sugeng sesarean ndoro … pareng
Juli 31st, 2008 at 7:45 am
@bangsari:
mugi kemawon sae ing rencana lan ugi sae ing penerapanipun sahengga saged estu ningkataken kesejahteraan rakyat…
@luthfi:
ning mesti petani tetep doyan gereh pethek to?
@mufti am:
yo bener maksud sampeyan mas, daripada kekayaan laut kita dijarah nelayan asing kan…
@mlandhing:
nampaknya kita mesti lebih banyak belajar sejarah bangsa kita sendiri…
@tomy:
sama-sama belajar lah mas…
matur nuwun sudah kersa mampir
@masmoemet:
sesarean teng sarean?
Juli 31st, 2008 at 7:45 am
Bagaimana pak Bupati menginspirasi nayaka dan kawulanya sangatlah penting, agar ambisi luhur itu bukan sekadar meluapkan ambisi pribadi, namun menjadi gerak hati rakyat banyak… melu ndonga wae….
Juli 31st, 2008 at 10:21 am
Wah wah, sunguh luar biasa.
Salam kenal dan sukses
Agustus 4th, 2008 at 11:23 am
Wah sae sanget web ipun ndoro, ning kula yakin para kawula kulonprogo bermental pejuang semua, tidak seperti pemimpin kita terdahulu yang cuma kebanyakan mburu senenge dhewe. Yen kula sederek saking Kadipaten Gunungkidul taksih wadyabalanipun Pangeran Samber Nyawa.
Agustus 21st, 2008 at 10:29 am
@aroengbinang:
sesoarang pemimpin dengan visi kan karakter yang kuat memang sangat dibutuhkan negeri ini kang…
@sumintar:
yo semoga saja semua pemangku kepentingan mendukungnya dengan hati bulat mas…
@ngabehi km:
lha kulo nate manggen teng tepus sakwetawis aekdal lho mas…
GKne pundi njenengan?
Agustus 21st, 2008 at 12:12 pm
wah… aku lagi ngerti tentang sejarahe kulon progo..
mugi-mugi terlaksana semua rencana pembangunannya…