Si Cucak Rowo

WONG TUWO KOK DOYAN CAH CILIK!

Syekh Puji


Sebuah spanduk yang dilavalkan dengan logat Mbahrowonan yang medhok sempat saya saksikan secara langsung lewat acara berita di sebuah layar kaca televisi. Ya, kalimat menggelitik tersebut ternyata merupakan ungkapan protes sekolompok anak-anak usia sekolah atas peristiwa nikah siri Syech Pudjiono Cahyo Widiyanto, seorang “kiai” sekaligus pengusaha kaya raya dari Jambu Mbahrowo, Semarang, terhadap Ulfa yang baru berusia 11 tahun 8 bulan. Ingatanpun langsung melayang ke sebuah lagu campur sari. Masihkah sampeyan semua ingat dengan lagu cucak rowo? Jaman jamane jaman edan…..wong tuwo rabi perawan, prawane yen mbengi nangis wae, amargo wedi karo manuke. Jaman memang semakin nggak nggenah! Aturan, norma, dan nilai terbolak-balik tidak karuan. Semua tatanan menjadi berantakan dan serba samar. Yang jelek seolah terlihat baik, namun yang baik malahan disingkirkan. Yang benar seringkali harus menjadi salah, dan yang salah asalkan mempunyai beckingan yang kuat, baik uang, jabatan, status kiai, tokoh bisa “menjadi” benar. Becik kesirik olo ketompo!

Bumi tengah dilanda homreg! Gonjang-ganjing langit kelap-kelip! Batasan nilai menjadi absurb, samar, maka yang dibutuhkan wong cilik adalah kehadiran Kiai Semar. Ya, Kiai Semar adalah simbol, pralambang kesamaran antara yang haq dan batil. Kiai ini berambut kuncung layaknya seorang bocah, namun rambut penuh bertabur uban memutih. Demikian halnya raut muka dan perawakan kulit telah mengeriput, berjalan thuyuk-thuyuk sebagai simbol orang jompo. Kiai Semar berputing semlohay namun dia jelas seorang laki-laki sejati. Sosok tubuh tambunnya seolah berdiri namun sekaligus jongkok. Inilah makna kemunculan dualisme halal dan haram, tradisional dan modern, baik dan buruk, benar dan salah, ndeso dan kota, barat dan timur dan lain-lain sebagainya.

Dan dalam ketidakjelasan dan kekaburan makna nilai itu, yang dibutuhkan manusia adalah ismar. Ismar artinya peneguh atau penegak nilai. Dalam kesusatraan cerita wayang kita, sosok penegak nilai senantiasa ngeja wantah dalam diri pribadi Kiai Semar Bodronoyo. Semar sejatinya adalah seorang dewa yang memilih untuk tedhak marcopodo untuk membimbing para ksatria berbudi luhur untuk senantiasa melawan kedzaliman. Semar merupakan prlambang wong cilik dengan kemurnian hati nuraninya yang masih jernih. Dan bukankah suara rakyat adalah suara Tuhan?

Dalam kisah pernikahan kontroversial Syech Pudji, apakah benar apabila agama dijadikan acuan pembenaran tindakannya? Dengan berdalil kepada pernikahan antara Siti Aisyah dengan Baginda Rasulullah di kala usia istri Nabi terakhir tersebut berusia sembilan tahun memang suatu acuan hukum? Apakah konteks sejarah yang melatar belakangi kedua kasus, dalam pengertian sejarah, adat istiadat, ataupun hukum positif di masyarakat mempunyai konteks yang sama? Ah…. seribu satu pertanyaan, bahkan lebih, tentu saja dapat diajukan tanpa mesti menemukan jawaban yang tuntas.

Dari sudut kepantasan masyarakat sekitar saja, nampaknya sebagaimana sindiran lagu cucak rowo di atas, tindakan wong tuwo rabi perawan merupakan tindakan tercela. Dan sebagaimana dikemukan Muhammad SAW sendiri bahwasanya Islam tiada akan pernah menghapuskan suatu nilai hukum positif masyarakat yang tidak bertentangan dengan tauhid Islam. Begitupun pandangan orang Jawa mengenai nikah di bawah umur yang di saat ini dinilai sebagai hal yang tercela, terlebih bila dilakukan oleh “wong tuwo”. Di masa lalu, dalam lingkungan masyarakat tradisional yang belum mengenal peradaban sekolah, barangkali hal demikian menjadi kelumrahan. Namun bumi memang berputar, dunia kian berubah, dan tata nilaipun bergerak dinamis mengikuti irama jaman.

Barangkali yang terjadi pada diri Syech Pudji hanyalah fenomena cucak rowo. Orang tua yang berselera muda dan ingin mengenyam daun muda. Apalagi ia barangkali merasa mempunyai harta benda melimpah yang menggiurkan setiap orang tua seorang perawan. Dengan harta kekayaan, seringkali orang mempunyai hak yang lebih untuk memenuhi keinginan dan impian-impian, bahkan nafsu-nafsu. Dan memang dalam tataran manusia modern yang semakin kering jiwa ruhaniahnya segala hal sebatas senilai material. Dunia memang berkembang ke arah pengutamaan fisik dibandingkan ruh.

Di sisi orang tua si Ulfa, apakah tindakannya sudah tepat? Dengan alasan bahwa sang anak tidak menolak dinikahkan, kemudian menyetujui pinangan Sang Syech? apakah hal demikian memang benar bisa membahagiakan sang anak?Apakah seorang perempuan “cilik” akan bisa menemukan kebahagiannya dengan menikahi seorang yang pantas menjadi pakdhe atau bahkan kakeknya? Apakah sudah pantas anak berusia belum genap dua belas tahun dibiarkan tanpa panduan untuk mengambil suatu keputusan yang maha penting dalam hidupnya? Menyangkut persoalan yang sangat hakiki bagi masa depannya. Ataukah hal ini bisa disebut sebagai tindakan lepas tangan dalam mendidik anak?

rang tua-orang tua di jaman “modern” ini memang biasa berlepas tangan dari tanggung jawab peran kepengayomannya. Pernah seorang ketua takmir sebuah masjid ketika tidak mampu mendidik anaknya yang memilih keluar sekolah dan menjadi penyanyi ndangdut kemudian berkilah bahwa itu sudah pilihan hidupnya, “wong tuwo ora biso mekso, mengko ndak diwelehke”(orang tua tidak bisa memaksa, nanti malah dipersalahkan). Ora tua macam apa ini? Di tengah godaan jaman yang membuai anaknya, malah sebegitu kerdil dan lemah dalam menasehati buah hatinya. Memberikan kekebasan penuh kepada anak yang belum genap usia balighnya, nampak bukanlah suatu tindakan bijaksana.

Bagaimanapun orang tua mempunyai kewajiban memberikan bimbingan serta pendidikan kepada anak-anaknya hingga sang anak dewasa, untuk mampu membedakan perkara haq dan batil. Anak sebagai amanat Tuhan kepada sebuah keluarga, hendaknya harus mendapatkan perhatian dan pengayoman yang penuh untuk berproses belajar menjadi manusia. Sedapat mungkin, orang tua harus memberikan suasana dan iklim lingkungan yang menunjang perkembangan jiwa anak secara positif. Perubahan jaman dengan seribu satu godaan yang membahayakan kejiwaan anak, mesti disikapi dengan bijak oleh orang tua dengan memberikan dasar-dasar nilai yang baik bagi terbentuknya kepribadian anak yang kokoh dan mandiri. Dengan dasar kepribadian yang baik, sang anak kelak pasti akan mempunyai pertimbangan yang matang setiap menghadapi tantangan dan cobaan hidup yang datang bagaikan badai dan gelombang sekalipun.

Anak-anak adalah tunas muda yang masih bersemi kuncup masa depannya. Tunas muda bersemi gantikan yang tua. Itulah suatu kepastian roda jaman. Akankah kita tega mengorbankan masa depan mereka? Jawablah dengan kedalaman nurani yang terdalam.[]

Tentang sangnanang

Diriku hanya seorang hamba yang diperjalankan di malam hari. Diriku hanyalah seorang sudra, serendah-rendahnya manusia sehingga tiada satupun manusia yang sanggup dan mampu untuk merendahkan diriku. Diriku hanya seorang papa tanda punya apa-apa, sehingga diriku tiada pernah merasa kecurian dan kehilangan. Diriku hanyalah sekedar manungso tan keno kiniro, titah sewantah jalma limrah, titahing Kang Maha Endah.
Tulisan ini dipublikasikan di SabdaKawula dan tag . Tandai permalink.

28 Respon untuk Si Cucak Rowo

  1. ernut berkata:

    kaluk tunas yg belum kuncup sudah didoyanin…kapan dia sempat berkarya??

  2. sitijenang berkata:

    lha pengetahuan atau nilai-nilai bagi anak, diakui atau tidak, sebagian besar bersumber dari orang tuanya. kalo hasilnya tampak tak sesuai dengan harapan, ada baiknya orang tua melihat ‘kaca paesan’ diri. memaksa memang lebih banyak menimbulkan ketaatan palsu, tapi pembiaran juga bukan langkah yg bijak.

  3. ayik berkata:

    cucakrowo yang aneh…yang buntute akeh wulune telah menghambat perkembangan jatidiri setangkai kembang yang belum wayahe mekrok…
    kabar teranyar, sibocah Ulfa menolak dicerai (kan) oleh syech Puji…horokkk…

  4. Nayantaka berkata:

    Kok jeneng ulun disebut-sebut …

  5. goenoeng berkata:

    krungu2, wis ndedeki 2 ‘perawan kencur’ lagi ya, kang. usia 7 dan 9 tahun. apa semacam pedophilia terselubung ya ?
    embuhlah….tapi kalo aku di posisi pak puji, dadi wong sugih mblegedu, pasti aku cari perawan gede sing kinyis2.
    :D

  6. sekelebatsenja berkata:

    jadi ingin tahu bagaimana jalan pikiran si puji ini..hehe

    salam

  7. Mufti AM berkata:

    judul lagunya Tety Kadi “Layu Sebelum Berkembang”. Yo mesakke temen kang, iseh bluluk je durung cengkir.

  8. nothing berkata:

    memang susah jadi manusia, karep e aneh aneh

  9. bangsari berkata:

    kalau agama dimaknai dengan hawa nafsu ya susah. mau meluruskan malah dikira ngga tahu agama.

  10. *hari berkata:

    Lha sekarang malah britanya si bocah kencurnya mo dicere dan dikembalikan lagi ke ortunya.
    Lha piye jal?
    Intinya perempuan selalu lebih dirugikan.

  11. 'Nin berkata:

    Yang menyedihkan…
    Ternyata si Ulfa ini bukan kasus yang pertama…
    Banyak Ulfa-Ulfa yang sebelumnya…
    Yang edan orang-orangnya… bukanlah zamannya…

  12. datyo berkata:

    padahal sing enak iku…awak dhewene mek ngglethak thok…
    wis ono sing ubek dhewe…
    dadi kan bener jare mas goenoeng…mending perawan gedhe kinyis kinyis sing wis rodok pinter kekekekeke…
    Lah iki sik arek cuilik…anakku sing 15 taun ae sik jegigisan…masiyo wis oleh di rabi…tapi kan tetep ae sakaken arek-e…
    opo ora girap girap kesampluk jenggote ?
    ngono iku yo mbalik nang kang Puji dhewe…mbok yo dibalekno nang njero atine dhewe.

    Wis embuhlah..Gusti Allah luwih paham. Engkuk lak diprotes jarene nglawan agama. Padahal menurutku logikane Islam iku yo gak ngono…
    Lak iyo se Cak ?

  13. kyai slamet berkata:

    pasti gundul dan merah
    :D

  14. kaka berkata:

    memang dia gk brpikir pke otak,,,,
    msa anak dibwah umur mau di kawini…….
    jadi kyai gk mmberikan cnton yg baik
    percuma kw jadi kyaiiiiii

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>