HAMA SALAK PONDOH
Selain Kabupaten Sleman dengan Kecamatan Turi dan Tempel sebagai sentra produksi salak pondoh, Kabupaten Magelang dengan Kecamatan Srumbung-nya merupakan sentra produksi salak pondoh “super” yang memiliki nama lokal “salak lumut”. Dinamakan demikian karena memang cikal bakal bibit salak super ini berasal dari dusun Lumut, desa Kamongan.
Pada dekade 90-an areal kebun salak hanya berkembang di kawasan tepian Kali Krasak yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Sleman. Namun saat sekarang, tanamaman salak pondoh sudah menyabar hampir merata di wilayah Kecamatan Srumbung, mulai Kali Krasak hingga Kali Blongkeng.
Di Kronggahan, kampung halaman saya tercinta, mayoritas warga dusun memiliki sepetak dua petak kebun salak. Demikian halnya dengan romo saya, yang sudah mulai menanam pohon salak semenjak saya duduk dibangku sekolah dasar. Bahkan untuk pertama kalinya, sayalah yang belajar magang di kebun Pak Guru Maryono untuk ngangsu kawruh persalakan. Pak Guru Maryono adalah kepala sekolah saya waktu itu. Beliau sering mengajak para siswa kelas enam untuk berlibur di rumah beliau pada saat ada tetangganya yang nanggap tontonan, atau terkadang juga saat liburan panjang sekolah.
Di Sabtu sore kami bersepuluh(bukan laskar pelangi lho) biasa berbaris beriringan, berjalan satu-satu menuju rumah Pak Guru yang berjarak tak kurang dari 5 km. Kami memanglah kumpulan siswa dusun terpencil yang belum mengenal mode transportasi modern, seperti saat ini. Pak Guru sengaja nggelar kloso di lantai ruang tengahnya, sebagai tempat penampungan sekaligus alas tidur para anak didiknya.
Nah dalam waktu senggang seperti ini, kami diajak ke kebun salaknya. Kami diwejang bagaimana memelihara pohon salak, mulai penanaman, pemangkasan pelepah daun, mepel, pencangkokan anakan, ngembangi, hingga pemanenan salak. Kami jalani proses pembelajaran itu dengan suka cita sambil membantu pekerjaan Pak Guru. Dan sebagai bebungah, Pak Guru selalu memberikan sekresek penuh buah salak yang kami sunggi di perjalanan pulang kami.
Tanaman salak termasuk tanaman buah yang mudah dipelihara. Tanaman ini dikembangbiakkan dari tunas anakan yang tumbuh menempel pada indukan tanaman. Tunas tersebut kemudian ‘dibungkus’ dengan bumbung bambu, botol akua atau botol bekas infus yang telah diberi campuran tanah dan rabuk padat. Seiring pertumbuhan tunas, pada pokok tunas akan tumbur akar serabut yang tertambung dalam botol. Setelah empat-lima bulan akar serabut akan penuh dan tunas anakanpun siap dilepas dari batang indukan untuk kemudian ditanam sebagai tanaman baru.
Teknik pengembangbiakan semacam ini dikenal sebagai “mencangkok” salak. Pengembangbiakan dengan teknik cangkok merupakan cara vegetatif. Adapun cara generatif yaitu penanaman dengan biji salak, tidak pernah dilakukan karena biasanya pohon salak akan berubah karakter hingga menghasilkan buah yang sepet atau kadang hanya menumbuhkan salak lanang yang tidak mungkin berbuah.
Salak tergolong sebagai tanaman berumah dua dimana bunga jantan dan betina tidak terdapat dalam satu pohon yang sama. Dengan demikian penyerbukan buatan seringkali harus dilakukan untuk mendapatkan bakal calon buah. Cara ini dilakukan dengan menaburkan serbuk sari dari bunga jantan di atas kepala putik bunga betina. Bunga jantan sering didapatkan dari pohon salak yang dibibit dari geol(biji) buah salak. Bahkan bunga jantan bisa dibeli di pasar Tempel dengan harga Rp. 1.000,- sewulinya.
Mengenai hama tanaman yang menyerang pohon salak, nampaknya uretlah musuh bebuyutan petani salak. Uret adalah larva hewan serangga yang disebut wawung, sebagian lain menyebut wangwung atau ampal. Telur ampal biasa mengikut pupuk kandang untuk kemudian menetas pada media tanam. Telur tumbuh menjadi uret yang memangsa habis akar tanaman salak hingga menyebabkan tanaman layu, kemudian kering dan mati.
Wangwung dewasa merupakan serangga bersayap yang dapat terbang. Binatang ini sering menghisap pupus tanaman yang masih muda. Hal ini berakibat lama-kelamaan pelepah daun gagal tumbuh hingga kemudian berkuranglah daun tanaman. Di beberapa tahun yang lalu, hama wangwung merajalela hingga untuk menggerakkan masyarakat guna mebrantasnya, pihak kecamatan memberikan bebungah setiap wangwung dihargai Rp. 100,- . Wangwung tersebut kemudian dikumpulkan dan dimusnahkan massal di Kali Putih.
Di jaman modern ini, hama salak bertambah dengan spesies hama yang aneh. Hama ini berkaki dua dan berjalan dengan tegak. Karena hama jenis ini telah memiliki volume otak yang besar hingga mempunyai kemampuan untuk berolah pikir. Karena kemampuan berpikir inilah, maka aktivitas hama dalam merusak kebun salak petani disebut sebagai “menyalak”. Namun demikian jelaslah bahwa hama yang satu ini bukannya anjing.
Adalah ketentuan Tuhan sehingga kucing mengeong, ayam berkokok, kambing mengembik, dan anjing menggonggong. Khusus untuk anjing atau segawon, kata menggonggong mempunyai sinonim kata “menyalak”. Menyalak adalah aktivitas hama tanaman salak di dusun kami. Selidik punya selidik, ternyata hama yang menyalak buah salak kami tersebut ternyata adalah makhluk yang tidak berbeda jenis dengan petani salak sendiri. Ya, hama tersebut berujud manusia dan pak pulisi menjulukinya sebagai maling, alias pencuri.
Aksi pencurian memang masih sering terjadi hingga kini, terlebih pada saat harga buah tinggi. Dan karena luasnya area kebun salak, seringkali aksi maling ini sulit dipantau. Hal ini ditambah sepinya suasana kebun yang kebanyakan terdapat di persawahan atau ladang di mbulak deso.
Pernah suatu ketika serombongan pekerja, lengkap dengan mobil colt, memanen di kebun Pak Surahman yang terletak di Tegal Songgengan. Ketika petani yang memiliki lahan di dekatnya menyapa, para pekerja tersebut mengaku sebagai penebas salak. Menjelang sore hari si empunya kebun menengok kebunnya yang telah amblas dijarah para pencuri dan baru menyadari dirinya telah kecurian. Para tetanggapun baru sadar bahwa mereka telah tertipu oleh motih “para penebas” yang telah ‘menyalak’ habis sehektar penuh buah salak tersebut.
Nampaknya untuk membrantas hama salak yang satu ini tidak bisa dilakukan dengan pestisida maupun herbisida. Namun yang pasti ketegasan pak pulisi untuk menyelidiki kasus ini kembali dipertanyakan warga dusun. Gimana pak?