AGAMANYA ORANG INDONESIA
Semenjak jaman dahulu kala, bangsa Nusantara dikenal dunia sebagai bangsa berperadaban tinggi. Kitapun sebagai pemegang tongkat estafet sejarah bangsa ini bahkan tanpa malu-malu kucing juga mengaku diri sebagai bangsa besar dengan keluhuran nilai moral ketimurannya. Bagaimanakah dengan keadaan saat ini? Apakah predikat mulia tersebut masih tetap relevan kita sandang?
Nampaknya anak bangsa ini kini harus berani secara jujur menatap cermin jaman. Hal ini menjadi sangat penting agar setiap anak bangsa tidak terjebak pada sikap rumongso biso, merasa bisa, yang dapat menjerumuskan kepada sikap besar kepala daripada tiang, tinggi hati dan senantiasa merasa sudah benar. Bisa jadi kita sudah merasa baik dan benar dalam kesadaran dan pikiran kita. Namun seringkali kesadaran dan pemikiran tersebut tidak diiringi dengan pola sikap dan tindakan dalam setiap pengamalan hidup kita sehari-hari.
Adalah manusiawi apabila hati manusia mempunyai kecenderungan kepada fitrah kesucian, sebagaimana memang telah difirman oleh Tuhan sendiri di dalam kitab suci-Nya. Adalah malaikat makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki tingkat kesucian yang tetap, tidak berkurang dan tidak bertambah, bahkan abadi tak lekang ditelan jaman. Malaikat memang ditakdirkan untuk selalu patuh kepada setiap perintah dan amanat-Nya. Tiada sedikitpun ambisi dan keinginan untuk membangkang atau membelot tehadap perintah sang Khalik. Malaikat memanglah tidak dianugerahi dengan hawa nafsu selayaknya manusia.
Pada sudut yang lain, Tuhan menitahkan iblis atau setan dengan sikap yang seratus delapan puluh derajat berlawanan dengan malaikat. Setan telah di-casting oleh Tuhan sebagai makhluk pembangkang.
Apapun perintah Tuhan akan senantiasa diingkarinya. Bahkan tak segan-segan, dengan tipu muslihatnya dibisikkannya kepada Adam melalui Hawa untuk melanggar perintah-Nya, hingga akhirnya nenek moyang manusia tersebut terusir dari surga. Tidak puas sampai di situ, setan memproklamasikan diri sebagai musuh abadi manusia hingga akhir jaman untuk menggelincirkan anak Adam ke neraka jahanam. Dendam dan segala macam nilai kejahatan adalah trade mark dari setan.
Akan halnya manusia, Tuhan memberikan akal dan pikiran untuk mempertimbangkan setiap perbuatan yang akan dilakukannya. Dengan penganugrahan kecerdasan otak tersebut, Tuhan berarti telah memberikan otonomi yang seluas-luasnya kepada manusia untuk secara lebih merdeka menentukan jalan hidupnya. Dengan demikian manusia mempunyai pilihan untuk taat kepada ataupun membangkang terhadap perintah Tuhannya.
Apabila pilihan ketaatan yang dipilih manusia, maka ketaatan yang dilengkapi dengan pikiran cerdas akan menempatkan manusia pada derajat yang jauh lebih tinggi daripada malaikat paling suci sekalipun. Namun kebalikannya, apabila pilihan pembangkangan kepada Tuhan yang dilakukan, maka manusia akan terjebak ke dalam jurang kenistaan yang jauh lebih hina daripada kedudukan setan.
Kembali kepada predikat bangsa bermoral untuk kita, muncul beribu pertanyaan dalam setiap benak anak bangsa. Kalau memang kita bermoral, kok korupsi merajalela dimana-mana? Tindak kriminalitas diberitakan di media massa setiap hari. Pembunuhan, perampokan, penipuan, perkosaan kok terjadi hampir di pelosok negeri. Kalau bermoral kok hutan-hutan kita gunduli sendiri, kekayaan alam kita keruk untuk perut sendiri-sendiri?
Bangsa kita konon merupakan bangsa yang beragama, bahkan dalam salah satu sila dasar negara ditegaskan sebagai bangsa yang berkeTuhanan. Tapi mengapa kok rakyat tidak bertambah tentram dan damai hatinya? Kenapa fitnah dan ghibah menjadi makanan sehari-hari?
Agama, sebagaimana akar katanya a berarti tidak, dan gama berarti kacau, hingga agama dapat diartikan tidak ada kekacauan. Jangankan mendengar tutur kata lembut nan menyejukkan hati yang kita dengar, ini malah kekasaran dan kedengkian seperti dapat kita tonton dalam setiap sinetron yang menyapa penonton? Dimanakah otak kita?
Betapa negeri yang mengaku baldatun toyyibun wa rabbun ghofur ini selalu memparadokkan teori dengan dunia prakteknya. Teori tinggal teori! Kebaikan dan kebenaran hanya hinggap di dunia impian dan angan-angan semata. Kita seolah menjadi manusia bertopeng dalam kenyataan sehari-hari. Kita selalu bangga dan sombong bila dibombong sebagai manusia berbudi pekerti. Meski kenyataannya kita membangkan kepada fitrah Tuhan.
Agama nampaknya belum kita wujudkan dalam pengamalan sehari-hari, hingga kiranya masih relevan surat Bung Karno kepada Ustadz Ahmad Hasan selaku pimpinan Persis di tahun 1930an, “…Tetapi apa jang kita tjutat dari Kalam Allah dan Sunnah Rasul itu? Bukan apinja, bukan njalanja, bukan flamenja, teapi abunja, debunja, asbesnja. Abunja jang berupa tjelak mata dan sorban, abunja yang mentjintai kemenjan dan tunggangan onta, abunja yang bersifat Islam, mulut dan Islam, ibadat, zonder takwa, abunja jang tjuma tahu batja Fatihah dan tahlil sahaja, tetapi bukan apinja jang menjala-jala daru udjung jaman jang satu ke ujung jaman jang lain….”
Barangkali kita memang sekedar memakai agama sebagai ageman, pakaian jasad kita. Kita tidak pernah menyelami dengan mendalam makna pemelukan suatu agama. Dan bila bangsa ini mengaku sebagai bangsa yang beragama, namun ternyata kita gagal untuk mencapai kesejatian hidup dalam bermasyarakat dan bernegara, dapatkah disimpulkan bahwa bangsa ini mayoritas diisi oleh umat beragama yang munafik? Bagaimana tidak munafik, kalau ucapan tidak pernah selaras dengan pikiran dan tindakan kita dalam keseharian. Dan jika memang kita bangsa yang munafik, yang selalu mempermainkan hukum Tuhan, nampaknya sangatlah pantas apabila bangsa ini menuai badai di sepanjang masa.
Kita selalu merasa benar, merasa baik, merasa diri sebagai ummat beragama yang taat. Kita selalu menampakkan diri sebagai manusia bermoral dan bermartabat tinggi. Kita selalu gemar mengenakan simbol-simbol keagamaan sebagai topeng hidup. Manusia seakan menempatkan diri sebagai sang malaikat suci. Manusia seakan ingin merebut posisi suci para malaikat. Ya, manusia ingin menjadi malaikat.
Manusia adalah manusia. Manusia dikodratkan berbeda dengan malaikat. Malaikat menempatkan loyalitas 100%nya kepada Tuhan. Malaikat hanya memiliki pilihan menjadi makhluk suci semata. Sedangkan kita, manusia. Manusia memiliki potensi kesucian sekaligus kenistaan. Manusia adalah manusia, dan malaikat adalah malaikat, dan manusia tidak mungkin menjadi malaikat.
Manusia janganlah mempergunakan agama sebagai topeng untuk menjadi malaikat. Manusia tampil kemana-mana dengan kedok kesucian malaikat. Dan karena manusia tidak bisa memakai topeng malaikat terus-menerus untuk selalu tampil di muka umum, maka manusia seringkali diam-diam menjadi setan di bilik pribadinya. Inikah kenyataan ironi terhadap anak bangsa ini? Memakai simbol-simbol kemuliaan, namun sesungguhnya kita adalah setan?
Jubah, sorban, kiai, haji, ustadz, pendeta, bhiksu, romo hendaklah jangan berhenti kepada simbol. Ahmad, abdul, rayyan, akbar, yohannes, magdalena, fransciscus, bernaditus, made, ketut, pedande, jangan hanya menjadi doa kosong yang melekat pada nama anak Adam. Semua hanyalah baju dari raga manusia. Dan apalah artinya raga tanpa jiwa dan ruh? Maka lengkapilah raga kita dengan ruh. Kesatuan antara raga dan ruh akan menjadi kehidupan. Maka hiduplah kita sebagai kesatuan jiwa dan raga, kesatuan pikiran, perkataan, dan perbuatan untuk menjadi manusia yang seutuhnya.
Sebagai manusia modern tentunya kita sangat tahu dan paham akan berbagai teori kebenaran. Kita sangat mengerti bahwa kejujuran, keadilan, sifat amanah, disiplin, tertib, teratur merupakan sifat mulia yang akan membawa kepada kemaslahatan kehidupan. Kitapun tentu paham bahwa kecurangan, keculasan, khianat, korup, nepotis hanyalah hasutan setan yang akan membawa kerusakan tata kehidupan masyarakat. Tetapi ego kita seringkali menempatkan bahwa semua orang harus berbuat baik, kecuali diri kita sendiri bebas berbuat tidak baik. Kita sangat pandai soal teori, tetapi giliran dalam dunia praktek kita cenderung melakukan tindakan tercela.
Dan yang membuat bangsa ini celaka, ternyata pikiran sebagaimana disebut di atas telah dianut oleh mayoritas anak bangsa, secara berjamaah lagi. Jadi siapa lagi yang masih mau mengamalkan kebajikan? Diam-diam kita memang telah menjadi setan!
Bangsa ini harus berjiwa besar jika ingin bangkit dari keterpurukan. Ketidakjujuran, bahkan kepada diri sendiri harus disingkirkan jauh dari lubuk sanubari. Anak bangsa ini harus belajar untuk biso rumongso, bisa merasa, memposisikan diri secara rendah hati sebagai manusia yang penuh kekurangan untuk kemudian selalu memperbaikinya. Bukankah sikap demikian lebih layak kita lakukan?