SUWARGO KANG KATON
Teruntuk Kang Bahtiar, Mpok Rini, Kang Qohar, Bedhes, dan para orang tua baru lain.
Bagi anda, apakah makna amanah Tuhan kepada anda yang disebut anak? Berbeda dengan binatang yang beranak pinak hanya sekedar sebagai proses reproduksi, dimana kelahiran keturunan hanyalah sebagai proses regenerasi penerus untuk mempertahankan spesies binatang tertentu. Manusia jelas berbeda dengan binatang karena anugerah otak yang dititipkan Tuhan kepadanya, dimana dari organ tersebut terpancar gelombang elektromagnetik pengendali dan pemikir yang disebut akal.Dengan berlandaskan akal inilah manusia kemudian mencari pemaknaan dengan menggali berbagai sumber informasi, termasuk kitab suci sebagai acuan utama. Sedikit mengutip firman Tuhan, dikatakan bahwa Tuhan mempersatukan dua insan laki-laki dan perempuan untuk kemudian beranak pinak dan berkembang menjadi bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar manusia saling mengenal satu dengan lainnya.
Keberadaan manusia di muka bumi tidak lain untuk mengemban tugas mulia sebagai khalifatullah fil ardli, pemakmur bumi. Dengan demikian diperanak-pinakkannya manusia salah satu tujuannya adalah dalam rangka mengemban amanah pemakmuran bumi tersebut. Oleh karena itu, di samping sebagai penerus keturunan secara biologis, anak juga memiliki fungsi untuk terus menerus melanjutkan fungsi kemanusiaan, menjunjung tinggi harkat dan martabat wakil Tuhan.
Diantara kaum cendekiawan menafsirkan anak sebagai “quratta aqyun”, bola mata layaknya permata penyejuk hati. Ini tidaklah berlebihan karena anak merupakan sumber kebahagiaan orang tua. Haru biru, jingga kelabunya kehidupan rumah tangga sangat diwarnai kehadiran buah hati. Betapa setiap pasangan suami istri yang baru meniti kehidupan mahligai perkawinan sangat mendambakan buah hati sebagai pelengkap kehidupan rumah tangga.
Rumah tangga tanpa anak, secara sosiologis kebudayaan kita, dinilai sebagai rumah tangga yang belum lengkap. Kelengkapan suatu rumah tangga seolah-olah secara “wajib” harus terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Seorang suami berubah menjadi ayah, dan seorang istri berubah menjadi ibu ketika anak mereka hadir. Ada suatu peran fungsional tertentu dalam rumah tangga. Lebih dari sekedar fungsi biologis perhubungan antara suami istri, kelahiran anak lebih melengkapi derajat pemaknaan yang lebih bernilai secara psikologis dan sosiologis.
Kehadiran anak merupakan salah satu sumber kebahagian suatu rumah tangga. Anak bisa menginspirasi kedua orang tuanya untuk menjadi lebih dewasa secara manusia, dan bertanggung jawab terhadap segala tingkah laku yang akan menjadi panutan bagi anak-anaknya. Anak yang tumbuh menjadi pribadi penurut yang di kemudian berkembang menuju sifat kesholehan merupakan dambaan setiap orang tua. Anak yang sholeh bisa digambarkan sebagai swargo kang katon, surga yang nampak di dunia sebagai sumber kabahagian dunia dan akhirat. Hal ini jelas tidak berlebihan karena di samping memberikan kebahagian semasa hidup di dunia, anak yang sholeh merupakan amal jariyah yang tiada akan pernah kering mengalir pahalanya meski kedua orang tuanya telah menghuni alam kelanggengan, alam baka.
Sebaliknya anak yang tidak mau patuh kepada orang tua dan segala norma kebaikan dikatakan sebagai malin kundang si anak durhaka. Rumah tangga dengan kehadiran anak durhaka bagaikan neraka yang diturunkan ke muka bumi. Maka jangan heran apabila ulah anak durhaka kemudian menjadikan anak polah bopo kepradah, anak berbuat kejahatan namun orang tua jualah yang harus menanggung malu seumur hidupnya. Hal inilah yang mengharuskan orang tua yang diamanati titipan Tuhan harus mendidik anak dengan sebaik-baiknya, serta yang jauh lebih penting harus memberikan tauladan sifat-sifat keutamaan hidup karena kacang mosok ninggal lanjaran, anak hanyalah sekedar meniru perilaku kedua orang tuanya.
Seorang anak seakan menjadi segala-galanya bagi orang tua. Segala hal, segala pekerjaan sulit, segala kemampuan seakan-akan diperas untuk dipersembahkan sepenuhnya bagi kebahagiaan sang anak. Banting tulang, peras keringat, kerja siang malam tanpa mengenal lelah hanya untuk anak-anak. Bahkan hidup mati dan nyawa rela dipertaruhkkan demi memenuhi keinginan si buah hati. Dan bila sang anak jatuh sakit, maka dengan segala upaya dan doa diusahakanlah kesembuhan, bahkan jika mungkin dimohonkanlah kepada Tuhan agar penyakit pembawa derita bagi anaknya dipindahkan saja kepada dirinya. Anak adalah sumber inspirasi bahkan anak adalah ruh bagi kedua orang tuanya.
Dalam khasanah budaya masyarakat Jawa, anak mempunyai dasanama, padanan kata antara lain putra, suta, siwi, atmojo, sunu, tanaya, weka, yoga, yang kesemuanya bermakna anak. Mas Edot, seorang dokter spesialis anak di Yogyakarta memberikan pemaknaan bahwa seorang anak merupakan kesatuan jiwa dan raga, jasmani dan rohani yang utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Namun demikian unsur utama sebagai dasar atau tulang punggung anak adalah sisi kejiwaan atau kerohaniannya. Badan lebih berfungsi sebagai wadag, jasad tempat bersemayamnya ruh.
Hal ini tentu saja sedikit berbeda dengan pemahaman teori modern yang mengatakan bahwa mencono in corpo rosano, di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Teori Yunani kuno tersebut jelas tidak konsisten apabila kita menyaksikan para maling, koruptor, serta sampah masyarakat yang lain berbadan tegap dan sehat-sehat karena gizi yang senantiasa tercukupi. Jiwa yang sehat, memungkinkan menjadi suatu dorongan bagi raga untuk berbuat baik. Mulai dari mencukupi raga dengan asupan makanan yang halal dan baik, berpikir, berucap dan bertindak juga dalam kerangka nilai kebajikan.
Anak bukanlah sekedar miniatur dari orang dewasa karena mereka memiliki dunianya sendiri. Dengan demikian anak juga manusia. Manusia berarti menungso, mersudi manunggaling karso. Maknanya adalah bahwa anak merupakan makhluk Tuhan sebagai perlambang kesatuan kehendak luhur, baik kehendak Tuhan sebagai Sang Khalik, harapan kedua orang tua, masyarakat serta lingkungan hidup sekitarnya.
Dikarenakan anak adalah manusia, maka dalam hal pendidikan, anak juga harus diperlakukan sebagai manusia, dalam arti bahwa hak asasi si anak juga harus dijunjung tinggi. Anak senantiasa tumbuh dan berkembang menurut minat dan bakatnya masing-masing. Orang tua mempunyai tugas untuk mengiringi pertumbuhan bakat tersebut dengan mengusahakan tanah persemaian yang menyuburkan benih minat dan bakat masing-masing buah hatinya. Orang tua sama sekali tidak memiliki hak apalagi kewenangan untuk memaksakan kehendaknya terhadap karakter seorang anak.
Perspektif orang tua modern dewasa ini seringkali merasa paling tahu dan mengerti terhadap keinginan dan cita-cita anaknya. Segala hal telah diarahkan semenjak anaknya kecil menurut “kebaikan” yang diyakininya sebagai suatu kebenaran untuk anak-anaknya. Padahal yang seringkali terjadi adalah pengekangan dan pemaksaan kehendak. Yang terjadi adalah orang tua yang “mencetak” anak-anak menurut kehendaknya sendiri. Pada tahap inilah anak dirampas “hak kemanusiaannya”.
Adalah lebih arif pandangan yang menyatakan bahwa anak adalah guru bagi kedua orang tuanya dan orang dewasa lain di sekitarnya. Betapa seorang anak memiliki jiwa polos nan jujur tanpa ternoda dengan perilaku jelek. Hal ini sesungguhnya merupakan kaca benggala sebagai cermin pepeling akan keutamaan budi pekerti mulia. Anak tiada lain juga merupakan bagian dari ayat-ayat Tuhan yang dibentangkan bagi proses pembelajaran manusia. Orang tua yang bijak senantiasa mau belajar dari setiap ayat-ayat Tuhan. Betapa ketika kita mempunyai anak, kemudian kitapun kemudian mulai belajar untuk mengasuh, ngemong buah hati dengan curahan kasih sayang yang tulus. Betapa kita kemudian sadar dan mengerti bagaimana tidak mudahnya orang tua kita mengasuh dan membesarkan kita di kala kita balita. Dan dari sini pulalah kita kemudian bisa belajar akan makna ketulusan dan keikhlasan.
Anak sebagai titipan ilahi, hendaknya dijunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaannya sebagai calon penerus misi kemanusian untuk memakmurkan bumi di kelak kemudian hari. Orang tua adalah pendamping dan sahabat sejati yang harus mengawal pertumbuhan anak dengan ketulusan hati dan dalam batas kewajaran memberikan tauladan serta pengarahan. Anak-anak adalah masa depan bangsa, anak-anak adalah manusia masa depan. Di tangan merekalah hitam putih, pucat pasi wajah bumi kita sandangkan.[]