SI PONANG SAMBUT FAJAR
Bersamaan dengan sautan kokok ayam jantan dusun dan berhembusnya hawa dingin angin Tidar menjelang berkumandangnya adzan Subuh, Si Ponang menggeliatkan tubuh mungilnya ke kanan ke kiri, berputar menggelinding ke segenap empat penjuru lima pancer untuk kemudian mengucek-ucek kedua mata mungilnya. Dan …..uuuk….uuuk sapanya pada sang pagi.
Dengan mata setengah sayu dan ayub-ayuben, Si Ponang segera merangkak pelan namun pasti menuju ke atas tumpukan bantal dimana biyungnya menaruh Kitab Serat Kamus Visual. Adalah kebiasaan Si Ponang yang baru berumur sebelas bulan ini di setiap kebangunannya dari alam mimpi senantiasa belajar membaca kitab dengan berbagai gambar dengan keterangan bahasa Indonesia dan Inggris sekaligus. Hal semacam ini barangkali merupakan fenomena yang sangat janggal, bahkan nggege mongso untuk anak seumuran Ponang. Namun begitu, sepertinya ia sangat paham akan wahyu pertama yang diterima oleh Kanjeng Nabi Muhammad untuk melakukan iqro’, mbabar jagad meski dengan pandungan malaikat Jibril.
Selepas bermain iqro’ dengan Kitab Serat Kamus Visualnya, menjelang jam setengah enam pagi Si Ponang sudah ngeyel merengek-rengek kepada boponya untuk segera turun ranjang untuk beranjang sana keluar pondok. Setelah memakai baju hangat dan sambil bersisir, kadang bertopikan topi pilotnya, Si Ponang berkaca sesaat memastikan penampilan dalam gendongan boponya untuk kemudian dengan langkah pasti membuka pintu samping pondok dan selanjutnya beranjang sana berjalan-jalan menikmati kesejukan udara pagi.
Setelah melakukan adabtasi sesaat dengan hawa udara yang berhembus, perjalanan dalam gendongan sang bopo diawali Si Ponang dengan meninjau selokan “mataramnya” Magelang kota Harapan. Sejenak melihat gerojokan air deras di sisi balai kampung, perjalanan pagi dilanjutkan dengan menyusuri tepian tanggul ke arah selatan.
Pertama dipapasinya Mbah Dikromo yang pagi buta sudah menuruni tebing Pancuran Mas dengan memanggul tiga buah batang bambu yang dibongkok menjadi satu untuk dilelangnya di pojokan jalan Raden Saleh. Selepas menjatuhkan bambunya di bibir tanggul, lelaki sepuh itupun segera duduk jegang sambil menggelar kertas baret untuk meramu tembakau, cengkih, dan klembak menyannya sebagai udut pagi penghangat badan. Hidup seakan dijalani dengan segenap ketentraman kalbunya.
Tak jauh dari tempat mangkal “pasar” bambu, tepat di sisi warung tenda Pak No, Si Ponang menggeliatkan tubuhnya sembari mengarahkan ujung telunjuk mungilnya seakan memberi komanda tegas untuk bersapa ramah dengan tiga ekor kijang kencana di sebuah omah suwung pojokan jalan. Seperti telah sangat hapal, Si Ponang selalu minta didekatkan di mulut pagar sehingga sang kidang talunpun mendekat untuk mengucapkan selamat pagi kepada kawan mungilnya. Boponya segera meraih segerumbulan semak perdu hijauan di pinggiran selokan untuk kemudian dipegang bersama dengan Si Ponang. Dan seakan bersenda gurau dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh orang dewasa, Si Ponang memberi sahabatnya sarapan pagi tanpa rasa takut dan pekewuh, meski boponya sedikit khawatir saat tangan kecil putranya tanpa ragu seringkali berani menyentuh bahkan membelai mulut sang rusa.
Puas dengan sahabat kijangnya, Si Ponang melanjutkan petualangan paginya dengan terus menyusuri “naga coklat” penghubung kali Elo dengan kali Progo. Di kiri kanan sisi tanggul dijumpainya beberapa pohon jambu kluthuk yang selalu saja berbuah di sepanjang musim. Dilihatnya seorang bocah seusia kelas satu SD tengah bertenggeran di sepotong dahannya, dan Si Ponangpun seakan memandang iri dan seolah berbisik di kedalaman kalbu untuk bertekad jikalau dirinya nanti sedikit telah lebih besar, pasti akan direngkuhnya erat-erat pohon jambu kluthuk tersebut setiap harinya.
Sedikit di bawah tebing tepi jalan setapak, terdapat beberapa pohon pakel yang tengah berbuah lebat pula. Berderet sejajar di belakang pohon pakel, beberapa pohon apukat dan jambu air membentengi sebuah pondok sederhana milik seorang tuna netra sebatang kara yang berprofesi sebagai tukang pijat. Ya, pondok Lik Slamet yang berdiri mungil seakan kesepian oleh himpitan beberapa rumah besar di ketiga sisi kanan kiri dan belakangnya.
Sepuluh langkah berlanjut ke arah pusat puncak Tidar yang masih enggan membangunkan dirinya, masih di tepian tebing “selokan mataramnya” Magelang, terdapat sebuah jembatan mungil yang biasa dijadikan sebagai jalan pintas bagi warga di bawah tebing. Di lereng tebing yang curam berderetan dengan teratur beberapa rumpun pohon pisang kepok yang beberapa diantaranya tengah berbuah ranum. Sepelempar pandangan barat pertigaan Kebon Polo terdapat pompan tua yang telah coklat berkarat warisan pemerintah Kompeni di masa lalu.
Di pelataran jembatan mungil di atas “selokan mataramnya” Magelang tersebut, Si Ponang selalu meminta turun dari gendongan sang bopo. Sambil ditopang oleh kedua tangan boponya di sisi belakang, Si Ponang berusaha berdiri tegak dengan pandangan tajam ke segenap arah bak seorang komandan Rindam Diponegoro yang tengah menginspeksi barisan prajuritnya.
Di tatap dengan tajam oleh Si Ponang jalan Ahmad Yani yang tepat melintang dari utara ke selatan kemudian meliuk menuju tengah kota. Secara cermat diamatinya berapa jumlah truk gandeng, berapa truk treiler, juga truk puso dan montor tengki . Tak lupa dicermatinya setiap bus malam dan bus AKAP yang melintas dengan separuh penumpang di dalamnya, hari memang masih terlalu pagi untuk aktivitas kota kecil seukuran Magelang.
Mendadak terdengar suara melengking tinggi dari arah luar kota, dengan spontan mata kecil Si Ponang berkerling mencoba mencari ke arah datangnya sumber suara lengkingan. Tak sampai dua kedipan Si Mungil, meluncurlah sebuah motor secepat kilat banaspati, dan rupanya suara nyaring melengking memang berasal dari knalpot rombengnya. Tanpa kedipan mata Si Ponang mengamati motor tersebut seakan tengah meresapi fenomena doppler sampai si motor hilang di kelokan Kebon Polo.
Sejurus berlanjut, sang betara surya menampakkan siratan sinar cerahnya di sudut puncak deretan ruko di seberang jalan. Hari memang telah bangun menggeliat. Magelang telah terjaga dari mimpi malamnya untuk segera memulai aktivitas memutar roda kehidupan segenap warga ramahnya. Nun jauh di arah timur nampak anggun berdampingan sang Merapi dan Merbabu bersatu padu. Sementara di arah barat nampak tinggi menjulang gunung Sumbing dengan dilatar-belakangi Sindoro. Nan jauh di sisi tenggara tersamar deretan pegunungan Menoreh bertiarap di tepian Kali Progo. Adapun sebagai pancer di pusat kelima gunung tersebut bersemayamlah gunung Tidar pusernya tanah Jawa. Inilah bumi Panca Arga di pagi hari.
Seakan telah memastikan bahwa segalanya berada dalam kondisi aman terkendali, Si Ponangpun naik ke bopongan sang bopo untuk kemudian menuruni tebing dan membelah perkampungan Kebon Dalem untuk kemudian memutar di jalan Pahlawan. Beginilah ritual rutin yang dijalani Si Ponang untuk kemudian kembali terlena dalam tidur pagi di waktu pukul setengah tujuh untuk kembali terbangun secara sesungguhnya di jam setengah sembilan pagi.[]
