KOPDAR PENDEKAR TIDAR

KOPDAR PENDEKAR TIDAR

Alun2

Menjelang liburan tahun baru Imlek sengaja saya rencanakan untuk mudik sekedar anjangsana menengok kampung halaman nun jauh di kesejukan lembah Tidar. Sedikit istimewa dibandingkan kepulangan saya yang biasanya, adalah seruan dari beberapa teman di jagad maya untuk bersua langsung alias kopdar bersama. Para wirablogger dari selingkar Gunung Tidar yang mencakup para pendekar maya dari Merapi, Merbabu, lereng Menoreh, hingga Sumbing, Sindoro, bahkan Giri Telomoyo.

Melalui kontak per kontak lewat telepon dan sms-an, akhirnya disetujuilah hari Ahad sebagai saat perjumpaan itu. Dan untuk menuntaskan segudang rasa penasaran dari para sobat tentang kelucuan Si Ponang Bocah Magelang, maka dipilihlah ndalem Peniten di Kedhaton Potrobangsan sebagai sasana panggih. Dari konfirmasi yang masuk ke pihak panitia semalam sebelumnya telah menyatakan kepastian akan kerawuhannya, diantaranya Kang Ciwir wadyabala Pendekar Pattiro, Mas Ikhsan Juragan Alphamart sak andhahannya, Mas Hanafi sang abdi dalem bupati, dan beberapa pendekar lainnya.


KomporMgl

Di hari dan waktu yang ditentukan, akhirnya berkumpullah tidak kurang dari tiga bergada pendekar. Mula-mula yang datang menyambangi ndalem Peniten adalah Mas Ikhsan yang sengaja menuruni lereng Salaman di seputaran kaki Sumbing di ujung barat tlatah Magelang.

Sehari-hari blogger yang satu ini adalah asisten wedana juru niaga di sebuah pusat ritel waralaba di bumi Sukabumi. Bersamaan dengan momentum libur Imlek, maka sengajalah ia kondur kampung dan bergabung dalam pasamuan blogger Tidar. Luar biasa semangat silaturahmi sobat yang satu ini. Sayapun sangat trenyuh mengenangnya hingga membangkitkan tekad untuk kelak suatu saat dapat membalas kunjungan kehormatannya di ndalem kami. Barangkali di lain waktu ke depan memang perlu digulirkan sasana kopdaran di seputaran sedulur papat gangsal pancernya Gunung Tidar.

Ndoro Seten MasIkhsan KangCiwir

Sewedangan secangkir berikutnya rawuhlah pendekar yang memperkenalkan diri sebagai pendekar iketan khas Pajang, karena memang beliau dilahirkan di bumi Hadiwijaya tersebut. Menyandang nama besar Rokhmad Munawir, pendekar aktivis pemantau kebijakan publik ini lebih nggendera dengan paraban Kang Ciwir. Bertempat tinggal di sekitar kuthagara Mungkid membuatnya lebih mudah untuk mengakses pusat kekuasaan kadipaten sebagaimana tuntutan profesi yang digelutinya. Jebolan sebuah pawiyatan luhur di pusatnya The Spirit of Java ini saat ini tengah menantikan kelahiran putra pertama dari sang garwo patmi yang bersinggasana di projo Bojonegoro.

Meski baru benar-benar pertama kali berjumpa langsung, namun suasana keakraban penuh canda nan tawa dan semangat kekeluargaan menjadi aroma romatisme persaudaraan ala warga padukuhan. Suasana guyub dan semanak memanglah jiwa sejati anak bangsa wong Jowo. Dengan semangat mangan ora mangan sing penting kumpul, kami benar-benar hanyut dalam perbincangan mengenai banyak hal. Mulai dari siapa dan berapa banyak blogger di kota Tidar hingga perkembangan jagad IT menjadi tema hangat setelah masing-masing dari kami bertutur seputar identitas, asal-usul, keseharian dan lain aspek pribadi masing-masing.

Di tengah serunya obrolan kami, Si Ponangpun segera bergabung selepas menjalani ritual bobok siangnya. Dan selayaknya para sesepuh di kandungan tlatah padusunan, Si Ponangpun menyruput hidangan teh anget yang telah terhidang di depan matanya. Dihirupnya dalam-dalam aroma seduhan wangi teh Tjatoet khas pegunungan Dieng yang terkenal sak indenging jagad itu. Si Ponang memang bocah yang nggege mongso sehingga sekecil itu sudah sangat nggathok bahkan barangkali mencandu air teh, sedikit nganehi dibandingkan bocah seusianya yang masih demen dengan susu ibunya.


GengPonang

Magelang memanglah hanya sebuah kota mungil di ketiak rerimbunan lembah Tidar yang dikelilingi kadipaten yang membentang antara Merapi-Merbabu hingga Sumbing-Sindoro yang dibatasi liukan sang naga air Progo dan Krasak. Sebuah wilayah pertanian yang senantiasa menghijau karena anugerah sang abu Merapi yang setiap saat tersembur terbawa angin gunung angin lembah hingga jauh di dataran rendah. Semenjak era Mataram Kuno wilayah ini memang telah mengenal peradaban dengan berbagai situs candi peninggalan dinasti Syailendra maupun Sanjaya. Melalui prasasti Mantyasihlah wilayah ini dinyatakan sebagai maha gelang, Magelang.

Meski usia untuk sebuah kota dengan wilayah sekitar yang relatif bukan muda lagi, namun Magelang tetap hanyalah daerah praja yang sedikit bergeliat menikmati kue pembangunan yang kebanyakan malah terkuras dari daerah sebagai upeti ke kutoprojo Njakarta. Makanya jika dalam jagad IT dengan ujung tombak internetnya, kota ini tidaklah bisa dibandingkan dengan Jogja, Semarang, Bandung, Jakarta, bahkan tetangganya Solo. Jumlah warnet di kota Harapan ini masih bisa dihitung dengan jari. Apalagi bila ditelusur mengenai jumlah bloggernya, masih bisa disebut satu per satu, itupun kebanyakan diantaranya sudah tidak lagi berdiam diri sebagai warga Magelang karena tuntutan pangupo jiwo di perantauan.

Beberapa blogger yang bisa disebut memiliki hubungan khusus dengan Magelang barangkali masih bisa diabsen satu per satu mulai dari ekomagelang.blogspot.com, ikhsanudin.blogspot.com, niethairawati.blogspot.com, kaum-biasa.co.cc, mashanafi.wordpress.com, siponang.wordpress.com, isroi.wordpress.com, niethairawati.multiply.com, mbak ayik……dan siapa bisa menambahkan lagi?

Melihat kondisi tersebut di atas, nampaknya perkembangan jaringan internet melalui warnet maupun jaringan resmi di beberapa institusi sekolah-sekolah, barangkali perlu disertai dengan penyebarluasan virus perbloggeran. Blog sebagai media ekspresi diri dan penyebar berbagai gagasan, serta pembawa informasi layak untuk dimasyarakatkan. Memasyarakatkan penggunaan blog barangkali memang harus menjadi agenda para perintis wirablogger di Magelang tercinta ini. Siapa berminat untuk bergabung?

Tentang sangnanang

Diriku hanya seorang hamba yang diperjalankan di malam hari. Diriku hanyalah seorang sudra, serendah-rendahnya manusia sehingga tiada satupun manusia yang sanggup dan mampu untuk merendahkan diriku. Diriku hanya seorang papa tanda punya apa-apa, sehingga diriku tiada pernah merasa kecurian dan kehilangan. Diriku hanyalah sekedar manungso tan keno kiniro, titah sewantah jalma limrah, titahing Kang Maha Endah.
Tulisan ini dipublikasikan di Magelangan dan tag . Tandai permalink.

2 Respon untuk KOPDAR PENDEKAR TIDAR

  1. Ndoro Seten berkata:

    @sithole:
    monggo mas thole….

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>