GAMBANG SYAFAAT

GAMBANG SYAFAAT IMLEKAN

 BaiturahmanSmg

Di tengah kelebatan hujan yang dicurahkan dari pangkuan langit senja itu, sengaja saya bulatkan tekad untuk mengunjungi seorang sobat di kota Atlas Semarang. Selain terkhusus njagongi sobat tersebut, kepergian di malem tahun baru Imlek itu juga bertepatan dengan tanggal dua puluh lima. Dan sebagaimana adat pada tanggal tersebut digelarlah acara Gambang Syafaat di Masjid Baiturahman, yang untuk tahun ini sudah berjalan selama lebih dari sembilan tahun.

Acara yang merupakan “adik asuh” dari pengajian Padhang Mbulan yang telah lahir di akhir tujuh puluhan di jantung tlatah santri Jombang, biasa diisi dengan diskusi dan kajian di bawah asuhan Kiai Mbeling Emha Ainun Nadjib. Di samping Emha, Gambang Syafaat telah memiliki Kiai Budiharjono, resi lokal yang sanggup dan senantiasa tanggap ing karya mendampingi bopo guru.

Di tengah guyuran hujan yang seakan enggan surut senja itu, bus yang saya tumpangi meliuk-liuk berat menyusuri jalanan yang membelah perbukitan dan jurang sepanjang Pringsurat, mBahrowo hingga Bawen. Bahkan selepas melewati Ungaran dan Banyumanik sebagai tapal batas kota, hujan belum juga nampak reda, hanya selepas gerbang tol Jatingaleh hujan tinggal rintik-rintik kecil.

Keluar dari jalan tol, turunlah saya di prapatan Kaligawe. Sejenak saya tunggu bus kota jurusan Mangkang, tempat dimana sobat saya berada. Kaligawe nampak menggigil senja itu oleh rendaman air banjir setinggi lutut orang dewasa. Banjir memang telah menjadi tamu langganan bagi wilayah Semarang utara tersebut. Tiga perempat jam lebih saya nikmati perjalanan menuju Tambak Aji di arah perbatasan Kaliwungu. Selepas makan malam di pinggiran jalan, kami putuskan untuk beristirahat di pondokan sobat Al Kuntaryadi. Perbincangan mengenai berbagai halpun mewarnai reunian kami yang dulu memang menempuh sekolah di SMP yang sama.

Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam, saatnya bagi kami untuk menuju lokasi acara di pusat kota Atlas. Dengan menaiki motor dalam selimutan mantol

hujan, karena gerimis kembali datang, kami telusuri jalanan protokol menuju Masjid Baiturahman. Tak lebih dari dua puluh menitan sampailah kami di gerbang masjid yang telah nampak ramai oleh kehadiran para jamaah maiyyah.

Memasuki ruangan tempat berlangsungnya acara, rupanya Kiai Budi sebagai shohibul hajat malam itu tengah ngunandiko, medhar sabdo dengan ungkapan kata selayaknya Jalaluddin Rumi yang menjadi ikonnya. Syekh Bud, demikian gelar baru yang telah dinobatkan oleh Can Nun, malam itu nampak anggun ngrasuk busana kebesaran lengkap dengan kuluk hitam bunder berklencer, mirip pawang ular cobra tanpa ular dan seruling slompretnya. Malam itu disain latar panggung sengaja dilengkapi dengan lampion warna merah menyala dan dua pohon angpao mengapit di kanan kiri panggung. Singkat cerita nuansa chinese sangat kental malam itu sesuai dengan tema Imlekan yang digelar.

GS

Setelah pidato iftitah dari Syekh Bud, diskusi dilanjutkan Pak Maksum, seorang keturunan Tionghoa yang telah lama masuk agama Islam. Beliau bertutur mengenai sudut-sudut kehidupan dan adat para etnik sipit tersebut semenjak kedatangannya pertama kali di tanah Jawa semenjak abad 14. Di masa kinipun menurutnya, masyarakat keturunan masih dipandang sebelah mata dan belum sepenuhnya sederajat dengan warga negara yang lain. Pernah pada saat Pak Maksum akan melamar seorang anak ulama untuk anak laki-lakinya, dengan halus pak kiai menolak hanya karena sang calon menantu seorang koh. Namun dengan melakukan pendekatan kepada beberapa ulama terkemuka di Semarang, akhirnya berhasillah ia berbesanan dengan kiai tersebut.

Di masa lalu, bahkan semenjak revolusi perjuangan, leluhur Pak Maksum terkenal sebagai seorang babah yang pemurah dan loma kepada warga pribumi. Di masa Presiden Soekarno, bahkan mereka pernah merelakan pemotongan harga sembakonya hingga menjadi seperlimanya atas perintah sang presiden. Perintah tersebut ditaatinya demi menolong warga masyarakat yang saat itu sangat membutuhkan sembako murah.

Babahpun menderita kerugian yang sangat banyak sebenarnya, namun mereka mempunyai keyakinan bahwa kelak Tuhan akan memberikan ganti harta bendanya dengan berlimpah. Dan memang tak berapa lama kemudian babah memperolah keuntungan dagang yang sangat berlipat karena kebijakan pemerintah mengimpor beras dari Thailand, dan kebetulan babah adalah pemain impor beras yang telah lama memulai perdagangannya. Tidak seperti kebijakan pada komoditas sembako yang lain, harga beras sengaja tidak diproteksi oleh rejim Soekarno, sehingga melambunglah selangit harga beras dan babahpun merengguk laba.

Diskusi kemudian sejenak diselingi dengan lantunan tembang lir-ilir yang dibawakan apik oleh Kelompok Nur Langit Indonesia pimpinan Mas Islamiyanto dari Sukoharjo. Grup gamelan yang satu ini nampaknya merupakan kader yang sengaja dipersiapkan memegang tampuk estafet bagi penyebarluasan musik yang digubah oleh Kiai Kanjeng Sepuh para seniornya. Selepas lagu tersebut segera mengalun suara Islamiyanto membawakan sejumlah sholawatan sebagai intro untuk memasuki nuansa srakalan yang sengaja dilantunkan untuk menghadirkan Allah dan Rasulullah dalam kehangatan acara malam itu.

Giliran untuk menyampaikan tausiyyah selanjutnya adalah Syekh Mustofa, sang resi bertongkat yang sangat terkenal dengan gagasan-gagasan tasawuf dan sufi Jawanya. Syekh satu ini menyinggung banyak mengenai sangat perlu mneghadirkan Allah dan Rasulullah melalui kemurnian hati pada setiap pelaksanaan ibadah mahdzoh kita. Misalkan dalam pelaksaan sholat, maka sebelum memulainya, sejenak heningkanlah cipta kita untuk mengenang segenap butiran nikmat, karunia, dan hidayahNya yang senantiasa tercurah tiada henti dalam setiap tarikan nafas kita. Dengan benar-benar khidmat menghadirkan sang kekasih tersebut, tentunya akan lebih mudah proses untuk mencapai kekhusukan beribadah.

Acara berlanjut dengan berbagai pertanyaan yang disampaikan oleh para hadirin tertuju untuk Pak Maksum maupun Kiai Budi. Pertanyaan seputar adat istiadat budaya China mulai dari kewirausahaan, konsep mengenai zodiak, pranata musim, konsep hidup mati, serta kebiasaan mengenai pembekalan harta benda kepada mayat yang telah mati pada saat penguburannya. Satu per satu persoalan tersebut dikupas tuntas oleh Pak Maksum.

Adapun Kiai Budi mendapatkan pertanyaan seputar sufisme Jawa, sebagaimana contoh kasus yang dicontohkan mengenai legenda Lik Sarmin dari Karangsuwung yang berguru mengaji kepada seorang ustadz. Karena sang ustadz belum mempunyai istri, maka ia meminta Lik Sarmin untuk mencarikannya jodoh. Akhirnya terucaplah kesepakatan bahwa Lik Sarmin dapat ilmu ngaji, dan sang ustadz akan mendapatkan jodohnya.

Singkat cerita setelah Lik Sarmin khatam ngajinya, ternyata ia belum berhasil mendapatkan jodoh yang dijanjikannya. Akhirnya Lik Sarmin menanting istrinya untuk diberikan kepada ustadznya, dan di hari tuanya kini Lik Sarmin terima menjadi duda tua. Edan memang! Mana ada manusia sanggup melakukan kegilaan demikian? Hanyalah manusia Jawa dapat sedemikian edan. Dan ini merupakan salah satu fenomena sufisme Jawa yang sangat radikal.

Diskusi terus mengalir sedemikian cairnya hingga sebagian besar diantara para hadirin lupa waktu. Dan tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul tiga pagi, meski jamaah masih sanggup untuk bermaiyyah hingga Subuh, namun nampaknya adalah manusia bijak yang berhenti makan sebelum kenyang, sebelum tuwuk. Acarapun kemudian ditutup dengan doa penutup yang diiringkan dengan srakalan

penutup. Hadirinpun bergiliran bersalaman dengan Kiai Budi dan para pembicara untuk kemudian berniat bertemu kembali sebulan selanjutnya.

Tentang sangnanang

Diriku hanya seorang hamba yang diperjalankan di malam hari. Diriku hanyalah seorang sudra, serendah-rendahnya manusia sehingga tiada satupun manusia yang sanggup dan mampu untuk merendahkan diriku. Diriku hanya seorang papa tanda punya apa-apa, sehingga diriku tiada pernah merasa kecurian dan kehilangan. Diriku hanyalah sekedar manungso tan keno kiniro, titah sewantah jalma limrah, titahing Kang Maha Endah.
Tulisan ini dipublikasikan di Kenduri Cinta dan tag . Tandai permalink.

3 Respon untuk GAMBANG SYAFAAT

  1. krulayar berkata:

    ALLAH BERADA DI BUMI MENJELANG KIAMAT!!!!

    Tenang-tenangkan diri…
    Sila layari manatuhanallah.wordpress.com

    Setelah layari,sila buat rujukkan ke jabatan agama tempatan untuk rujukan susulan ke jabatan agama islam Malaysia,sebelum membuat sebarang penilaian…

    - Terima Kasih

    Krulayar

  2. Ndoro Seten berkata:

    @kampanye&krulayar:
    makasih atas kunjungannya…

  3. Lukman berkata:

    Mas Nanang, senang membaca liputan sampean mengenai Gambang Syafaat. Dulu waktu kuliah di yogya, saya rutin datang ke Maiyah di mBantul. Kemudian waktu mencangkul di Jakarta, saya juga cukup sering datang ke Kenduri Cinta di TIM. Kemudian 2009 sampai awal 2010 saya mikul uyah lagi di Surabaya, dan saya sempatkan beberapa kali datang ke Bangbang Wetan.
    Mulai Juni 2010 ini, saya berdomisili di Semarang karena sawah tempat mencangkul pindah ke sini. Insyaallah nantinya akan saya sempatkan untuk datang ke Gambang Syafaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>