REPORTASE KENDURI CINTA
13 FEBRUARI 2009
“DEPRESI!”
Malam hadir kelam tak berbintang. Rembulan setengah bulat seakan malu bersembunyi di balik tirai tipis sang awan. Namun justru dalam suasana demikian terpancar terang sinar cinta kasih sayang dari para jamaah yang mengukuhkan hati untuk berkenduri cinta. Setelah sempat jeda selama dua bulan, Kenduri Cinta kembali tergelar dengan tajuk “DEPRESI!”.
Dengan alunan band pembuka yang atraktif dilanjutkan kejenakaan Mbah Surip membawakan beberapa hitsnya, seperti Sematang Telur Mati Sapinya, suasana menjadi lebih membumi untuk berdiskusi. Sesi pertama diskusi kemudian dimulai dengan tampilnya Halida Hatta dan Kiai Budi sebagai nara sumber.
Diawali nara sumber Halida Hatta, yang merupakan putri Bung Hatta, menyampaikan mengenai ekonomi kerakyatan yang sejak awal kemerdekaan telah digagas oleh Bung Hatta. Disampaikan bahwa secara latar belakang sosial budaya, masyarakat kita, bahkan semenjak nenek moyang terdahulu, merupakan kelompok masyarakat yang memiliki tradisi kebersamaan. Melalui kebersamaan yang dilandasi persamaan nasib dan sepenanggungan itulah terwujud sikap keguyuban dan kegotongroyongan yang kuat. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Dengan demikian sistem ekonomi kerakyatan yang dianut kemudian diwujudkan dalam suatu kerja sama dalam wadah koperasi.
Selanjutnya, menyadari bahwa mayoritas dari rakyat Indonesia menumpukan hidupnya dalam sektor agraris dan kelautan, maka kemudian lahirlah koperasi petani dan nelayan. Koperasi ini menghimpun berbagai produk untuk kemudian melalui infrastruktur yang dibangun pemerintah, mendistribusikan ke berbagai kalangan konsumen. Di sisi dukungan permodalan, kemudian mulailah lahir badan perbankan yang tetap berbasis kerakyatan seperti Bank Rakyat Indonesia, bank perkreditan rakyat, dan bentuk badan yang lain.
Konsep-konsep tersebut sebenarnya bertujuan memberdayakan rakyat. Rakyat sebagai pemegang utama berdirinya sebuah negara harus ditempatkan sebagai subyek atau pelaku utama pembangunan. Program pemerataan kue pembangunan sekecil apapun lebih diutamakan daripada membuat kue raksasa untuk sekedar sekelompok korporasi tertentu. Namun semua cita-cita Bung Hatta tersebut tidak sepenuhnya bisa berjalan karena berbagai kebijakan yang lebih mengedepankan politik sebagai panglima. Maka dengan legowo akhirnya Bung Hatta memilih untuk mundur dari pemerintahan.
Pancingan-pancingan Mas Arya untuk menggali lebih dalam mengenai alasan mendasar yang menjadi alasan pengunduran diri Bung Hatta sayang tidak diungkap secara tuntas oleh Halida Hatta.
Kiai Budi melanjutkan bahwa sejatinya manusia memiliki konsep yang kurang pas menilai suatu kenikmatan atau kenyamanan hidup di dunia. Orang perlu makan dengan variasi menu yang beraneka ragam untuk memenuhi syahwat lidahnya, padahal hanyalah rasa lapar yang merupakan menu utama suatu hidangan dikatakan nikmat. Orang mengharuskan dirinya memiliki ruang tidur yang lapang dengan fasilitas kasur babut ranjang kencono hanya untuk tidur nyenyak, padahal rasa kantuklah syarat mutlak tidur yang angkler. Sebagaimana Cak Nun sering mengungkapkan tidur akan menjadi puncak kenikmatan yang luar biasa, justru pada saat pencapaian puncak kelelahan. Pada saat demikian tidur nyenyak tidak lagi memerlukan piranti-piranti fisik sebagai penunjangnya.
Para perempuan seringkali mewajibkan dirinya harus ber-make up ini itu, berlipstik dengan merek luks, memakai lotion A dan B, berparfum aneka aroma gondo rukem, dan lain sebagai hanya untuk bisa dibilang cantik. Lebih dari itu semua, sejatinya sesungguh-sungguhnya kecantikan adalah pancaran “inner beuty”, aura yang memancar dari kelembutan cinta yang terlahir dari ketulusan hati nurani terdalam.
Dan tuntutan-tuntuan akan kenikmatan duniawi tersebut membutuhkan cost, bahkan kebanyakan diantaranya high cost. Hal ini sebenarnya hal yang wajar, asalkan keinginan-keinginan dengan high cost tersebut sebanding dengan income dan kemampuan finansial masing-masing. Cilokone, ketidakmampuan untuk mengejar ketidakseimbangan income inilah yang menjadi sumber terjadinya depresi. Depresi……bahasanya orang Jakarta stress, sedangkan orang Semarang menyebutnya lho lak lho lok!
Sesi ini semakin hidup dengan pertanyaan Dadang yang akhir-akhir ini merasakan pusing-pusing, mual dan muntah-muntah, bahkan berak-berak menyaksikan bertebarannya para tampang caleg pada baligo di berbagai pohon dan tiang listrik. Dia juga menyampaikan komentar mengenai konsep peradaban Nusantara. Bahwasanya menurut Bung Karno budaya ataupun peradaban lain yang masuk ke Nusantara, harus diolah sedemikian rupa menjadi peradaban yang bercorak sesuai dengan kepribadian yang dilandasi semangat keguyuban dan kegotongroyongan sebagaimana yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita.
Seorang jamaah lain menanyakan mengenai konsep ber-amar makruf nahi munkar pada suatu lingkungan yang sangat sulit disadarkan, sehingga menjadikan si penebar kebajikan menjadi korban perasaan dan ujungnya menimbulkan rasa depresi. Dan bagaimana konsep mengenai syukur, sabar, dan jihad dalam kondisi demikian.
Kiai Budi kemudian menjelaskan dengan panjang lebar konsep mengenai penggemblengan Tuhan untuk menjadikan hambanya menempati derajat lebih mulia. Sebagaimana proses gandum menjadi api, ditempa, dipukul sehingga terkelupas kulitnya. Kemudian butiran gandum itupun masih terus ditempa hingga ajur mumur menjadi tepung. Tepung itupun kemudian harus dilumat, diaduk menjadi suatu adonan, itupun masih harus menjalani panasnya jilatan api hingga maujud menjadi roti yang memebrikan kenikmatan cita rasa tinggi bagi penikmatnya. Demikian halnya dengan padi. Padi ditumbuk hingga terlepas kulitnya menjadi beras. Beraspun harus ditanak dalam suasana panas menjadi nasi. Tempaan, gemblengan, kerasnya hidup, kejamnya dunia, sejatinya adalah bentuk cinta dan kasih sayang Tuhan untuk memuliakan hambanya.
Kekuatan dalam kenikmatan hakikatnya adalah sikap kesyukuran, sedangkan kekuatan dalam penderitaan sejatinya merupakan pancaran kesabaran. Maka pancarkanlah kesucian hatimu menjadi pancaran aura yang akan sanggup menggetarkan nurani sebatil apapun, untuk kemudian tinduk kepada hukum Tuhan. Ingatlah betapa sikap keras dan kejam Umar, yang kemudian tersentuh oleh aura cinta kasih sayang Muhammad yang ikhlas diberikan. Maka jiwa yang keras itupun kemudian tunduk dan lunak dalam belaian cinta, maka kemudian bershahadatlah Umar mempersaksikan Allah dan Rasulnya.
Sesi diskusi kemudian rehat sejenak dengan hadirnya Raden Band menampilkan tiga buah lagu hitsnya. Selepas itu berlanjutlah diskusi inti menampilkan Cak Nun, Mas Simon HT, Mas Bambang Isti Nugroho, juga Mas Toto Raharjo.
Dengan ular-ular pengantar dari Mas Andre mengenai lima pilar tegaknya suatu negara, konsep Pancasila yang telah lama sebelum proklamasi telah muncul dalam kitab Arjuna Wiwaha karya Mpu Panuluh yang seseungguhnya merupakan lima tuntunan yang mengantarkan seorang Budha mencapai nirwana. Juga mengenai konsep trisula sebagai simbol kebenaran, ketegasan, dan kesetiaan yang masing-masing diwakili oleh kaum ulama, ksatria dan para priyayi.
Giliran kemudian Cak Nun memberikan pemaparan untuk memetakan kemudian mendudukkan secara proporsional konsep mengenai oppresed, suppresed, hingga berlanjut deppresed. Ketiga terminologi tersebut sebenarnya menggambarkan suatu tingkatan tekanan batin terhadap jiwa manusia. Depresi bisa dialami oleh siapapun, bahkan oleh setiap apapun.
Beberapa civitas dari IPB sebelum acara bahkan membisikkan kepada Cak Nun bahwa tanahpun bisa mengalami depresi. Tanah yang semula subur, kemudian setiap kali dan setiap saat senantiasa menerima pupuk, pupuk, dan pupuk terus selayaknya candu yang memabukkan seorang pemabuk. Bahwa seseungguhnya tanahpun memerlukan ruang bebas untuk mengekpresikan eksistensi kesuburan dirinya sendiri dan dengan caranya sendiri. Depresi tanah inilah yang kemudian menyebabkan sesering apapun tanah tersebut dipupuk, malah akan menjadikannya sulit kembali kepada keadaan kesuburannya semula.
Bahkan tidak ketinggalan bumi seribu ulama, sejuta ustadz, Jombangpun mengekspresikan kejenuhan depresi akibat tebaran kiai ulamanya. Jombang menjadi satu-satunya wilayah di negeri ini yang menyandang kehormatan ditempati oleh para ahli kubur. Sejak Syekh Hadratus, Abdurahman Wahid, Asmuni dan lain-lain, keharuman kota santri lenyap sudah oleh Ryan sang penjagal, dan di akhir-akhir ini dengan kisah Ponari “Astaman”.
Ponari si anak kecil, yang di tengah guyuran hujan mendapatkan sebuah batu item. Batu ditendang, balik lagi. Tendang lagi, balik lagi. Lagi, dan begitu seterusnya, hingga Ponari kecil memutuskan untuk memungut dan menyimpan batu tersebut. Ketika kemudian diketahui air celupan dari batu tersebut dapat menyembuhkan penyakit, maka secara gethok tular dari mulut ke mulut terkondanglah Ponari sebagai tabib cilik. Ponari kecil dalam gendongan ibunya, hanya memainkan tombol demi tombol mainan hp barunya. Sedangkan tangan satunya dimasukkan ke dalam botol air seger waras yang ternyata dipercaya dapat menyembuhkan penyakit. Maka tak heran orang mengantri dari 10.000, 20.000, bahkan konon mencapai 40.000. sebuah bukti rapuhnya kepercayaan masyarakat kepada dokter.
Apakah ini perilaku syirik? Apakah batu hitam tersebut ataupun Ponari bersalah? Jika kita pergi ke dokter, kemudian kita diberikan obat, dan kita percaya bahwa obat tersebut akan menyembahkan, bisa disebut juga sebagai syirik? Adakah bedanya batu hitam dan obat dalam hal ini? Sesungguhnya tidak ada yang salah dalam peristiwa itu. Yang salah sebenarnya adalah filosofi dan cara berpikir kita. Batu ya hanya batu, dan obatpun juga hanya obat. Mereka adalah sarana, sedangkan kesembuhan datangnya dari izin Allah.
Dikisahkan Nabi Musa pada suatu ketika sedang memimpin pasukan pelarian ummatnya. Tiba-tiba saja tanpa diduga perutnya mendadak melilit kesakitan. Dia bertanya kepada Allah, kenapa hal ini terjadi? Maka dimohonnya Allah untuk menyembuhkannya. Akhirnya Allah memerintahkan Musa untuk berlari ke atas bukit dan memakan dedaunan. Sebelum Musa menyentuh daun yang dimaksud, ia sudah langsung sembuh. Dengan semangat, aipun kembali turun dan memimpin pasukannya. Pasukan! Jalan!
Namun sedetik kemudian, Musa tiba-tiba saja kembali sakit perut. Secara spontan ia langsung naik bukit dan memakan hingga lima belas daun yang menjadikan perutnya tambah sepet dan mbedhedhet. Sudah demikianpun ternyata ia tak sembuh juga.
Allah tertawa renyah, hik……hik…..hik! Musa bodohnya kamu! Musa kemudian memprotes Allah. Tadi katanya kalau sakit perut harus makan daun, saya sudah makan, bahkan sampai perut sepet kok malah nggak sembuh. Sampeyan ini Tuhan cap opo hayo?
Musa…Musa! kamu itu bisa sembuh karena izinKu semata. Daun hanyalah sarana. Untuk pertama kali kamu bisa sembuh karena kamu memohon kepadaKu. Sedangkan yang kedua? Belum kau memohon kepadaKu, langsung ngacir ae. Yo jelas nggak sembuh! Dan Aku Maha Kuasa Sa! Aku bisa menyembuhkanmu dengan daun, bisa juga dengan gulingan seribu kali, terserah Saya. Lha wong saya Tuhanmu!
Ini kesalahkaprahan kita selama ini. Setiap kejadian atau fenomena apapun selalu kita dekati dengan mendekatan logika otak kita. Ketika Musa terjebak dalam kejaran pasukan Fir’aun, Allah memerintahkannya untuk lari menuju pantai. Logika kita mengatakan, Tuhan ini bagaimana, strategi perang manapun memberikan teori bahwa dalam keadaan terdesak, sebuah pasukan harusnya lari menuju bukit atau tengah hutan untuk berlindung diri. Ini malah di suruh ke panatai, Tuhan model apa ini. Tetapi kita baru sadar ketika Tuhan memberikan perintah kedua, hai Musa pukulkanlah tongkatmu ke air laut, maka terbelah air menjadi jalan.
Otak manusia langsung menyimpulkan kalau air dipukul dengan tongkat akan terbelah. Padahal hal terbelahnya air itu hanya bisa terjadi atas titah dan perkenanan Allah, itupun ya hanya berlaku dalam momen waktu itu tok! Kalau diulang lagi yo nggak iso meneh!
Kita adalah bangsa dengan jiwa besar. Saat bertanding sepak bola dengan Oman, masak kita harus menang? Mereka itu kan negara gurun, kecil lagi! Mereka nggak punya rawon, kethoprak, getuk, midro ganyong, tiwul. Lha kok masih harus menanggung kalah dengan kita yang bangsa besar. Dimana tepo sliro kita. Ya kita harus menggembirakan mereka dengan memberikan kemenangan dong! Kalau perlu kiper kita harus ditraining untuk mempersilakan penyerang lawan memasukkan bola dengan sukses. Monggo kisanak, silakan digolkan, ampun pekewuh! Dan jika bola sudah masuk, kiper ambil lagi, diserahkan lagi, suruh golkan lagi. Edan opo?
Kita ini bangsa besar yang memilih untuk ngalah. Kita berkeyakinan bahwa ngalah berakar kata ngawloh, ngallah. Di kamus bahasa Arab mana ada bahasa ngalah? Di peradaban bangsa barat mana ada tradisi ngalah? Hanya bangsa kita yang besar yang memilikinya.
Diskusi kemudian mengalir membahas tentang fatwa. Apa dan bagaimana pengertian fatwa diurai secara cerdas oleh Cak Nun. Dan tanpa terasa waktu telah bergulir mendekati jam 02.30 dini hari, ketika kemudian acara ditutup dengan pengendaban diri serta doa bersama. Dan moga di bulan depan masih diberikan kesempatan untuk berkenduri cinta lagi.
