BAH TEKEK SANG SAUDAGAR
Tokek, atau warga dusun kami lebih mengenalnya sebagai tekek, sebagaimana diteorikan oleh Pake merupakan jenis binatang paling lugu sak ndonya. Bagaimana bisa dikatakan demikian. Kata Pake, hanya tekeklah satu-satunya binatang yang mengeluarkan suara dengan menyebut namanya sendiri. Tek…tek….tek…tek….tekek! Coba anda bandingkan dengan suara kucing, meoooong! Suara anjing, guk…guk….guk! Suara kambing, embeeeek! Ternyata binatang lain tidak ada yang mampu menyebut namanya sendiri sebagaimana tekek bersuara.
Tapi si Mbake berpendapat lain. Menurutnya yang memberikan nama binatang tekekMbake, tekek tidak pernah mendeklarasikan lewat upacara jenang abang dan among-among bahwa dirinya bernama tekek, tetapi manusialah yang memberi gelar kehormatan nama tekektekek. adalah manusia yang mendengar suara tek…..kek! Hal ini hanyalah logika sederhana saja untuk memudahkan pengidentifikasian suatu binatang. Jadi kesimpulan diakrenakan suara tek…kek dari mulut sang
Tekek merupakan jenis binatang “mini” reptil yang berpenampakan seperti cicak atau cecak. Makanan pokoknyapun kira-kira juga sama, yaitu nyamuk. Hanya saja tubuh si tekek bisa berkembang menjadi lebih besar daripada saudaranya tersebut. Tekek biasa datang dan muncul di suatu rumah tanpa dapat diketahui dengan pasti darimana ia berasal, apalagi nomor KTT(kartu tanda tekek), maupun orang tua dan tempat tanggal lahir.
Begitupun di rumah Pake yang mojok di ujung dusun itupun, ada juga tekek yang numpang hidup, ikut ngenger mempertahankan diri dari jaman gombalisasi. Seekor tekek sudah beberapa tahun ini menjadi teman sejati Pake, terutama di waktu dini hari, lewat suara tekeklah Pake biasa terbangun untuk sekedar menyapa Gusti Alloh. Demikian halnya di rumah Lik Wandi tetangga kami juga dihuni seekor tekek di sungunan rumahnya.
Adalah menjadi kebiasaan di dusun kami, bahwa di bulan Ramadhan tempat tarawih untuk anak-anak dan para remaja, para bedhes dan bocah angon sengaja dipisah dari orang-orang dewasa dan para sesepuh, hal ini demi menjaga ketertiban umum dan sebagai sarana pelatihan anak-anak. Dan untuk beberapa tahun ini rumah Lik Wandi yang mempunya ruang tamu relatif lebar menjadi pilihan tempat tarawih tersebut. Adalah kebahagiaan tersendiri, pada akhir Ramadhan kemarin saya masih menangi untuk ikut sholat tarawih bersama para bedhes di dua malam penghujung akhir bulan Puasa.
Sebagaimana giliran yang telah terjadwal, Kang Samatlah yang bertindak memimpin sholat, menjadi imam kami. Di tengah pelaksanaan sholat tarawih, tanpa diduga dan disangka-sangka, sang tekek berusaha unjuk diri menyapa para jama’ah yang tengah khusuk bersembahyang. Namun baru akan bersuara, tiba-tiba saja, tek……tek…..tek…..tek……tek! dan mandeg! Suara tiba-tiba berlanjut, kek…..kek…..kek….kek…..kek! Mendengar gelagat suara aneh yang tidak lazim tersebut anak-anak, bocah angon tanpa diperintah langsung tertawa cekikikan…kik…kik….kik! Para bedhes ini menganggap sang tekek baru terserang batuk akut(maklum musim kemarau dan debu), sehinggga suaranya tersengal-sengal dan nafas terengah-engah. Dan sayapun dalam hati juga tertawa terbahak-bahak, namun demi gengsi di depan anak-anak konyil yo tetap saya tahan keras, namun sayapun masih terpaksa ikut tersenyum pelit dalam sholat tersebut. Duh Gusti paringono pangapunten! Tekek! Tekek!
Di Muntilan, kota kecil terdekat dengan dusun kami, tekek tidaklah hanya dikenal sebagai nama binatang saja. Seorang saudagar Tionghoa tersohor bahkan orang para warga dusunBah Tekek. Tidak pernah diketahui secara persis darimana datangnya nama tersebut. Apakah Bah Tekek menamakan dirinya sendiri sebagai tekek, ataukah nama itu sekedar gelar kehormatan yang disematkan para warga dusun yang lugu sebagaimana teori tekeknya Mbake. dijuluki sebagai
Namun yang jelas Bah Tekek sebagaimana Bah Gundul yang memang berkepala gundul-gundul pacul, maupun si Tegean, adalah beberapa contoh pengusaha Tionghoa yang “menguasai” perekonomian kota Muntilan. Bah Tekek adalah pemilik beberapa toko kelontong yang menjual berbagai barang kebutuhan masyarakat sehari-hari. Karena toko kelontong Bah Tekek sudah berdiri semenjak jaman Jepang, maka skala omsetnya telah berlipat-lipat dan berkembang menjadi suatu toko grosir yang besar. Lewat toko kelontong Bah Tekek ini para pedagang pengecer di dusun-dusun sekitar Muntilan bahkan beberapa diantaranya berasal dari perbatasan Sleman maupun Kulon Progo, kulakan barang dagangan.
Bah Tekek merupakan salah satu pengusaha perintis ekomoni non pribumi di Muntilan. Menurut Pakdhe Barki, Muntilan bisa berkembang terus kehidupan perekonomian khususnya sektor perdagangan, antara lain melalui peranan para saudagar Tionghoa tersebut. Hal ini bisa dibandingkan dengan Tempel, maupun Sleman sebagai suatu ibukota kabupaten yang sulit berkembang geliat ekonominya. Demikian halnya dengan Kota Mungkid, ibukota Kabupaten Magelang yang dari tahun ke tahun nampak masih tertidur pulas dan hanya sekedar menjadi pusat pemerintahan.
Menurut Pakdhe, para pengusaha non pribumi memiliki keahlian dan kedisiplinan tinggi dalam berdagang. Secara langsung maupun tidak langsung, para pedagang pribumi belajar tata cara berdagang, terutama soal menerobos peluang dan akutansi pembukuan neraca dagang. Entah mencontohnya secara benar atau setengah-setengah, lama kelamaan pedagang pribumi merintis usaha dengan membuka toko-toko lain di Muntilan. Dari sekitar pasar, pusat perdagangan kemudian berkembang meluas di setiap sudut kota dan inilah yang membuat Muntilan senantiasa menggeliat tumbuh perekonomiannya.
Memang tidak semua penguasaha kecil yang mencontoh para babah menuai sukses dalam usaha dagangnya. Hal ini terutama disebabkan lemahnya permodalan para pedagang lokal dibandingkan para babah dan masih relatif terbatas jaringan usaha dibandingkan jaringan para babah yang terkenal sangat luas dan solit. Demikian halnya dengan jiwa spekulan yang tidak bisa menyamai pengusaha Tinghoa tersebut. Namun demikian harus tetap diakui bahwa karena jasa orang Tionghoalah Muntilan berkembang sebagai kota pusat perekonomian, setidaknya dalam skala lokal.
Menyimak beberapa cerita dari Pak Ciputra, seorang pengusaha besar keturunan Tionghoa yang memimpin suatu grup usaha ternama di negeri ini, orang China bisa menjadi pengusaha sukses paling tidak dikarena tiga hal yaitu mereka memiliki yaitu orang tua, lingkungan, dan sekolah. Warga Tinghoa dari jaman ke jaman, dari generasi ke generasi dikenal sebagai para saudagar yang ulet dan gigih. Orang tualah yang sedari kecil memberikan contoh, mendidik, dan menanamkan jiwa enterpreneurship. Anak-anak para babah sedari kecil sudah dibiasakan ikut bergelut membantu usaha orang tuanya. Bahkan tak jarang mereka sudah mulai berdagang kecil-kecilan bahkan mengasongkan barang ke lingkungan sekitar dalam skala kecil-kecilan. Hal inilah yang mengkondisikan lingkungan para warga non pribumi tersebut menjadi suatu lingkungan untuk berusaha secara mandiri. Orang tua, keluarga dan lingkungan yang mendukung bagi suatu proses pembelajaran, kemudian didukung oleh beberapa keturunan mereka yang berhasil mengenyam pendidikan profesional membuat lengkaplah persyaratan untuk menjadi calon-calon pengusaha sukses.
Kenapa kita, para pribumi, bangsa inlender ini tidak mampu mengimbangi semangat kegigihan mereka? Kita sebagai anak bangsa dikenal sebagai pekerja keras, bekerja siang malam membanting tulang untuk mengupayakan kehidupan yang lebih baik. Kita memiliki semboyan rajin pangkal pandai dan hemat pangkal kaya. Tapi mengapa kesejahteraan yang kita idamkan bersama itu begitu sulit untuk digenggam di tangan? Nampaknya modal kita untuk sukses berupa kegigihan sudah kita miliki, tinggal kita tambahkan kepandaian mengelola potensi tersebut untuk menghasilkan kerja yang lebih efisien dan efektif.[]