REPORTASE KENDURI CINTA
15 MEI 2009
“TAUTAN HATI MARTABAT NEGRI”

Hadirin sudah nampak antusias mengelilingi arena Kenduri Cinta sesaat setelah Mbah Surip mengawali acara malam itu dengan hits populernya Sematang Telur Mata Safi. Selepas itu, kelompok marawis alternatif Al Jihad dari Pasar Rumput menghentak keheningan malam dengan beberapa gubahan aransemen diantaranya Syair Gambang Suling yang mengharu biru.
Pembukaan kemudian dilanjutkan dengan tampilnya Komunitas Kandang Jurang Doank pimpinan Dik Doank masih dengan iringan Al Jihad. Berturutan mengalun tembang Main di luar yuk!, Tik-tik bunyi hujan, Balonku ada lima, kemudian Aku dan Garuda. Dik Doank memberikan penjelasan bahwa komunitasnya merupakan suatu wadah pendidikan alternatif untuk mengembangkan potensi dan kecerdasan anak-anak.
Nama Kandang Jurang Doank sendiri terdiri dari unsur kandang dan jurang. Kandang adalah rumah binatang, ya mereka mengaku diri memang masih bertaraf binatang yang ingin selalu belajar untuk senantiasa berbenah diri di hadapan Allah. Jurang adalah tempat bertemunya ketinggian tanah dan kerendahan lembah. Ini dapat diibaratkan simbol kekayaan dan kemiskinan. Apabila kita ingin mendidik generasi yang cerdas dan peka untuk memikirkan kepentingan bersama, terkhusus kaum lemah, maka semenjak di usia pendidikan, anak-anak harus berbaur diantara golongan kaya dan miskin. Dan memang pendidikan di komunitas tersebut sengaja digratiskan, agar si papapun bisa mengenyamnya.
Sesi diskusi pertama diawali dengan uraian Cak Nun memberikan pemetaan terhadap kekacauan sistem “anatomi nilai” yang melanda negeri ini. Cobalah tengok daun. Daun itu apa? Komposisinya apa, fungsi dan kegunaannya apa? Hukumnya bagaimana? Demikian halnya dengan negara. Apa sih negara itu? Keberadaannya untuk apa? Apakah negara itu wajib, sunnah, makruf atau apa? Ketika hadirin ditanya apa sih aktivitas atau pekerjaan anda yang sama sekali tidak bergantung ada atau tidaknya suatu negara? Mereka menjawab banyak hal, makan, tidur, “berketurunan”, dll. Lha kalau begitu apa perlunya negara? Kok yang terjadi malahan sepertinya negara merepotkan rakyatnya.
Adakah para wakil rakyat, para pemimpin negeri ini di dalam struktur ketata-negaraan lebih menitik-beratkan pada jenis pekerjaan apa? Pekerjaan politik, ekonomi, atau apa? Pekerjaan politik adalah aktivitas mendayagunakan segala sumber daya yang tersedia untuk menciptakan peluang yang lebih baik bagi penyejahteraan rakyat. Adapun pekerjaan ekonomi adalah aktivitas untuk mengumpulkan laba yang sebesar-besarnya. Dengan pendefinisian demikian, rata-rata hadirin menjawab bahwa para politikus di negeri ini malah melakukan pekerjaan ekonomi bukannya pekerjaan politik, itupun hanya demi kepentingan pribadi atau kelompoknya masing-masing. Lha lak kebolak-balik to?
Maka kemudian jamaah diajak untuk menata kembali struktur pemahaman yang benar menurut lima matriks hukum Islam. Dikatakan bahwa sesuatu itu pada dasarnya dihukumi sangat bermanfaat atau sangat mudharat, baik banget dan jelek banget. Yang sangat bermanfaat disebut wajib, yang agak bermanfaat dinamakan sunnah, yang menengah mubah atau halal, yang agak mudharat diistilahkan makruh, sedangkan yang sangat mudharat disebut haram. Nah dengan mengacu kepada lima matriks tersebut sebenarnya kita dapat dengan meudah memetakan suatu fenomena atau kejadian di sekitar kita masuk ke dalam kategori hukum yang mana.
Misalkan dalam wacana pencalonan presiden yang tengah hangat diberitakan akhir-akhir ini, mestinya kategori yang pas bagi seorang calon adalah yang terkait dengan niat, tekad dan komitmen yang disertai dengan kredibelitas untuk melakukan pekerjaan politik. Bukan kok sang calon dinilai karena kegantengan dan kegagahannya, apalagi dikatakan yang satu islamis yang lain tidak. Ini kriterianya apa? Islamis itu yang seperti apa? Mbok kita jangan terjebak menyamakan antara simbol Islam dengan istilah islamis. Semua harusnya dilihat secara jernih dengan berlandaskan akal dan nurani kita.
Islamis itu kata sifat, artinya sifat yang mengejawantahkan nilai-nilai Islam. Islami adalah suatu perilaku yang taat terhadap berlakunya qudratullah, ketentuan-ketentuan, sunnah, atau yang sering disebut sebagai hukum alam. Dengan begitu anak kecil kencing di muka umum itu islami. Anjing kencing dengan menyengklangkan kaki itu islami. Yang jelas tidak islami bila orang dewasa kencing nyengklang, di muka umum lagi, ditambah mbikin ongko wolu lagi! Jadi sangat mungkin orang non muslimpun memiliki sifat islamis. Namun hal terakhir ini tentu saja ditolak mentah-mentah oleh para ulama kita dewasa ini.
Indonesia adalah negara yang bukan negara Indonesia. Negeri ini adalah suatu kebun dan taman yang langsung ditanam sendiri, kemudian ditata dan dipelihara oleh Tuhan. Maka sekali-kali sebagai rakyat kita jangan heran bila kriteria kita dalam memilih pimpinan kita sedemikian dangkal, instan dan sangat-sangat prakmatis semata. Lha piye wong majunya seorang calon presiden hanya ditentukan berdasarkan perolehan partai. Wis ngono seseorang yang sejak awal telah mendeklarasikan diri sebagai calon presiden kok tiba-tiba hanya menjadi cawapres tok. Lha mbok ya kalau telah terlanjur menyatakan diri sebagai emas itu ya selamanya emas. Jangan dulu emas malah ujung-ujungnya hanya perak.
Kalaulah sejak awal menyatakan diri siap sebagai calon presiden ya yang konsisten. Semestinya niat demikian harusnya dilandasi tekad untuk memperjuangan kepentingan dan kesejahteraan rakyat dengan sebenar-benarnya dalam kapasitas seorang presiden ya mantep saja. Lha apabila kemudian kok rakyat tidak memilih, yo wis paling tidak niat baik memperjuangkan rakyat sudah diterima sebagai suatu amalan kebajikan di mata Tuhan. Justru di situlah sebenarnya letak martabat seorang tokoh yang berkapasitas sebagai negarawan. Ngono ae kok repot! Lha ini yang terjadi kan malah terbolak-balik hingga peta politik kita kacau balau, dan rakyat dihadapkan pada keterkejutan-keterkejutan yang berakhir kepada kekecewaan.
Harusnya sebagai bangsa yang besar kita bangga mampu melahirkan banyak partai. Bayangkan 44 partai politik! Amerika Serikat saja, negeri adidaya yang telah sekian ratus tahun merdeka hanya baru bisa membuat dua partai. Lak mboseni to tiap pemilu hanya milih ini atau milih itu! Sedangkan kita, begitu kaya dengan macam-macam pilihan. Demikian halnya kita telah mampu memilih calon presiden yang tegap dan gagah dibandingkan Amerika yang presidennya ireng, kuru meneh!
Kalaulah nanti ada perang dunia ketiga, maka peperangan di lapangan tidak lagi diperlukan. Sebagaimana tradisi di masa ksatria, para pimpinanlah yang langsung berperang tanding satu lawan satu. Bahkan mungkin hal itupun tidak diperlukan karena kemenangan suatu negara hanya akan ditentukan melalui kontes para pimpinannya. Lha kita kurang apa lagi, presiden kita gagah, tampan, tegap. Bandingkan Obamma yo gak ono apa-apane to yo? Inilah kurang lebih yang dimaksudkan oleh Cak Nun sebagai kecarut-marutan anatomi nilai yang kita anut saat ini. Kriteria dan tata nilai saling terjungkir-balikkan tidak karuan.
Diskusi sesi ke dua dimulai setelah sebelumnya suasana disejukkan dengan beberapa aransemen kolaborasi antara Kandang Jurang Doank, mbah Surip dan marawis alternatif Al Jihad.
Pada kesempatan pertama dalam diskusi sesi ke dua, Atmawinata yang menjabat sebagai Presiden BEM Universitas Tri Sakti mengenangkan kembali tragedi Mei ’98 sebagai tonggak sejarah reformasi di tanah air. Diingatkan kembali bahwasanya sebagaimana pesan keramat Bung Karno bahwa negeri ini harus mampu berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan bermartabat dalam berkebudayaannya.
Pembicara selanjutnya seorang pengurus PC NU Tangerang Selatan dan Bang Lutfi Hakim dari FBR yang sebagaimana pembicara pertama juga menekankan pentingya kita sebagai anak bangsa yang bermartabat untuk menjadi jawara dan sekaligus juragan di kampung sendiri. Lagi-lagi tema kemandirian adalah letak martabat negeri ini.
Pemaparan hikmah kemudian diteruskan oleh Kiai Agus dengan memberikan gambaran bahwasanya orang-orang yang saling kasih mengasihi, cinta mencintai semata-mata karena Allah, maka mereka semua akan dicintai oleh Yang Maha Mencintai. Oleh karena itu sangat penting mengembangkan sikap jiwa keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, persaudaraan dan kebebasan.
Adapun Ustadz Wijayanto sang dosen antropologi Nggajah Modo medhar sabdo mengenai kriteria kecerdasan yang terdiri atas logika, memmori, kemampuan pemecahan masalah, dan penguasaan kosa kata. Satu sama lain ciri tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan. Mengenai tautan hati, mustahil hati insan manusia dapat saling ditautkan tanpa adanya peran Allah.
Untuk lebih membumikan diskusi maka dibukalah sesi diskusi dan tanya jawab yang diikuti secara antusia oleh segenap jamaah. Terdorong oleh pertanyaan mengenai kedudukan agama dan negara Cak Nun kemudian memberikan pemaparan yang panjang lebar mengenai hakikat agama sebagai sesuatu yang transenden, lebih bersifat ruhani dan berada pada tingkatan jagad frekuensi. Sedangkan negara adalah tataran fisik yang maujud sehingga satu sama lain sesungguhnya tidak dapat saling diperbandingkan.
Begitu syahdunya malam penuh hikmah, namun sang kala jualah yang membatasi pertemuan untuk kemudian dituntaskan dengan doa penutup tepat pada pukul 03.35 pagi itu.[]
aku telat… baru mau nulis reportasenya…. hehehhehe
maklum inet gratis cuma berlaku di hari senin – jumat
hehehhehe
hmmm.. cak nun kritris.. sdh tdk ada yg menggugat..
mau dunk maen kt4 Dik Doank ^^
inspiratif +1
duh ngak nonoton diriku
sungguh acara istimewa!
wah sukses acarane! slamat!
@kang ciwir:
suk sekali-kali neng Yoja po?
@xitalho:
yoi, bener kata sampean rek…
@arista:
lho sampean teko juga to mas, lha nomor hp sampean sing endi, tak konta-kontek ket sore ora nyambung…
@wong magelang:
ke dik doank…lha monggo, malem minggu ntar juga acara KC di sana, lihat http://kenduricinta.com
@STmJ:
nuwun mas….
@suwung:
kapan-kapan gabung bersama…
@ernut:
bener banget mbak, mengajarkan akan keguyuban anak bangsa
@duo emak:
nuhun mak…
kapan yo iso tekan nag acarane cak nun,
opo ngndang wae ya?
lengkap laporannya, saya juga sempat membacanya di blog lain.
smgt!!
@Jauhdimata:
siiip kalau mau ngundang mas…tinggal kontak ae ke Kadipiro!
@Antown:
nuhun mas atas komentarnya