BERINDANG DI ALUN-ALUN
Lelaki setengah baya itu sebutlah saja dengan Trisno Atmojo. Siang itu tanpa sengaja saya temukan dirinya tengah duduk mengaso di bawah keteduhan beringin kurung di tengah alun-alun kota. Sorot matanya nampak khidmat memperhatikan para bocah angon yang tengah sibuk dengan mainan layangannya. Mereka nampak riang gumbira tenggelam dalam dunia kepolosannya.
Sebentar-sebentar nampak tarikan nafas panjang Pak Atmojo mewarnai irama pundaknya yang kian jelas nampak naik turun. Seakan sedang memendam masalah atau mungkin suatu tekanan perasaan yang berat, tersirat dari ketuaan raut mukanya. Ketika seorang teman menawari Sang Bapak dengan beberapa potong kue, dia sedikit pekewuh dengan tawaran itu. Takut jadi haus, demikian alasan yang disampaikannya. Namun dengan sedikit bujukan, akhirnya dipungutnya sepotong kue yang ditawarkan dan mak nyuuus terasa kerongkongannya terlewati sesuatu.
Kekakuan suasana yang sebelumnya bergelayut di tengah alun-alun itupun kemudian sedikit demi sedikit semakin mencair. Ketika saya mencoba menanyakan mengenai asal usul tempat tinggalnya, Pak Atmojo menjawab, “Candirejo Mas”. Hmm angan sayapun segera melayang terbang menuju suatu wilayah tandus nan gersang di sisi tenggara Candi Agung Borobudur. Suatu jalur persimpangan jalan yang menuju bumi Suralaya, konon dimana para dewa bersemayam di tanah Jawa.
Perbincangan basa basi berlanjut, “lha niki Bapak saking tindak pundi?”(Bapak dari bepergian kemana?). Dia malah kemudian bertutur panjang lebar. “Saya dari cari obat Mas. Usia semakin uzur malah diberi ganjaran asam urat. Diperiksakan ke dokter mana-mana kok tidak ada perubahan. Lha ini diberi tahu untuk mencoba obat Saras Asur(sambil ditunjukkannya sepapan obat yang telah berkurang empat) malah baru habis empat butir sudah berangsur enakan.”
“Lha emang sudah berapa lama to Pak?”, tanya saya memotong kisahnya.
“Sudah lima bulanan Mas. Sebelumnya abuh Mas, bengkak semua kaki kiri kanan. Pakai sandal saja nggak bisa, apalagi berjalan”, jawabnya sedikit mengenang.
“Bapak usia berapa to? Nampaknya masih seger buger”, sedikit dengan keraguan pertanyaan itu saya sampaikan.
Namun yang bersangkutan nampak tidak keberatan dan menjawab, “lima puluh Mas. Saya itu dulu sekolah cuma sampai STM, lalu merantau ke Sumantrah. Di Jambi dan Riau malah sempat punya beberapa hektar kebun karet. Tahun 2000 istri saya meninggal, lalu saya kembali pulang kampung.”
“Lha terus putrane Pak?”,tanya saya penasaran.
“Itulah Mas.(dengan menghela nafas panjang) Demikian lama membina rumah tangga kami tidak dikaruniai keturunan. Tahun 2005 menikah lagi dapat orang Windusari. Lha ndilalah sampai kini belum juga ada tanda-tanda dikasih momongan. Usaha sudah nggak putus-putusnya Mas. Ini saja setiap bulan kami pergi ke Sardjito untuk terapi, diberi hormon sebotol kecil seharga sejuta lima ratus.”
“Ya namanya ikhtiar nggih Pak. Mbak saya yang sulung nggih sudah tiga belas tahun berumah tangga ning nggih belum diberi momongan Pak”, sambung saya mencoba berempati.
Pak Atmojo melanjutkan penuturannya, “Saya itu sering duduk di sini Mas. Sambil nyilir angin, saya memperhatikan anak-anak kecil yang pada bermain itu. Rasanya kepingin banget satu diantara mereka itu adalah darah daging saya. Saya pernah punya anak angkat, perempuan Mas. Sudah remaja kemudian kerja rumah tangga di Njakarta. Setelah dewasa eee malah disenengi anak jurgane, kemudian dinikah. Eee lha kok setelah menikah malah diboyong suaminya merantau ke Njepang. Ini sudah lebih dari setengah tahun mereka tinggal di sana. Jadilah saya kesepian lagi.”
Saya hanya bisa mbatin dalam hati, betapa kasihan nasib Bapak ini. Alun-alun bagi Bapak yang satu ini ternyata punya makna tersendiri. Alun-alun tidak hanya ratan atau lapangan rumput sebagai pusering suatu tata taman kota. Baginya alun-alun adalah suatu dunia penuh impian dan keceriaan. Maka manakala dirasa beban pikirannya serasa berat mendera, ke alun-alun untuk sekedar nglelipur hati dapat sedikit meringankan pikirannya.
Nenek moyang kita sebagai penggagas tanah lapang alun-alun memang merancang keberadaannya sebagai pusat aktivitas kotapraja. Dalam filosofi tata kota kerajaan di Nusantara, alun-alun merupakan titik temu dari berbagai aspek kehidupan. Keraton atau pusat pemerintahan di sebelah selatan, masjid agung sebagai lambang ketaatan kepada Sang Khalik di sisi barat, pasar sebagai pralambang kehidupan perekonomian agak jauh di sebelah utara, gedung pajeksan penyangga tegaknya hukum dan keadilan di sisi timur.
Dengan demikian alun-alun adalah muara atau tujuan utama dari berbagai aspek peri kehidupan, mulai dari politik, agama atau ideologi, sosial ekonomi, dan hukum. Alun-alun adalah tanah lapang, maka tujuan hidup manusia adalah kelapangan jiwa. Hanya dengan jiwa yang lapang, maka ketentraman manusia dapat dicapai. Di alun-alun pulalah berhembus lembut kesejukan angin di bawah pucuk-pucuk tunas beringin muda berhiaskan keceriaan anak-anak beradu layangan. Kegundahan dan keresahan apapun kiranya akan pudar terbuyarkan oleh asrian sebuah alun-alun.
Maka sedari jaman dulu alun-alun menjadi tempat berkumpulnya para kawulo dari berbagai penjuru negeri. Di alun-alun juga seringkali kawulo dalem melakukan laku pepe untuk menyampaikan suatu aspirasi secara langsung kepada Sang Ratu penguasa negara. Di alun-alun pula negara sering menggelar latihan keprajuritan untuk memberikan isyarat akan keperkasaan kedaulatan negerinya. Oleh karena itu alun-alun menjadi simbol persatuan, lambang keguyuban masyarakat dari jaman ke jaman. Sekali-kali cobalah ngadem di alun-alun, maka perasaan ayem tentrem itu akan merasuk ke dalam sanubari setiap insan yang berindang di sana.
Demikian halnya dengan Pak Atmojo yang tengah suntuk dirundung resah. Maka tatkala beban hidup tidak mampu diadukannya kepada pemangku kepentingan hajat hidup rakyat, kepada para aparat dan penguasa negara, kerindangan alun-alun stidaknya mampu memberikan kesejukan dan kelapangan meski hanya untuk sesaat.

hidup adalah perjuangan,
atau perjuangan untuk hidup,
beda-beda tipiss
jadi terenyuh….
sepakat bahwa alun2 adalah sebagai area publik yang bisa dimanfaatkan oleh siapa saja dan darimana saja. akan tetapi saya menemukan bahwa kita (sendiri) ternyata kurang memperdulikan soal keberadaan alun2 tersebut. Katakanlah selepas ada event biasanya sampah bertebaran dimana-mana. petugas kebersihan belum juga pada datang membersihkan lokasi. yang duluan siapa? saya kira para pemulung hehe.
selanjutnya, alun-alun menjadi tempat yang khas buat para anak muda, pedagang dan kelas sosial lainnya. apalagi kalau malam minggu. Preman pun bisa jadi ikut ambil bagian.
Punya ide buat menciptakan alun2 yang nyaman? bukankah alun2 akan menjadi ciri khas sebuah kota/kabupaten?
monggo dikomentari balik ya ndoro
jadi pingin diskusi nih saya
Ponang jg ceneng tu main mobil2an di alun2 ma jajan lekel…
betapa sesungguhnya setiap orang mempunyai permasalahannya sendiri-sendiri..andai bisa kita tanyai semua orang yg sedang nglesot duduk di alun-alun…pasti masing-masing mereka dapat menyumbang setidaknya satu bahan postingan hehe..
Ehmm .. itulah alun2 …
menyimpan segudang kecerian, keteduhan, ketentraman …
@kang ciwir:
yo sing penting mbayu mili lan narimo ing pandum bakale gawe ati luwih tentrem yo kang…
@ikhsan:
itulah rupa-rupa warna hidup rakyat kita…
@antown:
makane kang,kita sempat menggagas untuk cancut tali wondo berperan, minimalnya ketika komunitas kita kumpul jangan sampai menambah sampah…
sekali-kali juga mungkin perlu kerja bakti resik-resik alun-alun yo kang?
@ponang:
iso main layangan durung le?
semoga cepet dapat apa yang dicari
Alun2 seharusnya dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif. Sayangnya, di sejumlah tempat alun2 justru ada dipergunakan untuk aktivitas negatif terutama pada malam hari. Perlu penertiban dan penataan yang serius agar alun2 tidak berkesan buruk akibat hal tersebut.
yo mas…urip iku nerimo ing pandum.dan yang terpenting adlah yakin..bahwa Tuhan tidak akan pernah rela melihat Makhluknya dalam kesusahan..sehingga tawakal adalah menjadi sebuah jalan terindah
trenyuh juga mbacanya..
@suwung:
itulah kang…masih mencari apa yang dicari je
@mufti am:
memang begitulah kenyataannya mas…
lha sayange kadang kesadaran warga akan makna alun-alun itu masih rendah je, makane kurang bisa menempatkannya secara proporsional
@nasori:
leres banget kata sampean kang..
@eko:
itu baru satu kisah anak manusia lho…
setuju, mungkin karena ndak mampunya kita mengadukan soal hajat hidup kepada para wakil rakyat, kita masih punya alun alun yang anginya bisa untuk menyejukkan hati walo cuma sesaat.
ps: jadi kangen ndek magelang. hehe
Terus Berusaha Kang trisno..
Ampe dapet titik Balik..