Budaya Nyakruk

BUDAYA NYAKRUK

Nyakruk.com

Nyakruk.com

Nyakruk berasal dari kata cakruk. Cakruk merupakan nama jenis suatu bangunan yang dipergunakan untuk pos ronda keamanan di dusun-dusun. Dalam khasanah bahasa Jawa memang dikenal berbagai istilah untuk menamai jenis-jenis bangunan yang dipergunakan manusia ataupun  kandang hewan. Sebutlah keraton sebagai tempat tinggal ratu, tangsi tempat asrama militer, loji tempat tangsi dagang, pertapan tempat bertapa dan lain sebagainya.

Istilah cakruk kemudian lebih dikenal sebagai aktivitas berkumpul diantara sesama warga di pos ronda atau siskamling. Tidak hanya khusus kegiatan untuk melakukan aktivitas perondaan, namun sekedar ngumpul, ngobrol ngalor ngidul ngetan bali ngulon tidak numpak andhong itupun disebut sebagai nyakruk. Bahkan sekedar mborong dagangan pedagang keliling entah bakso, mie ayam atau nasi goreng, kemudian kembul bujono, makan bersama di cakruk itupun bisa disebut sebagai nyakruk.

Barangkali demikianlah yang kami alami di tengah kepadatan perkampungan Bandung dengan gang-gang sempitnya. Cisitu Lama adalah kawasan perkampungan yang membentang di sudut persimpangan Dago yang tak pernah lelah beraktivitas siang dan malam. Kawasan yang konon menjadi “sarang”  para mahasiswa cerdas, generasi pilihan bangsa yang tengah bertapa, ngangsu kawruh, menuntut ilmu di Kota Kembang bertempat tinggal.

Sangat berbeda dengan kultur mahasiswa di Jogja, katakanlah wilayah Pogung yang memiliki budaya komunal sangat kental, Cisitu Lama nampak lebih sunyi senyap. Sangat jarang bisa dilihat mahasiswa berhilir mudik, berkumpul dan bertegur sapa di warung makan. Hampir selama kurang lebih satu tahun merasakan denyut nadi kawasan perkampungan ini, seakan tidak pernah terdengar denyut nadi dan nafas pergaulan khas anak muda tersebut. Apakah mahasiswa di sini sebegitu seriusnya kuliah di kampus kemudian mendalami materi pelajaran di keheningan bilik kamar kosannya masing-masing to yo?

Terasa kental memang bahwa mahasiswa di Cisitu Lama memiliki karakter individual yang tinggi. Hampir dapat dikatakan tiada tumbuh dan berkembang budaya komunal sebagai layaknya kodrat manusia yang membutuhkan sosialisasi dengan sesamanya dalam suatu kelompok masyarakat tertentu. Saling tidak kenal dan suasana keterasingan, itulah warna ke seharian di setiap sudut kampung. Mahasiswa di sana barangkali memang berpendapat bahwa kuliah adalah jalan paling utama untuk menjadi manusia. Mahasiswa di sana barangkali sedikit lupa bahwa masyarakat juga merupakan “mahaguru” yang tiada henti medhar sabdo, memaparkan kebijakan hidupnya. Masyarakat adalah Universitas Jagat Raya, yang memiliki Fakultas Kehidupan, dengan salah satu Jurusannya adalah Kebaikan dan Kebijakan. Masyarakatlah sesungguhnya pengemban amanat mbabar ilmunya alam, ilmunya Tuhan. Masyarakat adalah bagian dari alam terkembang menjadi guru.

Beruntunglah beberapa diantara sekian penghuni kampung Cisitu Lama tersebut merintis kebiasaan makan malam sambil nyakruk di suatu pos. Nasi goreng, mie rebus atau goreng, kwetiau memang menjadi menu keseharian. Bila dilihat dari menu makannya barangkali akan terkesan monoton dan membosankan. Namun demikian sesungguhnya menu utama di cakruk mungil Cisitu Lama adalah obrolan yang menemani aktivitas makan malamlah yang paling mengasyikkan dan beraneka ragam. Mulai sekedar diskusi tentang teman bujang yang masih ngotot untuk mengabadikan status kebujangannya, hingga politik kenegaraan tingkat tinggi.

Kebanyakan diantara cakrukers yang bergabung memang rata-rata memiliki pengalaman dan psikologis komunal ketika ngangsu kawruh di kota budaya Jogjakarta. Entah sekadar ingin senantiasa bernostalgia dengan masa lalu, entah nyakruk memang sudah mendarah daging dan menjadi suatu kebutuhan rohani mereka, namun yang jelas mereka hampir bisa dikatakan rutin menggelar ritual nyakruk tersebut.

Sebutlah anggota tetap cakrukers yang senantiasa nguri-uri, melestarikan budaya cakruk di kota Kembang semacam “Betoro Kayam” dari Ciputat sang pantat Tangerang Selatan, ada Ilman yang sengaja akan berevolusi menjadi “Healthman”, ada Anggoro “Murdo” yang lahir hari Seloso, Kang Kohar seko Sukoharjo, ada pula Ki Catur “Skak” dari Soka, Si Agus Mboyolali, dan satu pasti yang paling unik ada manusia dari planet Mbrebes. Sekali-kali mampirlah untuk bernostalgila dengan mereka. Dijamin gratis, lesehan dan barokah, mesti soal makan monggo tetep mbayar dhewe-dhewe.

Tiada malam tanpa ritual nyakruk. Maka barangkali bisa dikatakan cakruk dot com senantiasa on line mewarnai sudut sempit gang Cisitu Lama. Sampai kapan hal itu akan terus berlanjut? Hanyalah sang waktu yang dapat menjawabnya.

Tentang sangnanang

Diriku hanya seorang hamba yang diperjalankan di malam hari. Diriku hanyalah seorang sudra, serendah-rendahnya manusia sehingga tiada satupun manusia yang sanggup dan mampu untuk merendahkan diriku. Diriku hanya seorang papa tanda punya apa-apa, sehingga diriku tiada pernah merasa kecurian dan kehilangan. Diriku hanyalah sekedar manungso tan keno kiniro, titah sewantah jalma limrah, titahing Kang Maha Endah.
Tulisan ini dipublikasikan di Tradisi Tiada Henti dan tag , , . Tandai permalink.

9 Respon untuk Budaya Nyakruk

  1. ciwir berkata:

    nek neng nggonku jenenge theng-theng crit mas…

    *thenguk-thenguk karo crito*

  2. eko berkata:

    saiki pindah cangkrukan kang, soko bhi ke cisitu lama :-)

  3. rojiunmgl berkata:

    istilah lain yo iku ngangkruk…he..he…

  4. ikhsan berkata:

    kapan2 saya tak mampir ke mbandung :)

  5. Ndoro Seten berkata:

    @kang ciwir:
    thenguk-thenguk….mesti ro gulune njanguk-njanguk yo kang?

    @eko:
    iyo kang…lha kapan gabung?

    @kang rojiun:
    ngangkruk…mirip-mirip sih

    @ikhsan:
    lha monggo tindak mbandung kang…

  6. nasori berkata:

    nek nang kampung aku yo seneng nyangkruk,tapi saiki wes gak iso cangkrukan maneh..lungo sithik wes di goleki bojo ambek anaku..hahaha

  7. awi berkata:

    kayaknya gw kenal ama semua orang yg ada di photo itu
    tapi dimana ya …..
    hahaha

  8. eko magelang berkata:

    cakruk ? kon ndak pernah pirso, wis lah manut wae, selamat Nyakruk di tempat baru, ono gedang goreng-e pora ?

  9. Ndoro Seten berkata:

    @nasori:
    wuaduh banget tenan ki tresnone mbok wedok?

    @mas eko:
    gedang goreng, balok, tahu cucur, gelek, sate usus, ndok gemak…opo neh wis?

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>