RONGGENG DUKUH PARUK
Dengan kelincahan pendeskripsian suasana padukuhan yang detail dengan kekhasan kicauan burung, desahan angin, tarian batang padi, hingga swaraning asepi, suara kesunyian, Ahmad Tohari sengaja mengajak pembaca kepada kedamaian alam sebuah padukuhan. Ronggeng Dukuh Paruk merupakan novel trilogi dari Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, dan Jantera Bianglala. Dalam budaya khas Banyumasan yang terbentang melingkari Gunung Slamet, novel ini mengambil latarnya.
Dukuh Paruk merupakan sebuah perkampungan terisolasi yang sengaja mengisolasi diri dari dunia luar. Bentangan hamparan lautan padi adalah batas cakrawala yang memagari adat dan budaya Dukuh Paruk dari peradaban dunia umumnya. Satu-satunya gerbang dengan dunia luar hanyalah sebuah galengan, pematang sawah jalan setapak yang menyibak diantara hamparan padi menghijau. Penghuni dukuh adalah saling bersaudara satu sama lainnya. Mereka adalah peranakan keturunan Ki Secomenggolo, seorang bromocorah di masanya yang kemudian mengundurkan diri dari dunia hitam untuk kemudian menikmati pengasingan diri di masa tua dengan membina rumah tangga kecil nan idaman.
Kisah berawal pada permainan tiga bocah kecil Dukuh Paruk, Rasus, Darsun, Warta, dan Srintil. Ketiganya merupakan saudara sedarah keturunan Ki Secomenggolo yang bersemayam di sebuah gumuk keramat di atas dukuh. Kawan sepermainan tersebut menjalani kesehariannya dengan menggauli alam, bersuka cita dalam dunia kekanakannya untuk selanjutnya tumbuh mengikuti kehendak alam. Dolanan semacam omah-omahan, pasaran, nganten-ngantenan, raja-rajaan dengan mahkota daun nangka, dan layangan daun gadung hingga tarian tayuban dengan irama mulut ketiga bocah lelaki dengan Srintil sebagai penari primadona adalah dunia keempat bocah angon tersebut.
Adalah Ki Sakarya sang pamong dukuh yang melihat bakat penari ronggeng Srintil tidaklah hanya sekedar bakat. Lebih dari itu indang ronggeng telah hidup kembali, bahkan merasuk ke dalam tubuh Srintil cucunya. Arwah Ki Secomenggolo barangkali memang tengah berkenan untuk mengangkat kembali harkat anak cucu keturunannya setelah lebih dari dua belas tahun dukuh Paruk tidak memiliki figur seorang ronggeng. Dukuh Paruk tanpa ronggeng adalah bagaikan bumi tanpa langit, siang tanpa matahari, dan malam yang telah kehilangan kegelapan dan keheningannya. Dukuh Paruk ada dan diakui keberadaannya adalah ada atau tiadanya ronggeng.
Dua belas tahun silam malapetaka besar itu memakan tumbal sebagian daripada warga dukuh. Adalah Santayib, ayah Srintil, anak dari Ki Sakarya terkenal sebagai pengrajin tempe bongkrek. Makanan lauk “mewah” bagi warga dukuh yang kesehariannya hanyalah mengkonsumsi gaplek. Suatu malam lintang kemukus jatuh tepat di atas makam Ki Secomenggolo, dan malapetaka itupun datang lewat racun bongkrek yang menewaskan warga dukuh, bahkan Santayib suami istri sang pembuat tempe bongkrek ikut menjadi korban.
Jadilah kemudian Srintil kecil menjadi yatim piatu dan diasuh oleh kakeknya Ki Sakarya. Melihat bahwa indang ronggeng dukuh telah menitis kembali, Sakarya segera menceritakan hal itu kepada Ki Kartarejo yang terkenal sebagai dukun ronggeng. Ritual penobatan ronggengpun kemudian digelar dengan memohon restu kepada roh Ki Secomenggolo, danyang cikal bakal dukuh.
Setelah resmi diwisuda menjadi ronggeng, Srintil harus menjalani prosesi selanjutnya yaitu malem bukak klambu. Kepada lelaki yang memenangkan sayembara yang digelar Kartarejo akan diserahkan keprawanan Srintil. Keprawanan Srintil dihargai hanya dengan dua ringgit keping emas. Akhirnya Sulam yang membawa dua keping ringgit emas dan Dower yang menghadiahkan satu ekor kerbau besar menjadi pemenang sekaligus, atas tipudaya Nyi Kartarejo yang menipu keduanya dengan arak.
Di luar sepengatahuan penggelar dan pemenang sayembara, sesungguhnya yang memetik keprawanan Srintil adalah Rasus, teman sepermainan yang diam-diam dicintai dan mencintai Srintil. Namun atas ketidakberdayaan anak manusia dalam melawan adat yang telah digariskan nenek moyang dukuh Ki Secomenggolo, cinta keduanya tidak dapat dipersatukan.
Akhirnya Rasus, demi memendam kekecewaan dan dendam kesumat terhadap adat dukuh, meninggalkan dukuh Paruk untuk berkelana ke dunia luar. Awal mula ia tinggal di Dawuhan, kota kecamatan yang membawahi Dukuh Paruk. Kemudian atas kebaikan Kopral Pujo, Rasus direkrut menjadi tentara dan berdinas di sebuah kota tenggara Jawa Tengah.
Adapun Srintil sepeninggalan Rasus melanjutkan hidupnya sebagai seorang ronggeng. Ronggeng tidaklah hanya profesi di atas panggung. Lebih dari itu ronggeng adalah milik semua lelaki yang menginginkannya. Ronggeng adalah pemangku kelelakian, dialah yang kemudian mengendalikan segala perilaku laki-laki. Tidak hanya sekedar wong cilik, anak pejabat, para lurah dan matri kecamatanpun banyak yang gandrung dan naksir dengan Ronggeng Srintil. Semua ingin pernah bersama sang ronggeng. Menikmati kenikmatan dan kesenangan duniawi dengan idola semua lelaki.
Keberkahan indang ronggeng yang nitis dalam raga Srintil ditambah uba rampe segala macam susuk dan jampi-jampi yang ditanam Nyi Kartarejo membuat nama Srintil semakin moncer, tidak hanya di wilayah Dawuhan namun bahkan mampu menembus dinding batas kota Eling-eling. Dengan kehidupan yang demikian, secara meteri kehidupan Srintil dan induk semangnya berangsur-angsur meningkat. Tak jarang lelaki yang sedang gandrung memberikan perhiasan, emas picis rajabrono. Pendek kata Srintil menjadi kaya, demikian halnya pengidupan sebagian warga dukuh yang ikut dalam rombongan ronggeng, baik sebagai penabuh calung, bende ataupun ubo rampe pertunjukan yang lainpun ikut terimbas. Inilah barangkali yang diwasiatkan oleh Ki Secomenggolo sebagai “berkah” ronggeng Dukuh Paruk.
Tidak hanya tarian dan seni pelayanan laki-laki yang dikuasai oleh Srintil. Bahkan pada saat melakukan pentas di Alaswangkal, Srintil menerima tawaran untuk menjadi gawok. Gawok adalah perempuan dewasa yang harus mengajari seorang remaja yang baru menginjak akil balik untuk menjadi laki-laki sejati.
Ketenaran Srintil sebagai ronggeng Dukuh Paruk kemudian dimanfaatkan oleh Bakar, seorang tokoh partai besar pada waktu itu untuk menarik massa berapat raksasa di lapangan kecamatan. Slogan tentang revolusi senantiasa mendengung di tengah ratusan penonton yang hadir, meski semuanya tidak pernah bisa dimengerti oleh rombongan ronggeng Dukuh Paruk. Namun satu hal yang pasti, setelah menghadiri rapat raksasa biasanya segera disusul dengan aksi perojengan padi menguning dengan memakan tumbal si pemilik sawah.
Duniapun kemudian segera berbalik terkait kabar adanya pembrontakan besar di kotanegoro Beberapa jenderal tentara tewas menjadi korban. Para petinggi partainya Bakar konon terlibat dalam persekongkolan elit untuk menggulingkan kekuasaan yang sah.
Hal ini ternyata berimbas kepada rombongan ronggeng Dukuh Paruk yang dituduh terlibat sebagai underbow partai yang kemudian terlarang. Sebuah dosa besar yang tiada pernah dipahami oleh otak sederhana warga dukuh. Alhasil Dukuh Paruk diserbu tentara, dan gubug reot warga yang sudah miskin itu dibumihanguskan. Dukuh Paruk menjadi karang abang. Sakarya, Kartarejo, dan Srintil kemudian ditahan di markas tentara. Meski kemudian yang tetap ditahan dan dipenjara hanya Srintil, namun malapetaka itu seakan menjadi kemarahan para leluhur dukuh yang tidak lagi menerima upara ritual persembahan.
Selepas bebas sebagai tawanan, dan hanya menjalani wajib lapor dua minggu sekali ke kantor Koramil, Srintil seakan kehilangan gairah untuk menjadi ronggeng kembali. Jiwanya kini merindukan jiwa keperempuanan, jiwa seorang ibu yang menghadiahkan butiran suci susu dari kedua putik keibuannya. Menjadi wanita somahan, ibu rumah tangga adalah angan dan impian Srintil kini. Dalam situasi demikian terasa kerinduan kepada Rasus sang pujaan hati kian menjadi. Adalah Goder, bayi mungil anak tetangganya yang kemudian menjadikan kerinduan Srintil akan arti keperempuan sedikit terobati. Dipungutnya Goder menjadi anak asuhnya.
Sesekali Rasus memang sempat menengok kampung halaman Dukuh Paruk. Namun di setiap kepulangannya tersebut Rasus tidak pernah memberikan kata kepastian akan hubungannya dengan Srintil. Perasaan terombang-ambing dalam kebimbangan senantiasa mewarnai hati dan pikiran baik Rasus maupun Srintil.
Di saat-sat demikian datanglah Bajus, seorang kepala proyek irigasi dari kutonegoro. Penampilan Bajus yang sopan nan semanak, juga kebaikan hatinya yang mampu menarik perhatian Goder menjadikan angan Srintil untuk menjadi seorang istri somahan semakin melambung tinggi. Namun harapan ternyata hanya tinggal harapan. Bajus ternyata hanya menjadikan diri Srintil sebagai umpan bagi keberhasilan pemenangan tender proyeknya.
Hemmm….terhempaslas kapal impian, harapan dan angan-angan Srintil. Dan kali ini hempasan itu sedemikian dahsyatnya hingga terasa hancur lebur sisi kemanusiaan Srintil. Keseimbangan jiwa tengah terguncang, dan akhirnya ke rumah sakit jiwalah muara hidup sang ronggeng Dukuh Paruk yang malang tersebut.
Mengambil latar kejadian di skeitar tahun 65-an menjadikan novel ini tidak terpisah dari kisah geger negoro yang menyebabkan terjadinya pergantian rejim kekuasaan. Keterkaitan itulah yang menyebabkan rejim penguasa baru melarang peredaran novel ini. Tidak puas sampai di situ, Ahmad Tohari kemudian ditahan sebagai tahanan politik. Atas prakarsa Gus Dur akhirnya ia dibebaskan. Dengan melihat latar kepenulisan penuh intrik inilah yang menjadikan novel ini menarik untuk dijadikan bahan bacaan. Bahkan konon di beberapa sekolah menengah di negeri jiran, novel ini dijadikan bacaan wajib bagi siswa-siswinya. Tertarik untuk membaca? Monggo![]
ini salah satu novel ahmad tohari favoritku
kiro kiro srintil ki koyo sopo yo??
di toko buku gramedia ada khan??
Lama gak muncul, nih.
Mantap tenan, mancing…
panjang bgt….
* Ctr + D *
ronggeng oh ronggeng…
@nothing:
srintil yo koyo kae lah…
@reallylife:
ada lah…baru dicetak ulang lagi kok
@ahmad nur:
iya kemana aja to?
@escoret:
panjang mana sama coretannya?
kereennn,..
dulu baca bukune sampe tak ulang” gak bosen hehe
wow aku baca dua kali mas…
(*pertama di gramedia dengan berdiri. kedua yang edisi lengkap tanpa sensor orde baru…
@yenin:
memang penuturan Ahmad Tohari lugas dan tidak mboseni ya?
@kw:
tanpa sensor? yang kayak opo mas?
Ada mbukak klambune beneran?
ceritane mangtabs…
Salam Kenal
Mantap..ss
ko aq ky kenal dg dukuh paruk yg d gambarkan oleh sg penulis…??