Gundul Pacul

AMANAT NYUNGGI WAKUL

di-kreta

Wakil rakyat adalah bagian terpilih dari sekumpulan rakyat sebagai penyambung lidah, penyampai aspirasi dan kepentingan rakyat secara keseluruhan. Demikian halnya para pemimpin rakyat, baik yang duduk di struktural birokrasi maupun sosial kemasyakatan adalah manusia terpilih untuk memikirkan nasib warganya. Mereka semuanya adalah pengemban amanat rakyat.

Mereka, wakil dan pemimpin rakyat adalah anak kandung rakyat. Mereka lahir dari rakyat yang memberikan mandat kekuasaan bagi kesejahteraan bersama. Rakyat dan pemimpin adalah kesatuan yang harus manunggal, tidak boleh terpisahkan satu sama lain. Rakyat adalah pemimpin yang sejati, sedangkan wakil dan pemimpin rakyat hanyalah pemegang titipan kepemimpinan sejati tersebut.

Pemimpin bagaikan bocah gundul yang tiada akan berarti tanpa adanya rakyat yang mendukungnya. Kepada si gundul pacul itulah rakyat menyerahkan wakul kehidupannya. Wakul adalah wadah nasi yang kita santap sehari-hari, simbol kesejahteraan rakyat. Nenek moyang kita memberikan petuah luhur lewat lelagon anak-anak berjudul gundul-gundul pacul.

Gundul-gundul pacul…cul gembelengan;

Nyunggi-nyunggi wakul…kul gembelengan;

Wakul ngglimpang segone dadi sak latar;

Wakul ngglimpang segone dadi sak latar.

Gundul artinya kepala. Gundul pacul adalah gambaran bocah kecil yang belum remaja. Jaman dahulu di kampung-kampung, anak usia bocah memang biasa bercukur gundul papak dengan sisa kuncung di bagian tengah bagaikan dicukur dengan cangkul. Pola tingkah laku bocah gundul memang serba gembelengan, serba kemlinthi, serba grusa-grusu, bertindak sembrono tanpa perhitungan. Namanya juga masih anak-anak, wajarlah.

Demikian halnya para wakil rakyat dan pemimpin, mereka hanyalah ibarat bocah gundul yang gembelengan, merasa mampu untuk nyunggi wakul, memakmurkan rakyat. Padahal sesungguhnya mereka tidak akan pernah dapat menjalankan kekuasaan tanpa dukungan rakyat. Rakyatlah yang mempercayakan bakul kesejahteraannya kepada mereka. Maka apa jadinya jika mereka gembelengan memangku amanat rakyat?

Nyunggi merupakan kata kerja yang menunjukkan membawa suatu benda di atas kepala. Demikian tinggi perlambang pengembanan suatu amanat yang memang harus diletakkan tinggi-tinggi melebihi kepala, bagian tubuh yang paling tinggi. Amanat merupakan tugas kesucian yang harus dijunjung tinggi. Rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi mengamanatkan kekuasaannya kepada para wakil dan pemimpinnya. Maka menjadi kewajiban mereka untuk nyunggi, menjunjung tinggi amanat untuk dilaksanakan secara bersungguh-sungguh dan penuh rasa tanggung jawab.

Pemimpin yang mengkhianati amanat rakyat, ceroboh dan teledor dalam nyunggi wakul simbol kesejahteraan itu, hanya akan menyebabkan wakul ngglimpang segone dadi sak latar. Kepemimpinan yang tidak bertanggung jawab, tidak amanah dalam menjalankan amanat rakyat hanyalah akan menimbulkan malapetaka. Segala potensi dan sumber daya yang semestinya dapat didayagunakan untuk mensejahterakan rakyat hanya akan berceceran kemana-mana dan menyebabkan kemubadziran bahkan kerusakan. Kemakmuran dan kesejahteraan yang diidam-idamkan bukannya tercapai, malahan rusaklah segala tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dapatkah para wakil rakyat dan pimpinan kita saat ini dapat kembali menyelami nasehat luhur dari para pendahulu tersebut? Sebagai rakyat yang memiliki wakul kesejahteraan, marilah kita cermat dan teliti dalam memilih si bocah gembelengan yang akan nyunggi bakul kita. Kembali dengarlah suara hati dan mohonkanlah petunjuk kepada Ilahi. Dan presiden adalah termasuk bocah gundul yang harus rakyat pilih.

Adapun bagi para wakil rakyat yang terpilih dan para pemimpin yang memegang amanat nyunggi bakulnya rakyat, ingatlah selalu akan amanat yang akan senantiasa diminta pertanggungjawabannya sejak di kehidupan dunia dan akhirat. Di tangan andalah bakul kesejahteraan rakyat itu akan tetap kokoh menampung benih kebaikan dan kemakmuran, ataukah bakul itu akan tumpah menyengsarakan kehidupan rakyat. Bercerminlah selalu ke dasar lubuk jiwa yang terdalam.

Tentang sangnanang

Diriku hanya seorang hamba yang diperjalankan di malam hari. Diriku hanyalah seorang sudra, serendah-rendahnya manusia sehingga tiada satupun manusia yang sanggup dan mampu untuk merendahkan diriku. Diriku hanya seorang papa tanda punya apa-apa, sehingga diriku tiada pernah merasa kecurian dan kehilangan. Diriku hanyalah sekedar manungso tan keno kiniro, titah sewantah jalma limrah, titahing Kang Maha Endah.
Tulisan ini dipublikasikan di Tradisi Tiada Henti dan tag , , . Tandai permalink.

12 Respon untuk Gundul Pacul

  1. Nayantaka berkata:

    jadi pemimpin nggak boleh gembelengan yo kang? lagi paham maksude lagu dolanan kuwi.

  2. isnuansa berkata:

    Nek wakul ngglimpang, trus segone dithotholi pitik, artinya apa Mas?

    :lol:

  3. afwan auliyar berkata:

    siapapun pemimpinnya minumnya teh botol xxxxx :)
    wekkke

  4. ciwir berkata:

    pemimpin nek wis gemlelengan akhire wakule numplak maka sudh saatnya dipacul wae :D

  5. ikhsan berkata:

    Sesuai sama video klip nya :D
    Oya si ponang sudah bisa apa mas ??

  6. sawali tuhusetya berkata:

    ah, ternyata demikian dalam makna filosofis yang terkandung dalam tembang “gundul2 pacul”. hmm … semoga kepala para wakil rakyat tidak gembelengan.

  7. nahdhi berkata:

    Gembelengan opo gedheg mas?

  8. eko berkata:

    nyunggi wakul wis abot sakjane, opo meneh nyunggi wakule rakyat..bener gak ndoro?

  9. Kuriman berkata:

    wah baru tahu saya arti dari lagu dari gundul pacul…

  10. ernut berkata:

    wong urip ojo gembelengan ae!

  11. duo emak berkata:

    siap2 nyontreng si penyunggi wakul!!

  12. Ndoro Seten berkata:

    @nayantaka:
    nek gembelengan iso dadi gembel juga lho…

    @isnuansa:
    yo pitike ngelih durung dipakani kuwi

    @afwan:
    hayyo mau nyindir pakde saya po?
    pakdeku sosro dihardjo lho!

    @kang ciwir:
    wani digunduli ora yo para pemimpin itu

    @mas ikhsan:
    si ponang udah ngingu manuk empit ommm….

    @pak sawali:
    amien, moga saja begitu pak

    @nahdhi:
    lha geri milih ndi jal?

    @eko:
    bener banget mas eko…

    @kang kuriman:
    lha sampean nggak pernah nanya pak bina sih…

    @ernut:
    betul mbake…

    @duo emak:
    tapi nyontrenge sing bener lho, ojo salah pilih!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>