Pengembara Sakti

SI BOLANG DAN PENGEMBARA SAKTI

pendekarsakti

Senja itu selepas bermain pedang-pedangan di tanah tegalan belakang dusun, Fani dan kawan-kawannya mengunjungi Mbah Urip untuk menagih dongeng. Anak bedhes dimanapun berada memang paling senang kalau didongeni oleh para simbah. Jadilah Mbah Urip menjadi penutur setia bagi anak-anak di dusun Sidomukti yang terhampar di kaki Gunung Ungaran itu.

Tergopoh-gopoh Mbah Urip memapah blarak dari sawah sekedar untuk kayu bakar. Para bocah angon yang telah sesaat menunggu itupun segera menyerbu ke tubuh renta sang kakek. “Ayo Mbah critane pendekar sakti diteruske nggih!”, rengek Ayok. Akhirnya merekapun duduk membentuk lingkaran mengelilingi simbah di bawah emperan, sebelah sudut pohon klengkeng tua.

Dongengpun dituturkan kembali setelah beberapa hari sebelumnya telah mulai dituturkan. Kisah berlanjut tentang pengembaraan Pengembara Sakti dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, menumpas penjahat, dan membela kaum yang lemah.

Pada kesempatan itu Pengembara Sakti tengah menolong seorang ibu dusun yang dirampok oleh kawanan kecu di tegal Songgengan. Dengan kemampuan kanuragan tingkat tingginya, dengan begitu mudah komplotan begal itu dapat dilumpuhkan hanya dalam beberapa gebrakan. Dongengpun berakhir seiring pulangnya sang surya ke peraduannya. Anak-anak dusun itupun pulang ke rumahnya masing-masing dengan membawa kenangan bayangan Pengembara Sakti dalam alam imajinasi keluguan seorang bocah.

Pagi hari selanjutnya Fani dan kawan-kawannya ditugasi ibunya untuk kulakan di kota Semarang. Dengan menumpang angkot tiga sekawan itupun menuju kota. Di dalam angkot tersebut telah naik sebelumnya dua orang pemuda,  satu berjaket dan satu berambut gondrong. Lirak-lirik mata kedua pemuda itu menyorotkan sinar mencurigakan.

“Kalian anak-anak kecil pada mau kemana, he?”, tanya Pemuda Berjaket. Fanipun menjawab, “Mau ke pasar Semarang Om” Saat itu Fani sambil membuka dompet untuk menyiapkan uang untuk ongkos angkot. Tanda disadarinya kedua pasang mata para pemuda itu melotot mengamati dompet Fani.

“Kiri-kiri Pak Sopir!”, teriak anak-anak saat angkot mencapai tujuannya. Setelah membayar ongkos anak-anak itupun turun untuk melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Dua pemuda juga ikutan turun, tapi anehnya mereka tidak mau membayar angkot. Sang Sopir dibentaknya dan dimarahi karena tidak tahu bahwa mereka adalah “koordinator angkot”.

Baru berjalan beberapa langkah, Fani merasa ada yang aneh di kantong belakang celananya. Dan setelah dirabanya, “Eeee….copet!copet!”, teriaknya spontan. Pencopet Berjaket yang sedari tadi mengikuti mereka, segera lari sipat kuping meninggalkan para bocah yang setengah terbengong. Para bocah angon itupun segera berlari berusaha mengejar. Namun sayang nafas mereka kalah panjang, hingga mereka kehilangan jejak. Ditambah lagi ulah Ayok yang tersengal suduken perutnya karena memang dari pagi belum sarapan. Mereka akhirnya hanya terduduk pasrah di trotoar pinggir jalan.

Tiba-tiba, “He kalian kenapa duduk-duduk di sini he?” Terdengar suara menggelegar mengejutkan kawanan bocah itu. Fani mendongak ke atas dan bukan kepalang terkejutnya dia. Dilihatnya sosok Pengembara Sakti seperti yang diceritakan Mbah Urip. Berbaju biru, memakai caping lebar, dan berselempang kain sarung dengan kantong ajaib yang dapat mengeluarkan apapun yang diinginkan. Tak salah lagi inilah Pengembara Sakti. Satu per satu bocah itupun mendongak dan terkejut karena mereka tidak menduga dapat ketemu langsung dengan pendekar idola mereka.

“Pengembara Sakti, kulo lapar minta makan nggih!”, rengek Ayok sambil memegangi perutnya yang kosong. Dan mak set….set….pengembara itu mengeluarkan bungkusan dari kantong ajaibnya. Ketiga bocah itupun sibuk membuka bungkusan nasi itu. Dan saat mereka mendongak ingin mengucapkan terima kasih, mereka baru sadar bahwa sang Pengembara Sakti telah menghilang. “Ha?…..dimana Pengembara Sakti, weih dia bisa menghilang”, pikir si Fani.

Di sisi lain Pencopet Berjaket yang baru mendapatkan durian runtuh dari hasil copetannya, duduk merapat pagar sebuah kantor sambil membuka dan menghitung isi dompet. Tengah asyik menghitung uang, seorang petugas keamanan kantor menegur. “He…kalian sedang apa?”, teriak sang satpam. Pencopet Berjaket cepat-cepat mengantongi kembali dompet curiannya ke saku celananya. Dengan gugup kedua copet spontan berlari, saking paniknya hingga nabrak tiang listrik. Pada saat itulah dompet di sakunya terjatuh tanpa disadarinya.

Tak berselang begitu lama, seorang penjual sarung berjalan di dekat tiang listrik itu. Dan saat ia menunduk, “lho kok ono dompet tibo, gek duweke sopo ki?”, gumamnya dalam hati. Akhirnya iapun melanjutkan perjalanan dengan membawa dompet itu dengan niat akan dilaporkannya temuan dompet itu kepada pulisi.

Sementara para bocah angon berjalan tak tentu arah mengelilingi kota Semarang. Mereka hanya berharap dapat meminta tolong Pengembara Sakti  untuk menemukan dompetnya. Dan saat mereka tiba di kota tua, sekilas mereka melihat sekelebatan baju biru, bercaping lebar dalam sebuah angkot yang melaju. Tak salah lagi itu pasti Pengembara Sakti, pikir mereka. Tanpa berpikir panjang ketiga bocah itupun segera berlari mengejar angkot sambil berteriak-teriak, “Pengembara Sakti tunggu…..tunggu!!!”

Angkot terus melaju semakin cepat dan tidak terkejar. Di tengah pengejaran, para bocah melihat serombongan pemuda berbaju aneh tengah mengerubungi sepeda onthel. “Mas…..Mas….tolong kejarin Pengembara Sakti Mas!”, teriak anak-anak. Mas-mas itupun segera memboncengkan para bedhes dan tancap gas menggenjot pedalnya.

Sambil berteriak-teriak, “Tunggu…….Pak Sopir berehenti! Paaaaak! Tolong Pengembara Sakti!” Akhirnya setelah menempuh pengejaran yang sulit, angkot biru itupun berhenti. Seorang berbaju biru dan bercaping lebar keluar.

Anak-anak segera menyerbu. “Pengembara Sakti tolong kami. Kami kecopetan, dompet seisinya dicopet Pencopet Berjaket”, ungkap Fani.

Pengembara Sakti bertanya, “Ha?….kecopetan? Dompetnya kayak opo?”

Ayok menjawab, “Dompete warna hitam Pengembara, isinya duwit”.

Orang berbaju biru dan bertopeng itupun segera mengeluarkan sesuatu dari balik kantong ajaibnya. Dan tret….tret….tret. Ternyata dompet mereka ada di tangan Pengemabara Sakti. Memang benar-benar sakti rupanya pengembara itu seperti yang diceritakan Mbah Urip.

Anak-anak itupun kemudian segera menggeret Pengembara Sakti ke kantor pulisi terdekat. Ternyata di pos pulisi itu telah meringkuk Pencopet Berjaket yang ditangkap oleh Pak Satpam.

Anak-anak berteriak, “Pak Pulisi, ini Pengembara Sakti yang telah menangkap pencopet itu. Ini dompet kami telah ketemu”.

Si Pengembara Sakti jadi kebingungan. “Saya tidak menangkap copet ini Pak. Memang benar saya menemukan dompet mereka. Tadi saat berdagang saya menemukan sebuah dompet di bawah tiang listrik”, ia berusaha menjelaskan.

“Nggak ding Pak. Pengembara ini orang sakti Pak. Tadi saat Ayok lapar ia bisa mengeluarkan bungkusan nasi dari kantong ajaibnya”, Fani berusaha menjelaskan.

Pengembara Sakti kembali bicara, “Lha tadi itu kan memang bekal makan saya dik!” Para pulisi yang sedikit bingung bertanya, “Bapak ini sebenarnya pekerjaannya apa? Apa memang benar sampeyan Pengembara Sakti?”

“Bukan Pak, saya bukan Pengembara Sakti. Saya memang berkerja jualan kain sarung Pak. Nah ini lihat isi kantong saya!” kata si tukang sarung sambil membuka kantong “ajaibnya”.

Oalah ternyata anak-anak si bocah dusun itu terlalu hanyut oleh dongengan Mbah Urip. Ternyata yang menolong mereka adalah penjual sarung, bukannya Pengembara Sakti. Para bocah memang punya dunia imajinasi ataupun khayalan yang tanpa sengaja tertanam dari dongeng ataupun kisah yang didengarnya. Yo…..wis lah.

Dituturkan kembali dari Pengelanaan Si Bolang

20-21 Juni 2009

Tentang sangnanang

Diriku hanya seorang hamba yang diperjalankan di malam hari. Diriku hanyalah seorang sudra, serendah-rendahnya manusia sehingga tiada satupun manusia yang sanggup dan mampu untuk merendahkan diriku. Diriku hanya seorang papa tanda punya apa-apa, sehingga diriku tiada pernah merasa kecurian dan kehilangan. Diriku hanyalah sekedar manungso tan keno kiniro, titah sewantah jalma limrah, titahing Kang Maha Endah.
Tulisan ini dipublikasikan di Jogjawarta dan tag , , , , . Tandai permalink.

13 Respon untuk Pengembara Sakti

  1. eko berkata:

    kisah nyata ya ndoro?

  2. nothing berkata:

    hehehe, anak kecil memang selalu ajaib, kalau membayangkan masalah-masalah imajinasi yang mungkin dipikirkan anak kecil saya suka lihat kartun ruggarts dan juga baca comic Calvin and Hobbes

    btw, ki kisah nyata sampeyan pas cilik???
    wah ajaib kuwi…hehehe

  3. nahdhi berkata:

    “Oalah ternyata anak-anak si bocah dusun itu terlalu hanyut oleh dongengan Mbah Urip. Ternyata yang menolong mereka adalah penjual sarung, bukannya Pengembara Sakti. Para bocah memang punya dunia imajinasi ataupun khayalan yang tanpa sengaja tertanam dari dongeng ataupun kisah yang didengarnya. Yo…..wis lah.”

    Nek MBAH SURIP aq ngerti kang. :D

  4. antown berkata:

    saya gak bakat bercerita, saya malah pingin jadi bocah dan mendengarkan sampean bercerita.

    kang, ada ID YM? email saya nggih :D

  5. antown berkata:

    saya gak bakat bercerita, saya malah pingin jadi bocah dan mendengarkan sampean bercerita…

    kang, ada ID YM? email saya nggih :D

  6. Kuriman berkata:

    Jadi ingat masa kecil dulu suka di dongengin sama eyang kakung kalau pas mau tidur…

  7. ciwir berkata:

    pendekar tidar…

  8. ikhsan berkata:

    si bolang atau si ponang ndoro….hehehe

  9. nahdhi berkata:

    Reportase kopdar sudah saya posting kang di portal. Ada 3 wirablogger baru yang hadir.

  10. ciput mardianto berkata:

    aku yo seneng di dongengi lo

  11. indah berkata:

    ndoro,, ada PR..
    mohon dikerjakan ya (^^)

  12. Ndoro Seten berkata:

    @eko:
    jenenge wae dongeng, dipaido keneng!

    @nothing:
    weiit malah aku sing kepitnah dadi pelaku utamane?

    @nahdhi:
    kenal dimana sama Mbah Surip?
    e…jare gosipe Mbah Surip itu pacarnya Manohara lho!

    @antown:
    lha monggo mas….YM ID kulo nanang_te03

    @kuriman:
    mesti sampean bandel yo mas….mbahe nganti lentak-lentuk!

    @kang ciwir:
    slamat kang atas lairane keng putra, mugo jadi anak sholeh nggih!

    @ikhsan:
    lha sampean ini sudah dikangeni si ponang kok nggak nengok lagi lho…

    @nahdhi:
    ok…iki kok malah raiso dibukak dab?

    @ciput:
    yo mari kita berdongeng bersama mas…

    @indah:
    hah…PR? opahe opo hayo?

  13. bowok wok wok berkata:

    kalo misal suatu hari nanti saya sudah manak pinak boleh dong minta dongeng ke ndoro. hehe :P

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>