Potong Manuk

SUNATAN MASAL

sunat4

Berjubel-jubel bocah sekompi, minta dipotong ya disunatin. Inilah fakta yang mewarnai  liburan kenaikan sekolah di Kampung Kosong. Tidak hanya satu-dua, tetapi lebih dari lima. Hampir tiap seminggu satu-dua ada bocah yang dipotong kulupnya.

Desa mawa cara, negara mawa tata. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya. Lain kampung lain dusun, lain pula adat istiadat kebiasaannya. Begitu barangkali nasibat bijak para simbah. Demikian soal sunat menyunat ini.

sunat1Di kampung halaman saya, bocah biasa disunat pada usia di atas sepuluh tahun. Bahkan ada yang seusia SMP baru berani disunat. Lain halnya di Kampung Kosong. Di sini bocah usia empat-lima tahun, kalau sudah berani merengek kepada emaknya minta disunat pasti langsung dikabulkan. Mumpung si bocah yang minta dan ingin. Mumpung ia berani, pikir para emak dan bapak.

Hajatan sunatan memanglah tidak terlalu dibesar-besarkan. Tidak mesti ada pesta-pesta ataupun resepsi. Hanya satu yang pasti, sesaat sebelum si bocah diantar ke bengkong, mantri, ataupun dokter untuk memangkas kulupnya, pasti didahului dengan prosesi “peledakan” petasan. Bukan hanya petasan “ipret”, namun ada yang sebesar gelas hingga gelegar suaranya mengalahkan meriam tentara. Para tetanggapun hanya sekedar diundang untuk berkembul sekedar nasi kuning.

sunat31Satu lagi yang kini menjadi tren marak hajatan sunatan di Kampung Kosong, yaitu tanggapan layar tancep. Meski tidak lagi menyetel film Nyi Roro Kidul atau Sunan Kalijaga seperti di dusun saya dulu, namun hampir semalaman nonton bareng para bapak hingga dini bahkan pagi hari.

Sunatan memang tradisi umat islam untuk “menyambut” usia baligh anak laki-laki. Hal ini barangkali yang menyebabkan kata lain dari sunatan adalah “ngislamke” bagi orang Jawa. Konon kabarnya tradisi ini berawal dari perintah Allah kepada Ibrahim yang sudah berusia 80 tahun untuk mensucikan diri. Tentu dapat kita bayangkan bagaimana alotnya kulup Ibrahim waktu itu. Belum lagi mungkin belum ada pisau, silet atau gunting tajam yang steril, apalagi obat bius. Betapa tidak enaknya Ibrahim bersunat. Tapi demi perintah Tuhan, maka dilaksanakanlah perintah dengan sepenuh hati.

Sunat merupakan pembatas strata usia anak dan remaja. Bocah yang telah sunat, dianggap telah bernar-benar menjadi “anak lelaki”. Kalau di dusun kami, paling tidak setelah disunat anak lelaki boleh menikmati rokok alias udud. Makanya putra mahkota sehari ini senantiasa dituruti apa yang dipintanya. Mulai baju, sarung, sandal, sepatu, sepeda biasanya selalu dituruti oleh para sepuh. Demikian halnya soal makanan, pokoknya ayam ingkung satu utuh boleh disikat sendirian. Namun ada satu penganan yang menjadi pantangan. Sejenis makanan dari bahan beras ketan biasanya dipantangkan. Bukannya apa-apa, tapi biar luka sunah tidak “nyeyeh” dan cepat kering.

Satu hal yang hampir selalu dialami bocah yang habis sunat di masa lalu adalah pembengkakan pada luka bekas sunat. Bengkak hingga menggelembung itu disebut sebagai “gendhelen”. Wah, rasanya jelas nggak enak, gatel-gatel cenut-cenut gimana gitu. Namanya anak dusun, untuk mengurasi rasa nggak enak itu kami menemukan cara jitu yang nyleneh. Si “batang” bengkak itu dicantangkan atau dipanggang di atas batu yang tersiram terik sinar matahari di tengah hari siang bolong. Lumayan…….cenut-cenut itupun sedikit berkurang.

sunat21Satu pertanyaan lucu pernah disampaikan seorang penyiar radio RSPD waktu itu, “Kenapa kulupnya bocah yang baru disunat dibalut dengan perban?” Berbagai jawaban segera meluncur dari para pendengar setia. Biar tidak inspeksi, salah! Sesuai standar medis, salah! Terus yang benar apaan dong? Penyiar menjawab, “Ya kalau dibungkus pakai daun pisang, ntar disangka lemper!” woalah……..

Ada lagi satu kisah lucu agak saru. Suatu hari Kang Suroto, anak Pakdhe Darmo tetangga saya habis disunat. Sunatnya di Pak Sahlan, bong supit terkenal di kecamatan. Karena peralatan dan sarana waktu itu belum canggih, apalagi ini hanya bong supit, sudah tentu luka sunat lama sembuhnya. Nah karena gendhelnya maka Kang Suroto beberapa hari tidak memakai celana, hanya mengenakan kain sarung. Supaya kain sarung tidak “nggosrot” sang burung, maka dipasanglah sepet(sabut kelapa) sebagai penyangga sarung.

Melihat buntelan warna putih, membuat seekor ayam jago merasa tertarik. Dikira wingko barangkali, tanpa pikir panjang si jago segera mematuk “wingko” itu. Kang Surotopun menjerit kesakitan hingga menangis. Maryanto yang melihat kejadian itu tertawa terbahak-bahak. Sambil menahan sakit dan meluapkan marahnya, Kang Suroto spontan menendang perut bocah yang dianggap mengejeknya. Maryanto bagaikan mendapatkan tendangan maut, hingga mbedhedhek perutnya dan tidak bisa bernafas, bahkan hampir pingsan. Akhirnya keduanya nangis berbarengan.[]

Tentang sangnanang

Diriku hanya seorang hamba yang diperjalankan di malam hari. Diriku hanyalah seorang sudra, serendah-rendahnya manusia sehingga tiada satupun manusia yang sanggup dan mampu untuk merendahkan diriku. Diriku hanya seorang papa tanda punya apa-apa, sehingga diriku tiada pernah merasa kecurian dan kehilangan. Diriku hanyalah sekedar manungso tan keno kiniro, titah sewantah jalma limrah, titahing Kang Maha Endah.
Tulisan ini dipublikasikan di Tradisi Tiada Henti dan tag , , , . Tandai permalink.

9 Respon untuk Potong Manuk

  1. Oelil berkata:

    Wah…iki kisahe “kang suroto” opo kowe dewe kang….
    ojo2 kowe dewe ….hahahha

  2. nahdhi berkata:

    Sesuk kang ciwir Potong Kambing…. nggo slametan… :D

  3. bowok wok wok berkata:

    hahahahha baca judulnya aja sudah bikin ngakak mas, hahaha
    sunat gerbang menuju kedewasaan. ayo sunat !!

  4. ciwir berkata:

    @nahdi : kdu teko
    lha aku disunat malah jaman smu :D

  5. ionos berkata:

    4 tahun yang lampau…
    kejadian berapa tahun yang lalu mas?

  6. nothing berkata:

    kehidupan di kampung, siapa yang dah sunat dianggap lebih dewasa. itu memang yang terjadi.
    usia 12 tahun pasti tetep ga bisa macem macem ama anak yang usai 9 tahun yang sudah sunat. kalah awu. hehehe
    kuwi nang desoku, kota bangil, kabupaten pasuruan

  7. Ndoro Seten berkata:

    @oelil:
    yo originil kang suroto(almarhum)

    @nahdhi:
    wah sate, tongseng, gule…opo neh?

    @bowok:
    sunat ojo kerep-kerep, entek lho?

    @kang ciwir:
    opo ora alot kang?
    mesti le ngekum sepasar dino dewe yo?

    @ionos:
    hampir 20 tahun lalu

    @nothing:
    kalah awu memang!

  8. eko berkata:

    mangan iwak lele kang ben cepet kering :-)

  9. Ndoro Seten berkata:

    @eko:
    weit….cara anyar ini!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>