FALSAFAH POHON PISANG
JEJAK LANGKAH MOHAMMAD GOBEL

Seorang kakek setengah renta muncul dari tikungan jalan dengan memanggul setandan buah pisang. Dengan sedikit tergesa daiyunnya langkah ke pasar untuk menjual brang di pundaknya. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh panggilan seorang bocah,“Kek…..kakek tunggu! Kakek mau menjual pisang itu? Saya beli saja gimana?” Setengah tidak percaya Sang Kakek mendengar ada bocah sekecil itu menawar dagangannya. Namun akhirnya setelah sedikit tawar menawar, terjadi juga kesepakatan harga dan setandan pisang telah berpindah ke kepala Si Bocah kecil.
Ebu, Si Bocah kecil itupun bergegas menuju ke tengah pasar dan mulai menjajakan pisang dagangannya. Tak berselang beberapa waktu akhirnya setandan pisang itupun laku terjual, dan ia mendapatkan sedikit keuntungan. “Lumayan buat dikasih Matji”, batin Si Bocah. Dan dengan riang ia melangkah menuju pulang.Begitulah jiwa berdagang Ebu memang sudah mulai tumbuh semenjak di usia bocah.
Ebu adalah nama panggilan dari Thayeb Mohammad Gobel, putra Mohammad Gobel dan cucu dari Abdullah Thayeb. Dilahirkan di Tolotio, sebuah desa kecil di pelosok Gorontalo di tahun 1930. Ebu memiliki seorang adik perempuan bernama Dhani. Ia dan adiknya hidup bersama Matji, bibi adik ibunya yang mengasuhnya seperti anaknya sendiri. Memang setelah kelahiran Dhani, kedua orang tuanya bercerai karena sesuatu hal.
Tak berapa lama ibunya menikah lagi dengan seorang guru bernama Pak Nawai di Tinompo. Akhirnya Ebu, Dhani, dan Matji pindah dari kampung halamannya. Di Tinompolah Ebu memasuki sekolah rakyat hingga lulus. Selepas lulus itulah semangat di dadanya menggebu-gebu untuk tetap terus menuntut ilmu. Dengan seizin ibunya, Ebu mencari bapak kandungnya di kota Gorontalo. Bapak dan kakeknya sebenarnya berkeberatan Ebu melanjutkan sekolah, namun atas dorongan Akase Moha, sang paman, ia melanjutkan SMP di Gorontalo.
Belum tuntas sekolah di SMP, Jepang mendarat di Manado hingga keadaan kacau balau. Demikian halnya sekolah Ebu karena para guru bergabung dengan barisan pejuang. Selepas Jepang hengkang dan memasuki alam revolusi kemerdekaan, Thayeb muda memutuskan untuk merantau mencari ilmu ke Makasar.
Di Makasar pada awalnya ia menumpang di rumah salah seorang kerabatnya. Kemudian ia bekerja sebagai juru ketik di kantor pemerintah darurat sambil melanjutkan sekolahnya di sekolah Sawerigading. Tidak puas kerja sebagai juru ketik, ia bekerja sebagai pengawas barang di pelabuhan. Gaji para buruh pengangkut yang tidak layak membuatnya mempelopori demo kenaikan upah yang berhasil dengan gemilang. Thayeb mudapun menjadi pahlawan bagi para buruh.
Tak selang berapa lama di pelabuhan, ia menamatkan SMPnya dan melanjutkan ke jenjang SMA disekolah yang sama. Dikarenakan keadaan darurat maka ia mengajar adik kelas di tingkat SMP di sore hari. Jadi kegiatannya pagi kerja di pelabuhan, sore mengajar, dan malam hari sekolah SMA. Di tengah kesibukan tersebut, gejolak Thayeb muda tak ingin ketinggalan dalam perjuangan revolusi mempertahankan kemerdekaan RI, maka di larut malam seringkali ia tergabung di markas perjuangan Wolter Monginsidi hingga tertangkapnya pimpinan pejuang Makasar itu.
Selepas lulus sekolah Thayeb bekerja di Dasaad Musin Concern, sebuah perusahaan jasa pengiriman barang internasional. Karena kecakapan dan pembawaan disiplinnya yang tinggi, ia cepat mencapai jabatan asisten manajer. Tidak puas di situ, ia berkeinginan untuk merantau ke tanah Jawa. Maka Jakartalah tujuan pengembaraan selanjutnya.
Sebenarnya perusahaan Dasaad sangat berat melepas Thayeb. Namun demikian ia dilepas juga dengan syarat bahwa ia dapat kembali sewaktu-waktu untuk bergabung dengan perusahaan Dasaad dimanapun. Dan karena kepercayaan itu, Thayeb dibekali surat rekomendasi tentang prestasi kerjanya di Dasaad. Bermodal surat itulah sesampainya di Jakarta Thayeb melamar kerja di Fasco, sebuah perusahaan distribusi dan percetakan. Tak berapa lama Thayeb diangkat sebagai kepala cabang di Surabaya.
Berkenaan dengan pembukaan divisi percetakan di kantor Jln. Jayakarta, maka Thayeb ditarik lagi sebagai wakil direkturnya. Namun hanya berselang satu tahun Thayeb Gobel memutuskan untuk keluar dan berniat mendirikan usaha sendiri.
Berbagai usaha ditekuninya, mulai membuat semir sepatu, jualan kelontong, namun semua ternyata mengalami kegagalan. Jalan mulai terbuka pada saat pemerintah membuka peluang penanaman modal asing. Dengan berbekal ide untuk membuat radio transistor, maka ia mendirikan PT Transistor Radio Mfg yang menghasilkan merek radio “Tjawang” karena memang berlokasi di Tjawang.
Pada kesempatan di tengah perkemabngan pabriknya yang pesat, Gobel mendapat kesempatan melanjutkan studi di Jepang. Karena pada waktu itu ia menjabat sebagai Ketua Asosiasi Pengusaha Plastik Indonesia, maka studinya mendalami teknologi perplastikan. Di sisi lain, perkembangan usahanya yang meluas ke produk elektronika yang lain seperti kulkas, kipas angin, televisi, maka peruahaannya dikembangkan menjadi PT Gobel and Cawang Concern.
Paska tumbangnya orde lama, pemerintah membuka peluang masuknya modal asing dengan penetapan UU PMA. Maka kesempatan itu dipergunakan Gobel untuk mengadakan joint venture dengan Matshushita, perusahaan elektronika terbesar di Jepang pada waktu itu. Kerja sama ini bukan sekedar hanya kebetulan saja karena sebelumnya secara pribadi Gobel pernah berkesempatan bertemu secara langsung dengan Kenosuke Matshushita.
Kenosuke, meski terpaut hampir 40 tahun di atas Gobel, namun sangat terkesan dengan semangat nasionalisme Gobel. Gobel bercerita tentang cita-citanya untuk membangun sebuah pabrik elektronika terbesar di Indonesia. Ia berprinsip bahwa dengan membangun usaha, ia dapat membantu warga yang lain mendapatkan kesempatan lapangan kerja dan karir. Di samping itu, produksi yang besar selain untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri juga dapat diekspor yang menghasilkan devisa bagi negara. Selain itu perusahaan yang sehat dan berkembang akan menyumbangkan pajak yang besar bagi pembangunan negara.
Gobelpun bercerita tentang falsafah pohon pisang yang menjadi pedoman hidupnya. Ia mengungkapkan, “Pohon pisang adalah tanaman yang sangat berguna. Segala hal dapat dimanfaatkan. Daunnya dapat digunakan untuk pembungkus makanan. Pelepahnya digunakan untuk nanggap wayang atau memandikan mayat. Jantung atau bunganya dapat disayur, bonggolnya dapat digudeg, dan tentu saja buahnya sangat enak dan bergizi. Pisang dapat mempertahankan hidup meski di tanah tandus. Amat sangat jarang pohon pisang dalam hidupnya tidak menghasilkan buah. Sekali hidup ia akan mempersembahkan kehidupan berguna bagi makhluk lain. Pisang tumbuh dengan bergerombol dalam sebuah rumpun yang rimbun, ini menggambarkan betapa sadar ia akan persatuan dan kesatuan, serta kerja sama dengan sesamanya. Dan satu hal yang paling penting, induk pisang selalu menyiapkan tunas muda di sampingnya sebagai pelanjut cita-citanya.” Demikian cita-cita Gobel.
Kenosuke seorang penganut falsafah air. Air adalah kebutuhan dasar hidup manusia, sehingga air berada dimana-mana. Demikian ia berharap produk usahanya menjadi barang kebutuhan dan dapat membantu kehidupan manusia dimanapun berada. Air megalir dari atas ke bawah, maka ia berharap keberhasilan usahanya dapat dinikmati dari pucuk pimpinan perusahaan hingga para buruh di bawah, bahkan masyarakat secara luas.
Dua orang dengan falsafah hidup yang berbeda namun satu sama lain saling melengkapi inipun kemudian membentuk PT National Gobel, dengan Thayeb Mohammad Gobel sebagai Direktur Utamanya. Gobel Grup kemudian berkembang menjadi PT Gobel Dharma Nusantara, PT Met and Gobel, PT Pabrik Diesel dan Traktor(Paditraktor), PT Arrow – M. Gobel, PT Gobel Dharma Cipta Yasa, PT Philips Gobel dll.
Tidak hanya dikenal sebagai pengusaha, Gobelpun dikenal sebagai politikus ulung. Kenangan kecilnya akan kemasyuran HOS Cokroaminoto, menjadikannya bergabung PSII di tahun 50-an. Bahkan di saat terjadi fusi partai di masa awal orde baru, ia menjabat sebagai Wakil Ketua SI. Iapun aktif sebagai anggota DPR/MPR dari PPP.
Thayeb Mohammad Gobel meninggal pada 21 Juli 1984 karena komplikasi jantung dan ginjal yang dideritanya. Ia dimakamkan di bukit Hobulo, di tengah-tengah nenek moyangnya.[]
pertamaaaaaaaaxxxxxxzzzzzz
kcugaaaaaaaaaaxxxxxzzzz
hmm.. kita harus banyak belajar kepada orang tua dahulu..
Prinsip hirup jaman dulu
Hidup harus ngaji diri nahan nafsu peurih jeung narimo
Salam Sayang Sahabat
bagus juga, filosofi pohon pisang..
“khoirukum anfaukum linaasi” artinya sebaik kalian adalah yang bermanfaat bagi manusia lain
Kalau beliau bisa. Insyallah kita pun bisa. Betul?
Begitulah hendaknya sikap hidup yang mesti dimiliki Janganlah terperanguh hidupnya dengan tempat dan lingkungan. Seorang akan bisa baik dan berbuat kebaikan jika tinggal di tempat dan lingkungan yang baik, namaun juga bisa baik dan berbuat baik sekalipun tinggal di tempat yang buruk dan lingkungan yang buruk.
Salam kenal…
benar-benar kisah yang sangat inspiratif, jiwa enterpreneurship benar-benar tertanam sejak kecil, benar-benar contoh manusia luar biasa yang meski sukses sebagai pengusaha namun tetap berjiwa nasionalis