SOAL SUDUT DAN JARAK PANDANG
Apakah arti sebuah nama? Demikian ungkapan filosof terkenal dari Yunani. Begitupun pada saat seorang sobat blogger memilih nama omah miring untuk alamat blognya. Namun ternyata rambut boleh sama hitam, tetapi pikiran jelaslah tidak seragam. Dan cilokone, di era informasi dan globalisasi ini orang sering mengedepankan kesalahpahaman daripada bertabayun atau mengklarifikasi sesuatu yang tidak dipahaminya.
Ceritanya begini teman. Blogger omahmiring suatu ketika berkesempatan memperkenalkan gubug mayanya kepada beberapa mantan guru SMA-nya. Membaca titel omahmiring, seorang ibu guru langsung mencak-mencak dan menghakimi nama yang dipilih blogger tersebut. “Kok miring? Miring kan elik, digantilah! Pokoke gawe jeneng yo sing apik!”, kritik pedas bu guru tadi. Singkatnya sang guru nesu-nesu, setengah mangkel, sekaligus menyalahkan sang mantan murid. Apesnya sang mantan muridpun hanya cengengas-cengenges karena mungkin serba salah untuk membela diri. Secara psikologis jelas ia di ujung tanduk, dan sarwo pekewuh untuk menjelaskan orang yang kadung emosional.
Inilah barangkali sikap feodalistis orang yang lebih tua terhadap generasi di bawah yang usianya jauh lebih muda. Segala hal harus dinilai dari satu sisi, dari satu sudut dan jarak pandang, yaitu sudut pandang orang tua atau generasi tua. Kebenaran yang harus berlaku adalah kebenaran mereka sendiri. Lebih tidak adil lagi pada saat mereka dengan sikap otoriternya tidak memberikan kesempatan kepada sang muda untuk menjelaskan duduk perkara dan asbabul nuzulnya muncul omahmiring.
Bukankah akan lebih bijak dan mendidik bila sang guru bertanya terlebih dahulu, kenapa dan latar belakang, ataupun maksud kata-kata omahmiring. Adakah itu hanya sebuah istilah tanpa pemaknaan tertentu, sekedar sebagai titen, tetenger atau pembeda dengan rumah blog yang lain? Ternyata memang kenyataan menyatakan bahwa umur seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan kedewasaan dan kebijaksanaan hidup.
Sesungguhnya bila sang guru bersikap bijak dan demokratis, ia akan mendengarkan terlebih dahulu logika yang dipakai sang mantan murid. Dalam proses klarifikasi tersebut memungkinkan terjadinya diskusi dan dialektika. Bila kemudian setelah proses dialektika dilakukan ternyata sudut dan jarak pandang yang diambil sang murid ternyata kabur dari nilai norma ataupun tata nilai, adalah kewajiban sang guru untuk memberikan pencerahan dan jalan lurus.
Bisa jadi istilah omahmiring memang sekedar nama tanpa arti. Mungkin pula omahmiring hanyalah soal relativitas pandangan semu mata fisik. Bukankah bila kita membandingkan rumah yang berada berseberangan 1800 dari posisi kita di permukaan bumi yang berseberangan, secara obyektif kita katakan omah jungkir? Atau bisa jadi ungkapan omahmiring suatu sikap kritis sang murid terhadap keberadaan negeri yang tengah sakit diguncang korupsi, kolusi dan nepotisme ini. Sangat mungkin pula sang murid tengah berkontemplasi mencari makna hidup dan jati dirinya.
Bahkan jangan-jangan omahmiring hanyalah kilatan ide sang murid ketika menjumpai sebuah omah miring milik tetangganya, atau mungkin di pinggir jalan. Dan ketika kesan itu sangat kuat kemudian ia mengabadikannya melalui sebuah nama blog. Intinya akan muncul seribu satu kemungkinan apabila sang guru menerapkan pola pikir positif. Dan melalui pola pikir positif tersebut akan terbangun kesepahaman dan saling pengertian bagi terwujudnya keharmonisan hidup.
Inilah yang saya maksudkan dengan kedewasaan pikir. Tidak tua, tidak yang muda, memiliki kesempatan untuk mendapatkan suatu nilai kebenaran sejati di mata Tuhan. Artinya bahwa Gusti Alloh tidak membedakan umur dan status sosial untuk menitipkan setitik embun ilmu pengetahuan-Nya. Siapapun yang mau belajar dengan tekun, ia akan dirahmati ilmu pengetahuan sekalipun masih berusia muda.
Jaman kemajuan memang telah dilengkapi dengan seperangkat ilmu pengetahuan dan teknologi. Orang yang menguasai kedua hal tersebut dikatakan sebagai orang modern, orang gaul. Seakan dua makhluk tersebut menjadi satu-satunya ukuran mutlak standar tujuan hidup. Padahal di sisi lain orang hidup tidak hanya butuh alat dan prasarana fisik untuk mencapai kebahagiaan. Masih banyak aspek lain untuk menjadikan manusia menjadi manusia yang sejati.
Jaman boleh semakin maju, teknologi memang harus menjadi semakin canggih. Namun kenapa akhlak dan moralitas menjadi mundur. Inikah suatu ongkos budaya dan sosial yang harus dibayar dengan sangat mahal?
Kepandaian rata-rata manusia modern semakin tinggi. Tapi anehnya kenapa sikap buruk sangka kepada orang lain yang menjadi pengamalan hidupnya? Kenapa begitu mendengar kata omahmiring sang ibu guru langsung berpikir miring pula? Kenapa orang lain selalu kita persalahkan dan diri kita harus selalu diperbenarkan? Kenapa senantiasa titik perbedaan yang selalu dibesar-besarkan bila simpul persamaan kita masih sangat banyak?
Bila demikian halnya pilihan sikap yang kita ambil, maka yang akan selalu terjadi adalah kesalah-pahaman yang kemudian bisa berkembang menjadi pertengkaran dan rasa kebencian. Hidup bukanlah untuk menang-menangan sendiri. Hidup bersama harus dijaga. Hidup bersama haruslah dibela. Hidup untuk saling memahami satu sama lain. Hidup untuk saling bertoleransi dan bertenggang rasa. Hidup adalah untuk menghidupi kehidupan.
Hakikat hidup adalah pembelajaran sejati, sehingga Tuhan mewajibkan hamba-Nya untuk menuntuk ilmu dari buaian hingga liang lahat. Ilal lahdi minnal mahdi. Maka jangan takut untuk dikatakan salah di hadapan orang lain, karena sejatinya kebenaran adalah di mata Tuhan.
Ndalem Peniten, 26 Januari 2010

ndengaren pertamax……
wah-wah bener omahe wis miring….
piye carane ngrehap omahe masyarakat nuswantoro kang wus miring iki mas…???
Kang kemarin, aku ke stasiun radio di OFAradio terus diminta proposale terus aku pulang ga bisa nglobi tanpa proposal ???
Mohon bantuannya, kemarin aku udah sms Kang nahdi ??
Ga tau meh dikirim kapan ???
Si empu omahmiring jadim pangkopdar pendekar tidar ??
Bala tidar sue sue jadi miring rak ya ???
wis miiriing mugo2 ora ambruk
Hlha saiki sopo jal sing pancen bener-bener ngadeg? kudu ono acuan to. Koyo sebuah gerakan yo harus ada acuan (relativitas). Semua ki relatif sing pasti yo mung siji, Gusti Allah…
Matursuwun mas….
keycodeQ: monyet (nek ra kleru iki wis bola-bali).
susah juga mengukur kebijaksanaan seseorang..
yo dihadapi dengan lapang dada aja
kan nama omahmiring emang sudah sukses di kancah dunia blog
aku tebak bu guru itu udah sepuh..
kaya ne ora mung jenenge sing omahmiring, tapi sing duwe blog mancen wis miring ket biyen
pisss ndul….
hihihihi…aku lagi mbayangke mimik mukane mas Nahdi menghadapi mantannya..eh mantan gurune…
omahe miring gak popo asal ojo uteke lang sing due blog ojo miring miring mlakune
Mas bar nulis kiye…. hamemayu hayuning bawana.
Wah keycodene AYAM (maneh)
konon, orang mengkritik untuk menutupi dirinya yang ndak tahu.
sesuk ganti omah gedongan wae mas
Gan, kmaren ane dapet invitation dari temen facebook ane, isinya begini:
“Apa jadinya bila Facebook, Twitter, Yelp!, dan E-bay dijadikan satu? Penasaran? Log-in sekarang dan ajak teman-teman km ke http://www.desavirtual.com
Dijamin seru! yang paling banyak invite temen, bakal dapet token gratis untuk download lagu, games, dan aplikasi keren lainnya..
Salam,
Desa Virtual”
pas ane buka. euh eddannn.. ternyata ini situs jejaring baru, dan hebatnya ini buatan INDONESIA . bukan itu lagi hebatnya, dari segi grafisnya aja udah wah bgt. sesuai sama namanya DESA VIRTUAL designnya dibikin kyk desa bgt, cuma desa yg keren. kayak ada pulau diatas laut trus atasnya banyak bangunan.
sampe disitu, akhirnya ane tertarik buat sign up. triiinnnggg. stelah ane liat konfirmasi di email udah langsung login ke desavirtual itu. beuhhhh lagi2 ane sbg user di saji-in tampilan grafis yg waw lagi…
trus ane liat lagi kebawahh.. udah banyak yg nge-post status kyk di twitter atau facebook gtu, hayahhhh.. ini apaan sih? awalnya sih bingung. untungnya ada “how to use” nya.
“How to use desaVIRTUAL
-You can click the image above (Example: if you click “Fashion Village” above, you will go to Fashion Village)
-Post your stream below
-Rate the places in desaVIRTUAL
-Update your profile in Option
-Add friends by clicking the nickname on the stream post or search the name
-Mention your friend using “@(friend_nickname)”
-Direct message is now live!! use “dfriend_nickname) (message)” in comment box”
ternyata gambar header diatas itu adalah menu. wihhh.. *semakin kagum sama konsepnya*. klik ah “Fashion Village” .. masuk page baru. dan ternyata ada pulau lagi diatas laut, diatas pulau itu ada 5 bangunan yg masih kosong. *taunya dari tulisan “for rent”* … oh mungkin ini buat di sewain ke butik2 kali yee , atau tko2 baju gtu..
makin ke dalem grafisnya makin edan gaaaaannnnn ..
ternyata ni website masih tampilan “BETA” atau percobaan. makanya masih kosong. blom ada toko onlinenya yg dimaksud. stelah baca dari comment user laen. ternyata ini bakalan ada toko2 nya mulai februari.
ah ribet dah ngejelasinnya. klo penasaran buka aja linknya
http://www.desavirtual.com
rugi aja kyknya klo gak ikutan join. udah lumayan banyak user nih site gan.
hahahah ane mo DV-an dlu ahhhh have a nice try guys….
@muhlisin:
memang susah sih kalau kemiringannya sudah berdampak sistemik!
@ikhwan:
yo sakmadya saja nglobinya, kadang niat baik nggak mesti dtanggapi baik juga to?
yang sabar saja, cari lain kan masih ada…
@ciwir:
untuk nggak keterjang puting beliung juga!
@nahdhi
betul dab, nggak usah dimakkan hati…namanya juga orang tua, kan tugas yang muda yang negmong!
@annosmile:
sepuh sih sepuh, tapi ya belum sepuh amat kok!
@ardyan:
nak iki lebih jujur!
@oelil:
ya kayak gitu dech….cengengas-cengengesan tok, kehabisan kata-kata!
@suwung:
betul banget mas….
yang terpenting miring atau nggaknya kan di mata Tuham!
@bangsari:
ituah kebiasaan bangsa ini, niatnya kurang tulus sih…
@ikhsan:
nah siap ngirimi semen po kang?
Padha karo blogku mas. Halaman Putih kok ora putih, malah ijo ki.
@halaman putih:
lha kali kudu diganti halaman ijo mas, soale kan sing lagi ngetren “bajol ijo”….
beruntung sekali ni saya ketempu para pendekar tidar. bisa belajar banyak. ga cuma ngeblog, tapi kawruhnya di dalam blog itu sangat bermakna
. lho, kok ada “kambing” nih. mesti nraktir sate kambing dulu baru bisa komen ya?
@bondan:
moga bermanfaat luas dab!
salam kenal…^_6
Kunjungi blog saya
Menurut Guru saya, kebenaran berdasarkan sumbernya itu ada dua macam, yaitu kebenaran hakiki dan kebenaran konseptual.
Kebenaran hakiki memiliki ciri-ciri : bersumber dari Sang Pencipta, bersifat universal dan mengikuti hukum sebab akibat ( dalam agama kami, Islam, disebut Sunatullah). Sedangkan kebenaran konseptual memiliki ciri-ciri: berdasarkan persetujuan umum, tidak selalu harus mengikuti kaiadah logika dan rasio, bersifat lokal (tergantung kepada sudut pandang), dan hukum sebab akibat lebih cenderung kepada konsekuensi sosial-irasional.
Kebenaran hakiki misalnya kebenaran yang menyatakan “Bahwa mencuri itu salah ” merupakan kebenaran yan bersifat universal. Di negara manapun (baik yang agamis, sekuler maupun komunis)menilai bahwa mencuri adalah tindakan yang salah dan harus dihukum. Karena bagaimanapun juga, dengan keyakinan apapun, yang namanya mencuri adalah tindakan merusak kemaslahatan umum (hukum sunatullah/ sebab akibat).
Kebenaran konseptual misalnya, “Hari Jum’at siswa putri harus memakai jilbab”. Pernyataan tersebut merupakan sebuah kebenaran jika dinilai dari sudut pandang Sekolah Islam, sehingga bila ada siswa yang tidak berjilbab akan dikenai sanksi. Tetapi akan lain halnya jika dinilai dari sudut pandang sekolah non muslim, Pernyataan tersebut bukanlah kebenaran. Di sekolah non muslim tidak ada sanksi apapun jika ada siswa putri yang tidak berjilbab, bahkan sebaliknya mungkin saja jika ada siswa putri berjilbab di sekolah non muslim akan dikenai sanksi.
Permasalahannya adalah: “Manakah yang lebih benar?” Peraturan yang ada di sekolah muslim ataukah peraturan yang ada di sekolah non muslim?”.
Pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab dengan “benar atau salah”, “ya ataupun tidak”, karena keputusan mengenai benar dan salah mengenai pertanyaan konseptual tersebut terletak pada konsepsi lingkungan.
Senada dengan “tragedi omah miring”, maka saya anggap bahwa perselisihan antara guru dan mantan muridnya tersebut hanyalah memperebutkan sebuah “kebenaran konseptual”.
Omah miring dinilai buruk dari sudut pandang sang guru yang terlanjur terjebak pada pandangan umum di mana ia berada, “Bahwa omah yang baik itu harus tegak.”
Sedangkan sang mantan murid menilai bahwa, mau tegak, miring bahkan jungkir balik pun hanyalah sebuah hermeneutika. Tegak tidak lebih baik dari miring, juga tidak lebih baik dari jungkir balik. Buktinya ? …. “Menara Pizza, tidak akan terkenal di seantero dunia kalau ia tidak miring,” pikir sang mantan murid.
Sang murid mungkin juga lebih jauh berpikir, “Kalau poros bumi tidak miring, pastilah tidak akan ada pergantian musim, dan manusia tidak akan pernah hidup di muka bumi. Mau makan apa ?”
“Jadi miring adalah kehidupan !” Pikir sang mantan murid
“Lha itu,…. seandainya Monas berdiri miring apa nggak patah ?” Bantah pikiran sang guru
“Kalau Monasnya tidak berdiri tegak apa nggak malu yang namanya Bung Karno? Di mana nasionalisme anak muda jaman sekarang ?” Protes pikirannya sang guru.
Sang guru lebih keras lagi membantah teorinya si mantan murinnya, “Oke lah kalau miring adalah kehidupan. Akan tetapi jika arah perputaran bumi tidak tegak lurus dengan porosnya bukankah bumi ini akan menabrak ke mana-mana, dan kehancuranlah yang terjadi ?”
Perdebatan pun terus berlanjut. Dan …. Kang Suko yang mendengarkan perdebatan itupun jadi pusing tujuh keliling