Bicara soal sekolah dan kuliah di jaman reformasi ini memang kian runyam. Mulai dari biaya masuk, uang gedung, sumbangan, praktikum, hingga buku kok kian mahal ya? Padahal jargon pemerintah kan untuk tingkat pendidikan dasar sembilan tahun gratis…tis…tis! Adapun untuk tingkat lanjutan, bahkan kuliah di perguruan tinggi ada sistem subsidi silang dan lain sebagainya yang intinya bahwa setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan formal.
Semua kenyamanan dan kemewahan pendidikan tersebut memang hanya teoritis di jagad kahyangan. Bila sudah bicara di tingkat pelaksanaan lapangan, ternyata semua itu hanya retorika belaka! Belum lagi bicara tentang kurikulum, ini anak bangsa sebenarnya mau dididik seperti apa?
Dunia memang telah bergerak menelusuri jalan globalisasi. Segala hal mengarah kepada penyeragaman pola pikir, sikap dan tindakan. Penyeragaman itupun tak tanggung-tanggung diiklankan setiap hari ke rumah dan bilik kita semua. Modernisasi menggiring manusia untuk bersikap praktis dan pragmatis dalam menajalani hidup. Dan ukuran dari itu semua adalah pola hidup konsumerisme dan materialistik, segala hal dinilai sebatas materi. Uang, gelar, pangkat dan jabatan adalah ukuran keberhasilan. Tidak ada lagi standar nilai yang lebih ruhaniah dan transeden.
Terjadinya nihilisasi tata norma dan nilai hidup menjadikan manusia menghalalkan segala cara untuk menggapai indikator manusia modern tersebut di atas. Akibatnya rusaklah tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Yang lebih memprihatikan lagi, hal yang sama juga telah merambah dunia pendidikan kita.
Pendidikan tidak lagi digunakan sebagai metode untuk memanusiakan manusia. Tujuan pendidikan adalah menjadikan siswa atau mahasiswa menjadi pintar. Manusia berbudi, jujur, bertaqwa, dan berakhlak tinggi tidak lagi laku di jaman modern. Maka jangan heran bila siswa kemudian dipaksa untuk menjaladi “romusha” pendidikan. Siswa mati-matian belajar dari pagi hingga petang, bahkan seringkali sampai malam hari.
Kisah ini bukanlah klise semata. Adalah Wiwid, anak Pak Wardi tetangga kami yang duduk di bangku kelas III SMA, tengah menjalani hal tersebut demi menggapai impian masa depan yang cemerlang. Pagi hari ia berangkat sekolah, sore hingga malam jam 21.00 menjalani les privat. Hidup baginya adalah belajar menggeluti buku pelajaran dan mendengarkan ajaran guru atau tentor. Hal ini tak lepas dari arahan sang ayah yang terobsesi anaknya pintar, bertitel, dan kelak dapat menggapai pekerjaan yang layak.
Pak Wardi sendiri adalah seorang karyawan di sebuah pabrik di Kawasan Cilegon Banten. Pengalaman hidupnya memaksa ia tidak dapat mengenyam pendidikan hingga tuntas. Ia hanya selesai sampai STM, maka dari itu ia menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Terlebih ia menyadari tantangan jaman yang semakin keras menghadang. Sampai di sini sebenarnya tidak ada yang salah, bahkan tekad sang ayah yang memprioritaskan pendidikan anaknya patut diacungi jempol. Hanya saja ketika segalanya telah melampaui batas kewajaran alias overdosis, segalanya menjadi patut dipertanyakan.
Demi kelanjutan kuliah Wiwid, Pak Wardi berusaha menggali informasi berbagai pihak mengenai peluang tempat kuliah yang terbaik. Tak segan-segan ia berkenalan dengan dosen dari kampus tertentu, dengan tentor bimbel, ataupun alumni suatu perguruan tinggi. Bahkan pegawai ataupun pejabat tertentu di suatu kantor ditanyainya pula mengenai peluang kerja suatu jurusan studi. Intinya ia ingin mempersiapkan segalanya buat anak tercinta.
Sebenarnya sang ayah menginginkan Wiwid untuk melanjutkan kuliah pada suatu kampus kedinasan agar nantinya saat lulus bisa langsung mendapatkan pekerjaan. Namun Wiwidnya sendiri ingin belajar di jurusan MIPA Kimia atau Farmasi. Inilah yang seringkali menimbulkan benturan pendapat.
Wiwid, menurut penuturan ayahnya, tergolong siswa yang pandai di kelasnya. Ia sempat mendaftar program PMDK pada suatu kampus di Porwokerto, bahkan katanyapun sudah diterima. Namun ada keraguan dari kedua orang tua untuk melepas. Mereka tetap kukuh anaknya mendaftar saja ke kampus Depok. Akhirnya diambil jalan tengah, mendaftar di kedua tempat dengan Porwokerto sebagai cadangan. Masalahnya uang untuk mendaftar tidak ada, jadilah Pak Wardi mbujuk-mbujuk para tetangga untuk meminjaminya uang.
Cita-cita sang ayah bila Wiwid telah kuliah, segala keperluannya akan dilengkapi. Laptop adalah sarana yang akan dibelikannya pertama kali. Ia menilai bahwa mahasiswa sekarang harus mempunyai laptop untuk menunjang kuliahnya. Maka ia sengaja mensurvey ke Mangga Dua dan mendapatkan merk tertentu dengan harga lima jutaan dan bisa diangsur 400 ribu per bulan selama 9 bulan.
Wah saya malah jadi nggumun melihat obsesi sang ayah. Bagaimana tidak, seukuran karyawan pabrik sanggup mengkredit laptop segala macam. Apakah hal itu memang menjadi kebutuhan ataukah keinginan tinggi karena pengaruh lingkungan dan doktrin modernisasi, saya malah jadi bingung. Wong kok mekso banget to?
Di sisi lain menyadari gajinya sebagai karyawan pabrik sangat minim karena memang Wiwid masih memiliki dua adik, Pak Wardi menggariskan bahwa paling tidak di semester III kelak Wiwid harus melakukan kerja sampingan, ia harus sudah mentas membiayai kuliahnya sendiri. Ini berdasarkan pengalaman para alumni yang memberikan informasi.
Bukankah pembentukan manusia yang seutuhnya itu menjadi tujuan pendidikan manusia? Maka semestinya seorang anak ditumbuhkembangkan dalam keselarasan lingkungan. Anak tidaklah hanya butuh menjadi pintar. Lebih dari itu anak adalah calon manusia yang tengah berproses untuk menjadi manusia. Bagaimana jadinya bila ia semenjak kecil sudah dipisahkan dari realitas hidup dan lingkungan sosialnya? Bila kepintaran saja yang menjadi tujuan pendidikan, akankah produk pendidikan hanya menjadi robot bernyawa semata?
Manusia adalah makhluk sosial yang butuh bersosialisasi dengan manusia lain dan lingkungannya. Oleh sebab itu di samping pendidikan untuk mencerdaskan otak, manusia juga memerlukan pendidikan rasa. Hati nurani harus senantiasa diasah untuk peka terhadap lingkungan. Inilah sebenarnya kunci dari moralitas seseorang untuk disebut manusia.
Jaman memang jaman edan! Inikah yang bernama obesi manusia modern? Ataukah ini konsekuensi jaman modern? Kesuksesan dinilai dari titel yang disandang, pangkat yang diraih dan harta yang dikumpulkan manusia. Manusia tidak lagi dinilai dari sumbangsih dan kemanfaatan yang diberikannya kepada lingkungan. Manusia sudah semakin tidak manusiawi lagi. Bila sudah demikian, masihkah kita memiliki nurani untuk disebut manusia?
Kampung Kosong, 20 Januari 2010

WOW PERTAMAX…
jawabannya ada pada diri kita masing2
salam
salut sama pak wardi untuk semangadnya menyekolahkan wiwid…
Ketigax
Adan Obsesi pasti ada jalan kang
lha itu cari pendidikan hatyi dimana ya?
itula repotnya kalau mutu pendidikan hanya diukur berdasarkan angka dan nilai akademik semata, mas nanang. saya jadi makin heran juga, kenapa para petinggi pendidikan kita tdk segera melakukan perubahan model pendidikan gaya bank semacam itu.
jaman wes edan po yo kang…lha nek ra edan dewe, dikiro wong edan karo liyane….
kenapa ya, rasanya sekolah cuma buat yang punya duit aja?
padahal yang punya duit belum tentu bisa diandalkan kelak….
Ya itu masalah yang akan dihadapi manusia ketika manusia berpatok kepada manusia. Idelnya kan manusia itu berpatok pada Tuhannya. Masalahnya tidak semua orang memiliki idealisme seperti itu, dan parahnya lagi ketika sudah memiliki idealisme seperti itu pun kadang tidak mampu menjaga agar tetap pada idealitas nya.
Ning yo monggo kerso menungso meh ngopo, wong wis dikandhani : “karepmu kowe meh nglakoni opo, ning opo sing dilakoni kuwi ono pertanggungjawabane”
Gerek meh mikirke pertanggungjawabane pora.
KeyCode: monyet (maneh)
Saya sendiri heran, arah dunia pendidikan sekarang ini cenderung untuk mengejar nilai dan angka2 akademik saja. Padahal untuk menjadi manusia yang berkualitas tidak cukup hanya dengan modal nilai, tapi juga kepribadian, budi pekerti dan tanggung jawab yang nyata.
salah kaprah pendidikan juga ada peran orang tua, anaknya dipaksa punya ranking. pertanyaan selalu dapet ranking berapa? jadilah anak skrg belajar mati2an buat ngejar nilai, bukan pengertian/pemahaman.
opo becike mlebu akmil wae mas
@ofaragilboy:
Makanya karena keputusan di tangan masing-masing, harus dilandasi pemahaman yang benar dan pas…
@Ikhsan:
soal semangat memang harus diacungi jempol ia!
@gus ikhwan:
moga saja jalannya yang lurus dan benar, bukan jalan yang sesat!
@suwung:
itulah tanggung jawab keluarga, masyarakat dll
@sawali:
pendidikan memang tidak lagi mendidik manusia, ya to?
@oelil:
edan nggak edan terkadang sangat relatif to mas?
@ardyan:
itulah ciri jaman modern, semua diukur dengan uang!
@nahdhi:
memang nggak gampang ya hidup di jaman yang serba canggih ini?
@halaman putih:
akur mas dengan pendapat sampeyan!
@hedi:
memang orang tuapun mesti harus selalu belajar tentang hidup ya mas…
@ciwir:
barangkali patut dicoba kang!
saalamm kenal…
Terkadang kondisi real sesuatu memang tak sesuai harapan kita.. Jd jangan pernah putus asa..
kunjungi juga blog saya di ichwana.blogdetik.com dan di blog.unand.ac.id/ichwana
Hm… dah tau cara mendapatkan uang gratis melalui internet disini caranya
terima kasih….
jempol u? si bapak…smagadh nya tinggi u/ nyekolahin anaknya..
Kunjungi blog saya
universitas menawarkan iming2 yang sangat mengiming2i pada awal2 menjaring mahasiswa baru
tapi di akhir2 kuliah justru menjerat mahasiswa yang pengen lulus cepet, dengan birokrasi yang mirip pemrograman robot dengan helem pengendalian pemikiran..
mayoritas, kalau tidak bisa dibilang semua.
gak swasta, gak negeri.
(mm, tapi mending yg swasta ding, tidak gila hormat banget2)
THX that’s a great asnewr!