KOPDAR BALA TIDAR DI TANGERANG
Dinamika dunia memang tidak selamanya mampu menghadirkan lapangan pekerjaan di kampung halaman. Hal ini menyebabkan orang merantau ke tempat yang jauh demi menyambung hidup. Mburu pangupo jiwo kata orang Jawa.
Merantau ke ibukota tidaklah begitu saja melunturkan rasa cinta terhadap kampung halaman. Desa tercinta dimana ayah, bunda dan handai taulan berada. Di sana kita dibesarkan dari kandungan tanah dan air yang menghampar ijo royo-royo. Ketentraman dan kedamaian kehidupan sebuah dusun seringkali membuat perasaan nglangut seorang perantau.
Kota besar memang seringkali tidak seramah dusun di tepi gunung. Persaingan hidup berlangsung keras dan sangat tidak ngewongke menungso. Hidup sudah menjadi sangat praktis dan pragmatis. Manusia hanya diukur dari harta dan pangkat yang disandangnya. Segalanya menjadi sangat materialistik. Tiada lagi keramahan yang tulus. Tak ada lagi rasa kebersamaan dan kegotong-royongan. Setiap hal hanya bergantung dari uang.
Tidaklah semua perantau mendapatkan nasib yang baik. Sekian banyak dari perantau hanyalah kaum pinggiran yang ngasak slilitnya orang besar. Kaum pinggiran ini seringkali kemudian saling bergandengan tangan dengan sesamanya untuk sedikit meringankan beban sosiologi. Maka berbagai komunitaspun muncul mewadahi rasa persudaraan, senasib, sepenanggungan yang masih tersisa.
Salah satu bentuk komunitas yang dimaksud di atas adalah komunitas blogger. Meskipun Pendekar Tidar bernaung di padhepokan Bumi Tidar, namun tidak sedikit diantara wirabloggernya berada di tanah perantauan. Bahkan kisah awal terlahirnya gagasan pembentukan komunitas berasal dari para blogger di rantau nan jauh di mato. Sebutlah sederetan nama seperti Mas Eko Suciadi, Kang Ikhsan, termasuk Mas Oelil.
Khusus blogger yang terakhir disebutkan namanya di atas, terdorong untuk meramaikan perbloggeran Bumi Tidar atas ajakan Aris Oglek. Berawal dari perkenalan di dunia maya, maka bergabunglah ia dengan Pendekar Tidar. Mas Oelil aslinya berasal dari wilayah Dukun di kaki Merapi. Semenjak 13 tahun yang lalu ia mengadu nasib di Tanah Banten Tangerang.
Berawal dari rasa senasib seperantauan, dan pastinya perasaan sesama asal Magelang, kamipun kemudian dipersaudarakan oleh internet. Kontak per kontakpun kemudian dilakukan, meski sekedar saling bertegur sapa di masing-masing blog. Rasa penasaran kemudian mendorong kami untuk kangsenan. Setelah beberapa momentum terlewat karena belum sinkron, akhirnya Tuhan metakdirkan kami untuk saling bertatap muka.
Sedari pagi memang beberapa prenjak di Ndalem Kampung Kosong ngganter ngocehnya, sambil berlompatan lincah di pohon blimbing depan rumah. Akhirnya sampailah kabar bahwa Mas Oelil benar-benar akan rawuh. Dan memang selepas dzuhur, bersama dengan Aditya putra semata wayangnya, benar-benar tergelar kopdar Bala Tidar di tanah rantau.
Kisahpun mengalir mbanyu mili seakan kami telah saling kenal lama. Ini barangkali cauvinisme orang Jawa yang kangen sedulur sinara wedinya. Obrolan tentang kampung halaman kami yang bersebelahan kecamatan tentu saja menjadi menu pertama pembicaraan. Tema berlanjut mengenai suka duka dan rekosonya di perantauan, kemudian masuk mengenai oleh-oleh cerita kopdarannya Bala Tidar. Intinya pertemuan kami akan berlanjut pada masa-masa yang akan datang. Dalam hati kami masing-masing tentu saling berikrar untuk mengekalkan tali silaturahmi yang telah terjalin ini.
Siapa lagi blogger asal Bumi Tidar yang mau bergabung di tanah rantau?
Kampung Kosong, 1 Februari 2010

ayo siapa lagi nyusul…
sejauh-jauhnya burung terbang, akhirnya kembali ke sangkar juga. gpp, komunitas blogger dipantau dari perantauan. yang penting silaturahmi jalan terus.
bisa di jadikan komunitas blogger pendekar tidar regional mana gitu nich om
wah, kayaknya seru banget ya mas. memang yg namanya orang perantauan kalo ketemu sesama perantau dr daerah yg sama itu rasany luar biasa. udh sama kyk ketemu saudara sendiri…
Komunitas Lokal Rasa Nasional kuwi kang…..
Prinsip papat keblat lima panser bener2 terjadi. meh mlaku nang ndi wae mesti ketemu panser tidar. Hehehehe….
lah…aku kok ra di jak
Persaudaraan akan terasa lebih erat saat kita berada di negeri orang.
@novi:
makin banyak kan makin rame sumringah…
@sawali:
nggih pak, jauh di mata dekat di hati!
@dafhy:
boleh juga nich soal usul regional
@yudha:
sama-sama kesepiannya….
@nahdhi:
wah duweh sobone ngarep Akmil njur gowo-gowo panser barang!
@ikhsan:
lha ini hanya acara dadakan je kang!
@halaman putih:
bener mas…moga makin banyak sedulur yo
wow kweren
tetep eksis blognya
dari sini saya baru tau sosok mas oelil..
kpdare terus nih kayaknya
Walah..raiku kok di upload to kang…
usul mas Dafhy ttg Bala Tidar Regional boleh juga kang..
@sewa mobil:
alhamdulillah….masih smangat ngeblog cak!
@teamtouring:
iya sama mas….
jebule priyayine mriyayeni tenan je!
@oelil:
biar saling kenal tur tambah raket silaturahmine mas….
Bala Tidar regional, hayooo siap ikut!
Mas aku juga orang rantau di Propinsi Bengkulu tepatnya dikota Curup. Mas apa aku bisa bergabung di komplek Blogernya?
Tq sebelum dan sesudahnya
@mas edy:
dengan senang hati mas…
monggo gabung, menambah persaudaraan….
wah.. ngiri saya.. mau dong dikabar2in…
@ana:
hayoooo aja, mbake dimana lokasinya?