Nyata Terjadi
Jogjawarta, SabdaKawula Februari 4th, 2010HIDUP SETELAH MATI
DAN
MATI SETELAH HIDUP
Judul di atas bukanlah metafora atau kata kiasan. Alkisah tersebutlah nama Bang Napi. Napi di sini tentu saja berbeda makna dengan status Artalita yang sedang heboh diperbincangkan terkait penjara “bintang lima” yang dihuninya. Bang Napi bernama lengkap Hanafi(sudah pasti bukan pula sesepuh Bala Tidar). Ia adalah putra Betawi asli yang terpinggirkan oleh modernisasi kota hingga ke Bojong Gede di pinggiran Bogor.
Sehari-hari Bang Napi bekerja sebagai “dirjen” kicthen cabinet di sebuah pabrik pemrentah. Kesibukan Bang Napi adalah mengurus kerumah-tanggaan Ndoro Tuan Besar pimpinan pabrik. Kewajiban mulai dari nggodhok wedang, menyiapkan jamuan rapat, hingga menyuguhkan hidangan kepada para tamu Ndoro Tuan dijalaninya dengan penuh kesungguhan. Intinya kerja Bang Napi tidak pernah mengecewakan para Ndoro di pabriknya. Hal inilah yang membuat sosok setengah baya Bang Napi disukai banyak punggawa pabrik.
Suatu siang di tengah kesibukan kerja, Bang Napi menerima telepon darurat dari keluarganya. Telepon tersebut mengabarkan bahwa Kong Naim, babenya yang sudah tua renta, meninggal dunia. Dengan bergegas Bang Napi lapor mandornya untuk segera berpamit pulang.
Berita duka kematian Kong Naim segera diumumkan ke segenap penjuru pabrik. Tak kurang dari satu jam seluruh abdi dalem, para punggawa, mantri dalem, para Ndoro Tuan dan Ndoro Besarpun mengetahuinya. Sebagai wujud belasungkawa, segenap keluarga besar pabrikpun menghimpun dana bantuan seadanya. Demikian halnya di halaman pabrik telah disiapkan dua bus untuk mengangkut rombongan pentakziah. Semua orang seakan terlarut dalam kedukaan yang mendalam. Bang Napi memang sosok bersahaja yang semanak bergaul hingga disukai semua orang.
Singkat cerita, bergodo pasukan pentakziah telah siap sedia untuk diberangkatkan. Uang derma hasil saweranpun sudah terlipat rapi dalam amplop tertutup dan dipegang oleh salah satu Biyung Emban. Intinya mereka adalah perwakilan pabrik yang akan menyaksikan secara langsung detik-detik prosesi pemakaman Kong Naim. Kang Mono pemegang kemudi segera memberi aba-aba dengan lengkingan klaksonnya bahwa bus akan segera budhal. Perlahan bus bergerak melintasi lapangan tengah pabrik.
Belum sempat bus meninggalkan gerbang muka, seorang Biyung Emban berteriak lantang, “Stooooop…….hoooop……hoooo!” Semua rombongan terhenyak, adakah yang tertinggal?
Kang Mono bertanya, “Ada apa to Yu? Ada yang ketinggalan po?”
Mbakyu Emban yang dimaksud dengan segera menjawab, “ Bukan! Ini bapaknya Bang Napi hidup lagi! Kong Naim tidak jadi mati! “
Sontak semua rombongan yang mendengar pernyataan itu kaget dan melotot tidak percaya. Suasanapun menjadi gaduh, terdengar suara gemrengeng tawon bagaikan di pasar anyar. “Wong mati urip meneh? Nggak jadi meninggal? Piye to, yang bener yang mana? Siapa yang bilang? Dan lain-lain tanggapan yang bermacam-macam.
“Coba Yu mbok dijelaskan, siapa yang ngabari orang mati bisa hidup lagi?, tanya Mama Ella mendesak Mbakyu Biyung Emban.
“Ini barusan Bang Napi telpon aku, katanya babenya hidup lagi. Tadi memang meninggal, tapi sekarang bangun lagi!”, sahut Biyung Emban.
“Lha terus kepiye ini? Kita tetep jadi melayat tidak nih?”, sahut beberapa orang hampir bersamaan.
Kang Mono nimbrung, “Ya kalo kabarnya sudah jelas si mayit nggak jadi mati ya sudah, kita nggak perlu berangkat melayat to!.”
Akhirnya rombongan pelayat itupun gagal melayat, dan memang benar kepastian kabar selanjutnya menyatakan bahwa Kong Naim masih berumur panjang. Engkong sepuh ini belum dikersake oleh Gusti Alloh. Menurut keterangan Pak Dokter, ia hanya mengalami mati suri. Meskipun sudah sempat dimandikan namun pada saat dikafani Engkong terbangun dan meronta-ronta. Hihhhh…..untung belum sempat ditimbun di liang lahat!
Semingguan lebih kabar-kabari di sekitar pabrik masih heboh mengisahkan kejadian mati dan hidupnya Kong Naim. Selepas hidup setelah mati, konon si engkong beraktivitas seperti biasa. Bebersih kebun, melihara ayam, dan tak lupa bersembahyang di langgar sudut kampung. Semua berjalan kembali seperti semula dan menjadi wajar kembali. Hingga berselang sepuluh hari kemudian…….
Di awal jam kerja, satpam Jogoboyo pontang-panting menyebarkan warta, “Babenya Bang Napi mati lagi…..mati lagi!”
Seisi pabrik kembali geger bercampur tanda tanya besar. Benarkah Kong Naim mati lagi? Apakah ini serius, atau apa lagi to? Akhirnya setelah diklarifikasi kepada pihak keluarga duka, memang membenarkan bahwa Kong Naim telah meninggal lagi menjelang Subuh tadi.
Duka, tetapi setengah duka. Bela sungkawa namun bercampur tanda tanya. Itulah yang terbayang di benak banyak penghuni pabrik yang akan ikut melayat. Dan tanda tanya itu baru terjawab pada saat para pentakziah menyolatkan kemudian memakamkan jenazah almarhum di pemakaman umum. Kali ini para hadirin baru yakin bahwa Kong Naim memang sudah dikersake. Takdir Yang Kuasa telah ditetapkan atas hamba-Nya. Semoga arwahmu damai di sisi-Nya Kong, selamat jalan!
Inilah kisah hidup setelah mati, dan mati setelah hidup untuk kita ambil bersama hikmahnya.
Kampung Kosong, 14 Januari 2010












Februari 4th, 2010 at 11:35 am
emang sudah banyak kejadian seperti itu..
kita harus tau kalo Tuhan Maha Kuasa
Februari 4th, 2010 at 12:40 pm
Keduax????
Kang proposalnya lagi dipelajari tunngu waktunya ntar sore gus kabari
Februari 4th, 2010 at 2:02 pm
tonggoku neng solo pernah ada yang seperti itu kang.
bahkan wis sempat datang pelayat banyak, upacara pemakaman sudah dilakukan, sewaktu diangkat dari rumah ke makam kok ditengah jalan petinya bergerak2 dan dibukak ternyata sing mati urip maneh.
malah sambil cengar-cengir takon, aku arep mbok gawa nengdi ki? kok didandani koyok ngene…???
Setelah hampir 6 bulan dari kebangkitan itu beliau memang baru benar2 meninggal.
Februari 4th, 2010 at 4:07 pm
kesemptana ke2 kah itu?
Februari 4th, 2010 at 5:32 pm
lha wong nek saiki sing urip kuwi yo akeh sing asline wis mati kok kang….
Februari 5th, 2010 at 4:32 pm
rahasia ilahi
Februari 6th, 2010 at 8:47 am
rahasia ilahi..
memang banyak kejadian seperti itu, semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua agar lebih memperkuat iman dan taqwa
Februari 6th, 2010 at 1:50 pm
menambah iman dan takwa kita
amin
Februari 6th, 2010 at 6:04 pm
wah kisah nyata tho tibake
Februari 8th, 2010 at 7:05 pm
semua kita menuju kesana bos
semoga arwahnya diterima disisi ALLAH SWT ya bos
Februari 9th, 2010 at 10:28 pm
Kisah nyata yg bikin kita kudu siap kapan wae di kersake Gusti dan mempersiapkannya to
Februari 10th, 2010 at 9:44 am
@wahyoe:
Makane manusia nggak boleh sok kuasa yo, mau menyamai-Nya po?
@gus Ikhwan:
Hayooo dilanjut terus kiprahnya Gus!
@ciwir:
Memmang keanehan yang sungguh nyata yo Kang?
@Dafhy:
Kesempatan lagi meski hanya sebentar…
Atau mungkin surat-surat belum lengkap, jadi ditunda keberangkatannya!
@nahdhi:
Contohnya yang bagaimana Dab?
@nothing:
Nggak ada yang tahu alasannya emang!
@anosmile:
Ambil indahnya, ambil hikmahnya ya mas?
@sewa mobil:
Amiiiiienn…..moga damai di alam sana!
@ikhsan:
Yo jelas nyata senyata-nyatanya je kang…
@suwung:
Asal bekalnya cukupan ae mas…
@oelil:
Siap ngggak siap kadang harus tetap siap yo kang?