REPORTASE KENDURI CINTA
12 FEBRUARI 2010
Kenduri Cinta malam itu diawali dengan sholawatan “Hasbunallah” untuk memberikan atmosfer religius spiritualistik antara Allah – Muhammad – Hamba-Nya. Format ini sekaligus dibakukan untuk setiap simpul lingkar maiyyah mulai dari Padhang Mbulan, Bang-bang Wetan, Kenduri Cinta, Mocopat Syafaat, dan Gambang Syafaat. Format demikian bukanlah sebagai bentuk penyeragaman, melainkan sebagai suatu jembatan kebersamaan dari berbagai warna pluralitas komunitas. Silabus format tersebut merujuk kepada buku yang telah disusun Cak Fuad dari Jombang.
Kendurian kemudian disemarakkan dengan penampilan KAMU, Komunitas Anak Musik Utara dari seputaran Tanjung Priok. Kelompok anak muda ini mengusung beberapa tembang seperti Lenggang Lenggok Jakarta, Yamko rambe yamko, dan sebuah gubahan musik instriumental bercorak shymphony etnic.
Kajian malam itu diawali dengan pemaparan Dr. Noor Samad Kamba mengenai hakikat maiyyah. Maiyyah mengacu kepada kata ma’a, ma’ana, yang disebut dalam Al Qur’an tidak kurang dari 161 kali dalam berbagai konteks. Pengertian maiyyah merujuk kepada peristiwa persembunyian Nabi dan shahabat Abu Bakar di gua Tsur pada saat hijrah ke Yatsrib.
Dalam pelarian dari kejaran pasukan kafir Quraisy, dua karib tersebut hampir diketahui tempat persembunyiannya di dalam gua. Suasana mencekam dan penuh kecemasan membuat Abu Bakar ciut nyalinya. Pada kesempatan itulah Kanjeng Nabi mengingatkan agar mereka tidak perlu takut. Innallah ma’ana, sesungguhnya Allah bersama kita. Demikian firman Allah dalam surat At Taubah. Dan memang kemudian melalui laba-laba yang menebarkan jaring sarangnya di mulut gua, Allah menyelamatkan dua orang suci tersebut.
Beranjak dari peristiwa agung tersebut, maka sesungguhnya maiyyah merupakan salah satu metode tasawuf dimana dalam setiap kesempatan seorang hamba menyatukan segitiga cinta antara Allah-Rasul-dan dirinya. Berlandaskan ketiga cinta tersebut kemudian didirikanlah sendi maiyyatunnas ke dalam Piagam Madinah sebagai manifestasi penjabaran interaksi sosial diantara sesama warga negara.
Tema besar kajian kendurian malam itu membahas Hilangnya sang pentafsir. Kata pentafsir berbeda dengan penafsir. Seseorang dipersyaratkan dengan kemampuan dan keilmuan tertentu untuk menjadi seorang pentafsir. Dengan demikian, kata pentafsir merujuk kepada kemampuan kaum fuqaha atau ahli fiqih dalam menguraikan suatu dalil. Namun demikian, sesungguhnya manafsir adalah suatu metodologi terbuka sehingga setiap orang memiliki potensi untuk memahami sesuatu hal, dan inilah yang kemudian menimbulkan terjadinya banyak tafsir terhadap sesuatu hal.
Ada tiga taraf atau mustawayah, suatu tahapan penafsiran yaitu khawwatir, risalah, dan wahyu. Pada tahapan khawwatir, setiap seper sekian detik Tuhan memberikan sinyal yang terbetik di lubuk hati. Akan tetapi seiring bertikan kebaikan dari Tuhan itu, iblispun tak kalahnya meniupkan bisikan kebatilan. Hal inilah yang selanjutnya menimbulkan perang batin antara nilai kebaikan dan kebatilan. Tahapan selanjutnya risalah. Risalah merupakan ajaran yang dibawa para rasul mengenai bagaimana menuju jalan Allah. Adapun wahyu berupa firman Allah yang selalu dibacakan. Dengan demikian wahyu merujuk kepada kitab suci Al Qur’an.
Dengan mengacu pengertian bahwa setiap orang dalam tingkatan kemampuan pikirannya masing-masing melakukan penafsiran, maka betapa Islam sangat mendukung setiap manusia untuk berpikir dan mendayagunakan kemampuannya dalam memahami sesuatu. Inilah para ulama dalam pengertian yang luas. Implikasi bagi manusia yang mendayagunakan potensinya untuk memahami ayat-ayat Allah diantaranya diberikan petunjuk-Nya, terpelihara dalam lindnungan Allah, dan pemenuhan dari setiap permintaanya. Merekalah kemudian segolongan hamba yang memperoleh karomah-Nya.
Suasana kendurian kemudian disegarkan dengan penampilan Mas Wahyu, sang penyair Kenduri Cinta. Ngerahul alias Ngobrol ngalor ngidul adalah sebuah puisi ringan karya Ridwan Saidi yang dibacakan secara apik oleh sang penyair gondrong kita. Keriuhan kemudian berlanjut dengan tampilnya “ksatria” bergitar bambu dari Klaten, dialah Pakdhe Plompong yang tampil prima membawakan Gerandong sudah insaf, Arem-arem, Ntir untir-untir, dan Hore-hore ho Gimbal Naik Kelas.
Diskusi bersambung dengan paparan dari Bang Baginda Siregar dari Masyarakat Hukum Indonesia dan Mas Arya Palwa Guna. Mereka berdua menguraikan mengenai perspektif hukum di negeri kita. Hukum merupakan seperangkat aturan atau norma. Norma merupakan inti perangkat hukum, sedangkan hukum sendiri dilengkapi dengan sanksi terhadap pelanggaran setiap norma hukum.
Suatu contoh hukum, “Barang siapa mencuri, maka dihukum potong tangan”. Norma hukumnya adalah pelarangan mencuri, sanksinya potong tangan. Apakah kemudian setiap pencurian harus dihukum dengan potong tangan? Ternyata dalam logika praktek hukum tidak demikian linear pengertiannya. Hukuman atau sanksi apa yang dikenakan akan sangat tergantung kepada pertimbangan seorang hakim yang memutus perkara. Seberapa berat atau bobot hukuman yang akan dikenakan akan sangat terkait dengan rasa keadilan. Inilah yang sangat tidak mudah untuk diukur dan ditimbang, bahkan terkadang menjadi sangat subyektif.
Apakah mencuri kakao jatuh, dihukum dengan percobaan tiga bulan sudah adil? Bagaimana dengan pencuri kapuk randu, semangka dan lain-lainnya? Norma hukumnya mengatakan barangsiapa mengambil barang yang bukan miliknya, maka ia mencuri. Soal hukumannya seperti apa, sangat banyak aspek dan pertimbangan yang harus dilihat agar rasa keadilan bisa diwujudkan. Mudahnya barangkali, bahwa hukum potong tangan adalah hukuman maksimal yang dapat dikenakan terhadap suatu kasus pencurian. Bayangkan, apakah adil bila pencuri kakao, semangka atau kapas itu kemudian dipotong tangannya?
Kyai Budi memuncaki kendurian dengan rangkaian perenungan panjang ala Jalaluddin Rummi. Kembali beliau menegaskan bahwa untuk menjadi manusia paripurna, manusia dengan kualitas kelas satu di mata Allah, maka manusia harus menjalani berbagai tempaan, gemblengan dan cobaan. “Apakah kalian mengatakan bahwa diri kalian telah beriman, sedangkan Allah tidak memberikan ujian-Nya?”
Lihatlah bagaimana dawai digesek atau dipetik, mengalami ketegangan dan kerenggangan fisik yang tidak enak untuk kemudian menghasilkan satu alunan melodi yang harmonis. Kemudian bagaimana padi dijemur, ditumbuk, digiling untuk selanjutnya menjadi beras. Beras dicuci, ditanak dan dipanaskan untuk menjadi nasi. Dan nasi itupun kemudian memberikan keberkahan berupa kenyangnya perut manusia yang memakannya.
Setiap hal membutuhkan gerak dinamik untuk “menjadi” sesuatu yang bermanfaat. Dan gerak itulah pengejawantahan cinta tulus nan suci. Kereta api yang tidak bergerak hanyalah seonggok besi. Manusia tanpa cinta, tanpa dinamisasi gerakan, maka ia hanyalah seonggok daging yang tidak ada artinya. Ialah bangkai hidup dalam pandangan Allah. Inilah pengertian kematian dalam hidup, kematian sebelum datangnya kematian. Hidup tetapi sesungguhnya telah mati.
Betapa air tumpah dari langit membasahi bumi. Kemudian dari bumi yang basah tersebut tumbuh berbagai benih untuk memberikan kehidupan. Dan untuk menggapai kesejatian cinta, maka seribu satu cobaan akan menantang di tengah jalan. Bila kita memasuki sebuah dusun cinta, maka di gerbang muka dusun kita akan disambut dengan spanduk berbunyi selamat menempuh penderitaan. Adakah bunga melati yang tidak memiliki duri? Kenikmatan dan penderitaan adalah dua sisi kehidupan yang akan selalu berdampingan kontras satu sama lain. Cinta adalah keluasan tujuh samudra. Kemahaluasan rasa cinta akan menelan bulat-bulat pahitnya penderitaan.
Sebagai manusia jangan kita tertipu seolah-olah apa yang tidak bisa kita indra menjadi tidak ada! Jangan dikira pohon yang daunnya berguguran dan kemudian meranggas tidak lagi indah. Bayangkanlah ranting yang meranggas itu bagaikan tangan-tangan kecil yang menengadah berdzikir dan berdoa kepada Tuhan-Nya! Maka sesungguhnya dibalik perwujudan pohon yang kering kerontang itu terdapat tunas dan kuncup yang siap tumbuh. Di dalamnya pula terdapat bunga yang kelak akan mekar. Dan di dalamnyapun ada buah yang kelak akan menjadi tanda bakti hidup sang pohon bagi sesamanya.
Inilah maknanya bahwa manusia harus mengerti dengan ilmu musim. Segala sesuatu memiliki masa dan waktunya masing-masing. Seseorang yang kaya raya, berpangkat tinggi, dan memiliki segala, ingatlah sesungguhnya itu tidak abadi. Penguasa yang pongah mengkhianati amanat rakyatnya tentu karena ia tidak paham kekuasaannya itu kelak akan hilang juga. Maka bagi rakyat dan wong cilik yang terlemahkan oleh sistem harus selalu ada rasa optimisme dalam dirinya bahwa segalanya hanyalah kesementaraan. Segalanya hanyalah soal waktu. Inilah inti sejati dari ilmu sawang sinawang!
Kampung Kosong, 14 Februari 2010


Aku yo wis tau diaturi nek jarene urip kuwi sawang-sinawang…
KeyCode: monyet (maneh)
pengen ikut yang live
Saya setuju dengan sawang sinawang!
gus setuju dengan apa yang dipaparkan mas nanang
berarti saya pernah ke blog ini, tapi agak lama rasanya saya gak kesini, apalagi semenjak ngurusi blog baru…wah cuma bisa sawang sinawang
@nahdhi:
sawang-sinawang menjadi artikulasi teori relativistiknya Einstein.
@suwung:
lha monggo kang….
di Jakarta ada KC, di Jogja ada Mocopat Syafaat,
di Semarang ada Gambang Syafaat, di Surabaya ada Bang-bang Wetan, di Malang ada Obor Ilahi, di Jombang ada Padhang Mbulan, di Solo ada Kidung Syafaat
@darin:
matur nuwun….
@gus ikhwan:
semoga menginspirasi gus!
@budies:
lha monggo kerso pinarak malih…..
wah… saya gak sempet datang.
padahal saya udah pasang jadwal untuk hadir ke TIM.
bulan Januari datang, sayang bulan ini pas keluar kota.
thanks infonya bro..
Maret bakalan hadir deh InsyaAllah
wah dalam mbanget. terimakasih pencerahanya mas….semoga semakin lama bisa semakin mengerti hidup.
@elmoudy:
mat ketemu insya Allah di minggu depan mas…
@muhlisin:
belajar hidup memang tidak akan pernah mengenal kata usai….
salam kang……..
info yangbermanfaat…..
salam kenal
@ofaragilboy:
makasih mas sudah berkenan mampir…..