Cap Go Meh

SEMARAK CAP GO MEH

DI KOTA MAGELANG

cabgomeh

Setengah purnama berselang setelah hadirnya Tahun Baru China yang diperingati sebagai Hari Raya Imlek, tibalah saat perayaan kegembiraan melalui pesta Cap Go Meh. Saya sendiri sangat jarang mengikuti secara runtut dan runut prosesi Cap Go Meh, apalagi paham akan makna simbolisasi di balik rangkaian ritual yang digelar. Namun ada beberapa kesan mendalam yang tertanam dalam jiwa ketika di akhir bulan kemarin sempat angon Si Ponang nonton Cap Go Meh di Klentheng Magelang.

Sebagaimana woro-woro yang saya dengar, kabar berita mengatakan bahwa hari Minggu itu akan ada pawai Cap Go Mehan yang dimulai dari klentheng pojokan Alun-alun Magelang. Sepulang dari Rembug Bala Tidar di Sawitan, sekilas melintas kawasan alun-alun memang nampak padat lalu lintas. Hari itu memang ada beberapa acara digelar bersamaan, ada Pengajian Akbar Peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung, Perayaan Cap Go Meh di Pecinan, dan kontes model lokal di Gardena. Praktis hari itu seputaran alun-alun penuh dengan kemeriahan.

lionMenjelang tengah hari atas rengekan Si Ponang untuk menonton aksi barongsai, kamipun bergerak menuju Pecinan. Luar biasa suasana siang itu. Di tengah panas terik matahari yang sangat menyengat, ribuan orang berjubel memenuhi pinggiran jalan mulai depan klentheng hingga sepanjang jalan Pecinan. Tua, muda, laki, perempuan, anak-anak, remaja, hingga dewasa, bahkan para balita ikut larut menikmati kemeriahan sebuah karnaval.

Memang semenjak Imlek ditetapkan sebagai peringatan hari keagamaan Kon Hu Chu yang boleh diperingati secara terbuka semasa Presiden Gus Dur, masyarakat lebih mengenal dekat saudara etnik Tionghoa. Teristimewa bagi Si Ponang, inilah pertama kalinya ia bisa menikmati dentuman nyaring suara dungdung yang ditabuh bertalu-talu. Memang genderang atau bedug termasuk salah satu alat perkusi yang sedang sangat digandrungi Si Ponang akhir-akhir ini.

Dengan berdiri persis di barisan terdepan, saya mengikuti seluruh rangkaian pawai dengan penuh rasa khitmad. Dengan memanggul Si Ponang di atas bahu, saya merasakan adanya semangat kebersamaan dan keguyuban yang mampu melampaui batas-batas perbedaan yang pernah ada. Semua membaur menjadi satu dengan mengedepankan kegembiraan hati yang terbalut dalam suatu rasa toleransi dan saling menghormati yang sangat luar biasa.

barongsaiPawai diawali dengan barisan pembawa lampion yang seolah menyimbolkan para malaikat pembuka jalan yang memberikan penerangan menuju jalan kebenaran. Dilanjutkan dengan barisan lion si ular naga panjang yang meliuk-liuk diiringi genderang dan gemerincing suara simbal. Ikut beraktraksi bersama lion si naga panjang, beberapa pasang barongsai yang bergerak lincah dan sangat energik mengundang kekaguman para penonton. Lebih heboh lagi ketika salah satu barongsai beraksi memasuki beberapa toko dan kios di pinggiran jalan untuk membagi-bagikan angpao kepada pengunjung, semua berebut ingin mendapatkan barokah uang angpao tersebut.

Sebagai wujud semangat kebersamaan, pembauran dan akulturasi budaya, ikut mengiringi pawai beberapa group ndolalak, angguk, dan sudah pasti ada ndayakan. Ragam kesenian yang berbaur menjadi satu ini seakan sebagai simbol terjalinnya persaudaraan yang maujud menjadi sebuah kebersamaan. Batasan Jawa-China seakan lebur oleh semangat persaudaraan yang tanpa mengenal batas.

manggulponangPerbedaan hanyalah perbedaan, namun perbedaan bukan satu alasan untuk terjadinya suatu perpecahan. Perbedaan harus dimaknai sebagai sebuah keanekaragaman yang saling memperkaya, saling melengkapi satu sama lain. Melalui jiwa dan rasa toleransi serta semangat saling menghargai yang tinggi, justru keanekaragaman yang ada akan semakin meneguhkan semangat persatuan yang kokoh dan kuat. Inilah barangkali semangat pluralisme yang kian tumbuh subur di kalangan masyarakat akar rumput sebagai modal utama kokohnya Negara Kesatuan Republik Indoensia yang ber-Bhinneka Tunggal Ikha, meskipun berbeda-beda namun tetap satu jua.


Cisitu, 3 Maret 2010

Tentang sangnanang

Diriku hanya seorang hamba yang diperjalankan di malam hari. Diriku hanyalah seorang sudra, serendah-rendahnya manusia sehingga tiada satupun manusia yang sanggup dan mampu untuk merendahkan diriku. Diriku hanya seorang papa tanda punya apa-apa, sehingga diriku tiada pernah merasa kecurian dan kehilangan. Diriku hanyalah sekedar manungso tan keno kiniro, titah sewantah jalma limrah, titahing Kang Maha Endah.
Tulisan ini dipublikasikan di Magelangan, RadyaPutra, Sarwa Tembang, Tradisi Tiada Henti dan tag , , . Tandai permalink.

16 Respon untuk Cap Go Meh

  1. Darin berkata:

    Ini salah satu jejak keberhasilan Gus Dur…
    we miss u Gus..

  2. suwung berkata:

    jadi pengen nonton bos

  3. eMo berkata:

    mbengine kang,, M jogo krungu jedar-jedor ra mandeg².. kirain ono penggrebekan koyo mbiyen..jebul cap gomean neng klenteng… jare suworone tekan desaku barang :D

  4. andi berkata:

    jangan lupa upload juga photo photonya :)
    salam,

  5. Ndoro Seten berkata:

    @kharis:
    ruameee poll mas…

    @darin:
    bener banget, persaudaraan memang tidak bisa dibatasi dengan perbedaan

    @suwung:
    tunggu tahun depan lagi kang!

    @andi:
    iyo mas…ini servere dagdigdug lagi trouble!

  6. dobelden berkata:

    kok cuma berdiri khidmat, nek ponang dijak numpak dungdung lak mesti lewih seneng, ora pundak :lol:

  7. Ndoro Seten berkata:

    @dobelden:
    lha suk-sukan tur puanase puooool je mas, duduk di pundak ae si ponang senenge pol karo tangane main nuthuki sirahe bapake dianggep bedug!

  8. Nobhita berkata:

    kalau ada acara ebgini q sllu menyampatkan diri nonton hehehs eru soalna

    Blogwalking berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya
    salam blogger
    makasih
    :D

  9. A.J.I berkata:

    budaya china sudah masuk sejak jaman kerajaan kuno dahulu sampai sekarang

  10. ikhsan berkata:

    paling seneng liat fotoklip yang paling bawah :)

  11. annosmile berkata:

    rame tenan acarane..
    neng jogja ya ana perayaan koyo ngono
    tapi aku rak sempet ndelok (DOH)

  12. oelil berkata:

    guyub rukun campur baur marai seneng ndeloke yo mas…
    daripada ndelok tipi isine mung gelut ro tawuran…

  13. suwung berkata:

    taun ngarep kirop kiro diriku tugas nangendi ya?

  14. ciwir berkata:

    manteb kang.
    sayange aku ameh mrono malah ngatuk. dadi turu sik seharian

  15. Ndoro Seten berkata:

    @A.J.I:
    memang dari dulu sebenarnya manusia sudah berinteraksi dengan damai, kenapa sekarang banyak permusuhan ya?

    @ikhsan:
    makane mas ndang nyusul gawe junior….he…he

    @annosmile:
    yo taun depan dipersiapkan biar nggak ketinggalan acarane mas!

    @oelil:
    itulah sebenar-benarnya cermin manusia yang menjunjung tinggi kemartabatannya sebagai manusia mas….
    seneng guyub, damai, tentrem ayem!

    @suwung:
    hayo embuuuh, malah takon!

    @ciwir:
    halah….
    maklum juga sih, lha wong hampir semalaman ditanggap ngoceh je yo kang?

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>