Tuhan Bersemayam di Pohon

FILSAFAT LUHUR TENTANG POHON

jababeka21Berbincang soal pohon, apa to istimewanya? Hampir setiap hari kita mungkin menjumpai pohon. Ada pohon pisang, mangga, rambutan, blimbing, durian, kelapa, mahoni, hingga pohon cemara atau pinus, dan lain sebagainya. Bila demikian yang kita alami, maka bersyukurlah itu sebagai anugerah Yang Maha Kuasa. Banyak sedulur kita yang tinggal di tengah kota besar hanya mendapati pohon beton di lingkungannya. Bahkan banyak diantara mereka yang kemudian menghibur diri dengan pohon-pohonan, alias pohon bohongan. Lalu apa bedanya?

Dalam ilmu biologi, tumbuhan tergolong sebagai makhluk hidup. Dikatakan demikian karena tumbuhan mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan sendiri merupakan proses peningkatan volume tubuh yang bersifat tidak dapat balik, alias irreversible.

Bakteri merupakan contoh tumbuhan tingkat rendah, karena hanya terdiri atas satu sel. Sel berkumpul membentuk jaringan. Jaringan sel yang sama menyatu menjadi organ. Pohon merupakan jenis tumbuhan tingkat tinggi karena pohon memiliki susunan organ yang telah sempurna, meliputi akar, batang, dahan, ranting, daun, dan lain sebagainya.

jababeka3Kok tiba-tiba tertarik berbincang tentang pohon? Dalam acara Amprokan Blogger 2010 di Bekasi kemarin, roda ruang dan waktu telah mempertemukan penulis dengan “Sang Begawan” Pohon Indonesia. Beliau adalah Bapak Eka Budiyanta. Pria kelahiran bawah sebuah pohon sawo di Jember ini terkenal dengan berbagai artikel “hijaunya” di Trubus.

Mengawali perbincangan, Beliau bertanya, “Sudahkah Anda berterima kasih kepada pohon hari ini?”

Pohon adalah makhluk Tuhan yang melayani manusia dengan sangat setia. Setiap hari diserapnya “sari pati bumi” melalui akar-akar kokohnya. Dengan keajaiban efek kapilaritas, sari pati tersebut diangkut melewati batang, dahan, ranting, untuk kemudian sampai di dapur yang bernama daun. Dalam daun, “sari pati bumi” berpadu dengan “sari pati langit” melalui “akad” fotosintesa yang disaksikan oleh gas karbon dioksida(CO2). Dari proses “persetubuhan” ini dilahirkanlah gas oksigen(O2), sebagai kebutuhan utama pernafasan manusia. Di sinilah urgensi kita untuk berterima kasih kepada pohon, bahkan pada setiap tarikan nafas kita. Pohon adalah perantara kehidupan manusia.

pohonBagaimana cara berterima kasih kepada pohon? Sebagaimana manusia, pohonpun butuh cinta dan kasih sayang. Pohon butuh ruang tumbuh, maka sediakanlah selalu tanah yang cukup untuk sang pohon. Rawatlah pohon dengan baik dan penuh perhatian. Cukupilah nutrisi pohon dengan memberikan siraman air dan pemupukan. Maka jadilah manusia sebagai sahabat setia bagi pohon.

Keserakahan manusia menjadikan pohon ditebang dimana-mana. Hutan rimba raya belantara dibabat habis hanya demi kepuasan perut manusia tidak berbudi. Bukit dan gunung menjadi gundul karena hilangnya pohon. Kemudian apa yang terjadi?

Kekeringan akibat hilangnya sumber mata air di musim kemarau menghantui manusia di berbagai belahan dunia. Manusia semakin sulit untuk mencukupi sumber air bakunya. Sebaliknya, pada musim penghujan terjadi tanah longsor dan banjir bandang dimana-mana. Pohon yang semestinya menangkap air hujan dan meneruskannya untuk diserap ke dalam batuan bumi, telah semakin jarang. Semua air lari tunggang langgang di permukaan tanah menjadi air bandang.

fajar3Manusia seringkali kasak-kusuk mencari kambing hitam. Pemanasan global-lah, perubahan iklim, hingga kutukan Nyi Roro Kidul dikatakan sebagai penyebab bencana. Padahal kalau manusia mau jujur, semua itu jelas karena keserakahannya sendiri. Salah satu keserakahan itu adalah sikap menyia-nyiakan pohon!

Pohon tergolong makhluk hidup yang tingkatannya berada dua tingkat di bawah kemakhlukan manusia, setelah binatang tentunya. Namun pohon justru memiliki kedudukan teramat istimewa karena konon Tuhan “bertempat tinggal” di atas pohon. Kok bisa begitu?

Manusia melengkapi ikhtiar perjuangan hidupnya dengan doa kepada Tuhan. Manusia diperintahkan untuk “memanjatkan” doa hanya kepada-Nya. Dimana kita akan memanjat? Jawabnya ya memanjat pohon!

Kemudian untuk apa memanjatkan doa? Bukan lain, tentu saja untuk “momohon” sesuatu. Kok ya memohon, bukan membatu, mencangkul, menulis atau me-me-me-me yang lainnya? Pesannya menjadi tampak jelas to? Manusia tidak dapat hidup tanpa pohon. Pohon adalah salah satu syarat terbentuknya lingkungan hidup yang harmonis.

Tak kenal, maka tak sayang! Maka untuk mencintai pohon, mulailah dengan mengenalnya. Bila bertemu pohon, cobalah berkenalan dan menanyakan siapa namanya, “he pohon, namamu siapa?” Selanjutnya dapat diteruskan dengan pertanyaan lain semisal, daunmu bisa untuk mengobati penyakit apa, batangmu bisa dibuat kusen pintu atau jendela, dan lain sebagainya. Inilah fungsi pohon sebagai guru kehidupan, sebagai sarana pembelajaran bagi manusia untuk dapat memanfaatkannya secara lebih bijaksana dan bermakna.

Kepada pohon kita belajar. Kepada akarnya, kepada batangnya, kepada dahannya, kepada rantingnya, kepada daun, bunga, bahkan kepada buahnya kita bisa belajar tentang banyak pengetahuan dan nilai kearifan hidup.

Pada daun yang gugur melayang setelah menjalani tugas mulia menghasilkan oksigen, kita bisa bercermin bahwasanya manusia hidup juga akan mengalamai masa ketuaan hingga akhirnya maut menjemput untuk menghadap kepada Sang Khalik, Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun lihatlah betapa si daun yang gugur nampak bergoyang bahagia setelah lepas dari tangkainya dikarenakan tugas mulia yang diamanatkan Tuhan kepadanya telah ditunaikan dengan sangat baik. Daun itu memberikan manfaat kehidupan kepada makhluk yang lain. Daun itupun hidup untuk menghidupi kehidupan.

Inilah salah satu wujud penyadaran pentingnya pohon bagi keberlangsungan kehidupan bagi para blogger yang berkesempatan mengikuti acara Amprokan Blogger 2010 sebagai ajang temu blogger se-Nusantara yang diselenggarakan oleh Komunitas Blogger Bekasi yang ingin turut menghijaukan lingkungan hidup. Dan dimulai dengan kesadaran, menuliskan artikel di blog masing-masing, tentunya diharapkan akan berlanjut dengan tindakan nyata untuk lebih banyak menanam pohon. Mulai dari Bekasi hijau dan bersih atas partisipasi para blogger yang hadir, semoga semangat untuk mencintai alam akan menggema segenap penjuru dunia.

Kampung kosong, 11 Maret 2010

Tentang sangnanang

Diriku hanya seorang hamba yang diperjalankan di malam hari. Diriku hanyalah seorang sudra, serendah-rendahnya manusia sehingga tiada satupun manusia yang sanggup dan mampu untuk merendahkan diriku. Diriku hanya seorang papa tanda punya apa-apa, sehingga diriku tiada pernah merasa kecurian dan kehilangan. Diriku hanyalah sekedar manungso tan keno kiniro, titah sewantah jalma limrah, titahing Kang Maha Endah.
Tulisan ini dipublikasikan di SabdaKawula dan tag , . Tandai permalink.

10 Respon untuk Tuhan Bersemayam di Pohon

  1. Urip SR berkata:

    Wah..mantap..mas
    Semua menulis dg judul yg sama..dg sudut pandang yg berbeda..menambah semarak.
    Salam kangen dari Karawang.

  2. quinie berkata:

    hohoho… sayah juga setuju dengan filosopi pohonnya.. original!!
    makasih udah menulis tentang pohon yaa

  3. eMo berkata:

    bicara soal kerekahan manusia… hutan -tropis- indonesia harusnya masih bisa jadi yang terbesar didunia… dasar wonge do korupsi.. ilegal logging.. dll dll… predikat hutan terbesar geser ke brazil deh..

  4. oelil berkata:

    Kalimat paling bawah sangat indah mas… hidup untuk menghidupi kehidupan…nice post!
    makasih mas atas dongane sehingga bapakku dikaruniai kesembuhan

  5. gus ikhwan berkata:

    saya juga setuju dengan filosofi ohonnya

  6. Ndoro Seten berkata:

    @urip sr:
    wah kita sama-sama dapat pencerahan tentang alam yo pak?

    @quinie:
    makanya tahun depan diundang lagi dong!

    @emo:
    manusia memang pembuat kerusakan di muka bumi….
    jangan ikut-ikutan lho ya!

    @oelil:
    alhamdulillah….Tuhan memang Maha Pemurah Mas!

    @gus ikhwan:
    ho’o gus, kapan lenterasahabat mulai menanam pohon kebajikan?

  7. Kang Bondan berkata:

    pohon. hemm. bapak kula remen taneman. :) . setelah buah matang, ia akan membusuk. maka jangan cepat2 merasa sudah matang biar ga cepet2 busuk :P

  8. Ndoro Seten berkata:

    @kang bondan:
    bener juga kang…tapi semua kan ada waktunya, dan kebusukan ragawi itu tidak akan terhindarkan to?

  9. klo dipikir2, orang zaman dahulu lebih pandai menjaga pohon. Mereka menciptakan mitos pohon keramat, pohon yang ada penunggunya, dsb. Padahal maksud yang sesungguhnya adalah agar orang tidak mengganggu sang pohon; agar pohon dapat lestari…

  10. sukohartoyo berkata:

    Ya kadang-kadang apa yang tersurat itu belum tentu sama dengan apa yang tersirat. Tanpa kebijaksanaan seringkali orang mudah sekali main “hantem kromo.”
    Mengeramatkan pohon langsung dianggap kafir.
    Lihat sendiri sekarang ini, orang tidak lagi menghormati alam semesta sebagai sama-sama ciptaan Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>