UNDANGAN PERMEN, EE…….KHITANAN
Manusia memang makhluk sosial yang butuh hidup bertetangga dan bermasyarakat. Dalam tradisi ketimuran kita, ringan sama dijinjing dan berat sama dipikul. Semangat keguyuban, saling membantu, dan bergotong-royong adalah kepribadian masyarakat, meskipun di beberapa tempat kian memudar.
Sudah menjadi kewajaran bila ada saudara atau tetangga di sekitar kita akan mengku gawe atau memiliki hajatan besar, tetangga atau saudara yang lain akan turut membantu atau nyumbang. Tradisi kondangan atau njagong adalah wujud eratnya tali persaudaraan dan persatuan, untuk turut berbahagia dan mendukung hajatan agar dapat berjalan dengan lancar. Doa dan harapan bagi keberkahan yang punya gawe tentu disampaikan oleh para tamu, langsung maupun tidak langsung.
Di samping doa dan harapan, tentu dikatakan tidak patut bila tetangga atau saudara yang lain tidak memberikan sekedar sumbangan ataupun angpo! Apalagi tamu! Tamu dalam sebuah hajatan, kata Kang Rabies, tekane arep melu urunan. Artinya datangnya sang tamu mau nurut menyumbang! Jenenge wae nyumbang!
Adalah sebuah tradisi pula bila seseorang punya hajatan, maka rumah atau tempat hajatan akan dilangsungkan terlebih dahulu dihias dengan penuh pernak-pernik dan warna-warni keindahan. Hal ini untuk menggambarkan kegembiraan tuan rumah dan sekaligus sebagai penghormatan terhadap para tamu yang datang. Orang Jawa mengistilahkannya tarub. Tarub bisa diartikan ditata kareben murub, maksudnya rumah ditata indah agar tampak meriah dan beraura.
Sebagai suatu persiapan untuk mengundang tamu, baik saudara ataupun tetangga dan kawan karib untuk datang pada suatu pagelaran hajatan, sang punya gawe biasanya akan menyebarkan kabar pemberitahuan sebelumnya. Di jaman dahulu, pemberitahuan hajatan hanya disampaikan secara gethok tular alias dari mulut ke mulut. Misalkan Senen Pon sasi Ruwah ngarep, Pakdhe Sosro arep mantu! Berita ini sudah sangat jelas, bahwa pada hari Senin Pon bulan Sya’ban depan, Pakdhe Sosro akan menikahkan putranya. Di daerah karang pradesan, cara seperti ini masih berlangsung dan masih cukup efektif.
Seiring perkembangan pengetahuan tulis-menulis dan tata persuratan, pemberitahuan hajatan kemudian selain dengan cara gethok tular juga diiringi atau dilampiri surat undangan sebagai pemberitahuan. Berbagai macam bentuk dan ragam undangan bisa dipesan di berbagai percetakan. Nah sampeyan tinggal milih, mau yang warna-warni? Atau lengkap ditempeli foto prewedding, bila hajatannya mantu? Atau mungkin yang tebal, luks, dan super mahal? Tentu saja semua kembali ke kantong kita!
Jaman ekonomi saat ini mungkin memang jaman sulit bagi sebagian diantara kita. Sekedar untuk menghelat hajat khitanan, pastilah harus ada undangan untuk mendatangkan tamu udangan dan sanak saudara. Bila kemudian untuk memesan undangan yang lazim dirasa mahal dan tidak terjangkau, lalu bagaimana jalan keluarnya?
Lihat saja ide yang kemudian telah mentradisi di Kampung Kosong kami! Untuk menggelar ritual potong kulup alias supitan, undangan cukup membungkus permen dengan ditempeli secarik kertas kecil sebagai woro-woro! Lumayan praktis bukan? Dan yang pasti sangat ngirit!
Deso mowo coro lan negoro mowo toto! Paribasan tersebut senada dengan peribahasa “lain ladang lain belalang, dan lain lubuk lain ikannya”. Lain daerah lain pula adat istiadat dan tradisinya. Bisa jadi cara undangan permen seperti tetangga saya itu, dianggap tidak sopan atau pelit bagi kebiasaan di tempat lain. Namun di sini, nampaknya hal itu sudah diterima sebagai tradisi positif. Itulah keragaman tradisi di masyarakat kita.
Kampung Kosong, 13 Juni 2010

Pertamax! (mumpung belum wajib beli, dibagi-bagi dulu)
Ming ngaten niku ndoro? jan ngirit tenan, epektip dan episien.
perlu diconto
jadi inget dulu pas asaya ngirim doa u bapak, isi berkate tak ganti mentahan kabeh, uwong2 do gumun.
wah, model undangannya kreatif, mas nanang, hehe …. layak ditiru, nih. saya pikir yang ngundang tetakan mas nanang. perasaan masih kecil tuh putrane, hehe …
Kesulitan selalu memunculkan kreatifitas “non-reguler” yang diluar kebiasaan, namun masih dalam batas bisa diterima masyarakat….
sebulan lagi ruwah, ga elok nduwe gawe soalnya bulan untuk nyekar alias… modek sodara2… hahaha……
moco judule tak kiro si ponang je… ‘kulup’e rung mangsane disupit
@han:
semua menjadi wajar ketika telah terbiasa, betul kan mas?
@pake sawali:
lah nek si ponang cetho masih dieman kulupe pake!
@nahdhi:
kreatif yo kreatif, asal jangan karena pelit!
njur nek nyuguhe banyu putih ro kwaci piye?
@Hastu:
wah isih ono railok barang to?
@emo:
weleh! njur melu-melu nyebut kulup to?
ponang kapan mas
Cerahkan hati dengan pancaran sinar Illahi
Tebarkan kedamaian dengan cinta kasih dan kelembutan.
Tetaplah berkarya mengisi kreatifistas dengan pancaran cahaya Illahi
Karyamu tetap dinanti…….
@ikhsan:
wah si ponang belum cukup umur kang!
belum saatnya!
@eyangresi:
nggih eyang!
sendiko dhawuh eyang!
hihihi…boleh juga idenya….
huehehehehhehe.. seru juga idenya.. boleh juga ntar di pake buat undangan nikahan.. hihihihihi
@arix:
ide yang mungkin akan segera mentradisi…
@luvie:
weiiiit sudah mau nikahan to mbake?