SATU DASA WARSA KENDURI CINTA KITA
Oleh: Sang Nananging Jagad
Dalam tradisi para simbah dan sesepuh kita di kampung-kampung, desa dan dusun di pucuk-pucuk gunung, kita memiliki hajat kenduri. Kelahiran, wetonan, ulang tahun, kesuksesan, bahkan hingga kematian dan peringatan kematianpun tidak lepas dari kenduri. Intinya dalam hajat tasyakuran, slametan, hingga momentum peringatan suatu peristiwa kita tidak lepas dari kenduri.
Para tetangga dan kerabat dekat datang mendekat untuk tidak sekedar mendapatkan berkat. Duduk melingkar seraya mengaminkan doa yang dipanjatkan oleh Pak Kaum atau Modin. Tidak ada lagi aku, tidak ada lagi engkau, tidak ada lagi kamu dan dia, karena yang ada hanyalah kita. Tidaklah hanya sang empunya hajat yang berhajat, tetapi kitalah semua yang memiliki hajat dan munajat dalam sebuah kenduri.
Duduk melingkar tanpa sekat dan jarak merupakan pralambang kesatuan tujuan dan kehendak. Sebagaimana nasi tumpeng yang menjadi pusat mikrokosmos dan makrokosmos filosofis sebuah kenduri, semua mengerucutkan niat dan tekad untuk manunggal dan bersatu padu. Antara aku, engkau, dan Dia. Antara seorang hamba, Muhammad, dan Gusti Allah Kang Hakarya Jagad. Inilah konsep dasar segitiga cinta antara manusia sebagai hamba, Muhammad sebagai Rasul penyuluh hidup, dan Allah Sang Pencipta Hidup. Dan ini pulalah yang menjadi landasan dasar maiyyah dan kebersamaan kita dalam keluarga besar Kenduri Cinta.
Adalah satu keniscayaan setiap makhluk menjalani fase kelahiran. Titik ini merupakan pintu gerbang yang mengantarkannya kepada sang fajar kehidupan. Bagaikan benih tetumbuhan, ia memerlukan media tumbuh dan suasana iklim yang mendukungnya untuk bertumbuh dan berkembang. Dan kelak setelah tiba masanya, tumbuhan itupun akan menghasilkan buah bagi kemaslahatan kehidupan yang lebih besar. Inilah fitrah, inilah sunnah dan garis hidup yang harus diemban oleh setiap makhluk sebagai wujud tugas pemakmuran bumi yang telah dititahkan oleh Tuhan.
Nusantara katanya negeri nirwana. Hamparan permata di sepanjang khatulistiwa ini bagaikan tetesan keindahan surga. Kesuburan tanah dan anugerah kekayaan baharinya tiada tertandingi di belahan bumi manapun. Bahkan tongkat dan batupun bisa menjadi tanaman. Kolam susu dan ikan senantiasa menjadi sumber kehidupan.
Namun badai dan topan kehidupan tak pernah lepas mendampingi kehidupan negeri ini. Negeri ini bagaikan tenggelam dalam prahara duka yang seakan tiada akan pernah berhenti. Korupsi, kolusi, dan nepotisme terus menebarkan virus-virus mautnya. Ketidak-adilan, ketidak-jujuran, kesombongan, kebohongan, bahkan kemunafikan seakan terus menenggelamkan kejayaan negeri. Dimana jejak kebesaran dan kejayaan Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, Majapahit, Demak, Pajang, bahkan Mataram? Kemana watak agung Mulawarman, Purnawarman, Balaputradewa, Gadjah Mada, Raden Patah, Hadiwijaya, hingga Sinuwun Sultan Agung?
Berangkat dari keterpurukan sejarah, dari keprihatinan yang mendalam akan hilangnya martabat dan jati diri manusia Nusantara inilah Kenduri Cinta lahir dan hadir mengisi kehampaan relung jiwa sebagian anak negeri. Sepuluh tahun silam, beberapa kader penerus bangsa meneguhkan tekad untuk berbuat “sesuatu” demi bangkitnya kejayaan negeri. Sebuah negeri impian yang baldatun thoiyyibatun wa rabbun ghofur, gemah ripah tata titi tentrem kerta raharja di bawah naungan Tuhan Sang Raja Manusia.
Kenduri Cinta mencoba untuk meneguhkan kembali segitiga cinta, antara manusia sebagai hamba, dengan cinta Rasul-Nya Muhammad SAW, dan Sang Arrahman Arrahim Allah SWT. Hanya dengan ketulusan cinta manusia kembali akan menemukan kesejatiannya sebagai manusia. Hanya cinta sejatilah yang dapat mempersatukan keseluruhan ummat. Dan cinta sejati itu bersumber langsung dari Tuhan. Inilah pastinya sekuat-kuatnya tali pemersatu manusia tanpa mengenal sekat dan batas, tanpa melihat suku, asal-usul, pangkat, jabatan, kekayaan, status sosial dan lain sebagainya. Dalam cinta semua melebur menjadi satu dan padu untuk meraih kehidupan yang sejati.
Satu dasa warsa adalah penggal perjalanan waktu yang belum lama, namun juga tidak bisa dikatakan baru sebentar. Adalah satu kepantasan dan keharusan kita semua, keluarga besar Kenduri Cinta, untuk memanjatkan rasa syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan dan curahan kasih sayang yang telah mempersatukan segenap komponen bangsa dalam sebuah wadah Kenduri Cinta. Banyak suka maupun duka perjalanan yang telah memberikan pelajaran hidup yang sangat berarti bagi pendewasaan pikir dan nurani kita sebagai manusia. Kenduri Cinta bagaikan satu oase di padang tandus modernisasi dan globalisasi dunia yang semakin menggila dan meruntuhkan nilai kemanusiaan manusia.
Ibarat seorang manusia, fase sepuluh tahun adalah keberangkatan seorang bocah untuk menyongsong kehidupan remajanya. Kehidupan di masa depan akan semakin penuh dengan warna-warni tantangan, rintangan, bahkan halangan yang semakin tidak ringan. Inilah saatnya pula bagi kita semua untuk berintrospeksi dan berefleksi diri di kedalam nurani kita masing-masing, akan apa yang telah kita perbuat di masa lalu dan apa yang selanjutnya akan kita rumuskan untuk dilakukan di masa depan. Semuanya tentu saja dalam kerangka kebajikan, kebaikan dan kebenaran sebagaimana yang selama ini kita cita-citakan bersama.
Sepuluh tahun perjalanan sebuah komunitas yang penuh nilai pluralitas bagaikan satu laboratorium kehidupan untuk pemetaan masalah, merumuskan langkah dan melakukan terobosan bagi pencapaian alternatif pemecahan masalah kehidupan yang semakin komplek dan tidak ringan. Ringan sama dijinjing dan berat sama dipikul, ini barangkali modal utama kebersamaan kita dalam berkenduri. Di sinilah kita belajar bersama, ditempa dan berproses untuk menjadi manusia yang lebih manusiawi. Di sinilah Universitas Kehidupan itu digelar, di silah Fakultas Kebenaran dibabarkan, dan di sini pulalah Jurusan Kejujuran ditegakkan kembali.
Lingkar peristiwa terus berjalan mengikuti sang roda waktu. Detik demi detik, menit demi menit, jam, hari, bulan, tahun dan Kenduri Cinta sampai di titik satu dasa warsa. Banyak guru dan tokoh yang telah membabarkan kadigdayan dan ilmunya di forum ini. Ada Cak Nun sebagai pengayom dan pengayem yang tiada pernah mengenal lelah untuk senantiasa menyulutkan api semangat hidup. Ada Mbah Surip sang maskot kenduri, yang selalu menggendong Endang dan segenap jamaah kemana-mana hingga tertidur dan bangun lagi. Kiai Budi, Kang Sobari, Syekh Nor Somad Kamba, Pendeta Nathan, Romo Benny, Cak Nurbuat, Cak Kartolo, Mas Jiwo Tedjo, Endang, Mbak Berta, Habib Faray, dan ratusan tokoh lagi tentunya dapat disebutkan. Tentu saja ditambah dengan sikap istiqomah dari jamaah, semua sangat berjasa bagi tegaknya perjalanan Kenduri Cinta.
Komunitas Kenduri Cinta memang telah menjelma menjadi miniatur Indonesia. Keragaman dan pernak-pernik manusia Nusantara seakan terwadahi di sini. Inilah wujud pluralitas bangsa dimana pelangi bangsa ini ditautkan, disatu-padukan dalam cinta sejati. Inilah kebun dengan sejuta benih unggul yang siap menunaikan persemaian untuk kemudian tumbuh dan berkembang guna menghidupi kehidupan. Inilah kebun dimana cinta ditegakkan kembali untuk mengembalikan manusia kembali menjadi manusia. Dan inilah Kenduri Budaya Nusantara yang siap memanggul dan menegakkan kembali kejayaan Nusantara sebagai bangsa yang besar di bawah naungan Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Dirgahayu HUT Kenduri Cinta ke-10, semoga Nusantara semakin mesra dalam kebersamaan.
Cisitu, 7 Juli 2010





wahhh acarany menarik yaa meyatukan keberagaman indonesia dalam satu wadah.. ada Noe Letto pula (^^) mau ikutaaaann saya sekalian biar dengerin konser letto gratis,hehe
Lha potone mas nanang kok ra ono?
@wong magelang:
Lha ntar kalo ikut-ikutan acara beginian nggak cepet lulus nduk? didukani romo ibu lho….
@nahdhi:
lha tokoh di balik layar tangeh lamun ketangkap kamera dab!
Ouh… Kenduri Cinta ntu nama komunitas to mas?
Wah kayaknya acaranya bagus ya…
Terus komunitas itu apa cuma untuk yang di jawa ajah?
di Medan or Aceh ada nggak mas?
waktu si dik doang ngomong kok aku koyo kesindir yo,sampe aku mrebes mili
keren….. acarane penuh filosofi……. hho….
sesekali pingin banget ikutan kenduri cinta, mas nanang. sampai sekarang belum juga kesampaian, hiks. Dirgahayu HUT Kenduri Cinta ke-10, semoga Nusantara semakin mesra dalam kebersamaan.
Tak terasa sudah sedemikian cepatnya hingga 10 tahun yo kang
wihi…. acaranya keren yah…..
@chici:
Kenduri Cinta adalah komunitas bagian dari jaringan Padhang mBulan yang dirintis di Jombang semenjak tahun 70-an. Saat ini acara serupa ada di Jogja, Semarang, Malang, Surabaya dan Mandar(Sulawesi Barat).
Kenduri CInta diadakan setiap Jumat malem Sabtu Minggu II di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakpus….monggo rawuh!
@ikhsan:
wah berarti ati sampeyan nyambung frekuensine Kang Dik kang…
@febriyanto:
lha mbok sekali-kali ikutan Mocopat Syafaat yang di Jogja!
@sawali:
lha mbok enggih Pak?
Atau ikutan yang Gambang Syafaat di Baiturahman Semarang….
@halaman putih:
itulah “kekuasaan” sang waktu,datang tidak bisa ditolak, pergi tidak bisa dilarang!
@endra:
yoiiii…..monggo gabung!