NYANYI SUNYI DARI POJOK SEJARAH
Kenduri Cinta Agustus ini terasa sangat istimewa bukan hanya karena kendurian dilaksanakan bersamaan dengan Bulan Suci Ramadhan saja. Lebih daripada itu, kali ini Cak Nun dan segenap wadyabala Kiai Kanjengnya berkesempatan hadir. Diawali dengan halaqah wiridan maiyyahan, acara segera dihantarkan kepada tingkat kontemplasi tinggi dengan kalimah tahlil dan lantunan syair shohibbul bayti. Kalimah toyyibah tersebut diharapkan mampu mendetoksisasi nurani dan ruh hadirin dari racun-racun kehidupan yang tertebar di setiap ruang dan waktu hidup kita saat ini.
Sang Maha Guru, Emha Ainun Nadjib membuka wacana perenungan malam itu dengan mengungkap fenomena keong racun. Dalam khasanah dongeng masyarakat Nusantara, kita mengenal kisah perlombaan adu kecepatan antara kancil dan keong. Dalam kisah tersebut diceritakan bagaimana si kancil yang cerdik dan pandai akhirnya berhasil dikalahkan oleh para keong yang bersatu padu dalam kebersamaan dan persatuan.
Kancil adalah simbol kecerdasan yang notabene dimiliki oleh kalangan pemegang kekuasaan, para birokrat, politikus, kaum militer dan kelompok lainnya yang berposisi mengendalikan sejarah kehidupan manusia. Adapun keong adalah perwujudan kaum lemah, orang pinggiran, wong cilik dan rakyat di akar rumput yang seringkali menjadi tumbal roda sejarah manusia.
Dalam dongeng perlombaan memang rakyat yang bersatu padu dalam kesucian nuraninya selalu dapat mengalahkan si kancil yang cerdik. Namun dalam kenyataan kehidupan sehari-hari saat ini, rakyat tidak lagi menang atas sejarah hidupnya. Para penguasa senantiasa melancarkan taktik dan strategi untuk melanggenggkan kekuasaan. Mereka senantiasa berupaya untuk memperpanjang kekuasaan, bila diri mereka sudah tidak dimungkinkan untuk berkuasa lagi, minimal mereka mempersiapkan jaringan keluarga atau kroni dan antek-anteknya untuk menggenggam kekuasaan atas kendali mereka. Di sisi lain, wong cilik yang semestinya menegakkan panji suara Tuhan telah terkontaminasi racun-racun kehidupan hingga yang tertinggal hanyalah sekedar para keong racun.
Perpaduan si kancil pilek dengan keong racun akhirnya memproduksi sistem tata kehidupan yang penuh dengan racun kepura-puraan, kemunafikan, dan pengkhianatan besar-besaran atas amanat penderitaan rakyat. Produk politik kita adalah racun, ekonomi kita racun, budaya, ideologi, sosiologi, antropologi, seni kita, berita, gosip, bahkan amalan keagamaan kitapun semua menjadi racun. Intinya kehidupan kita adalah proses produksi massal atas racun kehidupan yang semakin merendahkan peradaban manusia. Anda tidak perlu terkejut dengan kejadian malapetaka sejarah Nusantara ini, karena jauh hari sebelum rejim penguasa naik tahta, telah dirumuskan bahwa bersama kita “bisa”. Bisa adalah tingkat racun yang paling mematikan hidup dibandingkan sekedar racun biasa. Bisa adalah maha dari segala maha racun. Inikah nasib kita?
Sinuhun Prabu Duryodhoyono di negeri Ngestino pasti sangat kecele dengan hitung-hitungan politiknya sendiri untuk seabadi mungkin menggenggam kekuasaan. Bagaimana ia melancarkan taktik nabok liyan nyilih tangan alias melempar batu sembunyi tangan untuk menjajagi wacana-wacana bagi perpanjangan kekuasaaannya. Sang pekathik setianya sengaja melancarkan isu peluang amandemen konstitusi kerajaan untuk bila perlu mengangkatnya sebagai penguasa seumur hidup. Nampaknya dalam hal ini baginda sama sekali kurang peka akan sasmita dari Tuhan yang menampar muka kehormatannya dengan pencalonan Depe si sinden seronok dalam bursa pencalonan bupati di kadipaten tempat asal usul baginda. Kenapa si sinden seronok tidak memilih Tatar Tidar atau Bhumi Blitar untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin daerah, namun justru memilih kadipaten tempat asal sang sinuhun? Norma telah dijungkirbalikkan dengan semena-mena!
Lebih jauh bila kita tengok dasar negara kita, sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Kata benda yang mendapatkan imbuhan ke-an akan membentuk kata sifat. Ketuhanan berarti sifat seperti Tuhan, dalam hal ini Tuhan bukan lagi sebagai subyek yang hadir dalam setiap keputusan hidup kita. Jadi tingkatan kita baru bisa menghadirkan hal-hal yang serupa dengan Tuhan, simbol-simbol dan segala kepura-puraan serta bau-bau ketuhanan. Tidak ada religi karena yang kita hadirkan hanya sekedar religiusitas! Maka setiap hal yang mestinya berdimensi ruhaniah kita desakralisasi hanya sebagai material. Hidup kita memang bertumpu kepada materialisme semata! Tengoklah acara-acara Ramadhan di media kita! Seolah-olah kemasannya memang religius dengan segala simbol-simbol material lahiriahnya, namun tidak ada lagi aura ruhaniahnya. Dan memang semua itu hanya komoditas materialisme untuk mencapai keuntungan kapital dan uang. Tuhan adalah alat untuk mencari uang!
Lalu dimanakah Tuhan kita selama ini? Kenapa kemudian harus muncul para pencari Tuhan? Emangnya Tuhan hilang kemana? Manusia memang sangat egois dalam melegitimasi diri atas kekuasaan Tuhan di muka bumi. Melalui konsep negara, wilayah bumi dipecah-pecah dan dikapling-kapling atas kekuasaan manusia. Setiap jengkal tanah di muka bumi, dari khatulistiwa hingga kutub selatan dan utara sudah menjadi milik manusia. Setiap jengkal tanah harus bersertifikat! Tanah ini milik A, yang sana milik departemen B, sebelah sono negara C dan seterusnya. Lalu ketika Tuhan berkenan singgah ke bumi, Ia bertanya “Lha tanah milikku yang sebelah mana?”
Manusia memang sangat serakah dalam mengeksploitasi alam atas nama Tuhannya. Tuhan adalah kambing hitam atas segala kepentingan manusia untuk memuaskan nafsu kemanusiaannya. Dzat Tuhanlah Yang Maha Esa itu, namun kita malah mengesakan “ketuhanan”. Kita memaha-esakan sifat kepura-puraan dan simbolisasi atas Tuhan. Inilah konsep mendasar hidup yang harus kita sikapi lebih kritis dengan ketajaman dan kesucian nurani. Hal yang sama dapat kita lanjutkan lebih jauh dengan sila-sila Pancasila yang lain.


manusia sudah merasa menjadi tuhan, tapi kok selalu mewariskan sifat merasa tuhannya kepada turunannya, tapi tuhannya mereka itu hanya untuk yg pro saja.. menyebalkan
jadi manusia yang manusiawi cen susah. pada suka makan yang racun racun
selamat berbuka Kang… semoga ramadan kali ini lebih maknyusss
dan ketika manusia men-Tuhan-kan yang hanya bisa dilihat saja.. Apakah ini juga merupakan tanda-tanda-Nya…
dan banyak yang malah mengatasnamakan Tuhan lalu melakukan anarkisme.. aneh..
Tuhan itu kan dari kata dasar “Tuan”. Jadi ya artinya menungso yang dibagindakan….
baru bisa urun baca. belum bisa urun pendapat
manunggaling kawula lan bandha…
wis ngalahne manunggaling kawula lan gusthi
@dobelden:
yang jelek-jelek memang mudah diwariskan yo?
@nothing:
mat puasa juga, moga makin manusiawi saja!
@yuud:
ya tanda-tandaNya yang harus ditafakuri mas…..
@sayur:
nah ini yang mempolitisir Tuhan untuk kepentingannya sendiri!
@nahdhi:
hayyyyak…..ketok ngawure!
@bondan:
suwun kerso mampir
@ciwir:
cen celoko ki menungso jaman saiki!
Selain menjunjung Tuhannya, manusia seyogyanya memanusiakan manusia lainnya.
hihihih pendapat ngawur
@oelil:
ngawur tapi jujur kan Kang?
saya…salut ama emha ainun atau cak nun dengan tuisan-tulisan esainya…renyah dan indoensia banget