Apa Ada Angin Di Jakarta
Ditulis Oleh: Sang Nananging Jagad
Kotanegara Jakarta telah melampaui usia 482 tahun. Berawal dari suatu bandar kecil di muara Ciliwung yang bernama Sunda Kelapa. Setelah pertempuran sengit antara pasukan Fatahilah yang mempertahankan pelabuhan dari bangsa asing, maka Sunda Kelapa kemudian diperintah oleh Pangeran Jayakarta pada tahun 1527. Semenjak itulah Sunda Kelapa lebih dikenal sebagai Jayakarta.

Kedatangan Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman pada 1596 di Banten jelas mengancam posisi strategis Jayakarta. Seiring dengan pendirian kongsi dagang Hindia Timur(VOC) pada tahun 1601, mereka ingin menguasai Jayakarta. Dan memang tak selang berapa lama, Jayakarta jatuh ke tangan VOC untuk kemudian diganti namanya menjadi Batavia. Konon nama Batavia berasal dari Bataav, nama suku asal-usul nenek moyang bangsa Belanda. Kata Batavia yang diucapkan oleh lidah para pribumi kemudian menjadi Batawi, lalu lebih akrab dengan Betawi.
Usaha merebut kembali Batavia ke pangkuan ibu pertiwi pernah dilakukan oleh Mataram di bawah Sultan Agung Hanyokrokusuma, berturut-turut pada tahun 1625 dan 1626. Namun sungguh sayang usaha tersebut mengalami kegagalan. Batavia tetap menjadi kekuasaan Belanda, bahkan setelah VOC dibubarkan Batavia ditetapkan sebagai ibukota Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda.

Di era awal kemerdekaan RI, nama Batavia kemudian dikembalikan menjadi Jakarta. Jakartapun kemudian ditetapkan menjadi ibukota Negara RI yang baru diproklamasikan. Dewasa ini Jakarta menampung lebih dari 8 juta penduduk. Belum lagi ditambah para pekerja harian yang hilir mudik, keluar masuk Jakarta dari beberapa wilayah penyangga. Alhasil apa kabar Jakarta saat ini?
Kemacetan lalu lintas, polusi udara, air, dan tanah adalah warna keseharian Jakarta. Masalah sampah, saluran drainase yang mampet, hingga banjir adalah menu sehari masyarakat ibukota. Belum lagi masalah kriminalitas, mulai pencopetan, pencurian, pembegalan, perampokan, hingga pembunuhan setiap hari menghiasi surat kabar ibukota. Ditambah lagi masalah sosial yang lain seperti pengangguran, penggusuran dan pelacuran. Wah singkatnya ibukota kita ini belum layak untuk disebut sebagai kota berperadaban.
Udara yang panas menyengat, kebisingan yang menusuk telinga adalah virus penyebab rasa stres dan teror mentalitas setiap warga. Jakarta semakin sumpek dan pengap. Dan adakah kesegaran itu akan datang, masihkah ada angin di Jakarta?
Apa ada angin di Jakarta,
Seperti di lepas Desa Melati,
Apa cintaku bisa lagi cari,
Akar bukit Wonosari.
Yang diam di dasar jiwaku,
Terlontar jauh ke sudut kota,
Kenangkanlah jua yang celaka,
Orang usiran kota raya.
Pulanglah ke desa,
Membangun esok hari,
Kembali ke huma berhati……
Sederetan syair di atas oleh penyair Umbu Landu Paranggi, seorang pangeran dari Sumba yang memilih hidup menggelandang di Malioboro pada akhir 70-an. Sudah agak lama memang, namun serasa kata-kata dalam syair tersebut senantiasa fasih merepresentasikan keadaan ibukota, bahkan mungkin hingga sepanjang jaman.
Dipandang dari sisi manusia awam, Jakarta adalah kota besar simbol kemodernan atau bahkan “puncak” kemajuan peradaban manusia. Jakarta dengan segala infrastruktur dan fasilitas yang dimilikinya dianggap akan mampu mewujudkan mimpi manusia untuk menjadi “manusia”. Maka berbondong-bondonglah warga desa untuk mengadu nasib di ibukota tercinta. Tetapi apakah kemudian semua pendatang itu berhasil meraih impiannya di ibukota?

Hmmm….para urban yang kurang beruntung itu ternyata telah terjebak dalam tipu muslihat dan fatamorgana ibukota. Jangankan ketentraman hidup didapat, malahan hakekat kebutuhan manusia yang mendasar itu semakin jauh diraih, atau malah mungkin apa yang ditinggalkan di desanya itulah hakekat yang mereka cari. Ibukota semakin sumpek dan pengap, seakan tiada lagi ada angin di Jakarta.
Jakarta memang bukanlah Wonosari, meski sebuah kota namun masih memegang erat kedesaannya. Namun bagi para urban, desa adalah kandungan jiwa yang maha luas dan senantiasa memberikan ruang yang cukup akan kebutuhan jiwa mereka. Desa adalah hidup yang senyatanya, bukan sekedar impian palsu. Desa adalah sahabat karib alam yang lebih mewakili hasrat fitrah manusia, meskipun memang tidak dapat disangkal bahwa belakangan desapun sudah mulai mengkota. Hanya demi merebut sedikit kue pembangunan yang tidak merata itulah kaum urban terpaksa hijrah ke ibukota. Namun Jakarta, apakah ada angin di Jakarta?
Fitrah manusia adalah ketentraman jiwa, serta keguyuban hidup dengan sesamanya. Adakah Jakarta masih menyisakan cintanya bagi segenap warganya? Yang terjadi barangkali ibukota kita ini semakin berkembang memfisik hingga satu per satu nilai nurani kejiwaanya terkikis dan meluntur. Jakarta semakin kehilangan akar cinta kemanusiaannya. Jakarta akan semakin menjadi raksasa bagi siapapun yang berani menantangnya.
Jika memang Jakarta adalah raksasa, maka jangan heran jika kaum urban semakin tersudut gerak hidupnya. Nilai dan harkat kemanusian menjadi tidak penting untuk dihayati. Jakarta memang hanyalah rimba yang sepenuhnya menerapkan hukum rimba. Siapa yang kuat dialah yang akan keluar sebagai pemenang sejarah, dan siapa yang lemah dialah yang akan menjadi mangsa sejarah. Dan semua itu katanya demi “kemajuan” peradaban manusia modern.
Maka bagi yang masih tersisa nuraninya, pulanglah kembali ke desa. Kembalilah ke pangkuan ibu pertiwi peradaban. Kenangkanlah kota dan galilah kembali keluhuran hati nuranimu. Hanya dalam kejernihan hati nuranimu jiwa yang tentram akan bersemayam. Maka jadilah manusia dengan sifat kemanusiaanya, karena itulah kesejatian manusia. Kampung Kosong, 22 Juni 2009
NB: Ditulis dalam rangka HUT Jakarta ke 482
selamat ulang tahun Jakarta
“Maka bagi yang masih tersisa nuraninya, pulanglah kembali ke desa.”
Ayo mas, pulang ke desa
kan lumayan sering tak tengoki desaku…….
ohhh monasku …
coba tengok monasku
hihihihih
I bow down humbly in the presence of such greatsnes.